Talk to valid.
Fluffy, melting, pokoknya konten baper.

Talk to valid.
Fluffy, melting, pokoknya konten baper.
Dengan hanya mengenakan bathrobe putih nya, Junkyu duduk di kursi yang ada di balkon kamar. Tangannya bertumpu di meja, sedang di hadapannya terdapat teh herbal yang sudah ia seduh lima belas menit lalu.
Semilir angin jam tujuh pagi masih begitu segar di rasa. Padahal niatnya tadi ingin bangun telat. Namun alarm yang berbunyi jam enam pagi berhasil memaksanya untuk sadar. Sialnya ia merasa tubuhnya lengket lantaran semalam tak bebersih dulu dan langsung tertidur. Maka dari itu penampilannya terlihat segar sekarang, karena terpaksa bangun dan mandi.
Iris hazel nya memandangi langit. Sedangkan bibirnya kembali menyentuh pinggiran cangkir sehingga teh hangat itu mengalir kedalam mulut hingga kerongkongannya. Terdapat rasa manis dan sedikit pahit yang khas. Seperti kehidupan.
Tiba-tiba ekor matanya menangkap pergerakan dari balkon sebelahnya. Junkyu menoleh cepat, dan sedikit kaget saat mendapati jihoon yang bertelanjang dada sambil tunduk, mengusak rambutnya dengan handuk tebal. Samar-samar suara usakan rambut yang agak kuat itu terdengar sampai ke telinganya. Toh, kamar mereka pas bersebelahan.
Namun sepertinya jihoon belum juga menyadari keberadaannya kini. Lantas junkyu seperti antusias sekali memandangi tingkah jihoon yang kini sedikit bersenandung. Hingga ia dibuat menahan tawa.
Sejujurnya, ada sebersit kerinduan yang ia rasakan terhadap lelaki itu meski hanya dua hari tak bertatap muka.
Ah, sejak dulu keduanya sering merasakan rindu kalau berpisah. Toh mereka itu sahabat sedekat nadi?.
“eh? Junkyu udah bangun belum ya?”
Senyum junkyu makin tertahan tatkala mendengar gumaman jihoon barusan, lelaki itu sedang berbicara pada angin pagi — Alias berbicara sendiri seraya berjalan asal. Sangat lucu!.
“pokoknya habis ini gue mau masak, oh! Ke swalayan bentar, terus bangunin junkyu buat makan. Enaknya sarapan apa ya?. Ah! Tergantung bahan — anjir! Kesandung! Sakit goblok!”
Setelah itu Hening….di selingi suara ringisan.
”— KKAMCHAGIYA!! — Hahhh?” Jihoon berteriak dan terpejam kuat. padahal ia baru saja mengelus jempol kakinya yang tersandung tungkai meja, tapi harus di buat jantungan lagi kala obsidiannya mendelik lantaran menangkap keberadaan junkyu yang duduk tenang, namun wajahnya menahan tawa.
Dirinya jadi merasa kikuk tiba-tiba.
“Kkkk — hahahhahk!” Sudah cukup! Junkyu benar-benar tak dapat menahan tawa karena melihat jihoon yang struggling pagi ini. Tawanya begitu lepas mengudara, hingga kepalanya terlempar kebelakang.
“aishh — sshibal!” Jihoon segera berlari kedalam kamar. Meninggalkan junkyu yang masih tertawa bahkan sampai terbatuk.
Jihoon salah tingkah, sampai-sampai telinganya memerah.
Selagi berpakaian dengan cepat, ia sesekali mengusap dada. Helaan nafasnya begitu kasar acap kali mengingat kejadian barusan.
“anjir! Tuh orang napa rajin amat bangun pagi!?, Berarti dia liatin gue dari tadi?. BJIR malunya sampe ubun-ubun!”
Setelah menuntaskan teh herbal nya, junkyu pun segera kembali ke dalam kamar. Ia ingin rebah sebentar sambil memejamkan mata.
Junkyu mengingat kejadian tadi sambil terus tersenyum. Ah, Jihoon itu random sekali. Membuatnya sangat bersyukur karena memiliki sosok tersebut dalam hidupnya. Kalau di pikir-pikir, selama ini jihoon juga merupakan penghibur handal baginya kan?.
Kerinduan yang tadi menerpa sudah sedikit terobati. meski hanya melihat eksistensi nya sebentar saja, Junkyu sudah merasa sebahagia ini.
Satu jam telah berlalu.
Junkyu mengerjapkan matanya. Ternyata dia tak sengaja tertidur lagi barusan.
Lalu Mana? Katanya temannya itu mau menghampiri?. Kenapa tidak ada?.
Junkyu mengulet, seraya mengerang. Posisinya kini duduk di bibir kasur. Ia usap wajahnya, Setelah itu beranjak menuju lemari, Lantaran sadar bahwa dirinya masih mengenakan bathrobe sejak tadi.
Kini junkyu sudah berada di dapur, dan melihat jihoon yang tengah antusias menumis sesuatu. Lelaki itu terlalu fokus sampai tak sadar kalau junkyu sudah duduk di kursi meja makan, Menggeletakkan kepala di meja, Sambil menatap punggung kekar jihoon.
Err…Punggung itu… bagaimana efeknya kalau ia peluk dari belakang?.
Shit! Junkyu memukul pelan kepalanya lantaran sudah berpikir aneh.
Entahlah!, kenapa gara-gara ia kepikiran jihoon sejak kemarin lantas malah membuat pemuda park itu sangat terlihat menarik detik ini?.
Junkyu semakin di buat terpana tatkala melihat lelaki di hadapannya ini mengusak rambut kebelakang dengan jemari.
Ugh! Sangat ber-damage!.
‘Don’t….’ Batinnya. Pasalnya pemuda park itu terus-terusan mengusak rambut sehingga berkali lipat tampak lebih tampan meski dari belakang.
‘stop ngusak rambut Lo park…!’ lanjutnya lagi membatin. Ia amat sangat geregetan. Sampai-sampai….
‘Grep!’
“bisa stop nggak!?” Junkyu berseru, namun suaranya terdengar sengau lantaran wajahnya tertutupi oleh punggung kekar jihoon. Sedang tangannya melingkar erat di area pinggang pemuda park itu.
Aish~!?, kenapa saking geregetannya malah membuat ia berlari dan memeluk lelaki ini!?. Shit!
‘njir! Mau ngelak Udah terlanjur!’ batin junkyu lagi. Ia terpejam kuat, dan Semakin menekan wajah di punggung atas — hampir kena tengkuk jihoon.
Jangan tanyakan kondisi jihoon sekarang, sebab pria itu sedang mati-matian menahan pompaan jantungnya. Tadinya ia juga ingin berteriak kaget, tapi berhasil di tahan.
“stop ngapain?. Lo suruh gue stop masak?. Oh! Lo udah laper?. Lo ngapain peluk gu — akh! Sakit!”
Jihoon sedikit berteriak dan meringis lantaran menerima cubitan pedas dari jemari junkyu di area perut kerasnya. Sumpah junkyu sangat aneh pagi ini!.
“Lo ngapain sih?” Sambil bertanya lagi, jihoon kembali melanjutkan agenda masaknya.
“nggak tahu gua! Tiba-tiba gini! Heran!” Balas junkyu, sedangkan ia mulai bergerak melepas rengkuhannya dari jihoon. Namun lengannya malah di tahan oleh tangan kekar pemuda ini, sehingga tak jadi lepas.
“yaudah, gini terus aja.” Kata jihoon yang sedang tersenyum malu. Namun junkyu tidak tahu.
“ish! Lepass!” tak sadar junkyu merengek. Wajahnya panas sekali. Sepertinya memerah tanpa disadari?.
“nggak! Lu udah nahan gue, giliran gue yang nahan lo!.” Elak jihoon, sedangkan satu tangannya menggenggam kuat kedua pergelangan tangan junkyu.
Pemuda Kim itu kini terdiam. Tubuhnya jadi ikut bergerak setiap jihoon bergerak.
‘ck! Untung wangi!” Batin junkyu lagi. Perlahan ia mulai luluh, dan hanya mengikuti pergerakan temannya. Matanya menatap lekat punggung kekar yang tadi ia bayangkan untuk di peluk, tapi lihat sekarang!, Ia sudah benar-benar memeluknya! Bukan khayalan.
Memeluk jihoon seperti ini …— ternyata sangat nyaman?. Itu yang junkyu akui sekarang. Kemudian dia menegakkan kepala. Bola matanya melirik jihoon, bibir bawah nya asyik di gigiti.
Lantas dengan sengaja ia kembali mengeratkan lingkaran tangannya pada perut si Park, sambil menaikkan sebelah alisnya; melemparkan tatapan tanya bagaimana reaksi jihoon nanti.
Ah, ternyata jihoon diam saja. Membuatnya jadi malu sekarang. kembali ia simpan wajahnya di bagian belakang si Park, lalu menyamankan pelukannya.
Mengetahui perlakuan junkyu, senyum jihoon terulas. Ekor matanya sedikit bergerak ingin menatap junkyu, namun yang terlihat hanya bayangannya, lantaran ia sendiri tak berani menoleh. Jantungnya sangatlah berdebar sekarang.
“coba cicip Kyu?” Kata jihoon beberapa saat kemudian. Kepalanya sedikit menoleh sambil menyodorkan seujung sendok kuah masakannya.
“hm?” Junkyu bergumam ragu dan penuh tanya. Tatapan mereka kini bertemu.
“tolong cicip, udah pas belum?”. Tanya jihoon lembut.
Junkyu jadi memiringkan wajah. dagunya kini berada di pundak jihoon, Sampai bibirnya bersentuhan dengan ujung sendok yang tersodor ke arahnya.
“eum.. kurang micin dikit” finalnya setelah mencecap beberapa kali.
“eissh! Dasar anak micin!”
“tambah nggak!?”. Perintah si pria Kim.
“iya-iya! Gue tambah nih! Puas!”
“lagi~!” junkyu tersenyum berbinar.
“ck! ntar jadi bego!” Kesal jihoon, namun tetap saja menambahkan micin kedalamnya. Membuat junkyu tertawa.
Dengan senyum usil, junkyu gelitiki perut jihoon sampai pria itu mengerang dan memberontak.
“aak! Geli bangsat!”
Pelukannya jadi terlepas, namun masih saja ia menggelitik pinggang jihoon sambil tertawa.
“hahhahahakh!” tawa itu terdengar melengking, lantaran kesenangan.
“duduk aja lu! Duduk!” Jihoon jengah.
“kkkk” junkyu kembali menusuk-nusuk telunjuknya ke pinggang sang sahabat lantas berlari cepat menuju kursi. Meninggalkan jihoon yang sedang uring-uringan.
Suasana dapur pagi ini terasa ramai padahal hanya dua pria yang ada di sana.
“Lo ada jadwal syuting hari ini?” Jihoon bertanya setelah makanan di piringnya habis. Ia tatap junkyu di bagian seberang, yang juga menyuap sesendok terakhir sarapan nya.
Kini Junkyu menggeleng sambil meneguk segelas air putih. Ekor matanya menatap ke arah jihoon yang hanya ber ‘oh’ ria.
“job desk hari ini jam berapa deh? Kok lo santai?” junkyu bertanya balik, di selingi sendawa.
“ntar siang”
“ooh”
Setelah itu si kim beranjak, dan langsung mengambil piringnya beserta piring kotor milik jihoon.
“biar gue yang cuci.”
“nggak capek? Udah gue aja~” kata jihoon seraya menahan pergelangan tangan junkyu.
“enggak” akhirnya junkyu lah yang tetap mencuci piring-piring kotor pagi ini.
Jihoon beranjak tak lama setelah itu.
“junkyu~” panggil jihoon, ada sedikit keraguan yang merelungi.
“Heung?”
“gue tunggu di ruang tamu.” Finalnya, sedang tubuhnya mulai menjauh.
“ngapain?”
Ujung bibir jihoon naik, ia tersenyum smirk.
“kata lo — let’s talk later kan?” sebelah alis jihoon naik turun, tampak menyebalkan.
“eh~? Maksudnya? y-yang mana sih?” Junkyu menjadi gugup seketika. Mungkinkah tentang chat mereka terakhir kali?.
“let’s talk later, junkyu-ya~. I wanna talk with u...” ulang jihoon, ia berjalan mundur sambil tersenyum mencurigakan.
Damn! Perlakuan jihoon itu membuat junkyu berdegup dan merinding seketika.
“ya okay~?”
Setengah jam lebih, Jihoon hanya duduk di sofa dengan posisi malas, dan agak merosot seakan tak niat. Ia menatap layar televisi yang sedang menayangkan sebuah variety show.
Akan tetapi mukanya tampak tak minat saat menyaksikan acara tersebut.
Pikirannya sibuk bergerilya mengenai ia dan junkyu.
Salah tidak ya? kalau mengajak pria itu berbicara?. Ia sungguh berani tidak ya Mengungkapkannya?. Tapi perkataan jaehyuk semalam ada benarnya juga.
“jihoon?” Suara lirih junkyu membuat jihoon tegak seketika. Ia menatap junkyu yang kini berdiri tak jauh darinya seraya menggaruk tengkuk.
“hm, sini lu!” Jihoon menepuk space di sebelahnya.
Junkyu memberikan tatapan intimidasi, namun tetap berjalan sampai akhirnya terduduk di satu sofa panjang dengan jihoon sekarang. Badannya miring sedikit, menghadap ke arah jihoon. Ia menyilakan tangan di depan dada. Alisnya menukik. Sedangkan jihoon berusaha menahan senyumnya.
“balik badan lo” Perintah jihoon. Namun air wajah junkyu tambah bertanya-tanya sehingga jihoon harus mengulangi lagi perkataannya. Membuat junkyu menurut dan berbalik badan. Kedua kakinya berada di sofa dan bersila.
Jihoon. Lelaki itu dengan senang hati mulai memberikan pijatan lembut di pundak sahabatnya.
Junkyu di buat berdesir, sejak dulu jihoon hobi sekali melakukan ini padanya. Padahal ia sendiri belum pernah memijat temannya itu.
“gue nggak capek, ngga usah ji?”. Kata junkyu sedikit mengelak, ia menoleh kebelakang.
“ssst!, Bisa diem nggak?”
Walakhir junkyu kalah terhadap jihoon yang selalu bersikukuh.
Keduanya hening, menikmati kondisi masing-masing.
“mau ngomong apa?” junkyu langsung ke inti. Ia sibuk memainkan jari sambil sesekali terpejam menikmati pijatan.
Mendengar hal tersebut, membuat jihoon mengulum bibirnya sendiri. Duh! Ia akui dirinya benar-benar cupu!.
Terlalu lama jihoon berfikir dan terdiam, sampai akhirnya suara Junkyu kembali menginterupsi.
“Lo suka ya!? Sama gue!”
“BJIR!”. Sebenarnya jihoon bingung, junkyu ini bertanya mengenai perasaan kenapa tanpa aba-aba begini sih?. Ia jadi ragu apakah junkyu tengah melontarkan candaan atau memang murni pertanyaan?.
“Kok Bejir sih hoon?”
“Lo lagi satir doang kan Kyu?”
“gue serius nanya!?”
Oh, serius ternyata ya?. Duh jihoon dibuat gugup tiba-tiba. Dan ia belum juga menjawab pertanyaan junkyu.
Ketahui lah, kalau sebenarnya junkyu juga sama deg-degan nya saat menunggu jihoon buka suara.
“Kyu?, Seumur-umur nih ya?emang lo pernah ngerasa kalo ada yang suka sama lo?.” Jihoon bertanya, seraya memandangi side profil junkyu yang sempurna. Pipi gembil ya membuat ia meringis gemas. Ingin sekali ia cubit.
“baru akhir-akhir ini sih…” jawab junkyu pelan, tiba-tiba ia tak dapat menahan senyuman lantaran mengingatperlakuan jihoon yang tampaknya suka padanya?. Perlakuan jihoon akhir-akhir ini sangat membuat jantungnya tak aman. Sangat manis, dan penuh perhatian.
“hah!?” Jihoon terkejut.
“gue yakin kalo nggak lagi kegeer-an, yang lo maksud itu lo sendiri kan?”
“bjir!. Jangan bahas itu dulu! Yang sekarang gue bahas bukan tentang gue!”
“lah terus!?” entah kenapa ada sedikit rasa kecewa.
Jihoon lanjut menggerakkan tangannya yang sempat terhenti, menekan tiap otot pundak junkyu.
“Dulu, lo masih inget Lia kan?”
Junkyu berdehem mengiyakan, seraya mengingat siswi SMA yang dulu sempat dekat dengannya itu.
“Lo ngerasa nggak kalo dia suka sama Lo?”
“hah!? Masa sih?”
“kok bisa lo nggak ngerasa!?, Padahal dulu kalian deket banget, sampe-sampe gue kira kalian lagi pdkt?”
‘sampe-sampe gue iri liat kedekatan kalian!’ lanjut jihoon dalam hatinya.
“ya karna gue nggak suka sama dia berarti!”
Senyum jihoon melebar. Maniknya menatap bingkaian belakang junkyu. Kini pijatannya turun ke bawah, membuat junkyu meringis kenikmatan.
“nah, berarti lo suka sama gue Kyu!” simpulnya dengan sedikit terkekeh. Ia tak dapat menahan senyumnya lantaran berani membahas perasaan antara ia dan junkyu secara gamblang. Kalau junkyu bisa? Tentu ia harus bisa bukan?.
“dih? Kok gitu?” Nadanya memang menyebalkan, tapi junkyu sedang senyum tertahan. Ia sibuk menggigiti bibir, lantaran menahan mati-matian detak jantungnya.
Ah, Sepertinya benar, bahwa ia juga menyukai pemuda Park ini. Detak jantung yang akhir-akhir ini ia rasakan saat berada di dekat jihoon, mungkin benar bahwa itu perasaan suka, sayang, dan cinta?. Pasalnya perasaan itu membuat junkyu merasakan euforia asing yang menyenangkan. Ia ingin jihoon tahu. Dan ia juga ingin tahu tentang bagaimana jihoon terhadapnya.
“akh! lo nyebelin Kyu sumpah!” Jihoon menghentikan pijatannya, lantas menjauhkan tubuh. Kedua tangannya memegang kepala, pusing. Junkyu membuatnya begitu malu saat ini. Wajahnya Semerah tomat. Nada dan jawaban junkyu tak sesuai ekspektasi, tapi jihoon mengerti kalau pemuda Kim ini sedang menggodanya.
Begitupun junkyu, ia tiba-tiba merangsek ke sudut sofa. Membenamkan wajahnya menggunakan salah satu bantal yang ada. Senyumnya tak bisa reda. Wajahnya panas di rasa.
“jihoon! Aneh nggak sih!?” Teriak junkyu dengan suara sengau karena tertutup bantal.
Keduanya sama-sama salah tingkah. Perasaan mereka sedang berbunga-bunga tanpa tahu satu sama lainnya sekarang.
Oh, Jelas saja keduanya ini sama-sama saling menyukai!.
Mereka tengah mengalami manisnya cinta pagi ini.
Bagi keduanya, tentu terasa aneh sekali ketika di hadapi perasaan seperti ini padahal sebelumnya hanya sahabat sedekat nadi.
“akh! Kyu~!” Jihoon hanya bisa meringis, sambil mengusak kasar rambutnya. Ia mati-matian menahan tawa, dan senyumnya. Masih tak habis pikir kalau akan dihadapi suasana canggung, malu, dan berbunga-bunga dalam satu waktu.
“iya! Gue suka sama Lo Kyu!” Lanjut jihoon, mengakui dengan jelas apa yang di rasa detik ini. Matanya menatap punggung si pria manis. Senyumnya terulas begitu tulus dan tampak bahagia, juga lega.
Junkyu dibuat tambah bergetar. Ia semakin menekan wajahnya di bantal. Kalau dalam komik atau manhwa, mungkin akan tergambar aura merah muda, gambar love, atau bahkan taman bunga di sekitar junkyu saat ini. Ia terus tersenyum, sampai-sampai air matanya keluar dari sudut kelopaknya.
Dari yang awalnya asing dengan cinta, tentu saja junkyu sangat kaget menghadapi situasi ini. Kenapa rasanya begini sih?. Campur aduk. Dadanya bertabuh begitu keras. Ingin rasanya ia berteriak kencang.
Akhirnya junkyu menegakkan tubuh. Ia munculkan wajah memerahnya ke hadapan jihoon yang ternyata tak kalah merah.
Keduanya jadi tertawa lebar, menertawai kondisi masing-masing. Duh, dasar yang lagi kasmaran!.
“pffft! Muka Lo merah?, Berarti Lo suka sama gue juga kan?” Tanya jihoon lantaran masih ingin memastikan.
Junkyu terpejam kuat seraya mengibas wajah menggunakan tangan. Ia ngos-ngosan sampai-sampai harus menghela nafas beberapa kali.
“akhh! Aneh nggak sih Hoon?”Tanya junkyu, masih tak habis fikir. “ — ck! Lo bisa nggak sih jangan senyum gitu?! Nyebelin banget!” Junkyu melempar bantal sofa ke arah jihoon hingga pria itu tambah tertawa.
“lah!? Haha! Kayak Lo nggak senyum aja!”
“shit! Gue nggak bisa gini Hoon — akh! Nggak bisa gue, nggak bisa!” Junkyu meracau seraya menggeleng kepala beberapa kali. Seolah memenangi diri sendiri.
Tiba-tiba ia berdiri dari sofa.
“mau kemana? Jawab dulu pertanyaan gue Kyu?”
“akh! Bentar gue malu! Bangsat Lo ji!” pungkirnya, lalu berlari cepat menuju kamar.
“loh? Hahhahah! Kaya anak gadis! Lucu!”
Bahkan junkyu masih dapat mendengar teriakan jihoon itu di ruang tamu. Ia kini bersandar di pintu kamar, lalu merosot kebawah perlahan. Sambil terpejam dan meringis.
Lemas sudah tubuhnya.
Lunglai tak berdaya. Tenaganya seakan terkuras habis oleh tingkahnya sendiri.
“mamah~ papa~ t-tolong!”
_HANA.
메타데이터
- post_id
- 43ae5e072cbf
- slug
- talk-to-valid-43ae5e072cbf
- url
- https://medium.com/@danhanaminayuki02/talk-to-valid-43ae5e072cbf
- canonical_url
- https://medium.com/@danhanaminayuki02/talk-to-valid-43ae5e072cbf
- author_url
- https://medium.com/@danhanaminayuki02
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-25 03:07:39