The Exorcist: Teror Iblis yang Menguji Iman
Ulasan film The Exorcist (1973)
The Exorcist: Teror Iblis yang Menguji Iman
The Exorcist adalah film bergenre horor pertama yang dinominasikan untuk Best Picture di Academy Award. Film ini telah menetapkan standar baru bagi genre film horor, baik dari sisi artistik maupun cerita.

Sumber: https://pin.it/3wisYDdM8
Adegan pembuka. Lantunan azan terdengar berkumandang. Saya refleks memeriksa judul film yang sedang saya tonton, untuk memastikan.
Kok, pembukaannya seperti film horor Indonesia?
Film ini bercerita tentang seorang gadis muda polos yang tiba-tiba dirasuki roh iblis. Dalam pengaruh roh jahat yang menguasai tubuhnya, remaja ini perlahan berubah menjadi sosok menakutkan. Exorcism dilakukan sebagai upaya untuk membebaskan gadis itu dari kerasukan. Ini merupakan praktik spiritual atau keagamaan, yang berupa ritual-ritual, dengan tujuan untuk mengusir roh jahat.
Sekilas, ceritanya seperti mengikuti formula ‘standar’ film horor. Roh jahat digambarkan melalui wajah seram, serta suara yang berat dan kalimat-kalimat jahat. Iblis diusir dan diperangi menggunakan simbol-simbol keagamaan, salib dan air suci.
Mengingat tahun produksinya di tahun 70an awal, saya sempat berprasangka kalau konflik cerita film ini akan kalah kreatif dibandingkan film-film horor jaman sekarang. Saya bahkan bersiap-siap untuk memaklumi teknologi yang mungkin sudah agak ketinggalan jaman, akan mempengaruhi kualitas film.
Film ini pun sudah terlalu populer sehingga cuplikan-cuplikannya sering saya tonton di berbagai media tanpa sengaja. Lalu, buat apa menonton film yang adegan klimaksnya sudah bocor di mana-mana?
Pendeknya, saya khawatir bakal kebosanan sehingga berkali-kali urung menonton.
Tapi saya salah sangka.
Ternyata saya duduk terpaku sepanjang durasi film yang kurang lebih dua jam, menonton tanpa bosan. Saya juga tidak menunggu adegan seram atau bersiap-siap mengantisipasi jump scare sama sekali. Hal yang sangat jarang pada film horor masa kini, adegan teror tanpa jump scare.
Film ini memang bergenre horor. Tapi buat saya, ini juga adalah film drama.
Alih-alih menunggu untuk ditakut-takuti, saya justru tenggelam dalam cerita. Adegan pengusiran setan yang tadinya saya pikir adalah spoiler, ternyata tidak sepenting itu.
Berbagai emosi saya rasakan, bukan hanya rasa takut. Penggambaran karakter tokoh-tokohnya manusiawi, dengan berbagai permasalahannya. Tanpa terkaget-kaget, saya bisa memperhatikan dan mengamati perubahan fisik serta kepribadian si gadis yang kerasukan. Dari remaja polos, hingga menjadi sosok yang benar-benar berbeda. Saya diizinkan menikmati film horor melalui berbagai cara dan rasa, bukan hanya kaget dan takut.
Simbol-simbol agama memang ditampilkan secara terang-terangan sejak awal film. Namun ternyata bukan sekedar untuk melawan setan atau semata-mata jadi sumber kekuatan supranatural. Melainkan sebagai pengingat, bahwa manusia selalu percaya pada kekuatan yang lebih besar daripada dirinya.
Ilmu pengetahuan dan teknologi pasti ada batasnya, sehingga tak selalu bisa diandalkan. Saat manusia tenggelam dalam rutinitas, iblis datang. Bukan sekedar menakuti, namun juga menguji iman dan memberi peringatan.
The Exorcist bukan jenis film horor yang hanya mengeksploitasi rasa takut, tapi juga soal keyakinan, usaha, serta pengorbanan.
Diproduksi tahun 1973, The Exorcist disutradarai oleh William Friedkin. Film ini dibuat berdasarkan sebuah novel karya William Peter Blatty, ‘The Exorcist’ tahun 1971. William Peter Blatty juga yang menjadi penulis skenario dan produser dari film ini.
메타데이터
- post_id
- 43db8d1779eb
- slug
- the-exorcist-teror-iblis-yang-menguji-iman-43db8d1779eb
- url
- https://medium.com/maratonton/the-exorcist-teror-iblis-yang-menguji-iman-43db8d1779eb
- canonical_url
- https://medium.com/maratonton/the-exorcist-teror-iblis-yang-menguji-iman-43db8d1779eb
- author_url
- https://medium.com/@dina.ikhsan
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 03:40:04