Nyala
meraba tanpa tangan

Di ambang senja yang memudar seperti lukisan tua di dinding kapel, sosok bergaun putih itu berdiri dalam sunyi yang nyaris sakral. Kainnya, tipis bagai bisikan doa yang terlambat, disentuh nyala kecil yang mula-mula ragu, lalu tumbuh menjadi lidah api yang perlahan menguasai. Api itu tidak sekadar membakar, ia menari, menjilat setiap lekuk yang tersembunyi, seolah tengah mengukir ulang rahasia yang lama dikurung oleh kesopanan dunia.
Asap tipis naik perlahan, melingkari tubuh itu seperti mahkota yang dilupakan para dewa. Dalam cahaya merah yang bergetar, bayangan jatuh panjang di lantai batu. Retak, hidup, seakan memiliki napasnya sendiri. Gaun putih itu tak lagi menjadi lambang kesucian, melainkan kanvas tempat api melukiskan garis-garis yang lirih. Lengkung yang samar, bahu yang tegak, bentuk yang hanya dapat dikenang, bukan dimiliki.
Di kejauhan, sepasang mata menyala, memantulkan bara yang sama. Ada sesuatu dalam kobaran itu yang memanggil, bukan sekadar keindahan, melainkan kehancuran yang terasa begitu agung. Setiap percik yang jatuh membawa kisah yang tak pernah selesai dituturkan, hanya hidup dalam diam yang berkepanjangan.
Dan sosok itu tidak menjerit. Tidak merintih. Ia berdiri seperti patung yang diberi nyawa sesaat, membiarkan api menyempurnakan apa yang dunia coba sembunyikan. Dalam diamnya tersimpan kuasa yang tak terucap, dalam kehancurannya lahir sesuatu yang justru abadi.
Malam turun perlahan, menelan cahaya dan menyisakan bara. Namun nyala itu tak benar-benar padam, ia tinggal, bersemayam, dalam ingatan yang tak pernah menemukan ujungnya.
7/7/2026
메타데이터
- post_id
- 43ebdb7df72f
- slug
- nyala-43ebdb7df72f
- url
- https://medium.com/@oseanrk/nyala-43ebdb7df72f
- canonical_url
- https://medium.com/@oseanrk/nyala-43ebdb7df72f
- author_url
- https://medium.com/@oseanrk
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-08 18:29:56