← Back to list

Tanpa Krisis Berarti. Brave New World yang Tak Menantang.

#5: Ulasan film Captain America: Brave New World (2025)

Jurnal Senyap · 2025-07-08 01:16 · 0 claps · 2.9 min read
#ulasan-film #marvel-cinematic-universe #anthony-mackie #movie-review #mcu
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space 🎬 · Film & Television

Tanpa Krisis Berarti. Brave New World yang Tak Menantang.

#5: Ulasan film Captain America: Brave New World (2025)

Captain America: Brave New World adalah film keempat dalam seri film Captain America sekaligus film kelima dalam fase lima dari The Multiverse Saga-nya Marvel Cinematic Universe (2025). Dan merupakan film solo perdana Sam Wilson (Anthony Mackie) sebagai Captain America yang baru, setelah diamanahi tameng dari sang pendahulu, Steve Rogers (Chris Evans), di akhir film Avenges: Endgame (Russo Bros, 2019).

Cerita filmnya sendiri berpusat pada investigasi Sam Wilson terhadap kasus penembakan Presiden Terpilih Amerika, Thaddeus Ross (Harrison Ford) oleh Isaiah Bradley (Carl Lumbly)—Capten America yang terlupakan, di acara Celestial Island World Summit di Gedung Putih untuk meresmikan perjanjian antarnegara terkait pengelolaan sumber daya dari pulau Celestial. Pulau yang merupakan tubuh Tiamut dari film Eternals (Chloé Zhao, 2021).

Brave New World sebenarnya bukan film yang seburuk itu. Sangat buruk hingga dapat memancing caki maki. Hanya saja tidak ada yang spesial dari filmnya. Kurang berkesan. Pergantian penulis naskah hingga reshoot besar-besaran barangkali jadi faktor kenapa filmnya seolah tidak punya identitas. Potensinya mungkin terkikis dalam proses tersebut, menjadikan Brave New World “versi” ini seperti yang dapat disaksikan sekarang. Sajian tanpa fokus dan identitas. Disayangkan, sebab filmnya punya potensi untuk menantang Captain America: The Winter Soldier (Russo Bros, 2014)—film yang dirasa punya nada yang sama.

Filmnya sempat menyinggung perihal Captain America sebagai seorang hero yang diperintah langsung oleh Presiden melalui interaksi Sam Wilson dan Isaiah Bradley sesaat sebelum mereka berangkat ke Gedung Putih. Dari sudut pandang Isaiah, Captain America tidak seharusnya bekerja untuk pemerintah. Menurutnya, hal tersebut membuahkan pemandangan yang tak mengenakkan dan memberi kesan bahwa pahlawan yang statusnya dulu pernah dipegang oleh Steve Rogers terlihat hanya mewakili pemerintah saja. Apa lagi status Sam adalah sebagai kulit hitam di Amerika dan Isaiah tahu persis bagaimana pemerintah dan sistem penegakan keadilan bekerja terhadap mereka yang berkulit hitam.

Walau hal tersebut menghasilkan momen paling menyakitkan sekaligus paling emosional di dalam film, tapi perihal eksplorasinya tidak dilanjutkan sama sekali. Hanya sekadar disinggung. Seperti halnya potensi atau landasan-landasan cerita yang lain. Ambil contoh perjalanan Sam Wilson sebagai penerus Steve Rogers. Diperankan Anthony Mackie, Captain America versi Sam Wilson bersinar di layar. Kharisma kepemimpinannya sangat kuat. Tapi menolak menggunakan super serum seperti pendahulunya tentu menimbulkan akibat-akibat di medan pertempuran yang tak jarang mermbuat Sam Wilson jadi cidera. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan menarik: bagaimana jadinya seorang Captain America tanpa kekuatan super menghadapi dunia yang makin berbahaya?

Sayangnya, Brave New World kembali melewatkan potensinya. Tanpa mendalami eksplorasi.

Berkaca dari judul-judul Captain America sebelumnya—terutama The Winder Soldier dan Civil War (Russo Bros, 2016), ada alasan kenapa jalan yang ditempuh filmnya berhasil. Selain memang sajian yang memukau, film-film tersebut juga punya benang merah yang sangat-sangat jelas. Ada kemajuan di alami oleh karakternya. Karakterisasi tokohnya berkembang. Ada perbedaan nyata antara tokoh di awal film dan tokoh di akhir film. Dan filmnya membuat perkembangan tersebut berarti. Brave New World tidak punya benang merah itu. Sekali lagi, filmnya tidak punya titik fokus dan seolah tanpa identitas. Potensi-potensi tanpa eksplorasi mendalam yang dilempar oleh naskahnya lebih terasa seperti distraksi dalam perjalanan Sam sebagai Captain America yang baru—bukan kemajuan. Tidak ada transformasi antara tokoh Sam di awal film dan Sam di akhir film.

Masalah lain muncul saat konflik mulai berkembang. Konflik dalam Brave New World tidak menimbulkan urgensi dalam filmnya. Tidak ada kata gawat. Tidak ada momen genting. Konflik hanya mengharuskan tokoh bergerak dari poin A ke poin B tanpa ada tantangan apa pun. Tidak ada bahaya yang menanti. Tidak ada ancaman yang mengharuskan gerak cepat dari tokohnya. Dan sebagai film yang condong ke political thriller, tidak adanya urgensi dalam cerita berarti semakin berkurangnya minat penonton terhadap cerita yang tengah disimak.

Namun, di sisi positif, sebagai film yang melewati banyak proses “revisi” dalam produksi, Brave New World tetap menjadi sajian yang koheren dan dapat dimengerti. Filmnya terasa utuh. Tidak ada kesan adegan yang “ditempel” atau bahkan dipaksa masuk akibat proses reshoot. Sebuah usaha yang patut diapresiasi. Selain itu, filmnya juga menyoroti The Incredible Hulk (Louis Leterrier, 2008) dan Eternals (2021)—judul-judul “yang terpinggirkan” dalam Marvel Cinematic Universe. Memberikan film-film tersebut nyawa baru dengan membawa elemen-elemen penting dalam ceritanya, yang dirasa akan berdampak besar untuk kelanjutan cerita dalam semesta Marvel—terutama sumber daya berbentuk logan dari tubuh Tiamut.


메타데이터
post_id
443f030b6e6f
slug
tanpa-krisis-berarti-brave-new-world-yang-tak-menantang-443f030b6e6f
url
https://medium.com/@jurnalsenyap/tanpa-krisis-berarti-brave-new-world-yang-tak-menantang-443f030b6e6f
canonical_url
https://medium.com/@jurnalsenyap/tanpa-krisis-berarti-brave-new-world-yang-tak-menantang-443f030b6e6f
author_url
https://medium.com/@jurnalsenyap
status
ok
fetched_at
2026-07-22 01:17:34