Bukan Lagu Cinta #4 (End): Terlontar Mencerna Arah
Kembali pada jam satu dini hari yang lain lagi, masih menetap dengan kegiatan yang sama di mana ku memulai lambat, dan lama mencerna arah…
Bukan Lagu Cinta #4 (End): Terlontar Mencerna Arah
#NowPlaying Texpack - Edelweiss
Read Previous:
- **Bukan Lagu Cinta #1: Pisau Karat & Lemak Jenuh**
- **Bukan Lagu Cinta #2: Waktu yang Terkupas**
- **Bukan Lagu Cinta #3: Mengintai Sampah & Menggenggam Permukaan Gelas**

Mencerna Arah (Sumber: bysunnu.com)
“Hari-hari yang sama tanpa celah ku terlontar Mulai lama mencerna arah, gelap tidur lelah.”
Kembali pada jam satu dini hari yang lain lagi, masih menetap dengan kegiatan yang sama di mana ku memulai lambat, dan lama mencerna arah.
Aku pernah merenung lamat-lamat perihal dinamika nilai yang kita anut, bagaimana kau memutuskan untuk melewati batas kebebasan, serta aku yang menyebur dalam bebas, dan terikat dengan batasan-batasan yang hanya berlaku untukku supaya tak hilang arah. Semakin ke sini, kau semakin terlihat kurang manusiawi. Apakah bebas yang kau anut malah semakin membatasimu bertenggang rasa?
Aku terlanjur terjungkal, maka dari itu aku mulai mengidealisasi perkara lima tahun yang lalu pada kenyataan yang terlihat di depan mata saat ini. Tahun demi tahun telah mengubah kita berdua dan rupanya kita tak bisa memaksakan apa yang menjadi pegangan hidup satu sama lain. Inisiasimu kuputus begitu saja karena kau dan aku telah sadar.
Begitu saja.
Saat itu aku tinggal hanya beberapa puluh menit darimu tetapi nyatanya hari-hari yang sama tetap terlontar tanpa celah — hanya kota dan kerabat saja yang berbeda. Hari Senin sampai Sabtu aku tidak kemana-mana setelah kerja selain di kos, mencari makan, kemudian tidur untuk mempersiapkan hari esok. Jujur saja, aku tidak suka dengan pekerjaanku saat itu karena waktuku untuk bersantai semakin terampas dengan jam kerja serta gaji yang kabur tak seperti yang tertera pada kontrak. Begitu pula malam yang semakin singkat kian harinya — tidak cukup untuk membuka mata lebar-lebar dan meleburkan diri di kota ini.
Tiap akhir pekan aku selalu pergi ke tempat dengan dinding kayu itu untuk memberai seperempat bagian dari kepalaku. Awalnya aku membuka laptop, mengunggah foto-foto ARW untuk pameran yang akan datang.
Sampai aku melihat daftar WiFi, sampai aku mulai menyadari nama tethering yang familiar.
Ternyata kau di tempat yang sama denganku, ya?
Aku merasakan tanganku yang gemetar, lalu memanggil temanku yang bekerja di tempat dengan dinding kayu tersebut untuk menuntunku tenang. Ia membawaku ke bagian luar tempat tersebut, mencoba mengalihkan rasa resahku dengan mengajakku berkenalan dengan kakak-kakak barista kedai kopi yang hanya menerima uang tunai, beserta kakak-kakak centil yang tahu akan dirinya sendiri.
Kau mondar-mandir di tempat itu, entah apa kau sadar atau tidak denganku yang duduk membelakangi pagar tempat itu tepat di depan pintu masuk (tetapi aku bertaruh bahwa kau memang mencoba cuek bebek).
Sampai mata kita bertemu.
Kau menjabat tanganku lagi. Bedanya kali ini kau lebih netral dari beberapa bulan yang lalu atau lima tahun yang lalu. Aku menyapamu seperti menyapa teman-teman lelakiku pada umumnya — memposisikan diriku lumrahnya ‘lelaki’ kepada ‘lelaki’ lainnya. Aku hanya mengucap, “Sombong banget to we saiki,” dengan nada bercanda dan kau balas dengan tawa — yang sekali lagi — sangat netral.
Kemudian aku melanjutkan perbincangan dengan kakak barista dan kakak centil, lalu kau keluar dari tempat itu untuk menghisap asap di atas trotoar bersama seorang perempuan keduamu.
Ternyata selama ini hanya aku yang memakai rasa di dalam dadaku dan kau — yang tanpa pandang bulu — selalu memakai rasa di dalam celanamu.
Aku merasa marah karena baru kali itu mengalami perasaan tak berbalas yang sedikit lebih banyak bajingannya. Bahkan aku yang hanya diam saja, biasa saja, tanpa menelanjangi diri pun masih terkena imbas dari ideologi tai anjing yang kau anut. Tanpa tenggang rasa sedikitpun.
Sepertinya satu-satunya kegiatan menelanjangi diri sendiri hanyalah sepotong kalimat, “Aku betulan suka kamu,” yang keluar dari mulutku, kemudian dibalas dengan kau yang tak melihatku sebagai manusia, sampai kau mendapat objek yang tepat, pantas, dan pas dengan preferensimu.
Aku linglung bagaimana mencerna residu rasa yang tertinggal pada sosokmu lima tahun yang lalu — yang masih naif dan berbinar. Bagaimana kehidupan telah mengubahmu menjadi sosok yang redup dan hilang arah? Sebotol bir kosong pun pernah retak di kepalamu dan semenjak itu kau menjadi daftar hitam di tempat berdinding kayu tersebut sebab perilakumu yang terus berulang.
Aku pulang dan mematikan lampu kamar kos, terlelap bersama gelap yang kian melelahkan seluruh rasaku, perlahan kau terlontar keluar radar tanpa arah di antara hari-hari biasa yang sama tanpa celah.
Debby’s Little Cranny, July 11, 2026.
메타데이터
- post_id
- 445892d554aa
- slug
- bukan-lagu-cinta-4-end-terlontar-mencerna-arah-445892d554aa
- url
- https://medium.com/@debbyalin/bukan-lagu-cinta-4-end-terlontar-mencerna-arah-445892d554aa
- canonical_url
- https://medium.com/@debbyalin/bukan-lagu-cinta-4-end-terlontar-mencerna-arah-445892d554aa
- author_url
- https://medium.com/@debbyalin
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-04 20:08:07