Kintsugi
Orang menyebutnya kintsugi. Bukan seni menyembunyikan cacat. Justru membuat cacat itu tak lagi memalukan untuk dilihat.
Kintsugi
Foto oleh Alexander Nrjwolf di Unsplash
Di Jepang, ada mangkuk yang sengaja dibiarkan menyimpan bekas pecahnya. Retakan itu tidak ditutupi. Melainkan diisi pernis bercampur serbuk emas. Sehingga siapa pun yang memegangnya tahu persis di bagian mana ia pernah remuk.
Orang menyebutnya kintsugi. Bukan seni menyembunyikan cacat. Justru membuat cacat itu tak lagi memalukan untuk dilihat.
Konon tradisi ini bermula dari seorang shogun, Ashikaga Yoshimasa, yang mangkuk tehnya pecah lalu dikirim ke Cina untuk diperbaiki. Yang kembali adalah mangkuk yang disambung dengan staples logam, kaku dan dingin, seperti luka yang dijahit tanpa anestesi. Yoshimasa tidak puas. Ia meminta para perajinnya mencari cara lain — bukan menyambung, tapi merayakan. Dari situ lahir gagasan bahwa sesuatu yang pernah hancur bisa menjadi lebih berharga justru karena kehancurannya tidak disangkal.
Ada tamsil lain, dari padang pasir yang jauh dari Kyoto, yang mengatakan hal serupa dengan bahasa berbeda. Jalaluddin Rumi, dalam pembukaan Matsnawi-nya, menulis tentang seruling yang meratap — sebuah ney yang hanya bisa bersuara merdu karena ia telah dipotong dari rumpun buluh tempat ia dulu tumbuh. Rumi menyebutnya rintihan perpisahan. Yang menarik, seruling tak pernah bisa berbunyi sebelum dilubangi. Lukanya, justru, adalah jalan bagi napas untuk berubah menjadi nada. Tanpa dilubangi, ia hanya sebatang buluh, kaku dan bisu.
Saya teringat mangkuk dan seruling itu ketika membaca kabar konversi kendaraan operasional Polri yang sudah uzur, menjadi kendaraan listrik. Mesin lama diganti. Suaranya menjadi lebih senyap.
Tetapi kendaraan, betapapun baru mesinnya, tetap melintas di jalan yang sama. Dan jalan — seperti ingatan orang banyak — menyimpan jejak roda yang pernah lewat di atasnya. Jejak yang tidak ikut terganti hanya karena kendaraannya berbeda.
Juan Rulfo, dalam novel pendeknya tentang sebuah desa bernama Comala, mengisahkan seorang lelaki yang pulang mencari ayahnya, hanya untuk mendapati bahwa seluruh penduduk kampung itu sudah lama mati — namun terus bicara, terus mengulang kebiasaan lama mereka, seolah kematian tak sempat mengabarkan pada mereka bahwa semuanya sudah berakhir. Comala tampak seperti kampung biasa dari kejauhan. Rumah-rumahnya berdiri, jalannya membentang. Tapi yang menghuninya adalah gema dari masa lalu yang enggan pergi.
Institusi, barangkali, bisa berjalan dengan logika serupa: bentuknya diperbarui, gedungnya dicat ulang, kendaraannya diganti mesin — tapi kebiasaan lama tetap bicara di lorong-lorongnya, sebagai gema yang tak terlihat namun terus terdengar oleh siapa saja yang cukup lama tinggal di dalamnya.
Mochtar Lubis, dalam Manusia Indonesia, nyaris tak menyinggung mesin atau teknologi. Ia justru membedah watak — sesuatu yang lebih keras untuk diubah. Sebuah bangsa, dalam pembacaannya, jarang gagal karena kekurangan gagasan. Ia gagal karena kebiasaan yang terus-menerus diwariskan, sekalipun kelembagaannya sudah diperbarui berkali-kali. Mochtar Lubis menulis dengan getir, hampir menyakitkan, sebab ia sendiri bagian dari bangsa yang ia bedah itu.
Dalam kebatinan Jawa, ada kata untuk proses semacam ini: laku — jalan yang harus dijalani berulang, bukan pencapaian yang diraih sekali lalu selesai. Serat Wedhatama menaruh kesempurnaan budi bukan pada pernyataan, melainkan pada pilihan-pilihan kecil yang diambil seseorang ketika tidak ada yang menyaksikan. Ada satu ajaran dalam serat itu yang sering dilupakan orang yang tergesa mengutipnya: bahwa ilmu sejati baru menyatu dengan diri apabila ditempuh lewat laku, bukan sekadar dihafal sebagai kata-kata indah untuk dipajang.
Dalam dunia pewayangan, ada tokoh yang mengajarkan hal serupa tanpa perlu berkhotbah: Semar. Ia berwujud buruk, pendek, gemuk, bersuara serak — jauh dari gambaran ksatria yang gagah. Tetapi di balik rupa yang dianggap cacat itu, Semar menyimpan kearifan yang melampaui tuannya sendiri. Ia adalah dewa yang menjelma buruk rupa justru agar dekat dengan manusia biasa, agar bisa menegur para ksatria tanpa mereka merasa direndahkan. Kebijaksanaannya tidak pernah tampil sebagai kemegahan, melainkan sebagai laku yang diam-diam, di dapur, di pinggir panggung, jauh dari sorot lampu utama.
John Dewey menggambarkan bahwa manusia dibentuk oleh pengalaman yang berlangsung terus-menerus, bukan oleh peristiwa tunggal yang besar. Kepercayaan bekerja dengan logika yang sama. Ia tidak lahir ketika janji diucapkan, melainkan ketika janji itu ditepati, berkali-kali, dalam hal-hal yang tidak difoto dan tidak muncul dalam siaran pers.
Sebuah institusi bisa mengganti seluruh armadanya dalam semalam. Yang tidak bisa diganti secepat itu adalah ingatan warga tentang bagaimana mereka pernah diperlakukan di jalan yang sama, oleh kendaraan yang dulu bermesin bensin dan kini bermesin listrik, tapi dikemudikan oleh tangan-tangan yang barangkali belum sepenuhnya berubah.
Mesin bisa diganti dalam semalam. Cat bisa diperbarui dalam sehari. Tetapi laku bergerak dengan irama yang nyaris tak terdengar, sampai suatu hari orang menyadari bahwa yang berubah bukan hanya tampilannya.
Di situlah emas dalam kintsugi berbeda dari sekadar cat penutup. Ia tidak ditaruh di permukaan yang mulus, melainkan tepat di garis retak. Pengakuan bahwa sesuatu pernah pecah, dan pemulihannya membutuhkan bahan yang lebih mahal daripada niat baik semata — sebagaimana seruling Rumi yang harus dilubangi dulu sebelum bisa menyanyi, dan Semar yang harus berwujud buruk dulu sebelum kearifannya dipercaya.
Seremoni pelepasan prototipe kendaraan listrik itu akan selesai dalam hitungan jam. Kamera akan pergi. Yang tersisa sesudahnya adalah jalan yang sama, dengan orang-orang yang sama, menunggu untuk melihat apakah retakan itu benar-benar sedang diisi emas.
Atau hanya ditutup cat baru yang akan mengelupas begitu hujan pertama turun — meninggalkan garis retak yang sama, di tempat yang sama, seolah tak pernah ada yang benar-benar berubah selain warnanya.
메타데이터
- post_id
- 44911c4087ff
- slug
- kintsugi-44911c4087ff
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/kintsugi-44911c4087ff
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/kintsugi-44911c4087ff
- author_url
- https://medium.com/@busthomimuhamad
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 08:03:07