Percaya
Awalnya, dia belum siap dengan cinta. Aku tahu itu, tapi aku juga tahu aku tidak bisa berpaling darinya. Aku sudah menunggu cukup lama…
Ragunya Menang
Awalnya, dia belum siap dengan cinta. Aku tahu itu, tapi aku juga tahu aku tidak bisa berpaling darinya. Aku sudah menunggu cukup lama, dengan sabar, dengan harapan yang mungkin terlihat naif. Pada akhirnya, dengan segala kemampuanku, aku berhasil meyakinkan dia. Dan dengan beberapa peringatan yang dia sampaikan , bahwa hubungan ini mungkin tidak akan berjalan mulus, aku tetap memilih untuk percaya padanya. Aku percaya, meski dia masih ragu.
Kamu yang ragu, dan aku yang percaya. Mana yang akan menang pada akhirnya? Aku bertanya-tanya. Tetapi malam-malamku setelahnya selalu diwarnai dengan senyum manisnya dan suara lembut yang mengisi ruang hatiku. Kita bahagia. Kita percaya bahwa rasa ini nyata, bahwa ini bukan sekadar hembusan angin senja yang datang dan pergi begitu saja.
Namun, seiring waktu, segalanya berubah. Dia yang dulu kuajak percaya, kini menjadi orang yang penuh ragu. Pertanyaan-pertanyaan mulai menghantui pikirannya: Apakah kemarin hanya euforia sementara? Haruskah hubungan ini terus berjalan? Apakah rasa ini sudah benar-benar hilang? Aku tahu dia bergulat dengan dirinya sendiri, dengan ketakutan-ketakutan yang perlahan menggerogoti hatinya.
Aku ingin menjawab semua pertanyaan itu. Aku masih percaya pada kita. Dua tahun aku menunggu, percaya, memegang erat harapan. Tapi sekarang, setelah tiga bulan bersama, dia bahkan tak mampu percaya pada dirinya sendiri. Ada apa dengannya? Kenapa keyakinanku seolah tak pernah ada dalam hitungannya?
Peringatan yang dulu dia ucapkan dan aku hiraukan, kini terasa perih menekan dada. Ragunya menang. Dia mempercayai ragunya, seperti aku mempercayai kita. Aku kalah. Kita kalah. Mungkin memang takdirnya seperti ini, bahwa kita tidak bisa bersama.
Namun, di tengah pahitnya kenyataan, aku tetap bersyukur. Aku bersyukur pernah berbagi rasa dengannya, pernah merasa bahagia dalam senyum dan tatapan yang kini terasa jauh. Aku bersyukur, meski akhirnya aku harus melepaskan. Karena cinta, bagiku, adalah tentang percaya. Dan aku pernah percaya pada kita.
메타데이터
- post_id
- 44b1d2dc5a82
- slug
- percaya-44b1d2dc5a82
- url
- https://medium.com/@pinkmatt3r/percaya-44b1d2dc5a82
- canonical_url
- https://medium.com/@pinkmatt3r/percaya-44b1d2dc5a82
- author_url
- https://medium.com/@pinkmatt3r
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-27 10:07:59