Malaikat Stasiun Kehidupan
B&B Bagi-bagi Buku dalam Tantangan Menulis Reflektif
PERJALANAN HIDUP
Malaikat Stasiun Kehidupan
B&B Bagi-bagi Buku dalam Tantangan Menulis Reflektif
Photo by Nawfal Makarim on Unsplash
P.S: Konten ini mengandung unsur sensitif berupa percobaan bunuh diri. Kebijaksanaan pembaca harap diutamakan.
Tambahan: Sambil membaca, kalian boleh mendengarkan lagu yang perlahan memeluk. Silakan putar dengan volume sekitar 70–80%.
Pelan-pelan, kita peluk diri kita dengan lagu ini.
[embed]
Pagi itu, stasiun kehidupan baru menjalankan operasionalnya. Beberapa penumpang mulai hadir, menunggu di peron yang memberangkatkan mereka menuju stasiun tujuannya masing-masing.
Dalam isi kepalaku, aku masih duduk mengadahkan kepalaku di peron yang aku tidak tahu, aku berada di peron kehidupanku sendiri. Aku belum memiliki tujuan pasti — aku akan berangkat menuju stasiun yang mana.
Mungkin, mengenal diri sendiri bisa menjadi jawabannya. Tapi, sampai saat ini pun jawabannya masih belum kutemukan.
Saat kereta kehidupan itu perlahan datang, aku merasa seperti mayat hidup tak bernyawa.
Aku melirih, menahan hujan. Seraya berkata …
“Aku tidak ingin naik keretanya.”
Lingkunganku memukulku keras. Perundungan dan Pelecehan membuat jiwaku tak tahan lagi berada dalam tubuh ini.
Jiwaku ingin berteriak;
“Aku tidak ingin berada di sini lagi.”
Dan waktunya memang sangat tepat. Pikiranku mulai sinkron dengan jiwa. Keputusanku mulai membulat.
Loncat melewati peron saat kereta melintasi stasiun, dan jiwaku akhirnya bisa bebas kembali.
Tapi sayang seribu sayang, usaha yang aku lakukan gagal.
Ada sosok yang menarikku sebelum aku loncat melewati peron tepat saat kereta akan melintasi stasiun.
Bersama dengan staf lain yang mengunci tanganku, ia membisik.
“Belum saatnya kamu pergi. Bertahanlah sedikit lagi.”
Melawan pun tak akan bisa, energiku sudah memang terkuras habis oleh pikiranku sendiri. Aku memilih pasrah dan membiarkan tubuhku dibawa pergi entah kemana.
Padahal, kata Willinwater sendiri yang melimpir di beranda Mediumku bilang:
“Di stasiun hidup, orang-orang datang dengan peran yang berbeda. Sebagian hanya membeli kopi. Sebagian lagi duduk di bangku paling ujung. Sebagian lagi menemani kita menunggu, seolah sedang menunggu kereta yang sama.”
Dan baru pada saat aku perlahan kembali ke Medium, aku mulai mengerti maksudnya. Kak Willinwater mengajarkanku untuk selalu hadir di masa sekarang.
Dan lucunya, ternyata orang yang mengajakku kembali di Medium. Secara tidak langsung, dia bilang: “Kamu tidak sendirian.”
Saat baru buka Medium kemarin, Kak Wiyah sharing pengalamannya menemukan rumah keduanya di tanah rantau. Rumahnya terletak pada saat ia bertemu dengan pelayan di laundry langganannya. Ia bernama Mbak Tino.
Mbak Tino yang berawal bertemu dari tempat laundry, berubah menjadi seperti saudara karib yang saling menjalin kabar dan silaturahmi walau Kak Wiyah kembali pulang ke kampung halamannya di Sumatera Selatan.
Aku sampai ikut terharu membacanya. Sampai ikut membatin “Wah …. Sehangat itu, ya?”
Secara tidak sadar, Mbak Tino juga bisa menjadi figur yang tak terlupakan karena kebaikan kecil yang ia lakukan. Dari sekadar ngobrol tentang BTS, sampai kado tas rajutan yang ia berikan secara cuma-cuma.
Dan ya, figur seperti Mbak Tino itu tidak hanya sebatas berhenti di Kak Wiyah. Bedanya, figur “Mbak Tino” di kehidupanku ini unik.
Dia hanya seekor kuda.
Agak aneh, tetapi memang ada nyatanya. Hanya saja aku dikenalkan saat pop kultur kembali “menghidupkannya” kembali dalam franchise Uma Musume: Pretty Derby.
Bahkan, aku membuatkan biografi kecil-kecilan. Walau memang tidak sempurna, ada satu hal yang benar-benar terpancar dalam tulisannya—binar harapan kecil yang kembali tumbuh walau sudah berkali-kali terjatuh.
Sedikit funfact, aku izin menceritakan Malaikat ini sekali lagi.
Namanya Haru Urara. Kuda pacu biasa yang tinggal di prefektur Kochi di Jepang. Karir balapnya pun tidak cemerlang dengan rekor nol kemenangan.
Tapi ada satu kemenangan yang lebih manis dari sekadar naik podium, ia memenangkan banyak hati manusia-manusia. Ia adalah simbol harapan bagi semua orang—karena ‘hanya sekadar' ia terus bangkit setelah kekalahan telaknya di lintasan.
Tidak hanya itu, bahkan namanya sendiri menjadi fenomena.
Haru Urara Boom.
Fenomena itu terjadi saat Jepang dipukul oleh krisis finansial Asia 1997–1998. Hampir semua perusahaan mulai “main aman” dan dampaknya menyeluruh sampai ke telinga Kochi Racecourse, rumahnya Haru Urara.
Namun, Kochi Racecourse sudah berada di ambang batas kehancuran. Ia tidak hancur secara fisik, tapi ia hancur oleh ekonomi yang membengkak.
Haru Urara terancam akan pensiun dini—karena rumahnya hampir tutup untuk selamanya.
Tapi semua itu dipatahkan mentah-mentah. Pengurus racecourse tak tinggal diam. Ceritanya menyebar hingga di telinga Internasional, bahkan Kochi Racecourse selamat dari krisis berkat cerita inspiratif Haru Urara yang menyelamatkan banyak orang.
Yang paling menamparku, ternyata kasusku sama dengan seorang pemuda Jepang yang ingin melakukan hal yang sama denganku. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri hanya karena satu kalimat.
“Kalo Haru Urara aja nggak nyerah, kenapa aku milih ‘berhenti?’”
Dan keajaiban, tak hanya berhenti di cerita itu.
Bahkan, seorang lansia wanita pun memilih untuk bangkit karena Haru Urara meskipun beliau menderita kanker payudara. Keterbatasan beliau tak menjadi penghalang untuk hadir di Kochi untuk mendukung separuh hatinya untuk Haru Urara.
Perdana Menteri Jepang saat itu, Junichiro Koizumi menjadikan kisah Haru Urara sebagai simbol pantang menyerah. Dan beliau turut memberikan harapan besar kepadanya:
“Aku ingin melihat Haru Urara menang. Meskipun hanya sekali.”
Dari tulisan yang aku tulis ini, aku belajar untuk melepaskan sosok Malaikat ini—mengenang sejarahnya. Walau aku datang terlambat.
Tulisan Kak Willinwater memang mengajarkan untuk hadir di masa kini. Karena tidak semua penumpang di kereta menetap.
Tapi, sejarah itu seperti kereta ajaib—ia mengajak kita untuk kembali mengenang apa yang telah terjadi. Walaupun penumpangnya sudah tak lagi ada di kereta.
Saat Haru Urara aktif berlari, aku tak hadir di lintasan. Bahkan aku belum lahir.
Tapi, aku belum sepenuhnya terlambat ketika sejarah itu kembali dijaga, dihidupkan kembali oleh kultur yang baru. Dengan isu yang relate di zaman sekarang:
Pengembangan diri dan penemuan jati diri kita masing-masing.
Dan figur Haru Urara kembali “lahir”, sebagai karakter seorang gadis kuda energik. Kalah tak akan menjadi penghalang baginya.
Ia mungkin terlihat seperti penumpang biasa di kereta kehidupan pada awalnya. Namun, di pikiranku, dia berbeda.
Dia adalah Malaikat berjalan, Menyelamatkan satu demi satu harapan yang gugur. Bahkan nyawaku sendiri yang memutuskan mengizinkan diriku untuk hidup, sampai waktu yang datang menjemput.
Sampai di titik akhir ini, ucapan terima kasih kepada Haru Urara pun akan terasa kurang cukup bagiku. Terutama juga teman-teman di Medium yang turut memberikan dukungan.
Seperti Kak Mathilda Syadira yang memberiku dukungan di publikasi Ceplok Telor, Kak Wiyah yang membuatku mengenang cerita ini kembali, sampai Bang Riza Putranto dengan kehadiannya yang hangat dan menyentuh.
Tak lupa dengan panitia di belakang layar, beserta juri Mbak DyPa Dinara, Bang Firman Malika, juga Bang Riza Putranto yang menyokong tantangan ini.
Mungkin, ini bisa jadi merupakan artikel terpanjang yang juri baca, tapi aku harap, setiap halaman, cerita sejarah sosok inspiratif dalam lembaran kehidupanku akan terus menginspirasi pembaca untuk tetap melangkah.
Berkat kalian, aku jadi belajar bahwa setiap kehadiran sosok asing di hidupku, sudah memiliki perannya masing-masing. Meskipun hanya membawa pesan, setiap pesan dari kalian adalah makna dari kehidupan itu sendiri.
Terima kasih telah singgah di peron baru stasiun kehidupan yang baru aku duduki.
Apapun peran kalian di hidupku, kalian sangatlah berharga. Karena siapa tahu? Kalian adalah figur “Haru Urara” di peron kehidupan orang lain yang mengubah alur cerita mereka.
Semoga kalian mencapai stasiun tujuan akhir di kehidupan kalian! Terima kasih, penumpang-penumpang baik! — Tomohiro Kure
Referensi:
yangwithagi (YouTube): The Haru Urara Boom Wikipedia: Haru Urara
메타데이터
- post_id
- 44df3feddea4
- slug
- malaikat-stasiun-kehidupan-44df3feddea4
- url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/malaikat-stasiun-kehidupan-44df3feddea4
- canonical_url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/malaikat-stasiun-kehidupan-44df3feddea4
- author_url
- https://medium.com/@TomohiroKure
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 23:22:18