Conundrum
Ruang biomed sore itu harum reagen baru dibuka — aroma aneh yang familiar buat orang-orang yang kerja lebih banyak sama sampel dibanding…
Conundrum

Ruang biomed sore itu harum biomed baru dibuka — aroma aneh yang familiar buat orang-orang yang kerja lebih banyak sama sampel dibanding manusia. Di fase awal program donor sperma, ritme kerja mereka seharusnya cukup stabil. Screening awal sudah lewat, evaluasi kualitas sperma donor masih berjalan paralel dengan pengumpulan data kultur. Belum ada prosedur invasif, belum ada tahapan besar yang menuntut keputusan emosional berat. Semua masih di tahap “persiapan.”
Tapi justru di fase inilah, orang-orang sering runtuh.
Wonwoo sudah terlalu sering melihatnya. Carrier yang datang dengan keyakinan penuh, lalu mendadak ragu. Pasien yang terlihat mantap secara administratif, tapi goyah begitu masuk ke sesi konseling. Orang-orang yang di atas kertas “siap,” tapi secara emosional belum tentu.
Dan Soonyoung — anehnya — mulai memperlihatkan pola yang sama
Tim biomed menyapa Wonwoo duluan, seperti biasa, karena senior residen ON CALL itu kalau nongol di lingkungan lab biasanya ada sesuatu yang mau ditanya atau dikecek. Dan hampir selalu, Wonwoo datang bukan cuma untuk itu. Ada alasan… tambahan.
“Kamu kayaknya lebih sering ke sini daripada ruang jaga, Dok,” celetuk salah satu analis — si Maya.
Wonwoo cuma tersenyum. “Lagi butuh laporan kultur minggu ini. Sekalian yaa… jalan-jalan.”
Sepertinya soonyoung tidak menyadari kalau wonwoo sudah masuk ke ruang kultur dan melihat anak itu berdiri terlalu dekat dengan meja kerja yang berakibat cairan di tube kesenggol cuma beruntung tidak mengenainya, seakan lupa menjaga jarak aman — sesuatu yang tidak mungkin luput dari perhatian seorang biomed.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Wonwoo waktu itu, nada suaranya netral.
Soonyoung tersentak kecil. “Hah? Oh — iya, dok. Aman aman.”
Terlalu cepat. Jawaban instan yang biasanya muncul dari orang yang tidak ingin ditanya lebih jauh.
Wonwoo tidak mengejar. ujungnya dia cuma mengangguk, lalu ikut mengecek hasil kultur di layar monitor. Tapi sejak hari itu, setiap kali mata mereka bertemu, Wonwoo menangkap hal yang sama: Soonyoung selalu tersenyum lebih dulu. Senyum tipis dengan jelas dipasang.
Di hari berikutnya soonyoung mulai menyapa — mungkin posisinya doi memang sempat melihat jadi sempat untuk menyapa supervisornya itu.
“Oh, dokter,” sapanya ringan, padahal suaranya serak tipis. “Baru balik visite kah?”
“iyaa, soonyoung.” jawab Wonwoo sambil masuk pelan. “Saya kira kamu udah pulang. Masih kultur ternyata jam segini?”
“Belum beres,” katanya sambil menurunkan pipet. “Tadi ada revisi dari Dokter konsulen. Jadi mau gamau belajar ulang.”
Wonwoo tahu itu cuma setengah kebenaran. Soonyoung itu rapi, taat SOP, jarang ada yang perlu “revisi ulang” sampai setelat ini. Tapi dia juga tahu, nanya terlalu frontal cuma bakal bikin anak itu makin nutup diri.
“Hmm.” Wonwoo diam sebentar, seolah mengamati kultur, padahal pikirannya lanjut: ada yang janggal.
Mereka mulai sering berbicara setelah kejadian mobil waktu itu — kejadian yang Wonwoo simpan di kepala seperti memori kecil yang selalu lucu kalau diingat. Rasanya masih kebayang ekspresi Soonyoung waktu bilang, “duh, saya ga enak ni numpang dokter mulu,” dengan suara pelan, padahal Wonwoo di sisi lain nahan senyum karena hatinya udah keburu loncat-loncat kayak peliharaan terlalu excited.
Sejak itu hubungan mereka entah kenapa jadi lebih cair. Bukan teman, bukan pure coworker, tapi ada dinamika samar yang bikin keduanya nyaman meski belum terpikir buat diakui sebagai “something”.
Sekarang… momen seperti ini terasa natural. Wonwoo berdiri dekat Soonyoung seakan itu tempat asalnya.
“Coba sini,” ujarnya, mendekat dan melihat plates kultur di meja. “nah, kamu udah marking request barunya?”
“Sudah, Dok,” Soonyoung menjawab sambil menoleh sekilas. “inimah cuma ngecek viability sebelum diproses.”
Wonwoo memiringkan kepalanya. “yang bener?”
Nada itu lembut. Soonyoung sadar betul. Wonwoo punya cara bicara yang selalu terasa seperti perhatian tapi tidak mengusik — kayak seseorang yang sudah lama memperhatikannya padahal nyatanya baru beberapa waktu belakangan ini intens bertemu.
Namun hari itu Soonyoung gagal menyamarkan gangguannya. Wonwoo menangkap tatapan kabur itu untuk kesekian kalinya. Dia akhirnya bicara.
“Dari tadi saya lihat kamu kelihatan banyak pikiran.”
Soonyoung refleks mengerjap, menegakkan punggung. “Enggak kok.”
“Kamu mau bohongin siapa?” Wonwoo membalas datar tapi tidak keras. “Saya perhatiin dari tadi. Kamu bahkan salah label satu tube, padahal kamu biasanya… paling detail hahah.”
Soonyoung terdiam. Tangan kanan yang memegang penutup plate berhenti di udara.
Wonwoo menurunkan suara. “Ada apa?”
Baru mau jawab… pintu lab dibuka dari luar. Tim lain masuk. Percakapan itu otomatis terputus.
Beberapa jam sebelumnya
Soonyoung duduk di salah satu bangku kayu di kafe kecil dekat rumah sakit — kafe yang lampunya kuning redup, tempat mahasiswa koas sering mengungsi kalau butuh wifi yang bisa dipercaya. Mba Rara sudah ada di sana lebih dulu, wajahnya seperti biasa selalu ramah.
“Nyong, sini duduk,” ajaknya.
“Mba nunggu lama? Maaf tadi aku masih ada urusan.”
“Enggak kok. Ini udah mesenin coldbrew kayak biasanya yah.”
Soonyoung tersenyum kecil — mulutnya menggumamkan kata terimakasih selagi menerima gelas itu tapi sebelum dia sempat bicara, Mba Rara sudah menarik napas panjang.
“Aku mau ngomong sesuatu.”
Nada itu… berbeda. Bukan nada ringan sepupu yang sering rempong sendiri. Ini nada yang berat berarti bahasannya akan serius.
Soonyoung sudah punya firasat buruk. “Tentang project IVF?”
“Iya,” jawabnya pelan. “Aku pikir… aku berubah pikiran.”
Seperti seseorang melempar batu besar ke dadanya. Jatuh. Keras.
“Berubah… gimana?” Soonyoung berusaha tetap stabil.
“Aku nggak yakin bisa lanjut jadi penerima, Nyong. Aku — ” wanita itu berhenti, mengusak pelan rambutnya gelisah “ — aku pikir aku siap waktu kamu cerita soal program donor itu. Tapi makin dekat, aku makin bingung. Ini bukan cuma soal proses biologisnya, tapi soal setelah lahirnya nanti. Aku belum yakin. Aku belum… selesai dari grief ku.”
Soonyoung menelan ludah kering.
Dia tahu. Dia juga sadar sejak awal kalau Mba Rara memang kelihatan ragu — tapi selama ini dia percaya itu hal kecil, bukan sampai titik membatalkan.
“dan juga nggak mau bikin kamu susah,” lanjut Rara. “Tapi aku harus jujur sebelum kamu makin jauh. Aku sayang kamu, Nyong. Makanya aku nggak mau kamu jadi pelarian trauma aku.”
Dalam hati Soonyoung jatuh sampai dasar. Semua yang selama ini hal yang bisa menjadi cahaya untuk mbaknya yang dia bayangkan seketika mendadak buyar.
“Mba,” suaranya serak. “Aku… nggak apa-apa kok kalau Mba masih butuh waktu. Kita..kita masih bisa diskusi lagi nanti.”
Rara menggeleng cepat. “entah nyong, aku nggak mau kamu menunggu sesuatu yang belum tentu bisa aku jalanin. Kamu pasti bisa nemu penerima lain. Aku yakin.” Kemudian tangan lembut mbak rara mengelus punggung tangan soonyoung seraya ya menenangkan pria itu.
Kata-kata itu terdengar seolah penghiburan, tapi dampaknya sendiri lebih mirip “selamat berjuang sendirian”.
Setelah pertemuan itu, Soonyoung berjalan pulang ke ruangan lab dengan langkah autopilot, dan sisa harinya di lab terasa kosong seperti udara AC yang disetting ke mode fan.
Kembali ke lab,
Malamnya, ketika lab sudah hampir kosong, Wonwoo menaruh pundaknya setengah menyender agak berdiri di balik kaca ruangan, memperhatikan Soonyoung yang sedang mengambil catatan kultur. Soonyoung terlihat hidup — seperti biasanya — tapi ada sesuatu yang tidak sinkron: Geraknya sedikit terlalu lambat. Bahunya terlalu tegang. Matanya sering kosong sebelum akhirnya fokus lagi.
Sedari awal siang wonwoo notis bahkan hampir menceritakan apa yang dia lalui seperti menaruh iba padahal belum tahu apa yang dipikirkan oleh pria kecil itu, wonwoo akhirnya masuk. Pintu kaca menutup pelan di belakangnya. “soonyoung..” sedangkan yang punya nama tak sempat menoleh hanya membalas mode karir.
“Kamu kayak yang nggak seharusnya di sini deh,” katanya.
Soonyoung tersentak kecil. “Hah? kok gitu dok?”
Wonwoo berjalan mendekat agak terkekeh, berdiri di seberang meja.
“Saya cuma bercanda, soonyoung.” malah hanya dibalas senyum gusar, melihat itu wonwoo berubah concern.
“Capek atau banyak pikiran nih?”
Soonyoung menelan ludah. “Dua-duanya.” mereka terdiam beberapa detik sampai akhirnya soonyoung membuka suaranya.
“Saya nggak tau mulainya dari mana.”
“okee, coba mulai dari bagian yang paling kamu ngerti aja.”
Soonyoung terdiam. Lama. Tangan kirinya mengusap belakang leher, kebiasaan ketika dia sedang gugup. Wonwoo menangkap gerakan itu dan memberikan pembahasan “too much information” guna mencairkan suasana supaya soonyoung — bisa seenggaknya lebih santai, setelah tektok beberapa saat,
Akhirnya dia bicara.
“Dokter… kalau seseorang udah janjian sama kita, tapi tiba-tiba batal… itu salah siapa ya?”
Wonwoo mengangkat alis sedikit. Pertanyaan itu terlalu spesifik untuk jadi generalisasi.
“Kenapa kamu tanya gitu?”
“Karena saya mikir…” Soonyoung menggigit bibir. “Saya ikut satu program ini dan harusnya ada seseorang yang bantu saya di tahap berikutnya. Tapi orang itu berubah pikiran. Saya ngerti alasannya. Tapi saya juga takut kalau nanti saya nggak punya siapa-siapa lagi buat nerusin.”
Wonwoo menghela napas pendek. “Program apa tuh?”
Soonyoung tersentak kecil, cepat menggeleng berusaha mengkilah pembahasan yang keluar dari mulut asbunnya. “Nggak… nggak penting. Saya cuma… ya itu misal dok kaya perumpaan lah.”
Wonwoo mendekat satu langkah. “bisa jadi kamu kehilangan support system atau semacamnya?”
“Bukan support system, lebih kayak… partner.” Soonyoung buru-buru menambahkan, “Bukan partner romantis.”
Wonwoo tertawa pelan. “wah.. saya sih nggak nyangka bakal ke sana.”
Soonyoung memijit pelipisnya. “Pokoknya saya bingung deh dok. Harus cari orang lain atau berhenti. Tapi kalau berhenti… kerja keras saya di awal buat hal ini kayak sia-sia.”
Wonwoo mengangkat dagunya sedikit, tatapannya lembut tapi tajam. “Kamu terlalu keras sama diri sendiri sih.”
“soalnya akutuh nggak mau buang waktu orang.”
“masalahnya kamu juga nggak boleh buang dirimu sendiri cuma karena seseorang berubah pikiran.”
Soonyoung memejam mata sebentar. “yaa, disini ketakutanku nggak ada yang nerima… apa pun yang akan saya bawa.”
Wonwoo menahan napas sepersekian detik. Ada kilatan tertentu di matanya, sesuatu yang terdengar seperti: kalaupun kamu nggak bilang, sebenernya aku bisa tebak inti masalahnya ke mana.
Tapi pria FJ itu memilih bicara dalam bahasa yang sama — bahasa kiasan.
“Kamu tau gak,” katanya pelan, “kadang orang baru bisa nerima sesuatu ketika waktunya tepat dan.. kamu bukan sesuatu yang mudah dikasih ke sembarang orang. Kamu itu… ya, kamu.”
Soonyoung tertawa hambar. “Itu kalimat apa, dok.”
“Kalimat yang mungkin kamu butuh dengar.”
Soonyoung menatapnya lama. “tapi…saya takut gagal.”
“Semua orang juga takut gagal,” jawab Wonwoo. “Tapi kamu bukan tipe yang nyerah cuma karena satu orang batal. Kamu bakal ketemu orang yang tepat selagi hal tersebut masih berjalan.”
Wonwoo kembali menimpali “itu menurutku ya..”
“Kedengarannya klise ih.”
“Karena klise itu biasanya benar kan?”
Soonyoung mendecak pelan tapi wajahnya melunak. Wonwoo menyandarkan pinggulnya ke meja. “Kalau kamu butuh… saya bisa bantu mikir solusi. itung itung mengasah problem-solving”
Soonyoung mendongak, terkejut. “Dokter… maksudnya…?”
“Oh maksudnya bantu mikir solusi. Bukan ambil alih.”
“Oh.”
Mendengar itu soonyoung hanya tersenyum simpul namun entah hatinya menghangat sedikit dan itu cukup membuatnya bertahan melalui hari itu. mungkin 2 sampai 3 minggu, setelah itu dia harus mencari cara bagaimana membujuk atau bagimana harus mencari pengganti.
Ruangan itu hening beberapa detik. Hening yang tidak mengekang, tapi juga nggak nyaman. Hening yang jujur. Lalu tanpa pikir panjang, Wonwoo mengambil kursi di sebelahnya dan duduk.
“Kamu udah makan?”
Pertanyaan itu sederhana sekali, tapi anehnya kenapa masuk seperti pukulan paling lembut. Tanpa pikir panjang, soonyoung menggeleng.
“Nah. Kamu pulang bareng saya aja. Sekalian makan dulu.”
“Dok, jangan repot — ” Wonwoo buru buru menyanggah.
“Mana ada repot sih, kecuali kalau kamu pingsan di laminar flow — kurang makan. padahal bimbingannya sama saya, itu baru repot.”
Soonyoung menghela napas kecil, lelah tapi sedikit lega. Keberadaan pria FJ ini malah menjadi orang yang sedikit demi sedikit punya role dalam kesehariannya — melihat soonyoung berdiri dan menggendong tasnya Wonwoo pun berdiri, meraih tasnya, dan menepuk bahu Soonyoung ringan.
“Saya serius, mumpung masih after office hour nih” jawab Wonwoo singkat. “Ayo, sebelum saya paksa.”
— –
Langkah mereka tetap santai. Udara malam naik pelan dari lantai parkiran, dingin tipis yang nempel di kulit. Wonwoo berjalan setengah langkah di depan — nggak mencolok, tapi cukup buat nutupin jalur. Kebiasaan kecil yang entah sejak kapan Soonyoung hafal, meski nggak pernah benar-benar dia sadari.
“Kamu tadi mikirnya jalan sendirian, ya?” Wonwoo bertanya sambil menekan tombol kunci mobil. Bunyi beep pendek memecah sunyi.
“Dikit,” jawab Soonyoung jujur. “Tapi ya… masih bisa ngurus diri sendiri.”
Wonwoo mengangguk, seperti menerima itu apa adanya. “Kamu bisa. Cuma nggak harus.”
Soonyoung ngedip, bingung harus nangkepnya gimana. “Itu dokter obrolan sebelumnya karna disfungsi lobus frontal… atau profesionalitas aja?”
Wonwoo menoleh. Tatapannya tenang, terlalu lama buat sekadar basa-basi, tapi juga dalam tatapannya ga memaksa apapun.
“Enggak,” katanya akhirnya. “Itu saya.”
Dia nggak bilang akan menemani nggak bilang juga akan pergi. Cukup enigmatis namun wonwoo masih berdiri di situ, di antara gelap dan mobil yang udah kebuka, kayak keputusannya udah diambil — tinggal Soonyoung mau jalan bareng atau enggak.
Dada Soonyoung terasa panas aneh seperti ada tekanan yang membawa keluar dari mulut, kan ga lucu abis makan bareng dia muntah tapi dia juga ga mual jadi sebelum apapun itu dia buru-buru membuang muka, masuk ke mobil. Wonwoo menyalakan mesin, AC mobil otomatis menyala pelan.
“Nanti saya drop kamu di stasiun atau depan kos sekalian?”
“Stasiun aja dok,” jawab Soonyoung.
“noted.”
Jawaban singkat itu entah kenapa bikin Soonyoung ketawa kecil. Wonwoo ikut tersenyum di balik kemudi. Mobil melaju beberapa meter sebelum suasana kembali hening, tenang, jenis diam yang nggak bikin risih.
“Intinya, jangan terlalu keras sama diri sendiri ya.”
“nggak keras dok, menurutku.” Nada Soonyoung melembut, diakhiri tawa tipis. Ada rasa ambigu di dadanya — seolah Wonwoo tahu sesuatu — tapi dia memilih nggak mikir ke arah sana.
Kalimatnya menggantung. Keraguan kecil di ujung suara itu bikin Wonwoo melirik sekilas, tatapannya susah ditebak. Detik berikutnya, dia pura-pura meraih sesuatu di sisi kursi penumpang.
“Apanya yang nggak?” katanya santai. “Seatbelt aja belum kamu pasang.”
Soonyoung langsung refleks, gerakannya buru-buru dan kikuk saat mengaitkan sabuk pengaman. Klik.
Begitu sampai stasiun, Soonyoung sudah terlihat sedikit lebih hidup. Dia membuka seatbelt, tapi sebelum turun dia menoleh.
“Dok.”
“Hm?”
“Makasih ya. Buat hari ini… dan beberapa minggu ini.”
Wonwoo menatap kembali. Ada senyum kecil, dalam sekali tapi ditahan, seperti seseorang yang sedang mencoba tidak menunjukkan berapa jauh perasaannya sudah masuk.
“Anytime.”
Kalimat pendek yang bikin Soonyoung turun dengan dada yang terasa… rumit. Hangat. Bingung.
Di balik kemudi, Wonwoo memandang punggung kecil itu berjalan menuju lampu stasiun dan untuk pertama kalinya setelah lama, dia membiarkan dirinya berharap sedikit lebih. Sedikit saja.
Hubungan mereka berubah. Tanpa deklarasi. Tanpa disadari. Sejak hari itu, segala interaksi di lab… punya nada yang lebih pelan, lebih dalam, lebih saling mencari.
Sesuatu sudah mulai tumbuh. Tidak keras, tidak meledak — tapi konsisten. Seperti kultur yang sedang inkubasi.
메타데이터
- post_id
- 44e0e511f301
- slug
- conundrum-44e0e511f301
- url
- https://medium.com/@asahongsumn/conundrum-44e0e511f301
- canonical_url
- https://medium.com/@asahongsumn/conundrum-44e0e511f301
- author_url
- https://medium.com/@asahongsumn
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-28 18:41:33