Dan ketika lara menyapaku, aku tahu bukan hadirmu yang kuharapkan lagi sebagai pelipurnya.
Tapi benar-benar aku tak menyalahkanmu, karena kerapuhan itu berasal dari diriku.
Dan ketika lara menyapaku, aku tahu bukan hadirmu yang kuharapkan lagi sebagai pelipurnya.

cr : pinterest
Tapi benar-benar aku tak menyalahkanmu, karena kerapuhan itu berasal dari diriku.
Sejak awal seharusnya kutahan, untuk tidak menaruh harapan akan ada sosok yang bisa melipur tiap lara yang hadiriku. Menyapu goresan-goresan luka yang tertoreh di benak yang kian menggelap menjelma malam. Tak tahu akan penawar apa yang seharusnya kuminum agar mengeringkan luapan emosi yang terpapar kesedihan ini, sehingga menggantungkannya pada dirimu adalah pilihan yang kuanggap benar.
Sayangnya, dirimu tak mampu menahan. Kebingungan yang tampaknya juga menggerayangimu cukup membuatku yakin, bahwa aku yang salah karena sudah mengharapkanmu menemaniku.
Tat kala torehan pedih yang semakin dalam ketika kukenang bahwa aku sedari awal memang sudah sendiri. Mengetahui bahwa hadirmu benar memberikan sukacita, namun belum mampu menghapus dukacita, karena tak jarang asalnya juga dari dirimu.
Engkau sungguh benar-benar tak tahu terkadang aku meringis melihat sikapmu akan diriku. Tapi benar-benar aku tak menyalahkanmu, karena kerapuhan itu berasal dari diriku. Akulah yang sebenarnya menorehkan luka diriku, melanggar batasan yang kubuat hanya untuk sebuah kesenangan yang kuharapkan sejak lama. Namun bukankah sudah sewajarnya manusia menginginkan hal-hal baik?
Sayap kupu-kupu yang indah, menawan hati. Sayangnya begitu mudah rusak jika digenggam oleh tangan yang salah. Bukan, bukan berarti genggaman tanganmu padaku salah. Maksudku, keindahan milikku bisa begitu mudah rusak, jika aku salah melangkah. Jika aku salah berharap. Jika aku tak bisa menyembuhkannya untukku.
Dan begitu lara mulai menghampiriku. Aku tahu, bahwa yang bisa kuharapkan hanyalah secercah cahaya yang mungkin tidak bisa kuharapkan akan datang darimu. Karena justru terkadang harapanku kepadamu membuat lara itu semakin menelanku. Dan kali ini kubiarkan hatiku melayang-layang sehingga dia bisa menemukan pelipur lara sejati miliknya.
Dan untukmu yang tercinta. Biarkanlah aku menjadi pelipur laramu. Meskipun aku sendiri tak mempunyainya. Tapi akan kuusahakan yang terbaik agar dirimu tak perlu ikut bersamaku mencarinya.
9 juli 2026 [er-19:18]
메타데이터
- post_id
- 44ec76a0fe15
- slug
- dan-ketika-lara-menyapaku-aku-tahu-bukan-hadirmu-yang-kuharapkan-lagi-sebagai-pelipurnya-44ec76a0fe15
- url
- https://medium.com/@deloonarratio/dan-ketika-lara-menyapaku-aku-tahu-bukan-hadirmu-yang-kuharapkan-lagi-sebagai-pelipurnya-44ec76a0fe15
- canonical_url
- https://medium.com/@deloonarratio/dan-ketika-lara-menyapaku-aku-tahu-bukan-hadirmu-yang-kuharapkan-lagi-sebagai-pelipurnya-44ec76a0fe15
- author_url
- https://medium.com/@deloonarratio
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-29 22:53:31