← Back to list

Mendidik Para Pengajar

Ada kejadian cukup mengherankan yang pernah saya alami sewaktu masih menjadi santri di salah satu pondok di Jawa Tengah.

Helmi Santosa · 2026-07-06 12:31 · 0 claps · 3.6 min read
#pondok-pesantren #pesantren #ponpes #santri #pendidikan-indonesia
Open on Medium ↗

Mendidik Para Pengajar

Photo by Fabrice Villard on Unsplash

Photo by Fabrice Villard on Unsplash

first published on 10 March 2022

Ada kejadian cukup mengherankan yang pernah saya alami sewaktu masih menjadi santri di salah satu pondok di Jawa Tengah.

Saya ingat betul kejadian tersebut.

Kala itu saya masih duduk di kelas 4 (1 Muallimin). Usia saya waktu itu mungkin sekitar 15–16-an.

Hari itu, pondok tengah mengadakan ujian — sepertinya ujian semester.

Ujian diadakan di masjid syabab dan diawasi oleh dua orang. Yang pertama adalah warga biasa, dan yang kedua adalah seorang pengajar.

Mereka berdampingan mengawasi jalannya ujian, berdiri di depan.

Singkat cerita, ujian sudah selesai dikerjakan dan saya pun maju.

Tiba di meja besar, tempat para santri mengumpulkan lembaran ujian, saya sedikit menata tumpukan tersebut, meletakkan lembar ujian saya agar berada di paling bawah.

Pada momen yang sangat singkat itu, yang bahkan mungkin tidak sampai setengah menit, sesuatu yang menurut saya cukup mengherankan terjadi.

Tepat selepas saya menaruh lembar ujian, Si Warga mengomentari lembar ujian milik teman sekelas saya yang kebetulan berada di paling atas tumpukan.

“Wah, keren, ya, jawabannya si … (nama teman sekelas saya) bisa objektif gini.” Sambil menatap saya.

Itu tatapan murni dari Si Warga, hanya ingin membuka obrolan dan mencoba akrab dengan para santri. Jelas sekali.

Waktu itu saya hendak menyahut, Oh, ya, punya siapa memang?

Menanggapi saja, membalas keramahan.

Dan belum sempat saya membuka mulut untuk menjawab, Si Pengajar (ustat) memotong,

“Ah, santri mana paham kata ‘objektif’ … “

Babi. Bangsat.

Dalam batin, “Ini beneran ‘ustat’?”

Bagi beberapa orang, hal ini mungkin menyakitkan.

Tapi bagi saya pribadi, ini aneh.

Saya hanya diam.

Tidak merespon, barang setengah huruf.

Segera berlalu, kembali ke asrama.

Lupakan.

Baru setelah saya sampai pada hari ini di usia 22, saya mengingat kembali kejadian tersebut sekaligus merefleksikan diri.

Melihat kembali, sudah sampai sejauh mana diri ini tumbuh dan berkembang.

Entah bagaimana keadaan Si Pengajar sekarang, tapi yang jelas dia masih tinggal di kompleks ma’had.

Sekarang, kalau boleh sombong, hei, saya sudah pernah mengedit sejumlah buku dari beberapa penerbit yang minimalnya berjumlah 150 halaman. Juga mengedit banyak artikel dari sebuah situs majalah Islam pionir dan ternama di Indonesia.

Selain di blog-blog yang saya kelola sendiri (termasuk blog ini), saya juga telah menulis puluhan artikel di Kaskus, Medium, dan bahkan tulisan-tulisan saya juga pernah dimuat di anak perusahaan milik Tempo.

Kamu bisa menilai sendiri, bagaimana tulisan saya (termasuk yang sedang kamu baca ini).

Tak terhitung berapa banyak artikel yang sudah pernah saya baca, termasuk artikel-artikel luar negeri.

Bila sedang tidak ada kegiatan yang cukup menyibukkan, saya rutin menyempatkan diri membaca artikel-artikel menarik di Tirto dan Historia.

Karena topik yang sangat beragam, saya sering sekali mendapati banyak kata yang mengharuskan saya membuka KBBI untuk mengetahui artinya.

Tidak hanya itu, saya juga mengoleksi dan membaca banyak buku.

Jadi, singkatnya, saya sudah menjumpai dan memahami banyak kata, lebih dari sekadar kata objektif.

Jujur, sebenarnya saya pun tidak ingin menyinggung hal barusan karena memang bukan itu yang ingin saya sampaikan dan tekankan di sini.

Tapi sepertinya tak apalah, agar ketika suatu hari nanti ada yang membaca tulisan ini, semoga ia bisa tertampar dan sadar, melihat seperti apa sesungguhnya yang terjadi dan bagaimana semua itu berjalan:

bahwa setiap orang selalu memiliki kesempatan untuk tumbuh.

Menuju inti pembahasan.

Sebuah pertanyaan: Apa yang membuat saya heran?

Saya pikir, sebagai seorang pengajar, seharusnya yang terjadi di dalam lingkungan pendidikan bukanlah semata “mentransfer” ilmu — itu pun kalau ilmunya bisa dicerna.

Ada tuntutan lain yang hanya bisa dijumpai bila seorang pengajar memiliki moral dan kepekaan hati.

Semua tentang bagaimana menciptakan lingkungan untuk tumbuh.

Bagaimana seorang pengajar bersedia:

  • membesarkan hati murid-muridnya,
  • menyemangati mereka,
  • membimbing,
  • mengarahkan,
  • berbesar hati dan lapang dada menerima teguran serta masukan,
  • dan yang paling penting, yang merupakan inti dari sebuah pendidikan, yaitu menyadarkan murid-muridnya bahwa tujuan utama dari sebuah pendidikan adalah agar mereka bisa menjadi manusia yang bebas.

Bebas dari kungkungan kebodohan.

Beruntung kala itu ia mengucapkan kalimat tersebut hanya kepada seorang bocah remaja tanggung yang belum nalar.

Tapi tolong, jangan sampai hal ini terulang kembali kepada mereka-mereka yang sudah beranjak menjadi seorang pemuda. 17–18 ke atas.

Ada masanya ketika seorang pemuda merasakan kepercayaan diri yang tinggi.

Mereka memiliki gagasan menarik tentang suatu hal, misalnya, dan belum menemukan sarana atau bahkan orang yang tepat untuk menuangkan gagasannya tersebut.

Dan bila kamu kebetulan “terpilih” menjadi sosok tempat mereka mau bercerita atau mungkin secara tidak sengaja mendengar cerita mereka, tolong jangan bersikap seolah kamu sudah berada jauh tinggi di atas dan lantas meremehkan.

Jangan pernah sekalipun menjatuhkan mental dan menyurutkan semangat mereka.

Yang perlu dan seharusnya dilakukan adalah menemani dan membimbing mereka dengan pengalaman.

Dari kejadian yang pernah saya alami tersebut, yang terjadi bertahun-tahun lalu, saya tidak mengerti bagaimana seorang pengajar yang semestinya membantu para muridnya untuk tumbuh, tapi malah secara tidak langsung hendak menjungkirbalikkannya.

Bermula dari sebuah kalimat.

Memang benar kata pepatah:

“Guru yang baik adalah ia yang mau berusaha mengajari muridnya agar menjadi lebih hebat daripada dirinya.”

Semakin ke sini, semakin tampak pula perbedaan nyata antara “pengajar” dan “pendidik”.

Ada yang hanya masuk kelas dan menyampaikan materi, ada juga yang betul-betul menghayati setiap kesempatan yang dimilikinya untuk membimbing murid-muridnya tumbuh.

Entah kepada siapa para “pengajar” ini harus belajar.

Rasanya, semua ini memang harus dimulai dari kesadaran diri yang baik.

Mulai hari ini, kepada para pengajar, sudilah untuk belajar mendidik diri sendiri terlebih dahulu, baru kemudian mendidik para generasi penerus.

Suka tulisan saya? Silakan share ya, biar semakin bermanfaat buat banyak orang. 👍🏻

Traktir saya kopi 📲 di sini 😁

Mungkin kamu bakal butuh 📲 ini


메타데이터
post_id
45222d994e7a
slug
mendidik-para-pengajar-45222d994e7a
url
https://medium.com/@helmisantosa/mendidik-para-pengajar-45222d994e7a
canonical_url
https://medium.com/@helmisantosa/mendidik-para-pengajar-45222d994e7a
author_url
https://medium.com/@helmisantosa
status
ok
fetched_at
2026-07-13 20:05:53