← Back to list

Tujuh Kartu di Atas Meja

Photo by Viva Luna Studios on Unsplash

R.A Awani · 2026-06-07 14:58 · 0 claps · 2.9 min read
Open on Medium ↗

Tujuh Kartu di Atas Meja

Photo by Viva Luna Studios on Unsplash

Photo by Viva Luna Studios on Unsplash

Ada satu fragmen ingatan yang tertinggal saat aku masih mengenakan seragam putih-abu-abu. Sepuluh tahun lalu, aku dan Kay pernah duduk berdua, misuh-misuh mengutuk kepala sekolah yang keputusannya aneh luar biasa karena sama sekali tidak menghargai peluh kami di pekan lomba animasi.

Dari urusan sekolah, obrolan kami yang masih labil itu meluber ke mana-mana, termasuk tentang bagaimana pernikahan terasa sebagai sebuah institusi yang mengerikan.

Maklum, isi rumah kami berdua tidak seindah keluarga cemara yang ranum di taman kota. Hari itu, dengan wajah paling meyakinkan sedunia, Kay bersumpah bahwa dia tidak akan pernah mau menyerahkan dirinya pada sebuah pernikahan.

Tapi siang ini, berhala yang dibangun Kay runtuh tanpa suara. "Jadi gitu, Rain. Gue bakal nikah Desember tahun ini," kata Kay sambil nyengir lebar. Aku melongo. Kalimat itu cukup instan membuatku merasa tersengat listrik jutaan volt. Namun, melihat binar di matanya, ada rasa hangat yang mendadak menyelinap di dadaku. Sialan, teman kecilku yang sinis ini benar-benar sudah melangkah maju, berani berdamai dengan masa lalu sebagaimana orang dewasa melakukannya.

"Demi apa lo?! Sumpah lo zaman SMK lo kemanain, hah? Di-loak?" pekikku, sebelum akhirnya buru-buru menyalaminya dan mengucapkan selamat berulang kali demi menutupi rasa haru sekaligus iri yang campur aduk.

Aku menyesap minumanku, mencoba menjinakkan kecemasan yang mengetuk batok kepala. "Kay... lo masih suka pegang tarot, kan?" "Masih, dong. Kenapa? Muka lo kode banget minta diuji nyali," ledek Kay, menaikkan sebelah alisnya.

Aku sedang frustrasi setengah mati memikirkan hidup yang makin tak karuan akhir-akhir ini. Maka aku mulai berdecak, "Boleh deh. Tapi buat seru-seruan aja, ya! Jangan bawa-bawa takdir gaib, gue lagi sensitif."

"Halah, bilang aja lo takut dapet kartu berlambang peti mati," sahut Kay lambat-lambat sambil mengeluarkan sekotak kartu tarot dari tasnya. "Beneran nih gak apa-apa gue telanjangin isi kepalanya, Rain? Jangan nangis ya habis ini?"

Aku melotot tak setuju, berusaha keras menyembunyikan kecemasan tentang bagaimana nasib romansaku tahun ini yang lebih mirip gurun Sahara. Belum lagi urusan karier—apakah aku bisa jadi orang kaya raya yang bergelimang harta, atau malah selamanya begini-begini saja?

Kay terkekeh. Ia mengocok kartu-kartu itu dengan ritme yang konstan, lalu menebarkannya di atas meja. "Pilih tujuh kartu. Sini gue ramal nasib percintaan lo yang biasanya lebih mirip tragedi Ophelia."

Saat jemariku menyentuh permukaan kartu-kartu itu, gemuruh di dadaku mendadak riuh. Aku betulan takut setengah mati kalau nasib burukku terpampang nyata di atas meja.

Demi Tuhan, aku merapal doa dalam hati, meminta langit untuk merevisi nasibku kalau-kalau isinya jelek.

"Tenang, jantungan amat. Gue buka satu-satu," ucap Kay lembut, tapi senyum tengilnya mulai terbit. Hal itu malah membuatku refleks meremas pergelangan tangan sendiri.

"Gimana? Bagus, kan? Jangan diam aja lo!" desakku tak sabaran. "Sabar, Ibu Rain..." Kay membalik kartu pertama. Matanya langsung melebar jenaka. "Wah, lo harus potong tumpeng sih habis ini." "Hah? Kenapa?" "Lo bakalan punya pasangan tahun ini! Cowoknya dapat dari tempat kerja, dan bentukan kartunya sih... dia bakalan bucin tingkat dewa sama lo," kata Kay, menunjuk salah satu kartu bergambar ilustrasi rumit. "Terus secara ekonomi, dia betulan mapan. Dan plot twist-nya, dia bakal datang pas ekonomi lo sendiri juga sudah stabil."

Aku menahan napas, menyerap setiap detail kalimatnya seolah itu adalah sabda semesta. "Sumpah lo? Gak lo bagus-bagusin demi menghibur gue, kan?" "Kelihatan di kartu, sekalian kelihatan dari instastory galau lo yang isinya kode-kodean tiap jam dua pagi," cibir Kay sambil tertawa. "Ah, satu lagi... banyak banget yang sayang sama lo. Temen lo itu kelewat banyak, Rain, dan mereka semua tulus banget. Jadi lo harus banyak-banyak bersyukur buat bagian itu, walaupun hilal pacar belum kelihatan di depan mata."

Ramalan yang bagus. ada sedikit rasa lega yang merayap dalam dada, mengusir sesak.

Aku tidak tahu apakah ramalan ini betulan valid atau hanya sekadar sugesti baik yang ditiupkan semesta ke hadapanku. Tapi jika memang benar suatu saat nanti aku dipertemukan dengan seseorang yang akan jadi partner hidupku, aku bersumpah dia harus mendapatkan versi terbaik dari diriku.

Maka, selama menunggu dan selama dia belum menampakkan batang hidungnya, aku akan sibuk memperbaiki segala hal tentang diriku sendiri. Aku percaya cinta itu indah; kalau kita sibuk bebenah dan bersiap, sebab dia akan datang di waktu yang tepat dan tak akan pernah terlewat.

R.A Awani


메타데이터
post_id
4580e51300f0
slug
tujuh-kartu-di-atas-meja-4580e51300f0
url
https://medium.com/@raawani/tujuh-kartu-di-atas-meja-4580e51300f0
canonical_url
https://medium.com/@raawani/tujuh-kartu-di-atas-meja-4580e51300f0
author_url
https://medium.com/@raawani
status
ok
fetched_at
2026-06-22 12:55:45