Pasar Dangdeur dan Kapitalisme
Tulisan ini adalah hasil refleksi penelitian mahasiswa antropologi di Pasar Dangdeur dalam mata kuliah Kapitalisme.
Pasar Dangdeur dan Kapitalisme
Tulisan ini adalah hasil refleksi penelitian mahasiswa antropologi di Pasar Dangdeur dalam mata kuliah Kapitalisme.

Pasar
Pasar diartikan sebagai tempat atau ruang terjadinya interaksi antara penjual dan pembeli yang melakukan transaksi terhadap komoditas, baik berupa barang atau jasa. Dalam hal ini, terdapat beberapa kategori sosial yang berada di dalam pasar dengan kategori sosial pokoknya terdiri dari pejual dan pembeli. Lebih dari sekadar tempat, pasar merupakan sebuah institusi sosial yang menghimpun aturan, norma, dan sistem tentang mekanisme jual-beli. Kategori-kategori sosial yang berada dalam pasar ini diatur oleh kaidah-kaidah dalam institusi.
Keberadaan institusi pasar ini telah ada sejak dahulu. Pada masa zaman prasejarah, peradaban manusia menggunakan sistem barter atau pertukaran barang di tempat mereka berkumpul sebagai pasar. Sistem barter yang tadinya masih marak digunakan mulai terganti dengan standardisasi nilai pada alat tukarnya ke dalam bentuk uang, mulai dari uang logam, kertas, sampai berbentuk digital. Sebagai tempat distribusi barang dan jasa, pasar menjadi sebuah institusi yang penting dalam suatu masyarakat untuk dapat bertahan.
Selama berabad-abad, pasar terus mengalami transformasi sesuai dengan perkembangan ekonomi dan teknologi masyarakat. Namun, terdapat hal yang masih tetap ada dalam institusi pasar ini, yaitu komoditas dan transaksi. Komoditas merupakan semua produk atau hasil kerja manusia yang diperdagangkan untuk melipatgandakan nilai. Dalam hal ini, pasar berfungsi sebagai ruang untuk distribusi berbagai komoditas dari tempatnya diproduksi menuju ke tangan para konsumen. Dengan begitu, transaksi pun terjadi antara penjual dengan pembeli yang menawarkan komoditas.
Kapitalisme dalam Pasar
Dewasa ini, sistem perekonomian masyarakat menunjukkan ciri kapitalis. Kapitalisme melingkupi seluruh unsur kehidupan manusia sekarang. Setiap orang yang tidak memiliki modal dipaksa untuk menjual tenaga kerjanya kepada para borjuis yang memiliki banyak modal. Hal ini membagi masyarakat pada kelas-kelas sosial, antara kelas pemilik modal dengan kelas tanpa modal. Keterpisahan kelas ini diperkuat dengan pranata kepemilikan pribadi yang membuat tingkat kesenjangan yang semakin tinggi.
Di dalam masyarakat kapitalis ini, satu-satunya cara untuk mendapatkan barang dan jasa adalah dengan pergi ke pasar; menukar uang dengan komoditas yang diinginkan (Mulyanto, 2017). Begitu pula sebaliknya, jika seseorang ingin mendapatkan uang, ia harus membawa barang dagangannya ke pasar. Hasil dari transaksi antara uang dan komoditas ini akan terakumulasi menjadi modal bagi orang tersebut.
Pasar Dangdeur
Dalam Mata Kuliah Kapitalisme, Bisnis, dan Budaya Industrial ini, saya bersama kelompok diberikan tugas untuk melakukan penelitian ke Pasar Dangdeur yang terletak di Rancaekek. Pasar Dangdeur merupakan pasar tradisional yang menyediakan beragam barang dagangan, terutama bahan-bahan pokok. Sayuran yang beragam warna, daging-dagingan beserta olahannya seperti bakso, minyak, bumbu masakan, ikan hidup, buah sampai jajanan grosiran. Semua barang dagangan ini terkumpul dalam satu atap yang sama, berjualan pada lapak yang berdempetan.
Sebelumnya, Pasar Dangdeur merupakan pasar tradisional yang terletak di luar gedung dengan pedagang membuka lapaknya masing-masing dengan meja kayu. Namun, para pedagang tersebut kemudian direlokasi ke dalam gedung Rancaekek Trade Center (RTC). Gedung ini pun menjadi pusat dari kegiatan dari Pasar Dangdeur. Walaupun begitu, masih terdapat beberapa pedagang kecil yang tetap membuka lapak di luar gedung.
Saya bersama kelompok sempat melakukan 2 kali kunjungan ke Pasar Dangdeur; pada Kamis 5 Oktober dan Rabu 18 Oktober 2023. Kunjungan pertama dilakukan untuk melakukan observasi awal terhadap aktivitas yang ada di pasar. Pada saat melewati gedung RTC, sekilas gedung tersebut tidak tampak seperti pasar tradisional. Setelah masuk, barulah terlihat suasana pasar tradisional yang ramai dengan orang, jalan sempit yang diapit oleh jongko dan kios, serta semerbak yang bercampur dari daging, cabai, dan keringat mulai terasa.
Saat itu, waktu sudah mulai siang, sekitar jam 11. Banyak pedagang yang telah mengosongkan lapaknya seperti tukang daging, sayur, dan buah. Pedagang yang masih buka adalah toko grosiran yang sedang menyortir barang dagannya. Sisa pedagang yang masih beraktivitas juga bersiap untuk segera pulang seperti tukang santen yang merapikan kelapa parutnya atau ibu tukang daging yang membersihkan jongkonya dari darah. Aktivitas yang dominan justru kegiatan bersih-bersih yang dilakukan oleh petugas kebersihan menandakan berakhirnya aktivitas transaksi di pasar tersebut. Meski dibersihkan, lantai pasar masih tetap becek dengan air.
Santan dan Kelapa Parut
Dalam kunjungan ini, saya mengusulkan untuk melakukan penelitian kepada tukang santan atau kelapa parut. Ide ini muncul karena saya tertarik untuk membuat es potong yang campuran dominannya menggunakan santan. Usul pun diterima oleh kelompok.
Kami pun beruntung sempat untuk mengobrol dengan pemilik kios santan yang sedang berbincang-bincang santai dengan temannya. Ia dipanggil Abang, orang Minang kelahiran Bandung yang merintis usaha kelapa parut ini semenjak lepas lulus dari SMA. Waktu berjualan Pasar Dangdeur memang sedari tengah malam sekitar jam 2 sampai pagi jam 9, waktu siang merupakan waktu istirahat. Begitu pula pada kios si Abang.
Kunjungan kedua kami lakukan lebih pagi mengingat kami ingin mengamati aktivitas dari pasar tersebut, terutama dari pedagang santen yang berada di sana. Kami sampai lebih pagi, pada jam 6. Pasar di pagi hari begitu ramai, ratusan transaksi dan riuh proses tawar-menawar terjadi pada puluhan pedagang dan pembeli. Hal pertama yang kami lakukan adalah mengelilingi pasar untuk menghitung jumlah kios pedagang santan yang berjualan. Terdapat 5 pedagang santan yang berada di Pasar Dangdeur, persis seperti yang diceritakan oleh si Abang. Setelah sarapan, akhirnya kami pun memutuskan untuk menyebar dalam mewawancarai pedagang santan agar waktunya efektif.
Namun, strategi pencarian informasi seperti ini justru tidak berjalan lancar. Baru 5 menit setelah menyebar, teman kelompok saya, mahasiswa pertukaran yang berasal dari Sulawesi, menelpon saya yang sedang melakukan wawancara. Ia bercerita tak mampu untuk melakukan wawancara karena sang pedagang dominan menggunakan bahasa Sunda yang tak ia mengerti. Kemampuan bersosialisasi pada kondisi sosial yang baru ini memang penting untuk dimiliki oleh seorang antropolog agar dapat menyeimbangi rasa keingintahuannya.
Sementara itu, saya mewawancara kios yang dimiliki oleh si Abang. Pagi itu, si Abang sedang tidak berada di kios, yang ada hanyalah ketiga karyawan tetapnya. Ketiganya masuk setiap hari sedari jam 2 hingga jam 9 pagi. Pembagian kerjanya adalah 2 orang menjaga kios, seorang membungkus santan, orang lainnya bertugas untuk memasukkan kelapa parut pada mesin penggiling, sedangkan seorang lagi bertugas memarut kelapa dengan mesin parutan yang berada di jongko seberang kios. Selain di pasar, mereka bertugas mengirimkan kelapa ke pasar daerah lain seperti Ciroyom, Banjaran, Cimahi, dan Caringin. Setiap karyawan tersebut digaji per hari sekitar 80–100 ribu yang dibayar secara mingguan oleh si Abang.
Melakukan wawancara dan observasi terhadap kegitan karyawannya dapat memperlihatkan corak kapitalisme. Karyawan menjual tenaga kerjanya pada pemilik sarana produksi atau pemodal sehingga ia digaji dengan sejumlah uang. Berbagai komoditas diperdagangkan, mulai dari hasil bumi sampai buatan mesin pabrik. Sebagai institusi sosial, pasar juga mengatur bagaimana transaksi antara kategori sosial penjual dan pembeli berlangsung. Pasar menjadi tempat untuk mencari barang dan jasa, menukar uang dengan komoditas.
Daftar Pustaka
Mulyanto, Dede. 2017. Genealogi Kapital, Antropologi dan Ekonomi Politik Pranata Eksploitasi Kapitalistik. Sleman: Resist Book.
메타데이터
- post_id
- 45bb43151b5d
- slug
- pasar-dangdeur-dan-kapitalisme-45bb43151b5d
- url
- https://medium.com/@pandyamaguantara/pasar-dangdeur-dan-kapitalisme-45bb43151b5d
- canonical_url
- https://medium.com/@pandyamaguantara/pasar-dangdeur-dan-kapitalisme-45bb43151b5d
- author_url
- https://medium.com/@pandyamaguantara
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30