← Back to list

Upah Laki-Laki vs Perempuan di Jatinangor

Jatinangor sering dikenal sebagai “kota mahasiswa” dengan 4 kampus besar, deretan kos-kosan, warung makan, dan kafe yang tak pernah sepi…

Winchen Lee · 2025-12-11 07:55 · 1 claps · 3.2 min read
#diskriminasi-gender #kesenjangan-sosial #kewarganegaraan #sdg5
Open on Medium ↗

Upah Laki-Laki vs Perempuan di Jatinangor

Jatinangor sering dikenal sebagai “kota mahasiswa” dengan 4 kampus besar, deretan kos-kosan, warung makan, dan kafe yang tak pernah sepi. Tapi di balik keramaian mahasiswa yang sibuk mengejar akademik, ada dunia pekerja yang jarang tersorot. Mereka yang menjaga kebersihan koridor, melayani di kasir, mengangkat barang di gudang, dan memastikan roda kehidupan di sekitar kampus tetap berputar. Dari rasa penasaran terhadap dunia yang (seolah) berjalan diam-diam di sekitar kami inilah, proyek tentang kesenjangan upah gender ini lahir — bukan sekadar sebagai tugas kuliah, tetapi sebagai upaya kecil untuk menjawab isu “Apakah upah di sekitar kita sudah adil bagi semua, tanpa memandang laki-laki atau perempuan?”

Secara nasional, data dan kajian menunjukkan bahwa rata-rata upah pekerja perempuan masih berada di bawah pekerja laki-laki, meskipun Indonesia sudah memiliki kerangka hukum dan komitmen internasional yang menegaskan prinsip equal pay for work and equal value. Angka-angka itu membuat kami bertanya: jika di tingkat nasional disparitas ini jelas terlihat, bagaimana wujudnya di level lokal seperti Jatinangor, yang sehari-hari terasa begitu “biasa” dan dekat? Apakah kesenjangan itu juga hadir di warung tempat kami makan, di toko tempat kami belanja, di layanan yang kami gunakan setiap hari atau justru ia bersembunyi dalam bentuk-bentuk yang lebih halus dan sulit ditangkap?

Untuk menjawabnya, kami tidak ingin berhenti pada tumpukan jurnal dan dokumen resmi. Kami menyusun kerangka teori tentang modal manusia, diskriminasi di pasar tenaga kerja, dan segregasi pekerjaan, lalu menerjemahkannya menjadi panduan wawancara yang membumi dan mudah dipahami. Tahap demi tahap kami jalani, mengidentifikasi masalah, menyusun proposal, merancang pertanyaan, menentukan responden, hingga merumuskan rencana publikasi dalam bentuk video edukasi dan konten visual. Bagi responden yang bersedia berbagi cerita, kami menyiapkan paket sembako sederhana sebagai bentuk terima kasih sekaligus penegasan bahwa data yang mereka berikan bukan sekadar data riset, tetapi bagian dari pengalaman hidup yang pantas dihargai.

Pengalaman turun ke lapangan dan langsung mewawancarai para pekerja ini mengubah cara kami melihat Jatinangor. Dari pekerja toko ritel hingga penjaga tempat makan, dari pekerja harian hingga pegawai yang sudah bertahun-tahun mengabdi, masing-masing membawa perspektif mereka tentang upah, jam kerja, beban hidup, dan harapan mereka terhadap masa depan. Di titik ini, kami belajar bahwa riset bukan hanya soal mengumpulkan angka, tetapi juga soal memberi ruang bagi suara-suara yang jarang bahkan tidak didengarkan.

Hasilnya tidak sesederhana ada atau tidaknya diskriminasi. Mayoritas responden menyatakan bahwa secara resmi, sistem pengupahan di tempat kerja mereka tidak membedakan upah berdasarkan jenis kelamin; perbedaan gaji biasanya dikaitkan dengan masa kerja, jabatan, dan pendidikan. Namun ketika percakapan berlangsung lebih dalam, sekitar sepertiga responden mengaku pernah mengalami atau menyaksikan perlakuan yang mereka anggap tidak adil terkait upah dan lingkungan kerja, yang bersinggungan dengan gender. Mulai dari beban kerja yang tidak seimbang, peluang promosi yang lebih sempit, hingga komentar yang meremehkan kemampuan perempuan. Di saat yang sama, tingkat pemahaman mereka mengenai equal pay for work and equal value sebenarnya cukup baik, menunjukkan bahwa kesenjangan hari ini sering kali bukan lahir dari ketidaktahuan, melainkan dari praktik dan budaya yang belum sepenuhnya berubah.

Kami tidak ingin temuan itu hanya berakhir di lampiran laporan. Data dan cerita lapangan kemudian kami sulap menjadi video singkat dan infografis yang padat, visual, dan mudah dibagikan di media sosial. Alih-alih memaksa orang membaca laporan puluhan halaman, kami mencoba menyajikan esensi riset dalam format satu menit yang bisa lewat di feed Instagram atau beranda TikTok. Di sana, angka-angka tentang kesenjangan upah bersanding dengan narasi dari pekerja Jatinangor, sehingga konsep kesetaraan upah tidak lagi terasa abstrak, melainkan dekat dengan keseharian: warung langganan, minimarket di sudut jalan, atau jasa yang sering kita pakai tanpa pernah bertanya siapa yang dibayar berapa.

Di balik output yang terlihat, proyek ini juga menanamkan banyak hal pada kami sebagai mahasiswa. Kami belajar bahwa upah bukan sekadar angka di slip gaji, melainkan berkaitan dengan martabat manusia dan pengakuan atas kerja; bahwa empati tumbuh ketika kita mau duduk bersama, mendengar, dan tidak menginterupsi. Profesionalisme dan integritas akademik diasah saat kami berusaha jujur mengolah data, tidak melebih-lebihkan temuan, dan disiplin mengikuti proses penelitian. Lebih dari itu, kami mulai memahami makna kewarganegaraan demokratis: warga negara bukan hanya pemilih di bilik suara, tetapi juga pengawas kebijakan dan penyuarai keadilan di ruang publik .

Kami sadar bahwa satu proyek kecil di Jatinangor tidak akan menghapus kesenjangan upah gender di Indonesia. Namun, jika ada sesuatu yang bisa kami bawa pulang dari pengalaman ini, itu adalah keyakinan bahwa perubahan selalu berawal dari keberanian untuk bertanya dan kesediaan untuk bergerak, sekecil apa pun langkahnya. Saat ini, kami masih mahasiswa yang meneliti dan berkampanye, tapi beberapa tahun lagi, kami mungkin akan menjadi pekerja, manajer, pengusaha, akademisi, atau pembuat kebijakan. Saat berada di posisi itu, kami ingin mengingat kembali wajah-wajah yang kami temui terkait isu upah ini dan memastikan bahwa keputusan yang kami ambil tidak lagi melanggengkan kesenjangan serta diskriminasi, tetapi justru memutus mata rantainya.


메타데이터
post_id
45c5d07f3a49
slug
upah-laki-laki-vs-perempuan-di-jatinangor-45c5d07f3a49
url
https://medium.com/@winchenlee9/upah-laki-laki-vs-perempuan-di-jatinangor-45c5d07f3a49
canonical_url
https://medium.com/@winchenlee9/upah-laki-laki-vs-perempuan-di-jatinangor-45c5d07f3a49
author_url
https://medium.com/@winchenlee9
status
ok
fetched_at
2026-07-14 07:42:55