Cordelia.
from Pinterest
Cordelia.

from Pinterest
Hujan pertama di bulan Januari, aroma tanah basah menguar, menjamu orang-orang yang merindukan nuansa petrichor indah seperti di film-film. Ironisnya hujan selalu datang menjadi pelengkap dalam drama romantis.
Tapi ini bukan soal film. Di luar guntur sesekali berteriak, cahayanya yang menyilaukan seakan memberitahu pemilik rumah bahwa ada seseorang yang minta disambut kedatangannya. Mereka hanya berdiri beberapa inci dari pintu yang menjadi penghalang keduanya.
Ketukan putus asa tiga kali meminta belas kasih sebagai besarnya cinta yang ia bawa, “Bisakah kita berbicara sebentar?”. Tidak ada kemarahan dalam suaranya, ia masih sama seperti laki-laki lembut yang sering tertawa meskipun dalam hatinya mengatakan sebaliknya.
Tidak ada jawaban. Orion dapat melihat gadis manis itu mengintip sedikit dari balik tirai, hangatnya kehadirannya dari balik pintu sudah cukup membuatnya merasa hidup. Orang-orang memanggilnya dengan akrab Lia, sesuai dengan namanya, Cordelia sangat cantik, anggun dan pemalu. Orion tidak munafik jika salah satu alasan jatuh cinta adalah karena kecantikannya yang unik, dia bukan gadis yang mudah tertawa atau gemar berkerumun dengan teman-teman kantornya. Namun karena sesuatu yang berbeda membuat Orion semakin ingin tahu lebih. Pandangannya beralih pada kawanan Camelia merah muda di halaman rumah, harumnya yang menenangkan berlomba dengan petrichor dan suara aquarium samar di balik tembok ruang tamu. Orion baru menyadari sejak kedatangannya kali pertama, gadis itu sangat rajin merawat tanamannya. Dilihat dari cara mereka tumbuh dan berkembang lebat. Sekarang, hujan dengan tidak sopan menghantam setiap mekarnya yang mungkin tadi pagi masih secantik ketika matahari berdiri di atasnya.
“Apa yang ingin kau dengar lagi? Aku tidak mau membuang waktumu untukku yang bahkan tidak mau dimiki siapapun”.Suaranya yang datar mengalir dari balik pintu, Orion spontan menoleh. Tapi yang ia temukan hanya suara sepatu yang masih membuat batasan besar diantaranya.
“Lia, Aku sungguh-sungguh denganmu. Bisakah kau mempercayaiku, kau tidak perlu repot-repot melakukan apapun, Aku akan membuatmu mengerti apa itu cinta”
Cordelia mendengarkan, matanya yang bulat terpejam dengan kedua tangan mengepal di sisi tubuh. Sejenak Lia merasa tidak adil dengan tuhan, bagaimana orang sebaik Orion harus jatuh cinta pada ketidakpastian sepertinya.
“Lia… aku meminta izin kepadamu, bisakah kau memberi Aku kesempatan untuk mendekat? Tolong sebentar saja, biarkan waktu berjalan semestinya”, Laki-laki itu tidak merengek, suaranya yang dalam menekankan semua keyakinan sejelas perasaannya. Tapi Lia tetaplah Lia, memilih tinggal hanya akan menyakiti dengan percuma. Hatinya terlalu batu untuk memberi kesempatan sekalipun pada waktu.
“Bagaimana jika Aku tetap tidak mau?…” Suaranya yang merdu merenggut kesunyian selama beberapa detik, bulu mata Orion yang lentik meluruh geli diatas permukaan kulit-pandanganya jatuh pada sepasang sepatu yang lusuh oleh kubangan air bercampur tanah.
“Orion, carilah orang lain yang mau menerima sebanyak cintamu. Aku bukan orang yang pantas untuk semua itu. Kau… Kau orang baik, jangan buang waktumu untuk orang sepertiku”. Suaranya memelan, tubuhnya yang ramping bersandar penuh pada pintu rumahnya. Berharap AC dirumahnya tidak sedingin halaman rumahnya yang menggigil, berharap dengan ketegasan yang meragu bisa membuat seseorang mengerti diluar sana.
Pemuda itu terdiam sebentar, membuat Cordelia tidak tahan untuk mengintip, seperti adik perempuan yang menyelinap saat teman kakaknya berkunjung, rupanya rasa penasaran tidak bisa ia kendalikan. Orion menatapnya, bagaimana dia bisa berpaling hanya untuk menikmati keluguannya yang sangat natural. Walau terhalang kaca jendela berembun namun Cordelia bisa melihat wajahnya yang pucat masih jelas menampilkan ekspresi terganggu. Pundaknya yang lebar basah, kemeja motif berlengan panjang yang ia kenakan lembab setengah. Hujan, selain menebas tanamannya, mereka juga berbagi suasana canggung untuk teman kantornya.
“Bahkan, sampai sekarang Aku masih tidak mengerti seorang gadis mana yang sedang kau bicarakan. Lia, tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna. Bukan kamu ataupun Aku, tapi dengan belajar bersama kita bisa saling memahami. Aku mencintaimu yang apa adanya”. Petir menggelegar, Cordelia tidak tahan lagi. Bendungan yang ia tahan dengan susah payah akhirnya jebol, pipinya yang bulat basah sepenuhnya oleh air mata yang tidak diundang. “Kamu tidak mengerti… “ Isaknya tertahan oleh telapak tangan, “Aku bahkan tidak memahami diriku sendiri. Tolong, biarkan Aku berdamai dengan caraku. Dengan hubungan yang bahkan Aku bingung pantas Aku dapatkan atau tidak… semua hanya akan berakhir dengan sia-sia, Orion. Aku sudah lama tidak pernah melihat Lia benar-benar hidup, jangan habiskan hidupmu untuk mencintai orang yang bahkan tidak mencintai dirinya sendiri…”. Semua meledak diluar ekspektasinya, Cordelia tidak tahu mengapa ia harus membocorkan hal yang tidak pernah berniat ia tunjukkan pada orang lain. Apa boleh buat, Orion sudah terlanjur mendengarnya, langit yang menggelap dengan teriakan petir menjadi saksi kebodohannya. Ia hanya berharap pria dibawah atap rumahnya pura-pura tidak mengenalnya besok ketika mereka tidak sengaja berseberangan saat melewati pantry dan saling mengaduk secangkir kopi.

from Pinterest
Heningnya suara guntur tidak membantu apapun, nyatanya diamnya Orion sedikit menganggu untuknya. Lalu, pria manis itu menghela napas. Bukan karena muak, tapi lebih terdengar sudah lelah. Bagus, memang seharusnya mereka tidak perlu benar-benar dekat, “Baik, Cordelia,” Cordelia merasa gila karena jantungnya ribut dibalik dia yang bersembunyi lewat pintu rumahnya.
“Aku tidak bisa memaksa orang untuk berbalik mencintaiku, tapi Aku masih mau menjadi teman bekerjamu. Jangan banyak berpikir dan beristirahatlah, kamu harus ingin ini Lea. Bahwa semua orang berhak bahagia, terlepas apapun masalahmu, bukan berarti kamu tidak boleh merasakan dicintai…“ Suaranya yang rendah tidak terdengar gamblang meskipun keputusasaan tercetak jelas pada nada bicaranya.
Cordelia mendengar langkah sepatu mundur dua langkah, naluri lagunya terasa lucu bahkan ketika ia tidak rela teman prianya akan meninggalkannya, jantungnya berdetak seirama dengan jam dinding besar yang terpajang nanar di ruang tamu.
“Aku akan pulang dan membersihkan diri, jaga diri baik-baik”. Tidak, harusnya bukan dia yang pantas diberitahu hal ini. Beratnya hari ini sudah cukup membunuh mereka, namun cuaca yang tidak berkenan harus pula menghantam di penghujung hari. Dan yang lebih buruk lagi, temanmu menyatakan perasaannya dengan tegas kepadamu.
Sebelum berat langkah kaki di dalam sepatu yang rapat menjauh, pintu besar itu dengan ajaib terbuka lebar, menampilkan seorang gadis dengan piyama tidur lucu yang menatap tegang kearahnya,namun sebelum Orion bisa melihat jelas punggungnya yang lebar terasa hangat oleh tubuh orang lain. Aroma patchouli menyelimuti dinginnya udara senja. Senyum Orion merekah setelah ia membalikkan badan, dia tidak mengatakan apapun tapi matanya yang lentik menatap setiap keraguan di wajah Cordelia.
Sedangkan orang lain dihadapannya hanya bisa mengepalkan kedua tangannya karena kegugupannya yang sulit ia kendalikan, meskipun ragu-ragu Cordelia mengulurkan payung. Orion menerimanya dengan lembut, perlahan mata bundar Cordelia menengadah. Kedua mata mereka berserobok cukup lama, hanya untuk mengagumi satu sama lain dalam diam. Rambut legam yang basah menyapu sebagian wajahnya yang pucat, matanya yang indah mengepak diantara bias air hujan yang masih menetes satu persatu. Dia masig tersenyum tenang meskipun ucapannya terlalu sarkastis.
Sebaliknya, Orion akan membuktikan sebisanya bahwa, jatuh cinta itu tidak mudah. Meskipun begitu, tidak ada yang tidak mungkin, dia tidak mengucapkan janji secara lisan karena perempuan itu rumit. Orion tidak mau membangun tembok yang lebih tinggi lagi dari ini, tapi ia akan membuktikan pada gadisnya bahwa cinta akan merubah hidupnya menjadi lebih baik. Pria itu tersenyum lebih lebar setelah mengatakan janjinya lewat mata, dia mundur beberapa langkah sebelum merentangkan payung biru ke udara.
Sampai jumpa di pertemuan berikutnya Cordelia.
Gadis itu membeku, dia tidak tau apa yang terjadi dari tubuhnya, kakinya terlalu kaku untuk menjauh di balik sendal berbulu. Bahkan ketika Orion berpamitan untuk pulang, yang bisa ia lakukan hanya mengangguk dan bergumam samar. Tubuhnya tegap dan menjanjikan, punggungnya yang lebar mulai menghilang seiring belokan jalan.

from Pinterest
short narrative from Ohyul LNGSHOT, ft Carmen Hearts2Hearts.
26 feb — Ditulis Rae
메타데이터
- post_id
- 45e4b7ea24b3
- slug
- cordelia-45e4b7ea24b3
- url
- https://medium.com/@serendipitysmmm/cordelia-45e4b7ea24b3
- canonical_url
- https://medium.com/@serendipitysmmm/cordelia-45e4b7ea24b3
- author_url
- https://medium.com/@serendipitysmmm
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13