← Back to list

HEEHOON —The Sovereign’s Choice

Satu membangun benteng dari kayu dan kerja keras. Satu hidup di balik perlindungan keluarga yang terlalu besar.

cen · 2026-06-01 15:57 · 1 claps · 55.8 min read
#heehoon #heeseung #sung-hoon #omegaverse #fiction
Open on Medium ↗
Wiki topics: ML · Machine Learning LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

HEEHOON —The Sovereign’s Choice

Satu membangun benteng dari kayu dan kerja keras. Satu hidup di balik perlindungan keluarga yang terlalu besar.

tw cw // Fiction, Alpha!Hee, Omega!Hoon, Omegaverse, Alpha/Omega/Beta Dynamics, Adoption, Pheromones, Family Pressure, Arranged Marriage, Emotional Manipulation, Family Conflict, Classism heehoon au, slight jukyu 14,4k words

Aroma kayu jati yang baru diserut dan lapisan finishing premium selalu menjadi tempat pelarian terbaik bagi Evan. Di dalam studio pribadinya yang hening, hanya ditemani dengung rendah mesin penyedot debu kayu, laki-laki Alpha itu tengah menatap sebuah sketsa kursi ergonomis terbaru miliknya.

Baginya, proyek kali ini bukan sekadar mengejar estetika, melainkan sebuah pembuktian mekanika dan kenyamanan.

Objek fokusnya adalah lekukan sandaran punggung (backrest) yang harus mengikuti kurva alami tulang belakang manusia. Evan meraih jangka sorong dan penggaris busur, memeriksa kembali detail ukuran pada cetakan biru yang tersebar di atas meja kerjanya yang luas.

Ia berjalan mendekati sebongkah kayu jati gelondongan yang telah ia pilih sendiri dari tempat pelelangan. Dengan cekatan, Evan menyalakan mesin bandsaw. Suara raungan mesin memecah keheningan studio saat mata pisau baja perlahan memotong kayu mengikuti garis pola yang sudah ia lukis sebelumnya. Butiran serbuk kayu halus beterbangan, menempel di lengan bajunya yang digulung hingga siku, namun fokusnya tidak teralih sedikit pun. Setiap milimeter potongan harus presisi; kesalahan kecil akan merusak seluruh distribusi beban kursi nantinya.

Setelah struktur kasar komponen kursi terbentuk, Evan beralih menggunakan pahat manual dan palu kayu. Di sinilah insting alaminya sebagai desainer diuji. Ia membentuk penopang lumbal (lumbar support) dengan ketelitian seorang pemahat. Telapak tangan kanannya yang kapalan berulang kali mengusap permukaan kayu yang baru dipahat, merasakan tekstur dan konturnya.

“Kursi yang baik tidak boleh memaksa tubuh beradaptasi,” gumamnya pada diri sendiri, mengingat filosofi desain yang selalu ia pegang teguh. Kursi itu yang harus memeluk tubuh.

Bagi dunia luar — terutama kalangan elit — Evan adalah Heeseung, anak haram dari keluarga konglomerat properti dan mebel terbesar di negara ini. Butuh bertahun-tahun kerja keras, malam-malam tanpa tidur, dan air mata yang disembunyikan agar ia bisa diakui oleh keluarga besar ayahnya. Evan tidak diberi kemudahan; setiap jengkal ruang yang ia tempati sekarang adalah hasil dari pertarungan yang berdarah-darah.

Ia bangun usahanya sendiri dari nol sebagai product designer independen yang bergerak di sektor mebel, dengan fokus spesifik yang sedang ia tekuni: furniture designer khusus kursi. Baginya, sebuah kursi bukan sekadar tempat duduk, melainkan simbol takhta yang ia bangun dengan tangannya sendiri.

Tentu saja ada campur tangan keluarga. Meskipun tidak diizinkan mengelola perusahaan atau menyentuh lini bisnis utama, ia tetap diberikan mandat mengambil bidang yang masih sejalan dengan gurita bisnis keluarga besar.

Kebijakan itu sekilas tampak seperti keleluasaan, namun Evan tahu betul itu adalah taktik cerdik untuk menjerat lehernya. Dengan membiarkannya bergerak di radius yang sama, keluarga besar ayahnya bisa dengan mudah mengawasi setiap gerak-gerik Evan, memastikan ia tetap berada dalam jangkauan kendali, sekaligus bersiap memotong sayapnya jika sewaktu-waktu bisnis independen yang ia bangun dinilai mulai mengancam stabilitas imperium utama.

Fokusnya pada pencapaian membuat kehidupan romantis Evan gersang. Ia melihat bagaimana kakak-kakak tirinya berakhir dalam pernikahan politik yang dingin demi bisnis. Evan sempat mencoba membuka hati, namun sebagian besar omega atau beta yang mendekatinya hanya mengincar nama yang sudah melekat dari ia lahir ke dunia.

Evan muak.

Romantisme baginya adalah transaksi yang melelahkan.

Di sisi lain kota, kehidupan yang sangat berbeda dijalani oleh Sunghoon.

Sebagai seorang Omega, Sunghoon tumbuh dalam limpahan kasih sayang yang luar biasa dari Daddy-nya, Juyeon (seorang Alpha dominan), dan Papi-nya, Changmin (seorang Beta yang lembut). Sunghoon tahu betul ia adalah anak adopsi. Ia tidak memiliki hubungan darah dengan orang tuanya, maupun dengan adik laki-lakinya. Namun, keluarga kecil mereka tidak pernah membedakan.

Sunghoon dimanjakan dengan cara yang paling elegan. Seluruh kebutuhannya — mulai dari fasilitas pendidikan, kesehatan, hingga detail kecil seperti parfum aroma chamomile favoritnya — selalu terpenuhi sebelum ia sempat memintanya.

Kemewahan yang diterima Sunghoon tidak pernah berupa tumpukan uang tunai yang vulgar atau pameran harta yang mencolok, melainkan sebuah sistem pendukung yang begitu mulus dan senyap. Kendaraan pribadi yang siap mengantarnya ke mana pun selalu dalam kondisi prima dengan pengawal yang berkamuflase menjadi sopir.

Semua fasilitasi ini diberikan bukan untuk memanjakan Sunghoon menjadi sosok yang manja dan tak berguna, melainkan bentuk proteksi mutlak dari Juyeon dan Changmin. Mereka ingin memastikan bahwa dunia luar tidak akan pernah bisa menyuap atau merendahkan Sunghoon dengan materi, karena di rumahnya sendiri, ia telah diletakkan di atas altar kasih sayang yang paling tinggi.

Meskipun Sunghoon tidak memiliki ambisi untuk memimpin Perusahaan Periklanan Celena (milik kakeknya) atau WF Entertainment (industri hiburan raksasa milik Daddy-nya), bayang-bayang masa depan itu selalu setia mengikuti.

Saat hidangan utama disajikan, Juyeon mungkin akan menceritakan perkembangan proyek film terbaru WF Entertainment, lalu menatap Sunghoon dengan binar bangga sembari berkata, “Daddy sengaja mengambil hak distribusi internasional untuk proyek ini.”

Lalu Changmin akan menimpali dengan senyuman lembut, menaruh potongan daging terbaik ke piring Sunghoon, “Papi juga mulai merapikan manajemen di Yayasan Celena. Kuota magang dan jalur karier khusus di WF sudah disiapkan buat anak-anak yang berprestasi.”

Hal ini memicu badai lain. Sunghoon menjadi “target utama” di kalangan sosialita. Kolega bisnis Juyeon dari industri hiburan hingga rekan bisnis Celena berlomba-lomba menyodorkan anak-anak Alpha mereka untuk dijodohkan dengan Sunghoon. Sunghoon lelah menjadi piala yang diperebutkan.

Malam itu, asosiasi desainer interior nasional mengadakan malam penghargaan dan pameran kurasi tahunan yang sangat prestisius. Acara yang digelar di aula utama Grand Ballroom tersebut menjadi magnet bagi para kolektor seni, kritikus, dan tentu saja — kalangan sosialita elit yang mencari dekorasi eksklusif untuk kediaman mewah mereka.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap talenta domestik, pameran kali ini menyeleksi ketat mahakarya dari desainer lokal terbaik. Salah satu barang yang dipamerkan di sana adalah sebuah kursi fungsional dengan estetika tinggi bernama “The Sovereign” — karya terbaru dari Evan.

Evan hadir malam itu bukan sebagai anggota keluarga konglomeratnya, melainkan sebagai vendor dan desainer yang diundang resmi oleh panitia. Ia berdiri di sudut ruangan dengan setelan jas hitam formal, mengamati orang-orang kaya yang menilai karyanya hanya dari label harga.

Sampai akhirnya, seorang pemuda berkulit seputih salju dengan aura yang sangat lembut berjalan mendekati kursi buatannya. Itu Sunghoon.

Sunghoon melepaskan diri dari kerumunan Alpha yang sejak tadi mengitarinya dengan obrolan membosankan tentang saham dan warisan. Langkah kakinya berhenti di depan kursi kayu dengan lekukan geometris yang tampak kokoh namun nyaman itu.

Sunghoon menoleh, menemukan seorang Alpha jangkung dengan tatapan mata yang tajam namun tampak lelah dari dunia. “Saya tidak berniat merusaknya. Saya hanya kagum. Kursi ini terlihat … egois, tapi sangat protektif. Seperti dibuat oleh seseorang yang harus membangun bentengnya sendiri.”

Evan tertegun. Untuk pertama kalinya, ada orang yang membaca konsep desainnya dengan tepat tanpa membaca pamflet kurator. “Anda mengerti desain?”

Sunghoon tersenyum tipis, sebuah senyuman yang entah mengapa membuat aroma cedarwood maskulin milik Evan bereaksi. “Tidak terlalu. Saya hanya tahu mana barang yang dibuat dengan ambisi, dan mana yang dibuat dengan keterpaksaan.”

Sebelum Evan sempat membalas, suara langkah kaki terdengar mendekat. Juyeon dan Changmin berjalan menghampiri mereka, diikuti oleh beberapa kolega bisnis yang sejak tadi mengekor.

“Sunghoon, Sayang, kamu di sini,” panggil Changmin lembut.

Juyeon, sang Alpha dominan, menatap Evan dengan pandangan menilai. Sebagai pelaku bisnis, ia tentu tahu betul siapa pemuda di hadapannya dan latar belakang rumit keluarga yang membayanginya. Namun, Juyeon memilih untuk diam dan menghormati batasan tak tertulis malam itu. Evan hadir di sini murni sebagai seorang pelaku seni, bukan sebagai salah satu anak konglomerat yang datang sekadar memenuhi daftar tamu undangan

“Kursinya bagus,” ucap Juyeon, dengan tetap menjaga raut wajah dan berikan apresiasi yang pantas didapat sebagai pelaku seni. Meskipun, mungkin, nantinya desain kursi tersebut akan didistribusikan dan meraup untung.

“Terima kasih, Tuan. Saya menghargai apresiasinya,” jawab Evan sopan namun tetap menjaga jaraknya yang bermartabat.

Setelah obrolan singkat itu, Juyeon perlahan pamit mundur. Ia menepuk bahu Sunghoon pelan, memberi isyarat bahwa ia akan bergabung kembali dengan Changmin yang tampaknya sedang berbincang dengan salah satu kurator pameran di seberang aula.

Sementara itu, Sunghoon sengaja tidak langsung mengikuti langkah sang Daddy. Ia berdalih masih ingin melihat-lihat detail guratan kayu pada bagian lengan kursi The Sovereign, memberikan ruang bagi dirinya sendiri — dan juga Evan — untuk melanjutkan percakapan yang sempat terputus di antara mereka.

Evan sedikit memperbaiki posisi berdirinya. Tatapan matanya yang semula tampak lelah, kini mengikuti alur pandang dari laki-laki yang tetap tinggal. “Anda melihatnya dengan sangat mendalam.”

Sunghoon mendongak, menatap langsung ke netra Evan. “Saya melihat sebuah tempat perlindungan. Itulah mengapa saya mengagumi konsep Anda.”

Keheningan formal kembali tercipta di antara mereka selama beberapa detik, memberi ruang bagi aroma cedarwood milik Evan untuk bereaksi samar, sebelum akhirnya pemuda berkulit salju itu sedikit memiringkan kepalanya dan melanjutkan ucapan dengan nada yang lebih terarah.

“Jika Anda tidak keberatan, saya ingin mengajukan sebuah permintaan khusus. Saya mengagumi sentuhan tangan Anda dan berniat untuk memesan sebuah kursi yang didesain secara spesifik untuk ruang baca pribadi saya.”

“Sebuah kehormatan bagi saya menerima apresiasi yang begitu tulus,” jawab Evan dengan anggukan hormat yang berwibawa. “Namun, pesanan khusus seperti ini akan memakan waktu yang tidak sebentar, karena saya harus menyelaraskan setiap dimensi dan detailnya langsung dengan kenyamanan Anda sebelum mulai pengerjaan.”

Mendengar penjelasan tersebut, Sunghoon memberikan senyuman tipis yang menawan. “Tentu.”

Sunghoon kemudian mengulurkan tangan kanannya dengan formal di udara, bersiap untuk mengakhiri percakapan sebelum kembali pada rombongan keluarganya.

“Sunghoon.”

Evan menatap tangan yang terulur itu, lalu menyambutnya dengan genggaman yang lembut.

“Evan.”

Lonceng kecil di atas pintu kayu jati itu berdenting, memecah keheningan sore di studio pribadi Evan. Langkah kaki Sunghoon terdengar mantap saat ia melangkah masuk, membiarkan matanya menjelajahi setiap sudut ruangan. Studio itu tidak seperti galeri seni komersial yang biasa ia kunjungi; tempat ini terasa lebih hidup, dipenuhi aroma khas kayu yang baru dipahat, minyak politur, dan aroma kopi yang samar.

Sunghoon tidak bisa menyembunyikan binar kekaguman di matanya. Sinar matahari senja yang menerobos masuk melalui jendela-jendela besar setinggi langit-langit jatuh tepat di atas beberapa mahakarya yang setengah jadi. Bagi Sunghoon, studio ini mencerminkan isi kepala pemiliknya: rapi, penuh perhitungan, namun memiliki jiwa yang bebas.

Ia berjalan mendekati sebuah kursi kayu berdesain kontemporer yang dipajang di sudut ruangan. Jemarinya yang bersih dan berhias cincin mahal bergerak menyusuri lekukan sandaran kursi tersebut. Potongannya begitu presisi, memperlihatkan serat kayu alami yang seolah bercerita tentang ketelitian pembuatnya.

“Luar biasa,” gumam Sunghoon pelan, beralih menatap Evan yang berdiri tidak jauh darinya dengan pakaian kerja yang sedikit terkena debu kayu. “Saya tahu Anda berbakat, Tuan Evan. Tapi melihat langsung bagaimana Anda menghidupkan sebilah kayu di studio ini … ini jauh lebih impresif dari yang saya bayangkan.”

Evan hanya membalas dengan senyuman tipis dan anggukan sopan, menghargai pujian itu tanpa terlihat jemawa.

Sunghoon kemudian berjalan santai mengitari ruangan, melihat-lihat beberapa hasil karya lain — mulai dari sketsa kasar yang tertempel di dinding hingga furnitur-furnitur pesanan khusus yang siap dikirim. Setelah puas mengagumi aspek estetika, tatapan Sunghoon kembali pada Evan. Kali ini, sorot matanya berubah, sedikit lebih tajam, khas seorang pria yang dibesarkan di lingkungan bisnis yang kompetitif.

“Saya datang ke sini murni karena saya menginginkan salah satu kursi terbaik Anda untuk ruang baca saya,” ujar Sunghoon memulai percakapan, suaranya terdengar santai namun menuntut perhatian. “Namun, melihat kualitas yang ada di sini, saya jadi penasaran tentang satu hal.”

Sunghoon menyandarkan tubuhnya dengan elegan pada salah satu meja kerja kayu yang kokoh. “Bagaimana sebenarnya proses pendistribusian karya-karya seindah ini? Maksud saya, sebagai seorang pelaku seni yang bekerja secara mandiri di studio pribadi, bagaimana sistem kerja Anda dalam menyalurkan mahakarya ini ke tangan kolektor?”

Pertanyaan itu tidak terdengar seperti interogasi formal atau diskusi profesional yang kaku antar-rekan bisnis. Nada bicara Sunghoon terdengar seperti keingintahuan yang kasual, mengalir begitu saja. Namun, di balik intonasi santainya, Evan bisa menangkap riak yang berbeda. Sunghoon tidak sekadar ingin tahu bagaimana kursi-kursi itu dikemas atau dikirim.

Ada kilat ambisi yang samar di mata Sunghoon. Melalui pertanyaan itu, ia sedang memetakan jalur, menilai seberapa besar potensi pasar yang dikuasai Evan, dan mencari celah di mana sebuah keuntungan. Bagi Sunghoon, keindahan seni tetaplah sebuah aset, dan ia ingin tahu seberapa jauh aset itu bisa bergerak di bawah kendali seorang Evan.

Evan tidak langsung menjawab dengan gamblang. Cetak biru tentang bagaimana sebuah industri bergerak sudah tertanam di kepalanya sejak lama, mendikte cara berpikirnya bahkan saat ia sedang memegang pahat kayu.

Ia menatap Sunghoon, membiarkan keheningan sejenak membangun ketegangan yang pas, sebelum akhirnya bersuara dengan nada yang jauh lebih taktis.

“Saya menghargai insting bisnis Anda, Tuan Sunghoon. Dan jujur saja, saya tidak se-idealistis itu hingga menutup mata dari cara kerja pasar,” ujar Evan, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kalkulasi. “Setiap kursi di sini memang diperlakukan sebagai karya seni, tetapi saya juga sudah merancang cetak biru untuk langkah berikutnya.”

Evan berjalan mendekati salah satu lemari arsip, menepuk pelan tumpukan cetak biru desain yang tertata rapi di sana.

“Memproduksi secara massal bukanlah hal yang tabu bagi saya, asalkan batasannya jelas. Saya tidak tertarik dengan konsep produksi massal konvensional yang mengorbankan material demi mengejar kuantitas. Dengan begitu, produk ini bisa menjangkau pasar yang lebih luas tanpa kehilangan sentuhan eksklusivitasnya.”

Mendengar penjelasan taktis itu, senyum di bibir Sunghoon perlahan berubah. Kilat ambisi yang tadinya mendominasi sorot matanya kini menyurut, digantikan oleh binar pengakuan yang jauh lebih personal. Ia menatap Evan dengan cara yang berbeda, seolah baru saja menemukan sebuah teka-teki yang terjawab.

Di dalam kepala Sunghoon, memori lama tiba-tiba berputar. Sikap Evan, pembawaannya yang tenang, hingga caranya mempertahankan idealisme seni di dalam wadah kalkulasi bisnis yang matang — semuanya terasa begitu familier. Evan, entah bagaimana, mengingatkan Sunghoon pada Papinya, Changmin.

Changmin adalah seorang pelukis. Meskipun sekarang pria itu tidak lagi menjajakan hasil karya lukisnya secara luas di galeri-galeri komersial dan lebih memilih melukis untuk kepuasan pribadi, dulu papinya pernah berada di posisi yang persis sama dengan Evan.

Sunghoon ingat betul bagaimana papinya dulu berjuang di antara dua dunia. Changmin sangat mencintai seni, memuja setiap goresan kuas di atas kanvas, tetapi di saat yang sama, sang papi adalah pria realistis yang tahu bahwa idealisme saja tidak bisa memberi makan keluarga atau mempertahankan kehormatan di dunia luar yang kejam. Papinya butuh strategi, butuh kompromi yang cerdas untuk menghadapi realitas kehidupan tanpa harus melacurkan jiwanya pada industri.

Dan sore ini, Sunghoon melihat cetak biru mentalitas itu hidup kembali dalam diri pemuda di hadapannya. Evan bukan seniman rapuh yang mudah digoyahkan oleh tumpukan uang, bukan pula pebisnis serakah yang buta akan estetika. Evan adalah perpaduan sempurna dari keduanya — sama seperti Changmin dulu.

“Menarik,” ucap Sunghoon pelan, suaranya melunak, kehilangan sedikit ketegangan formalnya. Sunghoon berbalik, menatap Evan dengan senyum tipis yang kini terasa lebih hangat. “Mengetahui Anda memiliki pemikiran seperti ini … membuat saya semakin tidak sabar untuk melihat kursi pesanan saya selesai.”

Berita mengenai interaksi singkat di malam pameran itu rupanya bergulir lebih cepat daripada yang Evan duga. Di lingkungan keluarga konglomeratnya, sekadar tatapan mata atau obrolan beberapa menit di depan sebuah karya seni bisa diartikan sebagai sebuah langkah politis yang potensial. Kehadiran Juyeon dan Changmin di dekat mereka malam itu kian memperkuat asumsi tersebut.

Suasana ruang kerja sang ayah malam itu terasa begitu berat. Aroma cerutu mahal dan dekorasi interior yang kaku seolah menegaskan kekuasaan mutlak pria paruh baya yang kini duduk di balik meja kayu ek besar.

Evan berdiri di seberang meja, tetap mempertahankan postur tegapnya.

“Saya mendengar laporan dari malam pameran,” sang ayah membuka suara, nadanya berat dan tertata rapi, tanpa ada riak emosi yang berlebihan. “Juyeon ada di sana, dan putra mereka — Sunghoon — menunjukkan ketertarikan yang tidak biasa pada hasil kerja carikmu.”

Evan tetap diam, menatap sang ayah dengan ekspresi datar.

“Sebuah kebetulan yang sangat mahal, Heeseung,” lanjut sang ayah, jemarinya mengetuk permukaan meja dengan ritme yang konstan. “Saya akan mengatur pertemuan resmi antar-keluarga minggu depan. Kita akan merestorasi posisimu di dalam silsilah ini melalui aliansi yang sah dengan mereka.”

Kalimat itu terdengar begitu berbobot, sebuah perintah mutlak yang dibungkus dengan narasi masa depan yang megah. Namun, bagi Evan, itu tak lebih dari transaksi yang dingin.

“Saya harus menolaknya, Ayah,” jawab Evan tenang, namun setiap katanya sarat akan ketegasan.

Sang ayah menghentikan ketukan jarinya. Tatapan matanya menajam, mengintimidasi. “Kamu menolak peluang untuk mengamankan fondasimu sendiri?”

Bagi Evan, kursi The Sovereign dan ruang baca pribadi yang diinginkan Sunghoon adalah wilayah murni yang tidak boleh dikotori oleh intrik bisnis maupun ambisi warisan keluarganya. Ia menolak keras ide untuk mendekati Sunghoon di bawah bayang-bayang nama besar yang justru mati-matian ia hindari — skenario yang disusun oleh sang ayah.

Evan mengambil satu langkah mundur, memberikan penghormatan formal yang dingin.

Malam itu, di dalam keheningan studionya yang hanya diterangi pendar lampu meja, Evan menatap sketsa kosong di hadapannya. Kata-kata sang ayah masih berdengung, menyusup ke sela-sela logikanya yang paling dingin.

Sebuah ironi yang pahit menertawakannya dari kegelapan. Jauh di lubuk hatinya, Evan tahu bahwa usulan perjodohan itu adalah kunci emas yang selama ini ia cari. Semua peluh, penolakan, dan jam-jam melelahkan yang ia habiskan untuk memahat kayu murni berawal dari satu poros yang sama: keinginan untuk diakui oleh keluarga konglomeratnya. Menikah dengan keluarga Celena akan seketika merestorasi posisinya, mengangkatnya ke puncak hierarki tanpa perlu lagi memohon validasi dari sang ayah. Jalurnya telah dihamparkan, begitu menguntungkan dan penuh kuasa.

Namun, saat bayangan netra jernih yang menatap kursinya dengan ketulusan mutlak melintas di benak, sisi nurani Evan berontak.

Memanfaatkan ketulusan orang lain sebagai batu loncatan politik terasa seperti sebuah penodaan. Jika ia menerima skenario ayahnya, maka ia tidak ada bedanya dengan orang-orang kaya egois yang selama ini ia benci. Logikanya menginginkan takhta dan pengakuan, tetapi nuraninya menolak keras.

Malam itu, aula hotel bintang lima bertabur cahaya lampu kristal yang megah, menjadi tuan rumah bagi Annual Gala of Commerce — sebuah perjamuan eksklusif yang mempertemukan para petinggi korporasi, investor, dan pemegang saham terbesar di negeri ini. Di antara denting gelas sampanye dan obrolan formal mengenai ekspansi pasar, Evan hadir memenuhi undangan. Kali ini bukan sebagai vendor, melainkan sebagai bagian dari representasi nama besar keluarganya yang tak bisa ia hindari sepenuhnya.

Evan berdiri di dekat pilar marmer, menyesap minumannya dengan tenang sambil mengamati dinamika ruangan. Namun, sebuah intuisi tajam mendadak menggelitik kesadarannya.

Ia menoleh perlahan, membiarkan pandangannya menyapu kerumunan hingga langkah matanya terhenti pada sosok Alpha dominan yang berdiri beberapa meter di seberang aula. Juyeon.

Pria itu tengah memegang gelasnya, tidak sedang berbincang dengan siapa pun, melainkan mengunci tatapannya langsung pada Evan. Sorot mata Juyeon malam itu tidak lagi memancarkan apresiasi hangat seperti saat di pameran seni; tatapan itu terasa berat, sarat akan penilaian mendalam, dan membawa kedalaman makna yang sangat kalkulatif.

Melihat intensitas dan arah pandang Juyeon, insting Evan seketika bekerja. Ia tidak sengaja menangkap siluet sang ayah yang berdiri tak jauh di belakang Juyeon, tengah tertawa formal bersama beberapa kolega senior.

Dalam satu detik yang dingin, Evan bisa membaca situasi dengan tepat. Sorot mata Juyeon adalah jawaban dari pergerakan di balik layar yang telah ia duga sebelumnya. Sang ayah rupanya tidak tinggal diam setelah penolakannya di ruang kerja malam itu; pria tua itu telah melangkah lebih jauh, mulai membuka obrolan, menaruh bidak catur, dan membicarakan rencana perjodohan itu langsung dengan pihak keluarga Celena melalui Juyeon.

Rasa malu seketika menyergap Evan, menyusup ke sela-sela harga dirinya yang runtuh. Bayangan wajah tenang Sunghoon berkelebat, membuat Evan merasa begitu kotor karena namanya kini diseret ke dalam obrolan transaksi antar-keluarga. Ia ingin berbalik dan pergi dari aula itu saat ini juga, menghindari konfrontasi yang ia tahu akan sangat memuakkan.

Namun, tubuhnya seolah terpaku di tempat. Juyeon mulai mengikis jarak.

Langkah kaki Alpha dominan itu terdengar konstan di atas lantai marmer, santai namun membawa intensitas yang mengerikan. Anehnya, riuh rendah suara musik klasik dan tawa para pebisnis di sekitar mereka tetap berjalan normal. Orang-orang di sekeliling mereka sama sekali tidak menyadari atmosfer yang mendadak bergeser. Tekanan ini … dikhususkan murni hanya untuk Evan.

Udara di sekitar Evan mendadak terasa menipis, digantikan oleh tekanan feromon dominan yang sangat terkontrol namun mematikan. Rasanya mencekam, sesak, dan buruk. Setiap langkah Juyeon yang mendekat seolah mempersempit ruang napas Evan, mengirimkan pesan tanpa suara bahwa eksistensinya sedang dikunci dan dinilai dari segala sisi. Pria itu tidak hanya membawa bobot tubuhnya sendiri, melainkan seluruh otoritas keluarga Celena yang siap menghancurkan benteng pertahanan yang selama ini Evan bangun dengan susah payah.

Juyeon berhenti tepat dua langkah di depan Evan. Tekanan udara yang semula menyesakkan dada perlahan mengendur, menyisakan aura intimidasi yang tenang namun mutlak dari sang Alpha dominan. Ia menyesap sampanyenya sekali, sebelum menurunkan gelas dan menatap Evan langsung pada manik matanya.

“Selamat malam,” Juyeon membuka suara. Nada bicaranya bariton, sangat rendah dan tertata, tipe suara yang biasa mendominasi meja perundingan tanpa perlu meninggikan volume. “Pakaian formal malam ini jauh lebih pas untukmu dibanding setelan vendor minggu lalu.”

Evan mengepalkan sebelah tangannya di dalam saku celana, berjuang keras mempertahankan ekspresi datarnya di bawah tatapan itu. “Selamat malam, Tuan Juyeon. Terima kasih. Tapi saya rasa, saya lebih menyukai pakaian saya yang minggu lalu.”

Sebelah sudut bibir Juyeon terangkat tipis — bukan senyuman ramah, melainkan respons dari seorang pria yang tahu persis kartu apa saja yang ada di tangannya.

“Saya selalu menghargai idealisme seorang pelaku seni, Evan. Pasangan saya, Changmin, adalah seorang pelukis di samping tugasnya mengelola manajemen Yayasan Celena. Saya tahu bagaimana nilai sebuah integritas dalam berkarya,” Juyeon menjeda kalimatnya, memberikan bobot yang nyata pada setiap kata yang akan keluar selanjutnya.

“Namun, sebagai seorang ayah, saya tidak suka melihat meja makan keluarga saya dijadikan meja perundingan bisnis. Namun, ayahmu yang baru saja menyelesaikan segelas anggur di seberang sana, sembari meyakinkan saya bahwa kursi yang dipesan Sunghoon adalah bagian dari mahar awal aliansi.”

Kalimat itu terdengar begitu normal, diucapkan dengan intonasi santai seolah membahas agenda bisnis biasa, namun dampaknya membuat rahang Evan mengeras seketika.

“Itu hanya ambisi sepihak dari ayah saya,” jawab Evan, suaranya terdengar sedikit tertahan namun tetap tegas. “Tuan Sunghoon datang ke studio saya murni untuk sebuah karya. Tidak ada hubungannya dengan bisnis malam ini.”

Juyeon menatap Evan selama beberapa detik, seolah sedang mengukur sedalam apa integritas yang dimiliki pemuda di hadapannya. Kharisma yang memancar dari pembawaannya membuat siapa pun di sekitar mereka tahu siapa yang memegang kendali penuh di sini.

“Bagus kalau begitu,” ucap Juyeon pelan, namun bergetar hebat di pendengaran Evan.

Juyeon menjeda kalimatnya sejenak, menatap Evan dengan sorot mata yang sedikit melunak namun tetap sarat akan wibawa seorang kepala keluarga.

“Saya tidak suka melihat bagaimana memainkan anak mereka sendiri seperti bidak catur di atas meja transaksi,” lanjut Juyeon, suaranya merendah namun sarat akan penegasan. “Seorang pria yang memiliki kehormatan tidak akan membiarkan ayahnya yang maju menentukan arah jalannya.”

Juyeon menepuk bahu Evan sekali — sebuah gestur formal yang tampak akrab di mata publik, namun terasa seperti tantangan sekaligus peringatan konkret yang menekan pundaknya.

“Nikmati malammu,” lanjut Juyeon, sebelum berbalik dan berjalan menjauh dengan langkahnya yang tegap, meninggalkan Evan dalam keheningan yang dingin namun membawa pemahaman baru di benaknya.

Kepergian Juyeon meninggalkan kekosongan yang mendadak bising di kepala Evan. Musik klasik yang mengalun di aula dansa dan denting gelas kristal di sekitarnya seolah teredam, tergantikan oleh gema ucapan Juyeon yang terus berputar ulang seperti kaset rusak.

“Seorang pria yang memiliki kehormatan tidak akan membiarkan ayahnya yang maju menentukan arah jalannya.”

Evan terpaku di posisinya, menatap punggung tegap sang kepala keluarga yang kini melebur di antara kerumunan tamu naratama. Jemari Evan mengepal kuat di sisi tubuhnya. Pundaknya masih menyisakan sensasi berat dari tepukan formal yang terasa lebih seperti beban peringatan daripada ramah-tamah.

Ia kembali merenung, mencoba menguliti setiap lapis kalimat yang baru saja dilontarkan Juyeon. Selama ini, Evan bukan tidak tahu tentang rumor yang beredar di kalangan kelas atas. Ia tahu betul bagaimana sikap Juyeon — seorang pria yang dikenal dingin dan tak tersentuh — ketika dihadapkan pada kasak-kusuk perjodohan yang kerap disodorkan para kolega bisnis untuk putranya.

Demi memuaskan rasa penasarannya dan mungkin untuk mempersiapkan diri, Evan bahkan pernah mencari tahu bagaimana respon Juyeon di masa lalu terhadap upaya-upaya aliansi pernikahan tersebut. Dari apa yang ia temukan, tanggapan Juyeon selalu konsisten: pengabaian total. Juyeon biasanya hanya melempar senyum tipis yang sarat penolakan, mengalihkan pembicaraan, atau mengabaikan proposal-proposal itu seolah semua itu hanya angin lalu yang tidak mendatangkan keuntungan.

Namun, malam ini berbeda. Mengapa respons itu berubah menjadi konfrontasi langsung?

Pertanyaan itu terus berputar, mengusik benak Evan. Kenapa dirinya? Kenapa Juyeon memilih untuk melangkah turun dari takhta ketidakpeduliannya hanya untuk mendatangi seorang seniman seperti Evan dan melemparkan peringatan sedemikian rupa? Apakah keterlibatan Sunghoon dalam memesan kursi di studionya telah melewati batas yang bisa ditoleransi Juyeon? Ataukah Juyeon melihat sesuatu yang berbeda dalam diri Evan — sesuatu yang dianggapnya sebagai ancaman nyata, atau justru sebuah ujian?

Satu hal yang pasti kini merayap di benak Evan: di dunia tempat mereka berpijak, tidak ada langkah yang diambil Juyeon tanpa kalkulasi yang matang. Dan konfrontasi barusan adalah tanda jelas bahwa Evan telah resmi terseret masuk ke dalam papan catur yang sama, suka atau tidak.

Sebagai anak yang kerap berdiri di sisi sang ayah dalam berbagai perjamuan kelas atas, Sunghoon sudah sangat hafal dengan atmosfer pekat di ruangan seperti ini. Acara bisnis bernilai miliaran selalu dibungkus dengan gaun mewah, denting gelas sampanye, dan senyum palsu yang memuakkan. Sebagai partner daddy-nya, kehadiran Sunghoon magnet tersendiri bagi anak-anak kolega bisnis yang seumuran dengannya.

Semakin hari, tujuan orang-orang itu semakin terlihat jelas di mata Sunghoon. Mereka mendekatinya dengan binar mata yang seolah-olah menyiratkan ketertarikan personal. Benar, mereka memang tertarik — tetapi bukan pada kepribadian Sunghoon, melainkan pada nama besar keluarga yang membesarkannya.

Di dunia yang kejam ini, Sunghoon cukup realistis untuk menyadari satu hal: tidak ada Alpha dominan yang benar-benar menginginkan romansa tulus dari seorang anak yang tidak jelas asal-muasalnya. Mereka hanya menginginkan privilege, kekuasaan, dan aliansi strategis yang melekat pada nama yang ada di belakangnya.

Lucunya, proposal perjodohan yang mampir ke meja daddy-nya tidak hanya mengincar dirinya. Sering kali, tawaran aliansi itu justru datang untuk adiknya — satu-satunya putra mahkota sah yang selama ini sengaja disembunyikan dari sorot lampu publik.

Pikiran itu membuat Sunghoon secara refleks mengedarkan pandangan ke sekeliling aula dansa yang riuh. Dari sudut matanya, ia menangkap sekelebat siluet yang sangat ia kenali. Adiknya ada di sini, di acara yang sama, namun mengenakan topeng yang sama sekali berbeda.

Bukan sebagai pewaris takhta yang bersanding di samping daddy mereka, melainkan sebagai seorang pelayan panggilan yang bertugas mengantarkan minuman.

Karena identitasnya tidak pernah dipublikasikan dan wajahnya tidak pernah menyentuh halaman majalah bisnis, adiknya memiliki kemewahan yang tidak dimiliki Sunghoon: kebebasan untuk hidup sebagai rakyat biasa. Menyusup ke dalam lingkaran para konglo sebagai pelayan khusus seperti ini adalah salah satu cara sang adik bersenang-senang. Di balik seragam formal pelayan yang membosankan itu, adiknya bergerak lincah menyodorkan nampan sembari memasang telinga lebar-lebar.

Ia mencuri dengar rumor yang berbisik di pojok ruangan, skandal perselingkuhan yang dibicarakan di balik pilar, atau berita rahasia tentang penurunan saham yang belum rilis di media. Adiknya melakukan itu bukan dengan niat jahat untuk menghancurkan atau memeras seseorang. Tidak, itu terlalu melelahkan.

Bagi sang putra mahkota yang tersembunyi, semua rahasia kotor itu dikumpulkan hanya sebatas pengetahuan — sebuah hiburan pribadi untuk menertawakan betapa rapuhnya topeng-topeng kehormatan yang dipakai oleh orang-orang kaya di sekeliling mereka.

Sunghoon menahan senyum tipisnya, sengaja mengalihkan pandangan agar tidak mengundang kecurigaan saat adiknya berjalan melewatinya tanpa sedikit pun memberikan gestur pengenalan. Di dunia yang penuh kepalsuan ini, setidaknya rahasia kecil di antara mereka berdua terasa begitu nyata.

“Target baru aja masuk radar,” bisik adiknya waktu lewat, nadanya datar tapi kedengaran nahan tawa. “Nyusun rencana PDKT pakai skenario klasik.”

Tanpa menunggu respons, sang adik kembali menegakkan tubuh. Wajahnya kembali berubah menjadi ekspresi pelayan yang patuh dan tanpa cela, sebelum melangkah menjauh dengan nampan peraknya, melebur kembali ke dalam kerumunan seolah ia tidak baru saja membocorkan sebuah konspirasi kecil.

Sunghoon tidak bergerak, juga tidak menoleh ke arah adiknya pergi. Ia hanya menatap gelas di hadapannya, perlahan mengembuskan napas pendek yang terdengar seperti tawa sinis. Peringatan adiknya adalah konfirmasi dari apa yang selalu ia benci dari tempat ini.

Merancang situasi untuk PDKT.

Istilah itu terdengar begitu menjijikkan di telinga Sunghoon. Alih-alih sebuah ketertarikan yang organik, segala hal di lingkaran ini harus melalui naskah dan kalkulasi untung-rugi. Para Alpha muda itu, atas dorongan ambisi ayah mereka, bersiap maju ke arahnya seperti singa yang melihat daging segar — atau lebih tepatnya, melihat tiket emas menuju aliansi bisnis yang menguntungkan.

Sambil membenarkan letak jam tangan mewahnya, Sunghoon melirik tipis ke arah sudut aula yang disebutkan adiknya. Benar saja, beberapa pasang mata di sana sedang memperhatikannya dengan senyum yang dipaksakan tampak ramah. Namun, berkat mata-mata terbaik yang dimiliki keluarganya — sang putra mahkota yang menyamar — Sunghoon kini memegang kendali. Ia tidak akan membiarkan dirinya terjebak dalam skenario murahan mereka. Jika mereka ingin bermain peran, maka Sunghoon akan memastikan dialah yang menulis akhir babaknya.

Pada saat yang sama, Evan juga ada di sana. Entah sudah berapa kali Evan harus menahan muak setiap kali harus hadir di acara seperti ini sebagai Heeseung — identitas aslinya sebagai si bungsu dari keluarga terpandang yang tengah gencar-gencarnya dicarikan jodoh aliansi oleh sang ayah.

Bagi dunia luar, dia adalah Heeseung, bidak catur berharga yang siap ditukarkan demi keuntungan korporasi. Tapi di dalam kepalanya, dia tetaplah Evan, seorang seniman yang teritorinya baru saja diusik.

Berdiri di salah satu sudut aula dengan setelan formal yang terasa mencekik, Evan hanya bisa menatap malas ke arah kerumunan. Ironis sekali. Di satu sisi, ada Sunghoon yang sedang diincar oleh para Alpha pemburu takhta dengan skenario PDKT klasiknya. Di sisi lain, ada dirinya yang juga sedang dipajang layaknya barang dagangan, menunggu giliran untuk diperkenalkan kepada anak kolega pilihan ayahnya.

“Kamu tidak bisa terus-terusan bersikap keras kepala, Heeseung,” desis ayahnya dengan suara rendah namun menekan, sengaja menggunakan nama formal Evan demi menegaskan status dan kewajibannya. “Lihat sekelilingmu. Ini bukan soal selera pribadimu, ini soal masa depan bisnis keluarga kita.”

Evan mendengus sinis, memalingkan wajahnya sejenak demi menahan diri agar tidak meledak di depan publik.

“Masa depan bisnis, atau sekadar ambisi Ayah yang tidak ada habisnya?” balas Evan, suaranya bergetar menahan amarah yang mendidih di dada. “Ayah mau melemparkan Saya ke mana lagi kali ini? Keluarga Celena?”

“Kalau bukan Celena, masih banyak keluarga lain yang setara!” tegas ayahnya, tidak mau kalah, matanya berkilat menunjukkan keserakahan yang telanjang. “Kamu lihat anak dari korporasi di seberang sana? Atau putri dari rekanan kita di sektor logistik? Mereka semua mencarikan jodoh untuk anak-anak mereka. Mereka mencari aliansi, Heeseung! Dan kamu adalah tiket emasnya.”

Mendengar itu, Evan merasa ruang di sekitarnya mendadak semakin mencekik. Cetak biru pebisnis dalam tubuhnya memang memahami kalkulasi sang ayah, tetapi jiwanya sebagai Evan menolak mentah-mentah disamakan dengan aset komoditas.

“Saya bukan barang dagangan yang bisa Ayah tawarkan ke sana-kemari demi selembar kontrak kerja sama,” ucap Evan dingin, setiap katanya sarat akan penegasan. “Jika Ayah begitu bernafsu mencari aliansi, maju sendiri. Jangan tumbalkan saya di atas meja transaksi Ayah.”

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut dari ayahnya, Evan berbalik dan melangkah pergi, memilih untuk menenggelamkan diri di antara kerumunan tamu demi menghirup udara yang tidak terlalu mencekik.

Langkahnya terhenti di dekat bar terbuka yang agak sepi di lantai mezzanine. Baru saja ia hendak memesan minuman untuk meredakan ketegangan, sebuah suara berat terdengar dari sisi kanannya.

“Acara yang melelahkan, bukan? Setiap tahun, atmosfernya selalu sama.”

Evan menoleh dan mendapati seorang pemuda bertubuh tegap tengah berdiri bersandar pada meja bar. Itu Jay. Seorang Alpha dominan yang usianya jelas jauh lebih muda dari Evan — perkiraannya seumuran dengan Sunghoon.

Meskipun usianya masih muda, pembawaan Jay tampak jauh lebih santai dalam menghadiri acara bisnis sekaku ini. Setelan jasnya berpotongan sempurna, namun ia tidak menampilkan ketegangan kompetitif seperti Alpha muda lainnya. Jay adalah pewaris tunggal dari sebuah korporasi raksasa yang bergerak di sektor Cybersecurity & Private Defense Intelligence — perusahaan keamanan data dan intelijen swasta yang mengontrol jaringan informasi para elite.

“Ya,” jawab Evan singkat, menyetujui dengan anggukan sopan. Ia kemudian memesan segelas whiskey kepada bartender.

Jay menerima segelas minuman baru dari bartender, lalu mengarahkannya sedikit ke udara sebagai gestur penghormatan kasual kepada Evan. “Saya perhatikan, Anda baru saja melewati diskusi yang cukup intens dengan Ayah Anda, Tuan.”

Evan meneguk minumannya sejenak, membiarkan rasa hangat alkohol membakar tenggorokannya sebelum merespons. “Hanya pembahasan internal keluarga yang biasa.”

Jay tersenyum tipis, memahami batas yang dipasang Evan. Sebagai seseorang yang bergerak di bidang intelijen data, Jay tentu tahu apa yang sedang dihadapi Evan tanpa perlu penjelasan panjang lebar.

“Dunia bisnis terkadang terlalu memaksakan aliansi yang tidak perlu,” ujar Jay tenang, pandangannya lurus menatap kerumunan tamu di bawah lantai mezzanine. “Beruntung, sektor keamanan siber membuat keluarga kami sedikit lebih mandiri. Mereka yang membutuhkan kami untuk mengamankan data, jadi mereka tidak bisa mendikte saya ke dalam pasar perjodohan.”

Evan melirik pemuda di sebelahnya. Percakapan ini singkat dan berjarak, namun setidaknya tidak sarat akan manipulasi.

“Posisi yang menguntungkan bagi Anda,” sahut Evan, memberikan apresiasi secukupnya.

Jay melangkah pergi dengan tenang, meninggalkan Evan yang kembali dalam keheningannya, namun dengan beban di pundak yang sedikit berkurang berkat interaksi singkat tersebut.

Evan melangkah pergi dari area bar beberapa saat setelah Jay pamit. Tanpa arah tujuan yang pasti, ia hanya berjalan mengikuti arus koridor lantai mezzanine yang agak sepi, berniat mencari pintu keluar menuju balkon. Namun, langkahnya perlahan melambat ketika menyadari bahwa ia, tanpa sengaja, telah berjalan mengekor di belakang arah jalan Jay.

Pandangan Evan terpaku pada punggung tegap sang pewaris perusahaan keamanan siber tersebut, yang kini berhenti tepat di dekat pilar besar pembatas aula. Di sana, berdiri Sunghoon.

Evan refleks menahan langkahnya di balik bayangan koridor, tidak ingin kehadirannya disadari. Dari jarak yang cukup aman, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana interaksi keduanya terjalin.

Skenario PDKT klasik yang sebelumnya dirancang oleh para anak kolega bisnis seolah menguap begitu saja. Di hadapan Jay, Sunghoon tampak melepaskan topeng kewaspadaan yang sejak tadi dipasangnya di aula utama. Tidak ada ketegangan, tidak ada kalkulasi bisnis yang kaku, dan tidak ada formalitas yang mencekik.

Jay mengatakan sesuatu yang tidak bisa didengar oleh Evan, namun dampaknya langsung terlihat nyata. Bahu Sunghoon turun dengan rileks, dan sebuah tawa lugas — bukan senyum sopan yang dipaksakan untuk publik — tercetak jelas di wajahnya. Jay pun membalasnya dengan kekehan santai, menepuk lengan Sunghoon dengan keakraban yang tampak sangat natural, seolah mereka sudah terbiasa berbagi ruang dan rahasia yang sama di luar lingkaran bisnis yang munafik ini.

Evan terpaku di posisinya, menatap pemandangan itu dengan dahi sedikit berkerut. Ada rasa asing yang menggelitik benaknya. Di dunia yang penuh dengan transaksi berkedok hubungan personal ini, melihat dua orang dari kasta tertinggi bisa tertawa lepas tanpa beban aliansi terasa seperti sebuah anomali yang membingungkan sekaligus menarik untuk diamati.

Sebagai Heeseung, ia dikepung oleh ambisi ayahnya yang tanpa henti, dipaksa bertaruh dalam permainan aliansi yang memuakkan. Sebagai Evan, ia harus mati-matian membangun benteng di studio pribadinya agar dunianya tidak terkontaminasi oleh transaksi-transaksi tersebut. Namun, melihat Jay dan Sunghoon di seberang sana, Evan tersadar akan satu hal. Mereka tidak sedang melarikan diri seperti dirinya. Mereka berada tepat di dalam sistem, namun entah bagaimana, mereka memegang kendali atas diri mereka sendiri.

“Ternyata Anda menyukai peran sebagai pengamat, Tuan Heeseung.”

Sebuah suara berbisik rendah dari arah belakang, membuat Evan refleks menegakkan tubuh dan menoleh. Jantungnya berdesir waspada.

Adik Sunghoon — sang putra mahkota yang menyamar sebagai pelayan panggilan — berdiri di sana, memegang nampan perak kosong dengan postur tubuh yang luar biasa tegap untuk ukuran seorang pelayan biasa. Mata pemuda itu melirik sekilas ke arah Sunghoon dan Jay, lalu kembali menatap Evan dengan binar jenaka yang berbahaya.

“Mereka memang kombinasi yang menarik,” lanjut sang adik, suaranya sangat pelan, nyaris tenggelam oleh sayup-sayup musik dari aula bawah. “Satu orang mengunci semua pintu akses informasi, dan yang satu lagi terlalu malas untuk peduli pada orang yang ingin mengetuk pintunya. Tidak heran mereka bisa berteman seakrab itu.”

Evan menyipitkan mata, menakar situasi. Ia tidak tahu siapa pemuda di hadapannya ini, namun ia memilih untuk tetap bermain aman. “Saya tidak bermaksud mengintip. Jalur ini hanya kebetulan searah dengan jalan saya.”

Sang adik hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mirip dengan milik Sunghoon namun terasa lebih misterius. Ia melangkah satu senti lebih dekat, memposisikan diri seolah sedang menawarkan minuman tambahan kepada Evan agar tidak memicu kecurigaan jika ada tamu lain yang lewat.

“Tentu saja, kebetulan,” ucapnya dengan nada sarkasme yang halus. “Tapi jika saya jadi Anda, saya akan segera pergi dari koridor ini. Ayah Anda sedang menuju ke bar lantai mezzanine bersama seorang kolega dari sektor perbankan. Dan tebak siapa yang sedang mereka cari?”

Evan menahan napas sejenak. Peringatan itu datang lagi. Kali ini dari pelayan yang sama yang beberapa menit lalu menyelamatkan Sunghoon dari jebakan PDKT klasik.

“Kenapa Anda memberi tahu saya?” tanya Evan, menatap dalam-dalam pada manik mata sang pelayan tersembunyi.

Pemuda itu mengedikkan bahu santai, memutar nampan peraknya dengan gerakan lihai yang sangat kasual. “Anggap saja sebagai apresiasi. Saya suka melihat orang-orang yang tidak membiarkan diri mereka didekte oleh papan catur orang tua mereka. Mereka dan … Anda.”

Sembari memberikan anggukan hormat yang sangat formal demi formalitas publik, sang adik berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Evan yang kini harus bergerak cepat sebelum sang ayah menemukannya di tempat itu.

Evan tidak langsung beranjak. Matanya terpaku selama beberapa detik pada punggung pelayan yang kian menjauh dan melebur di antara hiruk-pikuk pelayan lainnya.

Kerutan samar muncul di dahi Evan. Ia benar-benar tidak tahu kenapa pelayan asing itu mendadak mendekatinya, membaca situasinya dengan begitu tepat, lalu memberikan peringatan yang sangat spesifik. Kalimat terakhir pemuda itu terus berputar di kepala Evan: “Saya suka melihat orang-orang yang tidak membiarkan diri mereka didekte oleh papan catur orang tua mereka.”

Evan mendesah pendek. Sisi taktis dalam dirinya mulai menyusun kepingan teka-teki itu. Ia tersenyum tipis, sebuah pemahaman baru mulai merayap di benaknya.

Pelayan itu jelas bukan pelayan biasa. Evan menduga, pemuda itu mungkin saja salah satu anak dari konglomerat lain di ruangan ini. Seseorang yang — sama seperti dirinya — menolak mentah-mentah dipajang sebagai pewaris takhta atau dijadikan barang dagangan di atas meja aliansi. Bedanya, jika Evan melarikan diri dengan membangun studio kayu dan memakai nama samaran, pemuda itu memilih taktik yang lebih ekstrem: menyusup langsung ke jantung permainan dengan menyamar sebagai rakyat biasa, menjadi pelayan yang tak kasat mata namun bisa melihat segalanya.

Ada rasa solidaritas tanpa suara yang mendadak meletup di dada Evan. Di dalam sangkar emas yang memuakkan ini, ternyata dia tidak sendirian. Ada orang-orang lain yang juga sedang bertarung dengan cara mereka masing-masing untuk mempertahankan harga diri.

Mengingat peringatan tentang ayahnya yang sedang menuju ke arah sini, Evan segera meneguk habis sisa sampanye di gelasnya. Ia meletakkan gelas kosong itu di meja terdekat, membenarkan letak jasnya, dan melangkah cepat memotong jalan menuju pintu balkon luar yang sepi.

Malam ini sudah terlalu bising, dan Evan menolak menjadi bidak yang bergerak sesuai keinginan ayahnya.

Di dekat pilar marmer besar yang agak tersembunyi dari jalur utama, riuh rendah suara musik klasik dan denting gelas dari dalam aula terdengar sedikit teredam. Sunghoon bersandar santai pada permukaan pilar yang dingin, memegang gelas sampanyenya dengan satu tangan sementara tangan lainnya berada di saku celana. Di sebelahnya, Jay berdiri dengan pose yang sama santainya, membelakangi kerumunan tamu.

“Lo harus dengar gosip yang baru gue dapet,” ujar Sunghoon memulai obrolan, nadanya benar-benar lepas tanpa beban formalitas. “Dua pasang bapak sama anak dari korporasi seberang lagi nyusun rencana PDKT pakai skenario klasik ke gue. Tebak apa?”

Jay menaikkan sebelah alisnya, menyunggingkan senyum geli tanpa perlu menoleh ke arah yang dimaksud. “Tumpah sampanye? Atau pura-pura salah orang?”

Sunghoon langsung terkekeh lugas, suara tawanya terdengar renyah dan jujur — sesuatu yang mustahil ia tunjukkan di tengah aula tadi. “Dua-duanya. Kreativitas mereka mentok di sana. Gue sampai bingung, mereka mau kenalan atau mau audisi main drama.”

Jay ikut tertawa kecil, menggeleng-gelengkan kepalanya sembari memutar gelas koktailnya pelan. “Basi banget. Harusnya mereka tahu kalau trik kayak gitu cuma bikin lo makin risih. Tapi kok lo bisa tahu detail banget gitu?”

Sunghoon hanya tersenyum misterius, sengaja tidak menyebutkan kalau adiknya ada di ruangan ini dan sedang menyamar sebagai pelayan panggilan. Itu rahasia kecilnya. “Gue punya insting yang tajam kalau soal trik murahan kayak gitu.”

“Tapi setidaknya lo aman di sini,” kata Jay, melirik tipis ke arah kerumunan dari balik pilar.

Di tengah aula yang bising dan penuh kepalsuan ini, Jay adalah satu-satunya orang yang bisa memahami Sunghoon sebagai seorang teman sejati. Mereka adalah teman satu angkatan yang tumbuh di lingkungan yang sama, namun berhasil mempertahankan kewarasan bersama. Di antara mereka, tidak pernah ada ulasan soal perjodohan, tidak ada hitung-hitungan saham, dan tidak ada niat untuk saling memanfaatkan.

Hubungan murni itu bukan tanpa alasan. Orang tua mereka — Juyeon dan kepala keluarga Jay — paham betul akan batasan itu. Kedua kepala keluarga tersebut tahu bahwa memaksakan aliansi pernikahan di antara dua naga yang sama-sama memegang sektor krusial justru bisa memicu ketegangan yang tidak perlu. Mereka membiarkan Sunghoon dan Jay berteman apa adanya, menjadikan hubungan keduanya sebagai wilayah netral yang paling aman.

Di antara denting obrolan kosong para pebisnis di luar radius pilar mereka, keheningan yang tercipta di antara keduanya justru terasa sangat nyaman. Di lingkaran ini, menemukan seseorang yang tidak menaruh ekspektasi apa pun pada nama belakangmu adalah sebuah kemewahan langka.

Dari kejauhan, Juyeon — daddy Sunghoon — tampak sedang berdiri di tengah lingkaran para pemegang saham utama, namun pandangan pria berwibawa itu sempat bergulir sekilas ke arah pilar tempat putranya berada. Juyeon hanya memberikan satu anggukan tipis yang hampir tak kentara sebelum kembali fokus pada lawan bicaranya. Itu adalah tanda persetujuan mutlak; membiarkan putranya menikmati sisa malam tanpa gangguan.

Pagi harinya, sinar matahari menembus celah gorden jendela ruang makan keluarga Celena yang hangat. Saat Sunghoon turun dengan pakaian santainya, suasana rumah sudah terasa hidup.

Di ujung meja panjang, Daddy sudah duduk tegap dengan setelan paginya, fokus menikmati secangkir kopi hitam pekat yang asapnya masih mengepul. Sementara itu, di dekat konter dapur yang menyatu dengan ruang makan, Papi sedang sibuk menata piring-piring berisi sarapan pagi yang baru saja selesai disiapkan. Aroma roti panggang dan sup hangat langsung menyapa indra penciuman Sunghoon.

“Selamat pagi, Daddy, Papi,” sapa Sunghoon sembari menarik kursi di sisi meja.

“Selamat pagi, Sunghoon,” balas Papi dengan senyum hangat khasnya, meletakkan sepiring roti panggang dengan sup jamur tahu di meja sebelum ikut bergabung duduk di sebelah Juyeon.

Tidak berselang lama, terdengar langkah kaki yang sedikit diseret dari arah tangga. Anak bungsu keluarga itu muncul dengan wajah mengantuk dan rambut acak-acakan, langsung menjatuhkan diri di kursi sebelah Sunghoon dengan gumaman salam pagi yang teredam.

“Bagaimana acara semalam, Sunghoon?” Juyeon membuka percakapan, pandangannya tertuju pada Sunghoon. Nada suaranya terdengar santai, meski pembawaan alaminya tetap terasa sedikit kaku.

Sunghoon menyesap teh hangatnya sejenak sebelum menjawab. “Cukup melelahkan. Ada yang coba pdkt, kayak biasa, Daddy.”

Juyeon hanya mengangguk paham. Ia tidak memberikan tuntutan atau ulasan panjang lebar mengenai hubungan Sunghoon dengan Jay, karena sejak awal ia sudah tahu dan membiarkan mereka berteman apa adanya tanpa sekat bisnis.

Pandangan Juyeon kemudian beralih, kini menatap lurus pada putra bungsunya yang sedang meraih sepotong roti.

“Lalu, apa yang kamu peroleh dengan menjadi pelayan semalam?” tanya Juyeon. Pertanyaan itu mengalir begitu saja, tanpa nada menyalahkan, karena ia memang membiarkan aksi penyamaran anak bungsunya itu berjalan tanpa hambatan.

Sang adik menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap Daddy-nya dengan senyum tipis. “Rumor dan gosip.”

Papi yang sedang meletakkan mangkuk sup di meja sempat terkekeh pelan mendengar jawaban itu.

“Rumor seperti apa?” tanya Juyeon lagi, merasa sedikit tertarik.

“Bukan hal yang besar,” jawab si bungsu, mulai mengunyah rotinya. “Hanya pembicaraan acak dari para tamu. Ada yang sibuk memikirkan cara mendekati Kakak, dan ada beberapa direktur yang berdebat kecil tentang spekulasi pasar di sudut aula. Semuanya terdengar cukup jelas jika kita berdiri cukup dekat dengan nampan minuman.”

Setelah sisa kekakuan itu mencair sepenuhnya, kehangatan yang sesungguhnya dari keluarga Celena mulai memenuhi ruang makan. Papi tidak berhenti tersenyum melihat kedua putranya menikmati masakan rumah yang sengaja ia siapkan sendiri sejak subuh.

“Sunghoon, Sayang, tambah lagi supnya? Wajah kamu kelihatan agak pucat,” ujar Papi lembut, tangannya sudah bergerak meraih sendok sayur bahkan sebelum Sunghoon sempat menjawab.

“Ihh, udah, Papi,” sahut Sunghoon, namun ia tetap menerima tambahan sup itu dengan patuh. Sudut bibirnya terangkat, merasa hangat oleh perhatian kecil yang selalu Papi berikan.

Juyeon meletakkan cangkir kopinya, lalu sedikit condong ke depan untuk mengulurkan tangan melintasi sudut meja, merapikan kerah kaos putra bungsunya yang terlipat ke dalam. Gerakan itu sederhana, namun penuh dengan kasih sayang seorang ayah yang protektif.

“Jangan terlalu sering tidur larut malam lagi. Kebebasan berpetualang tetap harus dibarengi dengan menjaga kesehatan,” tutur Juyeon dengan nada suara yang berat namun terdengar sangat teduh dari ujung meja.

Si bungsu hanya menyengir di kursinya, mengangguk patuh sambil membiarkan Daddy mengusap puncak kepalanya sekilas sebelum kembali tegak di posisi duduknya.

Di lingkaran sosial atas, keluarga Celena mungkin dikenal sebagai salah satu pilar bisnis yang paling disegani dan berwibawa. Banyak orang mengira kehidupan di dalam kediaman ini akan terasa dingin dan penuh tuntutan. Namun kenyataannya, di balik pintu rumah yang tertutup rapat, Juyeon dan pasangannya selalu memastikan bahwa kedua anak mereka tumbuh dengan limpahan kasih sayang yang tulus. Mereka tidak pernah memajang anak-anak sebagai komoditas, melainkan selalu melindungi ruang privasi dan kebahagiaan mereka.

Juyeon melirik jam tangan di pergelangan tangannya, lalu kembali menatap kedua putranya yang masih menikmati sarapan. Suasana hangat di meja makan itu tidak berkurang, namun pembicaraan kini bergeser pada agenda keluarga berikutnya.

“Minggu depan ada jadwal pengawalan untuk event festival tahunan,” kata Juyeon tenang sembari melipat serbet makannya.

Mendengar hal itu, Papi menoleh ke arah sang suami dengan senyum tipis, sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini. “Uncle Taehyun sempet telepon Papi kemarin. Dia bilang, kalau bakal butuh banyak pengawal, kamu mau ikut?”

Si bungsu langsung menegakkan posisi duduknya di kursi meja makan, matanya yang semula mengantuk kini berbinar terang. Mengikuti paman mereka di divisi keamanan selalu menjadi petualangan yang seru baginya, apalagi di acara festival musik yang ramai dan dinamis. Taehyun tidak pernah memperlakukan keponakannya seperti anak manja, melainkan selalu melatih mereka dengan cara yang menyenangkan.

Sepotong roti yang semula dipegangnya kini diletakkan begitu saja di atas piring, tergantikan oleh binar mata yang berbinar terang penuh ketertarikan. Senyum lebarnya lambat laun terkembang, menatap sang Daddy dengan tatapan bersemangat yang seolah langsung mengiyakan tanpa perlu mengeluarkan sepatah kata pun.

“Kalau kamu mau, kamu bisa mulai ikut pengarahan singkat di kantor divisi besok pagi.”

Sunghoon yang duduk di sebelahnya hanya terkekeh pelan sambil menyesap sisa tehnya, ikut senang melihat reaksi adiknya yang selalu menemukan cara unik untuk terlibat dalam urusan keluarga tanpa harus merasa terkekang.

Lampu-lampu temaram di sudut kafe yang terletak beberapa blok dari area kampus mulai menyala satu per satu, menghalau mendung sore yang menggantung di langit kota. Sunghoon duduk sendirian di meja dekat jendela besar, menatap layar laptopnya yang menampilkan draf tugas makalah untuk mata kuliah dasar umum. Sebagai mahasiswa baru, ritme perkuliahan yang padat dan lingkungan yang asing terkadang masih membuatnya harus beradaptasi ekstra.

Denting lonceng di atas pintu kafe berbunyi cukup nyaring, disusul suara langkah kaki yang berat seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan kerja fisik. Sunghoon refleks menoleh ke arah sumber suara.

Itu Evan.

Pemuda itu tampak mengenakan kaos kasual yang sedikit kusut dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya. Dari penampilannya, Evan baru saja selesai mengantarkan kursi kayu pesanan milik kafe ini dari bengkel furniturnya. Setelah berbicara sejenak dengan pemilik kafe di dekat kasir dan menerima pembayarannya, manik mata Evan tidak sengaja berputar ke seluruh ruangan, hingga akhirnya terpaku pada Sunghoon.

Ada keterkejutan yang menyenangkan di wajah Evan, yang sedetik kemudian berganti menjadi senyuman tipis yang tulus. Ia melangkah mendekat ke meja Sunghoon.

“Kursi di depan Anda kosong? Boleh saya duduk sebentar sebelum kembali ke studio?” tanya Evan, nadanya rendah dan santai.

Sunghoon berkedip sekali, merasa debaran familier yang hangat mendadak menyusup di dadanya. Ia segera mengangguk kecil dan menutup setengah layar laptopnya. “Boleh. Silakan duduk.”

Evan menarik kursi kayu di hadapan Sunghoon — yang kebetulan adalah salah satu kursi hasil buatannya sendiri — dan mendudukinya sambil mengembuskan napas lega. Sunghoon memperhatikan garis wajah Evan yang tampak lelah namun tetap terlihat segar dan berenergi. Ada sesuatu dari kehadiran Evan yang selalu berhasil membuat atmosfer di sekitar Sunghoon yang kaku mendadak terasa lebih membumi.

“Maaf jika saya mengganggu waktu Anda,” kata Evan setelah mendudukkan diri dengan tegap.

Sunghoon melirik layar laptopnya sekilas sebelum kembali menatap Evan. “Tidak masalah. Hanya sedang menyusun tugas makalah untuk salah satu mata kuliah. Formatnya sedikit membingungkan bagi saya yang baru masuk kuliah.”

Evan mengangguk paham, menghargai jawaban tersebut tanpa berusaha mengulik lebih jauh.

Sunghoon kemudian mengalihkan pandangannya ke arah beberapa kursi baru yang baru saja ditata di dekat meja kasir, mencoba mencairkan keheningan di antara mereka. “Kursi-kursi itu … Anda sendiri yang mengantarnya?”

“Benar,” jawab Evan, melirik ke arah hasil karyanya sendiri dengan binar bangga yang samar. “Beberapa pegawai mengantar di tempat lain.”

Evan tersenyum tipis, lalu menatap Sunghoon dengan sorot mata yang ramah. “Jika Anda memiliki waktu senggang di luar jam kuliah, Anda boleh mampir ke studio saya. Anda bisa mengecek langsung pesanan Anda yang saat ini masih dalam proses pengerjaan. Mungkin ada detail yang ingin Anda sesuaikan.”

Tawaran tersebut terasa sangat berkesan bagi Sunghoon. Di saat lingkaran sosialnya selalu dipenuhi oleh obrolan bisnis yang penuh siasat dan kepentingan, ajakan Evan terdengar begitu murni dan berfokus pada pekerjaan yang sedang ia tekuni. Tidak ada basa-basi yang berlebihan, hanya sebuah undangan profesional yang tulus.

“Terima kasih atas tawarannya,” jawab Sunghoon, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang rileks. “Saya akan meluangkan waktu untuk mampir.”

Sore itu, di sudut kafe dekat area kampus, percakapan mereka berlanjut dengan ritme yang tenang. Meski kata-kata yang terucap masih dibalut dengan formalitas “saya” dan “anda”, keheningan yang semula kaku perlahan-lahan berubah menjadi sebuah ruang jeda yang nyaman bagi Sunghoon.

Dua hari kemudian, Sunghoon benar-benar memenuhi undangan tersebut. Setelah kelas siang terakhirnya selesai, ia membawa mobil sedan putih ke alamat studio furnitur milik Evan yang terletak di kawasan semi-industri yang tenang, tidak jauh dari batas kota.

Saat Sunghoon melangkah masuk melewati pintu kayu besar studio tersebut, aroma khas kayu ek yang baru dipotong, pernis, dan besi bersambut dengan telinganya yang menangkap suara dengung halus mesin ampelas. Tempat itu tidak terlalu besar, namun sangat terorganisasi. Di sudut ruangan, tampak beberapa sketsa desain furnitur tertempel rapi di papan tulis hitam.

Evan sedang berdiri di dekat sebuah meja kerja panjang, membelakangi pintu. Ia mengenakan apron kerja berbahan denim tebal di atas kaos hitamnya, dengan sebelah tangan memegang jangka sorong untuk mengukur presisi sebuah sandaran kursi.

“Permisi,” suara Sunghoon menginterupsi keheningan studio.

Evan menoleh, dan keterkejutan yang tulus langsung terlihat di wajahnya sebelum berganti dengan senyuman ramah. Ia segera meletakkan alat kerjanya dan melepas sarung tangan pelindung yang ia kenakan.

“Ah, Anda benar-benar datang,” ujar Evan, melangkah mendekat untuk menyambut Sunghoon. “Selamat datang di studio saya. Maaf kalau tempatnya sedikit berdebu.”

“Tidak apa-apa, tempat ini sangat menarik,” jawab Sunghoon, matanya berputar mengagumi jajaran struktur kayu yang setengah jadi di sekeliling mereka.

Evan kemudian mengantarkan Sunghoon ke bagian tengah studio, “Ini pesanan Anda,” Evan menunjukkan salah satu kursi, jemarinya mengetuk pelan permukaan kayu yang sudah setengah jadi. “Struktur utamanya sudah selesai. Karena ini untuk ruang baca pribadi Anda, saya ingin memastikan aspek kenyamanannya benar-benar pas. Apakah Anda lebih menyukai sudut sandaran yang melengkung mengikuti bentuk punggung seperti ini, atau sedikit lebih landai agar bisa digunakan untuk bersandar lama?”

Sunghoon mendekat, lalu mencoba menduduki kursi contoh yang memiliki proporsi serupa di dekat meja kerja Evan. Merasakan bagaimana struktur kayu itu menopang tubuhnya entah bagaimana memberikan sensasi yang menenangkan.

“Saya rasa, jika sudutnya dibuat sedikit lebih landai, itu akan lebih nyaman untuk membaca buku dalam waktu lama,” komentar Sunghoon setelah merasakan posisi duduknya. “Dan untuk bagian bawahnya, apakah memungkinkan jika ditambahkan sedikit bantalan kulit tipis yang menyatu dengan dudukan kayu ini? Saya ingin tampilannya tetap minimalis tapi tidak terlalu keras saat diduduki.”

Evan mendengarkan dengan penuh perhatian, kepalanya mengangguk-angguk kecil tanda memahami visi kenyamanan yang diinginkan Sunghoon. “Itu ide yang bagus. Kulit premium berwarna senada akan memberikan kenyamanan ekstra tanpa merusak estetika kayu ek ini. Saya bisa menyesuaikannya.”

Evan mengambil pensil dari saku apron dan selembar kertas sketsa, lalu dengan cekatan menggoreskan beberapa garis untuk menunjukkan visualisasi dari ide Sunghoon. Saat mereka berdiskusi tentang tinggi lengan kursi, penopang pinggang, hingga jenis pelapis yang paling pas untuk ruang baca, kekakuan yang sebelumnya menyelimuti interaksi mereka perlahan-lahan mulai mengikis.

Panggilan “saya” dan “Anda” yang mereka gunakan kini tidak lagi terdengar seperti sekat formalitas yang kaku, melainkan mengalir menjadi ritme obrolan yang sangat natural. Sunghoon mendapati dirinya bisa berbicara dengan lepas mengenai kebiasaan membacanya tanpa harus menyaring setiap kata seperti saat ia berada di lingkungan formal. Sementara Evan, dengan pengetahuannya yang mendalam tentang anatusi kursi, menjelaskan setiap proses pengerjaan dengan analogi yang sederhana dan menarik.

“Ternyata Anda memiliki bayangan yang sangat spesifik tentang ruang kenyamanan Anda sendiri,” ujar Evan setengah bergurau, menyimpan kembali pensilnya setelah sketsa revisi mereka selesai. “Sangat teliti.”

“Saya hanya ingin memastikan tempat itu benar-benar menjadi ruang tenang saya,” balas Sunghoon, kali ini dengan kekeh kecil yang terdengar santai, sesuatu yang jarang ia tunjukkan pada orang baru. “Lagipula, melihat prosesnya langsung di sini membuat saya yakin kursi ini akan jadi tempat favorit saya nanti.”

Evan tersenyum mendengar pengakuan jujur tersebut. Di dalam studio yang hangat oleh pendar matahari sore itu, di antara serutan kayu dan desain-desain setengah jadi, Sunghoon merasakan bentuk kenyamanan yang baru — sebuah ruang di mana ia dihargai karena opininya sendiri, bukan karena nama besar yang ia bawa di belakangnya.

Evan berjalan ke arah konter kecil di sudut studio, lalu kembali dengan dua botol minuman soda dingin di tangannya. Ia mengulurkan salah satu botol kepada Sunghoon, yang langsung diterima dengan anggukan terima kasih.

“Jarang ada yang mau repot-repot datang ke bengkel berdebu seperti ini hanya untuk mengukur sudut kemiringan sandaran.”

Sunghoon menyesap sodanya, merasakan sensasi dingin yang menyegarkan tenggorokannya setelah beberapa saat mendiskusikan detail teknis. Ia tersenyum tipis. “Saya rasa, ada kepuasan tersendiri saat kita mengetahui bagaimana sesuatu yang akan kita gunakan setiap hari itu dibuat.”

Evan mengangguk-angguk paham. Penjelasan Sunghoon barusan memberikan gambaran sekilas bagi Evan tentang sisi lain dari pemuda di hadapannya — seorang anak dari keluarga terpandang yang ternyata sangat menghargai hal-hal esensial dan ruang privasi.

“Kalau begitu, Saya akan memastikan kursi ini menjadi tempat pelarian terbaik Anda setelah seharian menghadapi tumpukan tugas kuliah,” ujar Evan dengan nada berjanji yang tulus, diiringi senyum hangatnya yang khas.

Obrolan mereka setelah itu tidak lagi melulu soal furnitur. Mengalir begitu saja, mereka mulai bertukar cerita tentang hal-hal ringan. Sunghoon menceritakan sedikit tentang kesibukannya sebagai mahasiswa baru yang terkadang masih meraba-raba ritme kehidupan kampus, sementara Evan membagikan kisah-kisah lucu mengenai keputusannya membuka studio furnitur, termasuk kegagalan-kegagalan awalnya saat salah memotong material kayu mahal.

Mendengar cerita Evan, Sunghoon beberapa kali tertawa kecil. Suaranya terdengar lepas, tanpa beban yang biasa menggelayuti pundaknya. Kehadiran Evan yang apa adanya, tanpa motif tersembunyi atau siasat bisnis yang biasa Sunghoon temui di lingkaran sosialnya, membuat waktu terasa berjalan lebih cepat.

Matahari sore kini sudah hampir sepenuhnya tenggelam, memancarkan semburat warna jingga kemerahan yang menerobos masuk lewat jendela-jendela tinggi studio, memantulkan bayangan estetik pada jajaran kayu di dalam ruangan. Sunghoon melirik jam tangannya, menyadari bahwa ia sudah menghabiskan waktu hampir dua jam di tempat itu.

“Sore yang menyenangkan, Tuan Evan. Terima kasih sudah mengizinkan saya melihat prosesnya langsung,” ucap Sunghoon sembari merapikan tas ranselnya, bersiap untuk pamit.

“Sama-sama, Sunghoon. Terima kasih juga sudah meluangkan waktu untuk mampir,” balas Evan, mengantarkan Sunghoon berjalan menuju pintu keluar studio. “Saya akan segera memulai pengerjaan bantalannya. Nanti jika ada perkembangan signifikan, saya akan mengabari Anda lagi.”

Sunghoon mengangguk setuju. Saat ia melangkah keluar dari studio, angin sore yang sejuk menyambutnya di halaman depan. Ia berjalan menuju mobil sedan putih miliknya yang terparkir rapi di dekat gerbang studio, lalu membuka pintu dan menduduki kursi kemudi.

Sebelum menyalakan mesin, Sunghoon sempat melirik ke arah pintu studio lewat kaca spion, di mana Evan masih berdiri di sana sambil melambaikan tangan sekilas sebagai tanda perpisahan yang sopan. Sunghoon membalasnya dengan anggukan kecil sebelum akhirnya melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang mulai temaram.

Ada perasaan ringan yang menyelubungi hatinya sepanjang perjalanan pulang. Jemarinya mengetuk kemudi dengan santai seiring dengan alunan musik instrumental dari radio mobil. Pertemuan di studio sore itu tidak hanya menghasilkan kesepakatan tentang detail sebuah kursi, melainkan juga menanam sebuah kedekatan baru yang perlahan mulai tumbuh di antara mereka.

Sementara itu, di dalam studio yang kini mulai sepi, Evan kembali berjalan ke arah meja kerjanya. Ia bermaksud membereskan kertas sketsa dan pensil yang tadi mereka gunakan. Namun, saat tangannya meraih lembaran kertas itu, gerakannya mendadak terhenti.

Dahi Evan berkerut kecil, lalu sedetik kemudian matanya melebar saat sebuah kesadaran menghantam benaknya.

“Sama-sama, Sunghoon. Terima kasih juga sudah meluangkan waktu untuk mampir,”

Kalimat perpisahannya beberapa menit lalu terngiang kembali dengan sangat jelas di telinganya. Evan refleks menepuk dahinya sendiri dengan pelan, merasa sedikit merinding sekaligus tidak enak. Di tengah obrolan yang mengalir begitu natural dan seru tadi, ia benar-benar lengah. Tanpa sadar dan tanpa embel-embel “Tuan”, ia telah memanggil nama pemuda dari keluarga terpandang itu secara langsung begitu saja.

Evan mengembuskan napas panjang, bersandar pada tepian meja kerjanya yang kokoh sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum geli yang tertahan. Ada rasa cemas yang samar kalau-kalau kelancangannya yang tidak sengaja itu terdengar terlalu akrab atau kurang sopan untuk ukuran orang yang baru beberapa kali bertemu.

Namun, saat ia mengingat kembali bagaimana Sunghoon membalas lambaian tangannya dengan anggukan kecil dan gurat wajah yang tampak rileks sebelum masuk ke sedan putihnya, Evan sedikit bernapas lega. Ia hanya bisa berharap ritme obrolan mereka yang sudah telanjur mencair tadi tidak kembali kaku pada pertemuan berikutnya hanya karena kecerobohan lidahnya sore ini.

Hari-hari setelah pertemuan di studio berlalu dengan ritme yang diam-diam berubah bagi keduanya. Ada garis tak kasat mata yang tanpa sadar telah bergeser, mengubah cara mereka saling memandang satu sama lain.

Bagi Evan, perubahan itu datang setiap kali ia kembali menghadapi kursi pesanan Sunghoon di sudut studio. Saat tangannya mengampelas permukaan kayu atau meniti lekukan sandaran yang kini dibuat lebih landai, ia tidak lagi sekadar melihat sebuah proyek furnitur.

Di benaknya, kayu ek itu kini memiliki wajah: seorang pemuda dengan tatapan tenang yang ternyata menyukai detail kecil, yang bisa tertawa lepas di antara debu gergaji, dan yang mengendarai sedan putihnya sendiri dengan bahu yang tampak memikul beban berat yang tak pernah diutarakan.

Setiap kali teringat bagaimana ia sempat keceplosan memanggil nama Sunghoon langsung tanpa embel-embel, Evan tidak lagi merasa cemas. Sebaliknya, ada debaran halus yang menggelitik di dadanya — sebuah keinginan egois yang mulai tumbuh agar ia bisa memanggil nama itu lagi dengan cara yang sama, di luar urusan pekerjaan.

Sunghoon bukan lagi sekadar pelanggan yang datang membawa sketsa; ia adalah teka-teki yang tenang, yang kehadirannya mulai dinantikan Evan di tengah riuhnya suara mesin studio.

Di sisi lain kota, di balik kemudi sedan putihnya atau di tengah hiruk-pikuk koridor kampus, Sunghoon pun merasakan hal yang sama. Fokusnya yang biasa tertuju penuh pada draf makalah kuliah kini sering kali terdistraksi oleh kilasan sore di studio itu.

Bagi Sunghoon, Evan adalah sosok yang sangat memikat dengan caranya sendiri. Berasal dari latar belakang keluarga yang sama-sama berada di kelas atas tidak membuat Evan memilih jalan yang kaku.

Sunghoon mengagumi bagaimana Evan dengan bebas dan penuh gairah menekuni hobi serta bisnis studionya, tampil apa adanya dengan kaos kasual tanpa kehilangan karismanya.

Cara Evan menatap dan mendengarkannya — bukan dengan formalitas basa-basi yang biasa ada di pesta-pesta kalangan atas, melainkan dengan ketertarikan murni pada ide-idenya — meninggalkan kesan yang teramat dalam.

Saat Sunghoon teringat bagaimana suara rendah Evan menyebut namanya langsung di ambang pintu sore itu, ia tidak merasa tersinggung sedikit pun. Justru, sebaris kalimat itu terus terngiang, mengirimkan kehangatan aneh yang membuat sudut bibirnya terangkat tanpa sadar. Sunghoon mulai memandang Evan sebagai sebuah tempat pelarian yang aman, seseorang yang memegang kunci menuju dunia di mana Sunghoon boleh melepaskan topeng sempurnanya dan menjadi dirinya sendiri.

Tanpa banyak kata dan tanpa janji yang terucap, sepasang netra yang biasanya saling menatap dengan formalitas kini mulai mencari sesuatu yang lebih dalam. Mereka tidak lagi hanya melihat satu sama lain sebagai dua orang yang kebetulan bertemu, melainkan sebagai awal dari sebuah ketertarikan yang perlahan namun pasti, mulai mengubah warna di dunia mereka masing-masing.

Rasa penasaran yang mulai tumbuh itu akhirnya menemukan jalannya kembali tidak sampai seminggu kemudian. Kali ini, bukan Sunghoon yang datang berkunjung, melainkan Evan yang berinisiatif mengirimkan sebuah pesan singkat — sebuah foto potongan kulit premium berwarna tan yang diletakkan di atas permukaan kayu ek milik Sunghoon.

Bantalan kulitnya sudah sampai di studio. Menurut Anda, tekstur yang ini sudah cukup nyaman untuk ruang baca, atau kita perlu mencari yang lebih lembut?

Pesan itu masuk ke ponsel Sunghoon tepat saat ia baru saja menyelesaikan kelas. Menatap layar ponsel, Sunghoon tidak bisa menahan senyum tipisnya. Alih-alih membalas dengan ketikan panjang, ia langsung mengetikkan jawaban singkat sembari berjalan menuju parkiran kampus, tempat sedan putihnya berada.

Saya akan ke studio sekarang untuk melihatnya langsung.

Setengah jam kemudian, sedan putih Sunghoon kembali membelah halaman depan studio Evan. Ketika Sunghoon melangkah masuk, ia tidak lagi mendapati Evan dengan apron denim yang berdebu. Sore ini, Evan tampak baru saja selesai membersihkan diri, mengenakan kemeja linen kasual berwarna putih dengan lengan yang digulung hingga siku.

“Anda mengemudi sangat cepat,” ujar Evan menyambutnya di ambang pintu, sebuah senyuman hangat langsung terbit di wajahnya yang tegas.

“Kebetulan jalanan dari kampus sedang senggang,” balas Sunghoon, melangkah masuk ke dalam studio yang kali ini terasa lebih tenang karena mesin-mesin produksi sudah dimatikan.

Evan mengantarkan Sunghoon ke meja kerja utamanya. Di sana, contoh potongan kulit yang tadi ada di foto sudah berjejer rapi. Namun, ada yang berbeda dengan atmosfer di antara mereka sore ini. Begitu mereka berdiri berdampingan menghadap meja kerja, keheningan yang tercipta tidak lagi terasa kaku seperti pertemuan di kafe tempo hari, melainkan dipenuhi oleh ketegangan samar yang mendebarkan.

“Ini bahannya,” Evan menggeser potongan kulit itu mendekat ke arah Sunghoon. “Saya sengaja memilih yang memiliki guratan alami, agar senada dengan konsep minimalis yang Anda inginkan.”

Sunghoon mengulurkan tangan, jemarinya mengusap permukaan kulit tersebut dengan perlahan. “Ini bagus. Lembut, tapi strukturnya tetap kokoh.” Ia lalu mendongak, membuat jarak di antara wajah mereka mengikis beberapa senti. Mata mereka bersitatap dalam jarak dekat. “Pilihan yang tepat, Kak Evan.”

Mendengar namanya disebut langsung dengan nada tenang khas Sunghoon, Evan sempat terpaku sedetik. Detak jantungnya mendadak berpacu sedikit lebih cepat. Semburat jingga dari matahari sore yang menerobos jendela besar studio seolah mengunci momen tersebut, mempertegas gurat wajah Sunghoon yang tampak begitu menawan di matanya.

Evan berdehem pelan, mencoba menguasai dirinya sembari tersenyum tipis. “Saya senang jika Anda menyukainya. Berarti, proses penjahitan bantalannya bisa saya mulai besok.”

Sunghoon tidak langsung menjawab. Ia menarik kembali tangannya dari atas meja, lalu menyandarkan pinggulnya pada tepian meja kerja — meniru gestur santai yang dilakukan Evan pada pertemuan mereka sebelumnya. Kebebasan berekspresi yang dimiliki Sunghoon membuatnya tidak ragu untuk menunjukkan bahwa ia menikmati waktu yang ia habiskan di tempat ini.

“Setelah ini, apa kesibukan Anda, Kak Evan?” tanya Sunghoon tiba-tiba, dengan sengaja menurunkan intonasi suaranya menjadi lebih kasual, seolah membalas kedekatan implisit saat Evan tidak sengaja memanggil namanya tempo hari.

Evan menatap Sunghoon dengan binar mata yang semakin dalam, menyadari perubahan cara bicara pemuda di hadapannya. Senyumnya kini melebar, terasa lebih lepas dan tulus. “Hari ini pekerjaan saya sudah selesai. Jadi … saya sepenuhnya senggang.”

“Kalau begitu,” Sunghoon menegakkan tubuhnya kembali, menatap Evan dengan binar menantang yang halus namun memikat. “Bagaimana kalau kita mencari kopi di luar?”

Tawaran itu disambut Evan dengan anggukan mantap tanpa ragu. Di dalam studio yang mulai meredup itu, sekat-sekat formalitas di antara dua pemuda dari kalangan atas itu akhirnya runtuh sepenuhnya, digantikan oleh sebuah langkah awal yang nyata untuk berjalan beriringan.

Pertemuan berikutnya terjadi di akhir pekan yang cerah. Bukan di studio yang berdebu atau di kafe dekat kampus, melainkan di sebuah galeri seni kontemporer di pusat kota. Evan yang mengundang Sunghoon kali ini, setelah tahu dari obrolan santai mereka bahwa Sunghoon menyukai seni lukis.

Mereka berjalan berdampingan melewati sekat-sekat pameran yang tenang, menikmati jajaran kanvas yang memanjakan mata. Tanpa adanya objek kursi atau urusan pesanan di antara mereka, fokus keduanya kini sepenuhnya tertuju pada satu sama lain — dan pada isi kepala masing-masing yang perlahan mulai terbuka.

“Awalnya aku ngira pameran minggu ini akan didominasi gaya realis yang membosankan,” ujar Evan memecah keheningan, suaranya pelan agar tidak mengganggu pengunjung lain. Penggunaan kata ‘aku’ itu mengalir begitu saja, seringan langkah kakinya. “Tapi ternyata kuratornya pintar memilih karya. Komposisi warna di aula depan tadi bagus sekali.”

Sunghoon menoleh, sempat menjeda langkahnya sejenak mendengar perubahan bahasa yang digunakan Evan. Bukannya merasa aneh, seulas senyum manis justru terbit di wajahnya. Ada rasa lega yang menyenangkan saat sekat formalitas itu akhirnya meluntur secara alami.

“Kamu benar,” sahut Sunghoon, sengaja menekankan kata ‘kamu’ sebagai balasan yang sepadan. “Pencahayaannya juga pas, jadi karakter setiap sapuan kuasnya keluar. Aku suka konsep pamerannya.”

Evan terkekeh pelan, menyadari bahwa Sunghoon menyambut baik perubahan ritme di antara mereka. Langkah kaki mereka kemudian membawa mereka ke area koridor utama yang lebih eksklusif. Di sana, perhatian Sunghoon mendadak tersita oleh sebuah lukisan lanskap abstrak berukuran besar yang dipajang di tempat utama. Tatapan Sunghoon melembut, ada binar kehangatan sekaligus rasa bangga yang familier di matanya.

“Ah, lukisan ini …” gumam Sunghoon pelan, melangkah mendekat ke arah kanvas tersebut.

Evan ikut berdiri di sampingnya, mengamati lukisan yang dipenuhi perpaduan warna-warna hangat dan teknik palet yang sangat berkarakter. Ia lalu melirik papan keterangan kecil di samping bingkai. Matanya membelalak kecil saat membaca nama pelukisnya.

Quirinus

“Ini … lukisan yang sangat luar biasa,” gumam Evan, matanya terpaku pada perpaduan warna yang berani namun terasa emosional di atas kanvas. Ia melirik papan keterangan kecil di samping bingkai untuk mencari tahu siapa senimannya, lalu membaca sebuah nama yang terasa familier. “Quirinus.”

Sunghoon mengangguk, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang rileks saat melihat ekspresi terkejut Evan.

“Papi melukis ini sekitar delapan belas tahun lalu di studio di rumah. Aku ingat sekali, aku sering nemenin duduk di sana sambil ngejaga si bungsu waktu Papi sibuk menyelesaikan bagian latar belakangnya yang rumit.”

Evan bersedekap, ikut menatap kembali lukisan megah tersebut dengan perspektif yang kini terasa berbeda. Dipanggil dengan bahasa yang santai, ditambah atmosfer intim dari cerita masa kecil Sunghoon yang baru saja dibagikan kepadanya, membuat dada Evan berdesir hangat.

Mereka kembali melangkah, menyusuri sisa koridor galeri dengan ritme yang jauh lebih lambat. Panggilan ‘saya-anda’ resmi tertinggal di belakang, melebur bersama sisa-sisa formalitas yang kini terasa menggelikan jika diingat kembali. Di antara obrolan tentang selera musik yang ternyata agak mirip, hingga perdebatan kecil nan jenaka tentang kedai kopi terbaik di kota ini, keduanya terus berjalan beriringan.

Matahari sore mulai meredup, menyisakan semburat warna keemasan yang menerobos masuk dari dinding kaca di ujung galeri. Saat mereka melangkah keluar menuju pelataran parkir, angin senja yang sejuk menyambut mereka.

Sunghoon meraba kunci sedan putihnya di dalam saku celana, lalu berbalik menatap Evan yang berdiri di sampingnya. “Aku lapar setelah berkeliling tadi. Kamu … ada rekomendasi tempat makan yang bagus? Di luar lingkungan kampus atau restoran formal.”

Evan tersenyum lebar, binar matanya tampak begitu hidup di bawah pendar cahaya senja. “Aku tahu tempat makan tendaan yang punya potongan daging panggang terbaik di dekat studio lamaku. Bagaimana?” goda Evan sambil melirik kemeja rapi yang dikenakan Sunghoon.

Sunghoon mendengus geli, sebuah tawa lepas yang tulus keluar begitu saja. “Jalan saja. Aku yang setir.”

Untuk pertama kalinya, mereka masuk ke dalam sedan putih milik Sunghoon bersama-sama bukan lagi sebagai relasi bisnis yang kaku, melainkan sebagai ‘aku’ dan ‘kamu’ yang siap menuliskan babak baru dalam kedekatan mereka.

Evan terkekeh pelan melihat respons santai Sunghoon, lalu berjalan memutari moncong sedan putih itu menuju ke pintu penumpang. Ia membukanya dan menduduki kursi di sebelah kemudi dengan gerakan rileks, membiarkan Sunghoon yang mengambil alih kemudi sore itu.

“Oke, silakan kapten. Kita keluar dari area galeri ini, lalu ambil jalur kanan di perempatan depan,” ujar Evan sembari memasang sabuk pengamannya, melirik Sunghoon dengan senyum yang belum pudar.

Sunghoon menyalakan mesin mobil. Dengungan halus khas mesin sedan premium itu memenuhi kabin, disusul dengan alunan musik dari pemutar lagu yang otomatis terhubung. Sunghoon memindahkan tuas transmisi dan mulai melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang perlahan mulai padat oleh kendaraan di jam pulang kerja.

Berada di dalam ruang yang sama dan sedekat ini tanpa obrolan formal memberikan atmosfer yang baru bagi mereka. Tidak ada lagi jarak yang dibuat-buat. Sambil sesekali memperhatikan navigasi yang diarahkan oleh Evan, Sunghoon mengemudi dengan satu tangan yang santai pada roda kemudi, sementara tangan lainnya bersandar di pembatas tengah.

Sunghoon melirik Evan sekilas lewat sudut matanya, melihat bagaimana pemuda di sampingnya itu tampak begitu nyaman berada di dalam mobilnya. Ada perasaan hangat yang menggelitik di dada Sunghoon. Baginya, membiarkan orang lain masuk ke dalam ruang pribadinya — seperti sedan putih ini — bukanlah hal yang biasa ia lakukan. Namun bersama Evan, semuanya mengalir begitu saja tanpa ada rasa keberatan sedikit pun.

Sedan putih itu terus melaju, membawa ‘aku’ dan ‘kamu’ menjauh dari pusat kota yang kaku, menuju tempat makan sederhana yang dijanjikan Evan di bawah pendar lampu kota yang mulai menyala satu per satu.

Jalanan kota yang padat merayap membuat perjalanan mereka memakan waktu lebih lama dari biasanya. Namun, alih-alih merasa jengkel karena terjebak macet, Sunghoon justru menikmati setiap detiknya. Di dalam kabin sedan putih yang sejuk itu, obrolan mereka mengalir tanpa jeda yang canggung.

“Nanti setelah lampu merah di depan, kamu masuk ke gang kecil di sebelah kiri,” cetus Evan sambil menunjuk ke arah papan penunjuk jalan yang agak usang. “Tempatnya memang agak tersembunyi, tapi aku jamin bumbunya juara.”

Sunghoon mengikuti instruksi tersebut dengan lihai. Ia memutar kemudi, membawa sedan putihnya memasuki area yang suasananya kontras dengan pusat kota. Di sini, jajaran ruko tua dan lampu-lampu jalan kekuningan memberikan kesan yang lebih hidup dan membumi. Tak jauh dari sana, kepulan asap beraroma gurih daging panggang yang menggugah selera mulai terlihat.

Begitu menemukan tempat parkir yang agak lapang di dekat sebuah ruko kosong, Sunghoon mematikan mesin mobil. Keheningan sesaat melingkupi kabin sebelum mereka membuka pintu.

“Nah, selamat datang di kuliner rahasiaku,” ujar Evan bangga setelah mereka turun dari mobil. Ia menunjuk ke arah sebuah tenda besar yang ramai dikunjungi orang, di mana aroma daging yang dibakar di atas arang langsung menusuk indra penciuman.

Sunghoon merapikan kemejanya sekilas, lalu menatap keramaian di bawah tenda itu dengan binar tertarik. “Baunya enak sekali. Kamu sering ke sini?”

“Dulu, hampir setiap kali selesai lembur semalaman di studio lama, aku dan anak-anak magang pasti larinya ke sini,” jawab Evan sembari berjalan membimbing Sunghoon membelah kerumunan kecil untuk mencari meja yang kosong. “Ayo, sebelah sana ada yang baru selesai.”

Mereka berdua duduk di atas kursi plastik merah yang sederhana, berhadapan di sebuah meja panjang berbahan seng yang dilapisi plastik. Bagi orang lain, pemandangan dua pemuda berpenampilan modis dan bersih duduk di tempat seperti ini mungkin terlihat agak mencolok. Namun, baik Evan maupun Sunghoon sama sekali tidak peduli.

Evan dengan cekatan memesan dua porsi besar daging panggang spesial beserta hidangan pendampingnya. Sembari menunggu pesanan datang, ia mengambil selembar tisu dan membersihkan bagian meja di depan Sunghoon secara refleks — sebuah perhatian kecil yang tidak luput dari pandangan Sunghoon.

“Terima kasih,” ucap Sunghoon lembut.

“Sama-sama,” Evan tersenyum, menyandarkan kedua sikunya di atas meja dan menatap Sunghoon dengan binar jenaka. “Bagaimana? Tidak seburuk yang kamu bayangkan, kan?”

“Belum tahu, aku kan belum coba makanannya,” balas Sunghoon, membuat Evan tertawa lepas. Sunghoon bersandar pada kursi plastiknya, merasa begitu lepas. “Tapi suasananya … aku suka. Ramai, tapi tidak membuat pusing seperti acara perjamuan formal.”

“Pasti. Di sini tidak ada yang peduli siapa kamu atau apa profesimu. Semua orang datang hanya untuk satu hal: makan enak,” sahut Evan tepat saat dua piring besar daging panggang yang masih mengepulkan asap diletakkan di atas meja mereka.

Malam itu, di bawah pendar lampu neon kuning tenda pinggir jalan, ‘aku’ dan ‘kamu’ menjelma menjadi tawa yang saling bersahutan di sela-sela suapan. Sunghoon mendapati dirinya makan dengan sangat lahap, melupakan sejenak segala tata krama meja makan yang kaku yang diajarkan keluarganya sejak kecil. Sementara Evan, dengan mata yang tidak pernah lepas mengagumi cara Sunghoon berekspresi, merasa bahwa keputusannya untuk mengajak pemuda itu keluar malam ini adalah hal terbaik yang ia lakukan minggu ini.

Selesai makan, mereka tidak langsung pulang. Evan mengajak Sunghoon berjalan kaki sebentar ke sebuah jembatan penyeberangan tua yang letaknya tak jauh dari area kuliner tenda tersebut. Di atas sana, angin malam berembus cukup kencang, membawa kesegaran yang mengusir sisa-sisa aroma asap daging bakar yang menempel di pakaian mereka.

Mereka berdiri berdampingan, menyandarkan kedua lengan pada pagar besi jembatan yang terasa dingin. Dari ketinggian itu, mereka bisa melihat hamparan lampu-lampu kendaraan yang bergerak lambat di bawah sana, seperti aliran sungai cahaya yang tidak pernah putus.

“Gila, aku kenyang banget!” seru Sunghoon sambil mengembuskan napas panjang. Ia menyugar rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin malam, menoleh ke arah Evan dengan sisa binar tawa yang masih tertinggal di matanya. “Rekomendasinya nggak gagal. Dagingnya enak banget!”

Evan terkekeh, ikut menoleh dan menatap profil samping wajah Sunghoon yang diterangi pendar lampu jalanan. “Kan sudah dibilang. Lihat kamu makan selahap tadi bikin aku ngerasa sukses jadi pemandu kuliner malam ini.”

Sunghoon mendengus geli, namun tidak membantah. Ia kembali melempar pandangannya lurus ke depan, menikmati keheningan yang nyaman di antara mereka. Kebebasan berekspresi yang ia rasakan malam ini benar-benar terasa magis. Bersama Evan, ia tidak perlu menyaring tawa, tidak perlu menjaga postur tubuh agar selalu terlihat sempurna, dan tidak perlu memikirkan etiket yang melelahkan.

“Kak Evan,” panggil Sunghoon pelan, suaranya hampir tersapu angin malam tapi terdengar begitu intim di telinga Evan.

“Ya?”

“Terima kasih untuk hari ini,” ucap Sunghoon tulus. Ia menoleh lagi, menatap langsung ke dalam manik mata Evan. “Bukan cuma untuk makan malamnya, tapi … untuk semuanya. Berkeliling galeri, melihat lukisan Papi, dan mengobrol seperti ini. Aku merasa jauh lebih ringan sekarang.”

Evan terdiam sejenak. Sorot mata Sunghoon yang jujur dan terbuka malam ini mengikis sisa-sisa jarak yang pernah ada di antara mereka. Evan menggeser posisinya sedikit lebih dekat, hingga bahu mereka hampir bersentuhan.

“Aku juga harus berterima kasih, Sunghoon,” balas Evan dengan suara rendahnya yang hangat. “Aku jarang bertemu orang yang bisa langsung terkoneksi denganku seperti ini. Biasanya, orang-orang di lingkaran kita terlalu sibuk menjaga kesan pertama. Tapi kamu … kamu berbeda. Kamu nyata.”

Mendengar itu, sudut bibir Sunghoon terangkat membentuk senyuman manis. Debaran halus yang sejak sore tadi menggelitik di dadanya kini menjelma menjadi rasa hangat yang menetap.

Mereka menghabiskan beberapa menit berikutnya dalam diam, namun kali ini dengan jemari yang tanpa sadar sempat bersenggolan di atas pagar pembatas — sebuah kontak fisik kecil yang spontan mengirimkan sengatan listrik halus ke pusat kesadaran masing-masing. Baik Evan maupun Sunghoon tidak ada yang menjauh, membiarkan kedekatan itu mengalir bersama larutnya malam.

“Ayo pulang,” ajak Sunghoon akhirnya saat jam digital di pergelangan tangannya menunjukkan angka yang semakin malam. “Aku harus nganter kamu kembali ke studio diparkir mobil kamu, kan?”

“Iya, tolong ya, Kapten,” gurau Evan, menegakkan tubuhnya dan memberikan jalan agar Sunghoon bisa melangkah lebih dulu menuju tangga turun.

Saat mereka kembali berjalan menuju sedan putih yang setia menunggu di sudut jalan, ada satu hal yang mereka berdua ketahui dengan pasti: pertemuan-pertemuan berikutnya tidak akan lagi membutuhkan alasan berupa kursi ruang baca atau urusan bisnis lainnya. Mereka hanya ingin terus bertemu, sebagai ‘aku’ dan ‘kamu’ yang dunianya kini telah saling bertautan.

Malam itu, setelah sedan putih Sunghoon menghilang di kelokan jalan dan menyisakan kesunyian di pelataran studio, Evan tidak langsung masuk ke dalam. Ia berdiri terpaku di ambang pintu, membiarkan angin malam menerpa wajahnya yang mendadak terasa hangat.

Di tangannya, masih ada ponsel yang menampilkan ruang obrolan mereka. Sederhana, tanpa embel-embel formalitas yang kaku, hanya menyisakan jejak kata ‘aku’ dan ‘kamu’ yang baru saja mereka sepakati di jembatan penyeberangan tadi. Namun, bagi Evan, perubahan kecil itu rasanya seperti sebuah hantaman besar yang meruntuhkan logika berpikirnya.

Ia kembali berjalan masuk, melintasi ruang produksi yang gelap menuju meja kerjanya. Di sudut ruangan, siluet kursi kayu ek pesanan Sunghoon berdiri anggun di bawah pendar lampu koridor. Evan mendekat, mengulurkan tangan untuk menyentuh permukaan kayu yang sudah halus diamplas.

Biasanya, setiap kali ia menyelesaikan sebuah proyek, kepuasan yang ia rasakan adalah kepuasan seorang seniman yang berhasil mewujudkan cetak biru menjadi nyata. Ia hanya memikirkan estetika, fungsionalitas, dan nilai jual. Tapi malam ini, saat jemarinya meniti lekukan sandaran kursi itu, yang terbayang di benaknya bukanlah hasil akhir dari furnitur tersebut.

Ia justru melihat bayangan Sunghoon.

Evan teringat bagaimana cara pemuda itu tertawa lepas saat mereka makan di kedai tendaan tadi — sebuah tawa renyah tanpa beban yang sangat kontras dengan pembawaan anggunnya saat pertama kali mereka bertemu di kafe mewah. Ia teringat binar kehangatan di mata Sunghoon saat menceritakan tentang lukisan Papinya di galeri, dan bagaimana suara lembut pemuda itu saat mengaku bahwa ia hanya ingin memiliki sebuah ‘ruang aman’ untuk menjadi dirinya sendiri.

Kesadaran itu datang mengejutkan, namun terasa begitu mutlak.

Evan menarik tangannya dari permukaan kursi, lalu bersandar pada meja kerja sambil menatap langit-langit studio yang tinggi. Jantungnya berdegup dengan ritme yang asing, lebih cepat dari biasanya. Selama ini, hidup Evan selalu dipenuhi oleh orang-orang dari kalangan atas yang mendekatinya dengan maksud terselubung — entah karena ambisi bisnis keluarga mereka, atau karena citra sosial yang ingin dijaga. Ia sudah terbiasa membangun dinding pertahanan yang tebal, bersikap ramah namun menjaga jarak yang aman.

Tetapi Sunghoon berbeda. Sunghoon tidak datang membawa topeng korporasi. Pemuda itu datang dengan kebebasan berekspresi yang jujur, membawa kerapuhan sekaligus keberanian yang menawan. Di dalam mobil, di galeri, hingga di atas jembatan penyeberangan tua tadi, Sunghoon telah membuka satu per satu gerbang dunianya yang paling privat untuk Evan.

“Aku jarang bertemu orang yang bisa langsung terkoneksi denganku seperti ini,” kalimatnya sendiri yang ia ucapkan pada Sunghoon tadi kembali terngiang di telinganya.

Evan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sarat akan kepasrahan pada perasaannya sendiri. Ia menyadari satu hal yang tak bisa ia sangkal lagi: rasa penasaran ini bukan lagi sekadar urusan profesional atau ketertarikan sesaat antar sesama anak konglomerat. Ia tidak lagi peduli pada seberapa rumit latar belakang keluarga mereka atau seberapa protektifnya sang pilar Celena, Juyeon, dalam menjaga putranya.

Evan ingin tahu lebih banyak. Ia ingin tahu lagu apa saja yang ada di daftar putar ponsel Sunghoon, buku apa yang biasa dibacanya saat menemani Papinya melukis, dan apa saja hal kecil yang bisa menerbitkan senyum manis di wajah pemuda itu. Ia tidak ingin menjadi sekadar desainer furnitur yang lewat di kehidupan Sunghoon. Ia ingin menjadi bagian dari ‘ruang aman’ yang dicari oleh pemuda itu.

Sementara itu, di dalam kamar tidurnya yang luas dan sunyi, Sunghoon baru saja selesai membersihkan diri. Ia berjalan menuju dinding kaca besar yang langsung menghadap ke arah gemerlap lampu kota malam hari, mengeringkan rambutnya yang basah dengan selembar handuk kecil.

Biasanya, setelah menghabiskan waktu di luar rumah, Sunghoon akan langsung kembali ke ritme hidupnya yang teratur — membuka draf kuliah, memeriksa jadwal untuk esok hari, atau sekadar tenggelam dalam keheningan kamarnya yang kaku. Namun malam ini, fokusnya benar-benar buyar. Kepalanya dipenuhi oleh satu nama yang terus terngiang seperti melodi yang candu: Evan.

Sunghoon meletakkan handuknya di atas sofa, lalu berjalan menuju meja rias. Di sana, di dekat tumpukan buku kuliahnya, terletak sebuah sketsa awal kursi ruang baca yang sempat Evan berikan sebagai salinan untuknya. Jemari Sunghoon menyentuh kertas bertekstur kasar itu, dan seketika itu pula, kilasan kejadian hari ini berputar kembali di benaknya.

Ia teringat aroma serutan kayu dan kemeja linen putih Evan yang tergulung santai. Ia teringat bagaimana tatapan mata Evan yang lurus dan tajam selalu berhasil membuatnya merasa “terlihat” — bukan sebagai sosok Sunghoon sang pangeran Celena, melainkan sebagai seorang pemuda biasa yang memiliki ruang lelahnya sendiri.

Bagi Sunghoon, menyadari bahwa ia ingin mengenal Evan lebih jauh adalah sebuah kejutan yang mendebarkan sekaligus melegakan.

Selama hidupnya, Sunghoon tumbuh di bawah kepakan sayap pelindung keluarga, Juyeon, yang sebegitu protektif dan menyayanginya. Lingkaran sosialnya telah disaring sedemikian rupa, dipenuhi oleh orang-orang yang mendekat dengan tata krama yang dipaksa dan penuh kepura-puraan. Hal itu perlahan membuat Sunghoon membangun bentengnya sendiri. Ia bebas berekspresi, ya, tapi hanya di tempat-tempat tertentu, di hadapan orang-orang tertentu yang dianggap aman oleh keluarganya.

Namun, Evan menghancurkan teori itu dalam sekejap.

Saat Evan tanpa ragu mengajaknya makan di kedai tendaan pinggir jalan, membiarkannya menyetir sedan putihnya, dan mendengarkan ceritanya tentang lukisan Papi dengan binar kagum yang tulus, Sunghoon merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan di luar rumah: kebebasan mutlak. Bersama Evan, kata ‘kamu’ dan ‘aku’ tidak lagi terdengar seperti sebutan kasual biasa, melainkan sebuah bentuk keintiman baru yang membuatnya merasa aman.

Sunghoon berjalan kembali ke arah tempat tidur, mengambil ponselnya yang tergeletak di atas bantal. Ia menatap layar yang masih bersih dari notifikasi baru, namun ada senyuman manis yang tak bisa ditahannya yang terbit di wajahnya yang rupawan.

Ada rasa ingin tahu yang mendesak di dalam dadanya sekarang. Ia ingin tahu bagaimana rupa studio Evan saat matahari baru terbit, ia ingin tahu kopi apa yang biasa lelaki itu minum saat terjaga semalaman untuk memotong kayu, dan ia ingin tahu bagaimana rasanya berada di dekat Evan tanpa ada batas waktu yang mengekang. Sunghoon menyadari bahwa ia tidak lagi melihat Evan sekadar sebagai desainer berbakat yang ia sewa, atau anak konglomerat dari lingkaran sosial yang sama.

Evan adalah seseorang yang ingin ia selami lebih dalam. Seseorang yang ingin ia izinkan masuk ke dalam bagian paling privat di hidupnya.

Sunghoon merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, menatap langit-langit kamarnya dengan debaran halus yang terus bertalu di dada. Ia tahu, jalannya mungkin tidak akan sesederhana itu mengingat siapa keluarga mereka. Namun, mengingat sorot mata Evan yang penuh keyakinan di atas jembatan penyeberangan tadi, Sunghoon tidak lagi merasa takut. Ia siap untuk melangkah keluar dari zona nyamannya, menyambut Evan yang kini telah menjadi bagian dari dunianya.

Atmosfer di dalam ballroom hotel bintang lima malam itu terasa begitu megah sekaligus menekan. Alunan musik klasik yang mengalun dari sudut ruangan berpadu dengan gemerincing gelas kristal dan obrolan berintonasi rendah dari para petinggi negeri. Di sinilah tempat di mana setiap senyuman adalah strategi, dan setiap jabat tangan adalah kesepakatan bisnis.

Di sudut ruangan, Evan berdiri dengan tegap. Malam ini, ia sepenuhnya menanggalkan apron denim dan kaos kasualnya yang berdebu. Dibalut tuxedo hitam potongan slim-fit yang sempurna, karisma alaminya sebagai putra dari salah satu keluarga konglomerat terpandang memancar kuat. Ayahnya sejak tadi terus memberikan kode lewat tatapan mata, menuntut Evan untuk segera bergabung di lingkaran para investor guna membahas ekspansi bisnis finansial keluarga — ambisi besar yang selalu dipaksakan ke pundaknya.

Namun, Evan memilih mengesampingkan tuntutan itu. Pandangannya terkunci pada satu titik di tengah ruangan.

Di sana, Sunghoon sedang berdiri dengan anggun. Pemuda itu tampak begitu menawan, dikelilingi oleh proteksi tak kasat mata yang sangat ketat. Dan di samping Sunghoon, berdiri sang pilar utama Celena yang begitu disegani: Juyeon. Sosoknya yang mengintimidasi dan tatapan matanya yang tajam seolah menjadi benteng kokoh yang menegaskan kepada dunia bahwa Sunghoon adalah putra yang teramat disayang, dimanjakan, dan tidak boleh disentuh oleh sembarang orang.

Evan menarik napas panjang, memantapkan langkahnya. Mengabaikan bisikan-bisikan kolega di sekitarnya, ia berjalan membelah kerumunan dengan pembawaan yang tenang namun penuh wibawa. Langkah kakinya konstan, menunjukkan kepercayaan diri seorang pria muda yang tahu persis apa yang ia inginkan.

Begitu jarak mereka mengikis, kehadiran Evan langsung disadari. Juyeon membalikkan tubuhnya, menatap Evan dengan sepasang netra yang menelisik tajam. Sunghoon pun menoleh, matanya sedikit melebar karena terkejut, namun ada kilat binar yang tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.

Evan berhenti dalam jarak yang sopan. Ia membungkuk hormat dengan gestur yang sangat elegan, menyapa sang pilar Celena terlebih dahulu tanpa sedikit pun gurat gentar di wajahnya.

“Selamat malam, Tuan Juyeon,” ucap Evan, suaranya terdengar rendah, berat, dan penuh penekanan yang berkelas.

Juyeon tidak langsung menjawab. Ia menilai pemuda di hadapannya dari ujung kepala hingga ujung kaki, menyadari aura kepemimpinan yang kuat dalam diri Evan. “Malam, Evan, atau harusnya Heeseung. Tidak disangka akan melihatmu di barisan ini, bukan di samping ayahmu.”

Evan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sopan namun sarat akan ketegasan prinsip. “Ada hal yang jauh lebih penting bagi saya malam ini daripada sekadar urusan korporasi, Tuan.”

Evan kemudian mengalihkan pandangannya sekilas ke arah Sunghoon, menatap pemuda itu dengan kelembutan yang kontras dengan ketegasannya barusan. Setelah itu, ia kembali menatap lurus ke dalam manik mata Juyeon, mengutarakan niatnya dengan kejujuran yang mutlak.

“Saya berdiri di sini malam ini, bukan sebagai perwakilan dari ambisi bisnis keluarga saya. Saya datang secara pribadi, di hadapan Anda sebagai sosok yang paling menjaga Sunghoon,” tutur Evan, menjeda kalimatnya sejenak untuk memberikan penekanan yang elegan.

“Saya tahu seberapa besar Sunghoon disayang, dan seberapa protektif Anda menjaganya dari dunia luar. Karena itu, dengan segala rasa hormat dan ketulusan, saya ingin meminta izin kepada Anda … untuk mengenal Sunghoon lebih jauh. Bukan sebagai relasi formal, melainkan sebagai seseorang yang ingin menghargai dan menjaga kebahagiaannya.”

Suasana di sekitar mereka seolah membeku seketika. Sunghoon yang berdiri di samping Juyeon menahan napasnya, jantungnya bertalu hebat mendengar pengakuan Evan yang begitu berani dan jantan di hadapan sang pilar Celena. Belum pernah ada seorang pun dari kalangan mereka yang berani melangkah maju dan meminta izin sejelas itu langsung kepada Juyeon.

Juyeon terdiam, menatap Evan dengan ekspresi yang sulit dibaca. Namun, perlahan-lahan, ketegangan di rahang kokoh sang pilar Celena tampak sedikit mengendur. Ia bisa melihat bahwa di balik setelan mewah itu, yang berdiri di hadapannya bukanlah seorang pemuda manja yang penuh siasat, melainkan seorang pria yang memiliki keberanian dan ketulusan yang setara untuk menghadapi benteng proteksinya.

Untuk beberapa detik yang terasa begitu lama, Juyeon hanya diam, membiarkan keheningan yang tegang itu menguji mental pemuda di hadapannya. Namun, Evan tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Bahunya tetap tegap, dan sorot matanya tetap lurus, membalas tatapan sang pilar Celena dengan ketenangan yang mutlak.

Juyeon kemudian melirik ke arah Sunghoon. Ia menangkap basah bagaimana jemari putranya itu meremas pelan kain celananya sendiri, dengan sepasang mata yang menatap Evan penuh harap — sebuah ekspresi yang jarang sekali Sunghoon tunjukkan di depan umum. Sebagai seseorang yang membesarkan dan menjaga Sunghoon dengan segenap jiwa, Juyeon tahu persis arti tatapan itu. Benteng proteksinya yang kokoh perlahan-lahan runtuh oleh kenyataan bahwa sang putra ternyata telah membuka hatinya.

Sebaris senyum tipis, hampir tak kentara, akhirnya muncul di sudut bibir Juyeon. Ia menegakkan tubuhnya, memotong jarak di antara mereka hingga aura dominannya kembali menguar kuat.

“Kamu tahu, Evan,” Juyeon bersuara, nadanya tenang namun sarat akan peringatan yang tidak main-main. “Saya tidak pernah membiarkan sembarang orang masuk, apalagi jika orang itu hanya ingin menjadikannya bagian dari pion bisnis atau sekadar penasaran sesaat.”

“Saya tahu persis hal itu, Tuan Juyeon,” balas Evan, suaranya mantap tanpa ada keraguan sedikit pun. “Dan saya tidak berniat menjadi salah satu dari orang-orang itu.”

Juyeon mengangguk pelan, tampaknya puas dengan jawaban lugas Evan. Ia lalu mengulurkan tangannya ke depan. “Keberanianmu patut diapresiasi. Ayahmu mungkin punya ambisi lain untukmu, tapi malam ini, Saya melihat kamu sebagai pria yang mandiri.”

Evan menyambut jabat tangan Juyeon dengan genggaman yang tegas dan penuh rasa hormat.

“Saya berikan izin untuk mengenalnya,” ucap Juyeon, matanya kembali menatap Evan dengan tajam, “Jangan pernah membuat putraku kehilangan senyum bebasnya.”

“Saya berjanji atas nama diri saya sendiri, bukan atas nama keluarga saya,” sahut Evan elegan.

Begitu Juyeon menjauh dan melebur bersama kerumunan ballroom, ketegangan yang sempat mengunci atmosfer di antara mereka langsung menguap. Sunghoon mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya, lalu menatap Evan dengan senyuman manis yang begitu lepas — senyuman yang membuat semua kemegahan perjamuan malam ini mendadak kehilangan kilaunya.

“Kamu gila!” seru Sunghoon, melangkah satu kaki lebih dekat ke arah Evan.

Evan terkekeh rendah, ketegasan formalnya meluntur digantikan oleh tatapan hangat yang begitu akrab. Ia memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana, memandangi Sunghoon yang malam ini terlihat luar biasa menawan.

“Aku serius dengan ucapanku, Sunghoon,” ujar Evan pelan, suaranya hanya ditujukan untuk pendengaran Sunghoon seorang. “Aku tidak mau bersembunyi di balik alasan urusan kursi lagi kalau ingin mengajakmu keluar. Aku ingin masuk ke duniamu dengan cara yang benar.”

Sunghoon menunduk sekilas, mencoba menyembunyikan rona tipis yang mendadak muncul di pipinya, sebelum kembali mendongak menantang manik mata Evan dengan binar jenaka yang biasa. “Kalau begitu, mau menemaniku keluar?”

Evan tersenyum lebar, mengangguk setuju. “Tentu saja. Sedan putihmu ada di depan, kan? Kali ini, biarkan aku yang setir.”

Sunghoon tidak menjauh. Ia justru membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan sentuhan Evan, merasakan debaran di dadanya yang kini meluap menjadi rasa aman yang mutlak. Di dalam kabin mobil yang sunyi itu, di antara bayang-bayang malam, sepasang netra mereka saling mengunci, merayakan runtuhnya seluruh dinding formalitas yang pernah memisahkan mereka.

Malam itu, perjalanan mereka bukan lagi tentang desainer dan pelanggan, bukan pula tentang dua anak konglomerat yang dijodohkan oleh keadaan. Ini adalah akhir dari sebuah keraguan, dan awal dari babak baru di mana ‘aku’ dan ‘kamu’ telah sepakat untuk berjalan beriringan — menghadapi dunia dengan cara mereka sendiri yang merdeka.

01/06/2026


메타데이터
post_id
461be673cd96
slug
heehoon-the-sovereigns-choice-461be673cd96
url
https://medium.com/@cnd.cenud/heehoon-the-sovereigns-choice-461be673cd96
canonical_url
https://medium.com/@cnd.cenud/heehoon-the-sovereigns-choice-461be673cd96
author_url
https://medium.com/@cnd.cenud
status
ok
fetched_at
2026-07-17 06:11:15