Dicintai dengan Tenang.
Malam itu rumah keluarga Jayaswara terasa jauh lebih tenang dibanding biasanya. Aruna masih berada di kamar sejak sore bersama laptop dan…
Dicintai dengan Tenang.
Malam itu rumah keluarga Jayaswara terasa jauh lebih tenang dibanding biasanya. Aruna masih berada di kamar sejak sore bersama laptop dan beberapa print-out yang berserakan di atas kasur. Sudah hampir tiga jam perempuan itu tidak benar-benar keluar kamar selain sekadar mengambil minum, membuat Arina mulai beberapa kali menghela napas khawatir melihat putrinya yang semakin terlihat kelelahan menjelang sidang akhirnya.
Di lantai bawah, Savero yang baru selesai memakai jaket tampak hendak keluar rumah ketika suara bel berbunyi pelan. Laki-laki itu langsung berjalan santai menuju pintu depan sambil tetap memainkan ponselnya.
“Januar kalau buru-buru pasti — ” Kalimat Savero langsung terputus begitu pintu rumah terbuka. “Loh?”
Satya berdiri di depan rumah dengan dua paperbag besar di tangannya. Penampilannya malam itu jauh lebih santai dibanding biasanya. Tidak ada jas ataupun kemeja formal kantor yang biasa melekat pada dirinya. Satya hanya mengenakan kaos hitam polos dengan celana panjang gelap, rambut sedikit berantakan seperti seseorang yang baru selesai mandi dan buru-buru keluar rumah.
“Mau ketemu Aruna,” ucapnya santai sambil tersenyum kecil.
Savero langsung terkekeh pelan sambil membuka pintu lebih lebar. “Tumben gak ngabarin dulu.”
“Sengaja dadakan.”
Satya melangkah masuk dengan tenang. Dan entah kenapa, penampilannya yang jauh lebih santai malam itu justru membuat suasana terasa berbeda. Tidak seperti Satya sang direktur perusahaan yang biasanya terlihat formal dan sulit disentuh. Malam ini dia hanya terlihat seperti laki-laki yang sedang datang menemui perempuan yang ia rindukan.
Arina yang mendengar suara dari arah depan rumah akhirnya keluar dari dapur sambil mengeringkan tangannya menggunakan kitchen towel. Namun begitu melihat Satya berdiri di ruang tamu, ekspresi perempuan itu langsung berubah hangat.
“Satya?”
Satya langsung menundukkan kepala sopan. “Malam tante.”
“Kok gak bilang kalau mau datang?”
“Dadakan, tante.”
Arina terkekeh kecil sebelum akhirnya mempersilakan Satya duduk. Tidak lama kemudian, Vabhian ikut keluar dari ruang kerja kecilnya sambil melepas kacamata baca.
“Satya?”
“Malam om.”
“Aruna di kamar dari tadi. Naik aja.”
Namun Satya justru menggeleng kecil sambil tersenyum sopan. “Gak usah om. Saya tunggu di bawah aja.”
Savero yang berdiri dekat pintu langsung terkekeh kecil. “Sopan banget dah lo mas.”
Satya cuma tersenyum tipis tanpa membalas. Karena jujur saja, walaupun hubungannya dengan Aruna sudah jauh lebih dekat sekarang, tetap ada rasa segan yang tidak pernah hilang setiap berada di rumah perempuan itu dan anehnya, Vabhian justru semakin menyukai sikap tersebut.
“Yaudah,” ucap Arina sambil tersenyum kecil. “Tante sama om naik dulu ya. Lanjutin kerjaan.”
“Iya tante.”
Savero yang sejak tadi hendak pergi akhirnya menunjuk ke arah luar rumah. “Aku cabut dulu ya. Januar udah spam chat. Duluan mas.”
“Hati-hati,” jawab Arina cepat.
Beberapa menit kemudian, suasana ruang tamu akhirnya jauh lebih tenang setelah kedua orang tua Aruna naik ke lantai atas dan Savero pergi keluar rumah. Satya yang duduk sendiri di sofa akhirnya mengeluarkan ponselnya sebelum mengetik pesan singkat ke Aruna untuk menyuruhnya turun kebawah.
Tidak sampai satu menit kemudian, suara langkah kaki buru-buru langsung terdengar dari arah tangga. Aruna muncul dengan hoodie oversized dan rambut yang masih dicepol asal. Wajahnya jelas memperlihatkan ekspresi kaget begitu melihat Satya benar-benar duduk santai di ruang tamu rumahnya dan jujur saja Aruna sempat diam beberapa detik karena penampilan Satya malam itu terlalu berbeda dari biasanya. Kaos hitam polos yang dikenakan laki-laki itu membuat dirinya terlihat jauh lebih santai, lebih dekat, dan entah kenapa jauh lebih sulit diabaikan.
“Mas?!”
Satya langsung menoleh sambil tersenyum kecil. “Halo, sayang.”
Aruna berjalan mendekat dengan wajah masih tidak percaya. “Kok gak bilang kalau mau kesini?”
“Kan sekarang udah tau.”
Aruna langsung menghela napas kecil sambil menahan senyum. “Papa sama mama tau?”
“Tau.”
“Malu banget…”
Satya malah terkekeh pelan sambil menarik paperbag kecil di atas meja ke arah Aruna. “Nih.”
Aruna langsung duduk di sebelah Satya sebelum membuka paperbag itu cepat. “Dimsum?”
“Katanya lagi stress belajar.”
Aruna langsung tersenyum kecil sambil mengambil satu dimsum tanpa pikir panjang. Namun belum selesai perempuan itu makan, Satya kembali menggeser paperbag lain ke arah Aruna.
“Yang itu juga buka.”
Aruna mengernyit bingung sebelum akhirnya membuka paperbag kedua perlahan dan detik berikutnya matanya langsung membesar.
“Lego bunga?” Nada suaranya berubah jauh lebih hidup dibanding beberapa menit sebelumnya. Satya langsung tertawa kecil melihat reaksinya.
“Kamu pernah bilang pengen ngerakit itu.”
Aruna langsung menoleh cepat. “Kamu inget?”
“Semua omongan kamu aku inget.”
Kalimat itu sukses membuat Aruna langsung salah tingkah sendiri. Perempuan itu akhirnya duduk bersila di sofa sambil membuka kotak lego bunga tersebut dengan wajah berbinar. Malam itu akhirnya dihabiskan dengan keduanya duduk berdekatan di ruang tamu. Potongan lego kecil memenuhi meja, sementara kotak dimsum mentai terbuka di samping mereka.
Sesekali Satya membantu memasangkan bagian yang salah, sesekali Aruna protes kecil karena Satya sengaja mengerjakan bagian yang ingin ia pasang sendiri.
“Mas, itu harusnya aku.”
“Lama.”
“Ya namanya juga ngerakit.”
Satya terkekeh kecil sebelum akhirnya menyuapi Aruna satu dimsum begitu perempuan itu mulai terlalu fokus pada lego di tangannya dan tanpa sadar untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu penuh revisi dan tekanan sidang, Aruna akhirnya terlihat jauh lebih tenang malam itu.
Namun semakin malam, gerakan Aruna mulai melambat. Perempuan itu beberapa kali mengucek matanya pelan sambil tetap memaksa fokus pada bunga lego di tangannya. Satya yang sedari tadi memperhatikan akhirnya menghela napas kecil.
“Udah capek?”
“Aku gak capek.”
“Kamu dari tadi masang satu bunga aja salah tiga kali.”
Aruna langsung diam sebelum akhirnya bersandar pelan ke bahu Satya tanpa sadar. “Aku burn out…”
Suara perempuan itu terdengar kecil sekali dan entah kenapa, kalimat sederhana itu langsung membuat tatapan Satya berubah jauh lebih lembut. Tangannya perlahan berpindah ke belakang tubuh Aruna sebelum akhirnya mengusap pundaknya lembut. Gerakannya pelan dan hangat, seperti seseorang yang sedang berusaha membuat perempuan di hadapannya merasa aman.
“Istirahat dulu.”
“Aku masih banyak yang harus dipelajari buat sidang.”
“Kamu juga manusia.”
Aruna menghela napas kecil sebelum tanpa sadar melingkarkan tangannya pelan ke pinggang Satya dan memeluknya dari samping. Kepalanya ikut bersandar ke bahu laki-laki itu, seolah tubuhnya akhirnya menyerah pada rasa lelah yang sedari tadi dipendam sendiri.
Satya langsung menoleh pelan. Tatapannya seketika berubah jauh lebih lembut saat menyadari Aruna benar-benar sedang kehabisan tenaga malam itu.
“Tuh kan capek,” gumamnya pelan sambil mengusap pundak Aruna perlahan.
Aruna hanya menggumam kecil tanpa melepaskan pelukannya sedikit pun. “Sebentar aja…”
Nada suaranya terdengar lirih dan manja tanpa sadar, membuat sudut bibir Satya langsung terangkat kecil. Tangannya bergerak ke belakang tubuh Aruna lalu mengusap pelan pundak perempuan itu naik turun, seolah sedang menenangkan seluruh rasa penat di kepalanya sedikit demi sedikit.
“Peluk terus juga gak apa-apa,” bisik Satya rendah. “Aku gak keberatan.”
Aruna terkekeh kecil tanpa mengangkat kepalanya dari bahu Satya. “Aku lagi gak kuat jadi manusia dewasa hari ini.”
Kalimat itu terdengar setengah bercanda, tetapi Satya tahu perempuan di pelukannya benar-benar sedang lelah. Laki-laki itu akhirnya menyenderkan tubuhnya sedikit ke sofa sambil menarik Aruna lebih dekat ke arahnya.
“Yaudah,” ucapnya pelan. “Malam ini gak usah jadi kuat dulu.”
Aruna diam beberapa detik dan entah kenapa, kalimat sederhana itu justru membuat dadanya terasa hangat. Karena selama ini semua orang selalu menuntutnya untuk: tetap semangat, tetap fokus, tetap kuat.
Sedangkan Satya, laki-laki itu hanya menyuruhnya beristirahat. Aruna akhirnya mendongak pelan. Jarak mereka sekarang terlalu dekat untuk membuat jantungnya tetap tenang.
Satya membalas tatapan Aruna, cukup lama sampai perempuan itu salah tingkah sendiri. Jarak mereka terlalu dekat untuk disebut aman, apalagi dengan cara Satya menatapnya malam itu — tenang, tapi bikin jantung Aruna gak bisa diam.
“Kenapa liatin aku terus?” tanya Aruna pelan, berusaha terdengar biasa.
Satya tersenyum kecil. “Karena dari tadi pengen cium kamu.”
Kalimat itu sukses bikin Aruna langsung membuang pandangan. Ujung jarinya meremas lengan hoodie miliknya sendiri, sementara Satya malah makin mendekat perlahan.
“Satya…” tegur Aruna lirih, setengah malu, setengah gugup.
“Iya, sayang?”
Aruna menelan ludah pelan. “Jangan bikin aku deg-degan.”
“Telat.” Satya terkekeh kecil. “Soalnya aku juga.”
Hening beberapa detik terasa panjang. Sampai akhirnya Satya mengangkat tangan, menyelipkan rambut Aruna ke belakang telinga dengan hati-hati seolah perempuan di depannya sesuatu yang rapuh.
“Boleh?” tanyanya pelan.
Aruna gak langsung jawab. Tapi cara dia menatap Satya, lalu mengangguk kecil sambil menahan napas, udah cukup jadi jawaban.
Satya mendekat perlahan, memberi waktu untuk Aruna mundur kalau mau, tapi Aruna diam di tempatnya dan detik berikutnya, bibir Satya menyentuh bibir Aruna lembut.
Bukan ciuman yang terburu-buru. Justru pelan, hangat, dan bikin Aruna langsung kehilangan kemampuan buat berpikir jernih. Jari Satya menahan pinggangnya hati-hati, sementara Aruna refleks mencengkeram pelan bagian depan kaos hitam Satya. Saat Satya menjauh beberapa senti, kening mereka masih saling menempel.
“Nah,” bisik Satya sambil tersenyum kecil, “sekarang aku makin susah ngelepas kamu.”
Aruna langsung menutup wajahnya karena malu, sementara Satya cuma ketawa pelan lalu menarik perempuan itu ke dalam pelukannya dan di tengah rumah yang mulai sepi malam itu, tidak ada lagi pembicaraan besar di antara mereka.
Hanya dua orang yang saling diam, saling dekat, dan tanpa sadar telah menjadi tempat pulang satu sama lain. Karena terkadang, dicinta dengan tenang jauh lebih menyembuhkan daripada ribuan kata menenangkan dan malam itu, yang Satya inginkan hanya satu — memastikan perempuan di pelukannya akhirnya bisa beristirahat dengan tenang.
메타데이터
- post_id
- 464ba034e46b
- slug
- dicintai-dengan-tenang-464ba034e46b
- url
- https://medium.com/@astrqphile/dicintai-dengan-tenang-464ba034e46b
- canonical_url
- https://medium.com/@astrqphile/dicintai-dengan-tenang-464ba034e46b
- author_url
- https://medium.com/@astrqphile
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-15 20:49:13