Per ‘Untuk Apa’ Milik Hindia
Sekarang ini siapa sih yang enggak tau Hindia? Salah satu band nasional yang kerap menggaungkan karya-karya musik bergenre indie popnya…
Perspektif Soal ‘Untuk Apa’ Milik Hindia

Untuk Apa
Sekarang ini siapa sih yang enggak tau Hindia? Salah satu band nasional yang kerap menggaungkan karya-karya musik bergenre indie popnya ini berhasil menyita banyak perhatian pendengar dan pencinta musik di tanah air beberapa tahun ke belakang ini. Bahkan enggak cuma di kalangan anak muda yang lagi ada di usia 20an tapi juga menggema di hati para pelajar dan orang-orang dewasa di usia 30–59 tahun. Gokil!
DI riuh gemuruh dan hiruk-pikuknya Hindia, ada salah satu lagu yang aku rasa merupakan sebuah representasi perasaan dari salah satu anggota band mereka dan ternyata lagu ini mampu mewakili isi-isi kepalaku juga terlebih dalam konteks duniawi. Lagunya berjudul “Untuk Apa”. Biar tulisan ini makin mudah buat dipahami, just open your youtube now and listen the music while read my words!
Di dalam ‘Untuk Apa’ ini, Baskara (vokalis Hindia) seakan bercerita kalo dulu dia hidup dengan segala kesederhanaan. Namun, enggak berhenti pada meratapi keadaan justru dia terus berusaha memperbaiki keadaan secara pelan-pelan hingga pada titik kayaknya dia merasa jenuh dan bingung lalu muncullah pertanyaan “Ini semua buat apa sih? Ngapain kerja segininya?”. Sampai-sampai enggak lagi mikirin soal perasaan nyaman, senang, puas, tenang, bahagia, sampai-sampai lupa orang tua dan keluarga, sampai-sampai semua rasanya enggak menemukan ‘geregetnya’.
Enggak sampai di situ, di lagu inipun dia bilang kalo saat udah ada di titik yang settled justru dia bingung dengan semuanya dan rasanya seperti autopilot aja. Bahkan melambat, segala kepunyaan yang dimiliki malah bikin dia merasa terkekang dan dibatasi sehingga enggak bisa lagi mengekspresikan diri secara bebas. Segala yang dulu dia dikejar ternyata bukan hal yang bisa bikin dia bahagia setelah didapetin.
Lagu ini bener-bener mewakili perasaan aku bahkan perasaan ini udah ada jauh sebelum aku kenal ‘Untuk Apa’. Aku kerap bertanya ke diri sendiri soal apa-apa yang dicari dari dunia yang cuma sementara ini. Pagi-siang mengajar, sore kadang juga ada kerjaan, malem masih lanjut harus kerja. Im living in this circle. Makanya gak jarang merasa jenuh dan punya mau untuk bengong seharian.
Selain itu, aku sering banget pengen sodorin ‘Untuk Apa’ ke para elite politik. Barusan banget, aku baca kalo salah satu pejabat bilang yang intinya “1 hektare akan cukup buat habitat gajah, sisanya buat kelapa sawit aja,”. What are you going to reach, Dud? Apa sih yang sebenernya dicari sama para elite politik ini? Mereka tau kan kalo dunia ini cuma sementara dan mereka akan berpulang ke tempat yang menuntut pertanggung jawaban? It’s like… “Hey… hey… tenangin diri lo. “
That’s all about ‘Untuk Apa’ dari perspektif aku. Let’s talk more about another topic in another time. See you!
메타데이터
- post_id
- 469269a12f3a
- slug
- per-untuk-apa-milik-hindia-469269a12f3a
- url
- https://medium.com/@windyaml/per-untuk-apa-milik-hindia-469269a12f3a
- canonical_url
- https://medium.com/@windyaml/per-untuk-apa-milik-hindia-469269a12f3a
- author_url
- https://medium.com/@windyaml
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 15:40:45