Ketika Cinta Dimulai dari Cermin: Pelajaran Self Love dari Guru Ji Gong
Dari ajaran Guru Ji Gong hingga mantra Ho’oponopono, aku belajar bahwa cinta sejati bukan dicari di luar, tapi ditemukan di dalam diri…
Ketika Cinta Dimulai dari Cermin: Pelajaran Self Love dari Guru Ji Gong
Dari ajaran Guru Ji Gong hingga mantra Ho’oponopono, aku belajar bahwa cinta sejati bukan dicari di luar, tapi ditemukan di dalam diri sendiri.
TM100H #DAY34
Belum menjadi member? Baca disini.
Beberapa hari lalu, aku menerima sebuah pesan dari seorang pendahulu di Vihara. Pesan itu sederhana, tapi entah kenapa menembus hatiku. Di dalamnya tertulis ajaran dari Guru Ji Gong untuk para murid :

Pesan dari whatsapp pendahulu yang menyentuh hati
“Setiap pagi setelah bangun tidur, tataplah dirimu di cermin, sebutkan namamu, dan ucapkan: Aku mencintaimu. Aku percaya padamu. Aku mengakui dirimu.
Jika setiap hari kamu melaksanakan hal ini, kebahagiaan akan terus mengalir dari hati tanpa henti.
Setiap orang harus mencintai dirinya terlebih dahulu, baru bisa mencintai orang lain dan memiliki motivasi untuk maju.
Sederhana, tapi dalam.
Setelah membaca itu aku tersadar — selama ini aku sering lupa mencintai diriku sendiri. Aku terlalu sibuk mencari validasi dari orang lain, berharap mereka memahami aku, tanpa berusaha memahami diriku lebih dulu. Mungkin itu sebabnya aku sering terjebak dalam hubungan yang tidak utuh, bahkan dengan keluarga sendiri.
Namun, hidup selalu memberi kesempatan kedua. Setelah melewati masa yang aku sebut *malam gelap jiwa*, aku mulai mengenal diriku kembali. Dari kehancuran itu, perlahan tumbuh kesadaran baru: aku perlu belajar mencintai diriku — bukan dengan ego, tapi dengan penerimaan.
Aku lalu mulai memperdalam dua hal yang ternyata saling melengkapi: spiritualitas dan psikologi. Dari spiritualitas, aku belajar tentang pembersihan hati melalui cinta kasih; dari psikologi, aku belajar memahami pola pikir dan emosi yang sering tidak kusadari.
Dr Joe Vitale — Sumber : google.com
Salah satu hal yang paling membantuku adalah mantra dari tradisi Ho’oponopono, yang juga disebutkan oleh Dr. Joe Vitale dalam bukunya Miracles Manual:
I’m sorry
Please forgive me
Thank you
I Love You
Empat kalimat itu sederhana, tapi saat diucapkan dengan penuh kesadaran, mereka seperti memeluk bagian diriku yang pernah terluka. Aku mulai sadar, diriku sendiri adalah teman pertama yang menemaniku sejak lahir hingga akhir hayat nanti. Lalu mengapa aku begitu keras padanya?
Beberapa hari lalu, di grup komunitas Dream Woman, salah satu anggota, Kak Kitty, berbagi kisahnya. Ia pernah menolak lamaran seorang pria baik karena memiliki janji kepada anak angkatnya. Dulu hidupnya tidak mudah — ia bahkan pernah makan makanan sisaan demi bertahan hidup di negeri orang. Tapi sepuluh tahun kemudian, karena ia belajar mencintai dirinya sendiri, hidupnya berubah. Ia kini menjalankan usaha dengan lancar dan memiliki pasangan yang benar-benar menghargainya.

Chat Sharing Kak Kitty — sumber pribadi

Chat Sharing Kak Kitty — sumber pribadi
Dari founder komunitas kami, Sis Theresia Theresiasherenn, aku juga belajar hal serupa. Ia pernah terjebak dalam hubungan yang toxic, tapi setelah berani keluar, ia mulai mengenal dirinya lebih dalam. Ia mengajak diri sendiri jalan-jalan, memberi waktu untuk refleksi, dan memperlakukan dirinya seperti sahabat terbaik. Kini, hidupnya penuh cinta — dari dirinya sendiri, komunitas yang ia bangun, hingga pasangan yang sefrekuensi dengannya.

Sis Theresia Sheren- Founder Dream Woman Community. Sumber : IG @theresiasheren
Dari kisah mereka, aku belajar satu hal penting: Mencintai diri sendiri bukan berarti egois, tapi justru menghormati kehidupan yang sudah Tuhan percayakan pada kita.
Ketika kita belajar menyayangi diri sendiri — dengan memberi waktu, mendengarkan perasaan, dan berbicara lembut pada diri — dunia pun mulai memantulkan energi yang sama. Kita tak lagi bergantung pada cinta dari luar, karena kita tahu, sumber cinta itu sudah ada di dalam diri kita sejak awal.
Kini setiap kali menatap cermin, aku mengucapkan kalimat yang dulu terasa canggung:
“Aku mencintaimu.”
Dan perlahan, aku mulai percaya — cinta sejati memang dimulai dari sini. Dari cara kita menatap diri sendiri dengan kasih, bukan dengan penilaian.
Ketika kamu benar-benar menghargai dan jatuh cinta kepada dirimu sendiri, dunia akan memantulkan cinta yang sama ke kamu, dengan cara paling alami dan indah. Kuncinya bukan di luar, tapi selalu dari dalam dirimu sendiri. — Theresia Sheren
Mulailah dari langkah kecil : ucapkan “aku mencintaimu” pada diri sendiri hari ini. Dari sana, dunia akan ikut belajar mencintaimu kembali.
메타데이터
- post_id
- 469c2a5f77fd
- slug
- ketika-cinta-dimulai-dari-cermin-pelajaran-self-love-dari-guru-ji-gong-469c2a5f77fd
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/ketika-cinta-dimulai-dari-cermin-pelajaran-self-love-dari-guru-ji-gong-469c2a5f77fd
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/ketika-cinta-dimulai-dari-cermin-pelajaran-self-love-dari-guru-ji-gong-469c2a5f77fd
- author_url
- https://medium.com/@jessmei
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-29 01:02:39