← Back to list

Jagad Ningrum

Dunia Ningrum yang sempat ia tinggalkan, dunia yang sempat membuatnya khawatir akan masa depan nya.

ann'srecipe · 2025-07-30 04:52 · 0 claps · 10.0 min read
#fiction #fiksi-remaja #cerita-pendek #puro-mangkunegaran #15
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

Jagad Ningrum

“Ningrum…tangi nduk, wis enjing!

Wanita bernama Arnandya Ningrum terbangun, ia menoleh ke arah nakas melihat jam bertengger di sana yang masih berdetak dengan jarum pendek menaruh di angka tujuh. Perempuan dua puluh tahunan itu duduk di pinggir ranjang sambil menguncir rambut panjang yang terurai. Mata bulatnya berkedip, menyesuaikan pantulan sinar matahari yang masuk lewat jendela kamar nya.

“Ning,” panggil sosok laki-laki paruh baya bernama Purwo. Ningrum berdehem, walau sebenarnya ia masih ngantuk memaksa untuk tetap bangun. Perjalanannya dari Jakarta hingga Solo membuatnya sangat lelah. “Kamu bersih-bersih ya sekarang, kamu diminta menghadap, Kanjeng Gusti.” Mata Ningrum seketika terbelalak, kenapa pagi-pagi sekali Sang Raja memintanya untuk bertemu?” “Buat apa, Pak? Ning gamau.” Bapak Purwo seketika menggeleng, “Kamu itu loh, gak berubah, selalu saja ada alasan untuk menghindar ketemu Kanjeng Gusti Bhre. Bapak yang jadi ga enak sama Gusti. Mboten sae nolak kengkenan lho yu,” Ningrumpun akhirnya mengangguk cepat, “Nggeh bapak, nanti aku ke sana,” jawab Ningrum cepat. Ningrum segera membersihkan diri untuk menghadap Kanjeng Gusti.

Keluarga Ningrum adalah keluarga Abdi dalem di Praja Mangkunegaran, sebuah Istana Kadipaten di Surakarta. Istana yang memiliki luas 10 hektar dengan bangunan campuran ornamen Eropa klasik dipadukan adat Jawa yang sungguh indah. Kedatangan Ningrum kali ini adalah untuk mengisi libur semesteran kuliahnya, ia menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halaman sekalian untuk menjenguk bapak dan eyang yang masih aktif mengabdi di istana ini. Ningrum adalah anak semata wayang dari Purwo dan Sri. Hanya saja, Sri dan Purwo sudah bercerai. Sri menetap di Jakarta bersama dengan Ningrum.

0o0

Ningrum menyanggul rambutnya agar terlihat lebih sopan dan rapih, Ning memakai kebaya kutubaru berwarna hijau dengan corak bunga, gadis anggun tinggi semampai itu

bercermin sambil menyemproti parfume sedikit di tengkuknya. Samir sudah dikalungkan, sebagai penanda tengah bertugas sebagai Abdi dalem. Sejak ia sudah keluar dari perkarangan tempat kediamannya dengan ayah dan sang eyang. Ningrum sudah disapa oleh banyak Abdi dalem lainnya yang sibuk melakukan kegiatan pagi-pagi, entah bersih-bersih istana atau ada yang wara-wiri menyiapkan sarapan untuk para keluarga Puro Mangkunegaran.

Ningrum melangkahkan kaki untuk segera ke Pracima Yoso, yu Mirah salah satu Abdi Dalem mengatakan bahwa Gusti Bhre sedang ada di sana. Dari tepi luar Pracima Yoso sudah berdiri Pria Jangkung dengan berkacamata tengah berkutat dengan ponselnya sembari mengetik sesuatu. Ningrum berjalan mendekat kepada Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegaran X sang pemegang tahta, yang merupakan turunan generasi Z.

Kanjeng Gusti Bhre menyadari kedatangan Ningrum saat ini, ia segera tersenyum dan menyimpan ponselnya pada kantung celananya. Ningrum segera memberi salam penghormatan, dengan mengatup kedua tangannya sejajar hidung dan menundukkan kepala- nya. Kanjeng Gusti menjawab salam itu dengan mengangguk serta senyuman yang tak pernah lepas untuk siapapun yang bertemu dengannya, humble.

“Apakabar Ningrum,” sapa Gusti Bhre

“Baik, Alhamdulillah Gusti. Kulo dipanggil, ada apa ya Gusti?”

Gusti Bhre mengajak berbincang sambil berjalan menuju Taman Keputren diikuti oleh Ningrum di belakangnya.

“Ning, kamu masih tertarik dengan kesenian tari?” tanya Gusti Bhre dengan hati-hati. Ningrum menelan salivanya, Gusti Bhre kemudian menoleh ke belakang dan menatap Ningrum, “Gapapa, kalau belum bisa terjawab.” Gusti Bhre memaklumi dengan sikap Ningrum yang mendadak terdiam. “Memangnya ada apa, Gusti?” tanya Ningrum penasaran “Kalau kamu masih tertarik dengan kesenian tari dan ingin kembali berlatih, dicoba berlatih lagi Ning, ada tawaran Beasiswa untuk kamu.” ujar Gusti. “Beasiswa dari siapa? Acara apa Gusti?” Ningrum memang ingin mendapatkan beasiswa untuk kuliahnya di semester 5 besok. “Tiga bulan lagi ada semacam acara pemerintah, penari Mangkunegaran ikut terlibat di dalam nya. Hadiahnya berupa uang atau beasiswa, jadi saya mau tawarkan ke kamu saja. Para penari di sini sudah saya beri tahu, mereka senang hati akan mengajarimu Ning,” terang Gusti.

Ningrum berfikir sejenak, mempertimbangkan semuanya. “kamu pelajari tari Bedhaya Bedhah Madiun” ujar Gusti Bhre di sela Ningrum masih menimbang tawaran baik dari

Kanjeng Gusti ini, sebuah kehormatan baginya yang sudah lama jauh dari kesenian tari. Terakhir aktif dengan kegiatan tari saat Ningrum masih menginjak bangku SMP kelas 3.

Dulu, saat Ningrum kecil bersemangat untuk mengikuti kelas tari di luar Mangkunegaran, ia juga mengikuti sanggar tari di luar, karena Ning ingin mencoba semua pengalaman tarian, Ningrum kecil sangat menggebu-gebu untuk mengetahui banyak hal tentang Menari. Menari sudah menjadi bagian besar hidupnya, bagi Ningrum kecil. Ningrum kecil diantar oleh Bapak Purwo, ke tempat sanggar, setelah selesai akan dijemput tepatnya pukul lima sore. Karena kelas dimulai pada jam satu siang setiap Kamis dan Minggu.

Kejadian mengecewakan terjadi pada Ningrum Kecil, pada hari itu kelas tari awalnya begitu menyenangkan karena kelas dimulai dengan mempelajari tarian baru. Saat jam istirahat, Ningrum dihampiri oleh guru pengajar tari. Menciptakan obrolan yang benar-benar tak pernah ia lupakan.

“Ning, kamu iki, belajar nari supaya apa?”

“Supaya jadi penari profesional, seperti Kanjeng Gusti Nurul.” “Halah, kamu iki kan anak Abdi Dalem, ga jauh…jauh lah,” “Ga jauh jauh apa Mba yu?”

“Heh, sini yo ta’ kandani, kamu ini tuh kalo udah mahir jadi penari, nanti kamu jadi selir, jadi permainan raja-raja, tau ndak? Nanti kamu jadi perempuan hina, ndelok sampeyan, ne’ punya kemampuan, pasti romo mu udah mempersiapkan semua toh? Haduhh, ndak suci ya kamu Ning.”

Ningrum kecil terpaksa terdoktrin atas ucapan penekanan Mba yu, si guru tari itu. Ningrum berusaha untuk menghiraukan, tetapi Mba yu, semakin menjabarkan lebih detail, semua yang dikatakan apa itu selir sampai Ningrum tidak punya harapan memulai dunia. Di tengah Ningrum yang masih berumur sepuluh tahun, menerima semua omongan tanpa menyaring makna. Ningrum menjadi tersugesti dan takut membuat Ningrum segan dengan bapak ibunya, juga keluarga Mangkunegaran. Karena Mba yu, berhasil menghasut Ningrum. Bahkan, Ningrum pernah marah besar bahkan membentak bapak ibunya agar tak memaksanya untuk berlatih tari di kelas tari Mangkunegaran. Ia begitu ketakutan sekalipun Eyang yang membujuk, tidak mempan. Sejak itu, Ningrum memandang kesenian tari bukanlah separuh hidupnya, melainkan neraka yang hampir ia sambangi.

0o0

Kini Ningrum sedang berada di Reksa Pustaka salah satu tempat yang masih berada di Istana Mangkunegaran ini, dahulunya tempat ini difungsikan sebagai penyimpanan arsip dokumen pemerintahan Mangkunegara, kini sudah difungsikan sebagai Perpustakaan umum, dengan isi yang masih terjaga, beberapa peninggalan sejarah berbentuk buku masih tersusun rapih di rak-raknya, dan terpelihara oleh pustakawan di sana. Ningrum, duduk termenung di bangku baca, sambil menatap kosong kedepan rak-rak buku yang tersusun rapih, perpustakaan ini masih sepi, mungkin pengunjung sebentar lagi akan berdatangan. Ramai dengan wisatawan maupun mahasiswa yang ingin melakukan riset atau penelitian lewat buku-buku atau arsip dokumen disini.

Ponsel milik Ningrum yang berada di meja tiba-tiba bergetar tertera notifikasi telepon dengan nama ‘Bintang 911’ Ningrum segera mengangkat telepon itu, Bintang adalah pacar Ningrum, yang berada di Jakarta. Sambil berbicara pelan lewat ponselnya ia segera keluar dari tempat Reksa Pustaka, tempat yang harus tetap sunyi.

“Halo sayang, gimana liburannya ?” Ningrum tersenyum masam, apakah Bintang lupa bahwa pergi ke Solo untuk menjenguk bapak dan eyangnya, bukan untuk holiday di Canggu, seperti yang sedang dilakukan Bintang saat ini.

“Ck, aku tuh ga liburan Bin,” jawab Ningrum kepada sambungan teleponnya. “Bin, menurut kamu gimana, kalau semisal aku berkecimpung lagi di seni tari? Atau mulai karir aku di situ?” Ningrum bertanya, namun jawaban dari sebrang sana sedikit lama karena Bintang terdengar diam beberapa saat. “Emm, menurut aku sih enggak ya, Ning. Kamu mau mulai karir kamu jadi penari? Jadi seorang penari tuh prospek masa depannya ga ada. Sayang bakat kamu yang lain, sayang juga kemampuan akademik kamu, Ning. Jadi penari apalagi penari tradisional ga ada masa depan yang menjamin. Coba aja kamu tanya teman-teman kamu yang lain, mereka pasti setuju sama omongan aku. Ya, zaman sekarang sayang, realistis aja sih menurutku.” Bintang memberi respon yang kurang disetujui oleh Ningrum, Ningrum jadi malas menanggapi berakhir dengan berdalih ke pembicaraan yang lain.

Semua orang tahu bahwa Ningrum terbaik untuk menari, walau sudah sangat lama berhenti berkecimpung di dunia tari, menjadi rahasia umum bahwa perempuan yang bisa dipanggil Ning ini, sangat luwes dalam menari. Tokoh spiritual Mangkunegaran mengatakan Ning punya ‘sesuatu’ yang bisa membantunya untuk mendapat anugerah keindahan dalam menari.

0o0

Keesokkan harinya, Lantunan Gamelan yang ditabuh mengitari pendengaran Ningrum di Pendopo Ageng. Ini adalah hari Rabu, yang dimana Gamelan lipur sari akan ditabuh, bersama dengan penari yang menari teriring gamelan. Ningrum berdiri di tepi Pendopo Ageng, melihat pertunjukkan seni kesenian yang selama ini ia hindari. Ningrum tak bisa melepas setiap ketakutan yang muncul, seperti sudah tersugesti erat. Namun, kali ini Ningrum akan melawan dan berharap rasa ketakutan yang sudah mengikatnya selama delapan tahun lamanya, sirna.

Hembusan angin bak menghantamnya, tengkuk Ningrum terasa sangat pegal dan berat kali ini. Ia mencoba untuk memijat — mijat tengkuknya. Tak lama, kepala Ningrum terasa sangat berat dan sekujur tubuhnya lemas ia merasa akan pingsan saat ini. Hingga, Ningrum tidak bisa mengendalikan roh yang mencoba untuk masuk ke dalam raga Ningrum. Roh yang memasuki ke dalam raga Ningrum, mulai menari mengikuti irama gamelan, raga Ningrum dibawa untuk menuju ke tengah pertunjukan tari, penari di sana seperti ikut tersihir dengan kejadian saat ini, raga Ningrum tergiring hingga ke tengah di antara penari. Dengan gemulai, Ningrum menari, mengalihkan banyak orang wisatawan maupun Abdi Dalem yang berada di sekitar area.

Lima belas menit, raga Ningrum terisi dengan roh tersebut, sampai tarian itu terselesaikan. Jiwa Ningrum sudah kembali ke raganya, kembali di saat Ningrum sudah berhadapan dengan, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara X di kantor beliau bersama dengan tangan kanan Gusti yang menyaksikan. “Mati aku,” gumam Ningrum. Ningrum segera memberi hormat kepada Gusti, lalu Gusti mengangguk dan mulai berkata, “Kamu sudah setuju, Ning?” Ningrum gelagapan, sepasang mata Gusti melihat gelagat Ningrum. “Ada apa?” tanya Gusti yang terheran. “Saya masih perlu mempelajari sejarah tarian itu, Gusti,” alibi Ningrum. “Ya, berarti kamu bersedia?” tanya Gusti memastikan, ia sebenarnya cukup ragu dengan jawaban Ningrum yang sedari tadi seperti orang linglung “Saya, perlu banyak belajar kepada Eyang di sini. Saya…” Ningrum menggantung perkataannya, kepala yang menunduk serta jemarinya tercengkram grogi .

Ningrum mendongak “Saya bersedia, Gusti” Kanjeng Gusti yang mendengar jawaban lugas ini, cukup lega. Kemudian Ningrum berdiri dari bangku “Kalau begitu, kula nyuwun amit, Gusti. Nuwun sewu” Ningrum berpamitan kepada Gusti dan tangan kanan Gusti.

Setelah keluar dari ruangan, langkah kaki Ningrum cepat. Ia sangat kesal dengan apa yang ia alami di luar alam bawa sadarnya, ia harus tahu memastikan apa yang terjadi. Ia memutuskan untuk pergi ke ruang istirahat para penari. “Ti, apa yang terjadi sama aku tadi di

pendopo, Ti?” Ningrum bertanya pada salah satu penari yang tengah sibuk membersihkan make upnya, Tiarsha djoyokusumo, teman baik Ningrum selama di Puro. Titi, membuang kapas kotornya ke tempat sampah yang ada di samping, ia tampak murung. “Kamu tadi nari, Ning.” ucapnya dengan ketus. Ningrum menelan salivanya, yang tercekat, tiba — tiba sebuah nama ‘Puspa’ mengelilingi pikirannya. Lalu ia berlalu keluar ruangan begitu saja tanpa sepatah kata, ia berjalan dengan isi kepala yang bersahutan di sana, sepertinya akalnya sudah tidak jalan seharian ini.

0o0

Pagi-pagi sekali, Ningrum sudah berkutat di bangku Reksa Pustaka bersama dengan seperangkat Laptop dan Jurnal serta Buku mengenai sejarah Tarian Bedhaya Bedhah Madiun. Ningrum terbiasa untuk mempelajari dan mengetahui terlebih dahulu latar belakang tarian yang akan ia pelajari. Ningrum benar — benar sudah memiliki keberanian untuk melawan rasa takut itu, semenjak kejadian dua hari lalu. Ningrum sadar, bahwa ketakutan hanya akan mengahancurkan takdir hidupnya. Ia yakin bahwa, kali ini sudah waktunya ia melawan dan melupakan segala traumanya. Ia pun teringat dengan ucapan Bintang kemarin, bahwa ‘menari tidak ada masa depan, yang menjamin.’ Ia cukup kecewa atas jawaban itu. Ya, itu juga jadi salah satu faktor pendorong dia untuk memulai semua ini. Sadar tak sadar, di dalam benak Ningrum masih ada secercah impian dalam menari. Menurut Ningrum, kekayaan bangsa Indonesia merupakan masa depan yang indah. Menari bukanlah, hal yang bisa dilihat sebelah mata. Dengan gerakan — gerakan yang indah, tersirat sejarah yang amat dalam.

Selama 3 jam lebih, Ningrum menghabiskan waktu untuk membaca jurnal dan buku mengenai tarian yang tercipta pada masa pemerintahan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VII. Lewat tarian ini, menceritakan bagaimana kisah Kerajaan Mataram Islam yang sedang melakukan ekspansi ke wilayah Kadipaten Madiun.

Ningrum bersiap-siap bersama enam penari lainnya, untuk memulai latihan pertama Menari Bedhaya Bedhah Madiun. Latihan berjalan lancar, Ningrum dan lainnya sudah menghapal semua gerakan yang tercipta, dalam setengah hari penuh. Dari pukul dua belas sampai selesai pukul tujuh malam. Para tujuh penari itu sudah terbiasa dalam menghapal gerakan tak terkecuali, Ningrum. Ningrum sangat luwes, seperti tubuh yang merindukan gerakan. Kini, tinggal melakukan penyempurnaan gerakan yang dilakukan secara bersama agar menampilkan tarian yang sempurna.

0o0

Ningrum memilih untuk tetap tinggal di sanggar dan melanjuti latihan tarinya, karena ia masih belum puas dan berniat untuk menyudahi hingga pukul sembilan malam ini. Suara Gamelan masih teriring merdu di ruang sanggar. Tiba-tiba ia berhenti untuk menari karena di ambang pintu sanggar telah berdiri laki laki tinggi dengan pakaian Batik, Ningrum segera memberikan salam penghormatan “Sugeng dalu, Kanjeng Gusti.”

“Kenapa belum istirahat, Ning?” tanya Kanjeng Gusti, seraya memasuki perkarangan sanggar. “Sampun Gusti, saya masih ingin berlatih untuk meletukkan kembali tubuh saya.” jawab Ningrum sambil tersenyum. Kanjeng Gusti mengajak duduk Ningrum ke bangku yang berada di tepi sanggar, mereka pun berdialog dengan dimulai pertanyaan dari Kanjeng Gusti. “Kemarin saat di Pendopo ageng, melihat kamu menari. Saya firasat kalau itu bukan diri kamu yang menari,” ujarnya. Ningrum tersenyum, “Nggih Gusti, itu Puspa. Gusti,” ‘Puspa’ adalah sosok makhluk yang sudah lama menjaga Ningrum, Puspalah yang membantu menyelamatkan Ningrum saat ia pernah di culik oleh sosok mahluk astral.

“Terimakasih Ning, sudah menerima tawaran ini.” Gusti Bhre tersenyum. “Saya juga terimakasih banyak kepada Kanjeng Gusti, karena sudah diberikan kepercayaan untuk saya mengikuti acara besar ini.” Kanjeng Gusti tersenyum. “Kanjeng Gusti ada yang mau saya bicarakan,” Ningrum mengatakan tanpa ragu. “Trauma saya dalam menari salah satu halnya bukan karena saya diculik dulu” Kanjeng Gusti menaikkan satu alisnya ia menjadi penasaran “Memang apa yang membuat kamu trauma sebegitu beratnya?” Ningrum mulai berbicara apa yang menjadi trauma terberat dalam menari. Ia menceritakan semuanya di hadapan Raja Mangkunegaran, rasanya ia seperti sudah melepas semua bebannya. “Saya minta maaf, karena pernah berburuk sangka kepada keluarga panjenengan, Gusti.” Ujar Ningrum.

Kanjeng Gusti Bhre akhirnya mengerti, ia mengangguk paham “Ga papa Ning, saya ngerti. Semua omongan yang dikatakan oleh Mba yu itu, salah. Zaman sudah berubah, tentang penari yang akan menjadi simpanan raja, itu mungkin memang terjadi zaman dulu, zaman sekarang dengan macam pemikiran yang lebih maju, tidak terjadi Ning. Kita semua fokus pada pelestarian, kalau bukan kita siapa lagi? Saya ingin melanjutkan perjuangan romo eyang para leluhur mengenalkan Jawa, kepada dunia.” Ningrum tersenyum rekah sambil memberi salam penghormatan. “Mulia, Gusti” ujar Ningrum. Kanjeng Gusti pamit kepada Ningrum dan memberikan ruang kepada Ningrum untuk berlatih.

0o0

Hari yang dinanti terselenggara penuh mewah, pembukaan event besar negara berlangsung acara gala dinner G20 yang diselenggarkan Mangkunegara, Solo. Dibuka dengan tarian berjalan lancar, semua tamu undangan mancanegara terpana akan tarian yang dipersembahkan. Ningrum berhasil membawakan tarian itu, bersama dengan teman penari lainnya. Sampai di akhir acara, kabar baik disampaikan oleh kru, Ningrum dan tim diperkenalkan oleh Kanjeng Gusti kepada tamu mancanegara yang hadir, hingga hal yang sangat tak terduga terjadi. Ningrum beserta penari lainnya terpilih untuk mewakilkan Indonesia menampilkan acara kesenian di Negara Singapura. Ajakan istimewa itu disetujui oleh Ningrum maupun Kanjeng Gusti. Semenjak itu, mimpi — mimpi kecil Ningrum terlaksana indah. Berada di panggung megah berbagai negara menjadi rutinitas yang ia miliki. Jagad, yang sudah lama terpendam kini berada di genggamannya, memberi semesta baru yang indah.

— -Selesai — -

Halo para pembaca !!!

sebelumnya saya ingin memberikan perhatian bahwa tulisan ini adalah seratus persen fiksi, tokoh dan karakter yang ada di dalam cerita tidak sepenuhnya benar dengan keadaan nyata. Selamat membaca ❤

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —


메타데이터
post_id
46ac96e7a2ea
slug
jagad-ningrum-46ac96e7a2ea
url
https://medium.com/@annisamaulidah52/jagad-ningrum-46ac96e7a2ea
canonical_url
https://medium.com/@annisamaulidah52/jagad-ningrum-46ac96e7a2ea
author_url
https://medium.com/@annisamaulidah52
status
ok
fetched_at
2026-06-11 21:11:36