← Back to list

Kehidupan yang Layak

Indonesia itu negara yang kaya. Kalimat itu sudah kita dengar sejak kecil.

Ardaniyya · 2026-07-03 12:05 · 3 claps · 2.3 min read
#miskin #indonesia #literature
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing

Kehidupan yang Layak

Indonesia itu negara yang kaya. Kalimat itu sudah kita dengar sejak kecil.

Kaya akan sumber daya alam. Kaya akan budaya. Kaya akan laut. Kaya akan hutan. Kaya akan potensi.

Yang belum jelas hanya satu: kenapa rakyatnya masih sibuk bertanya apakah uang di dompet cukup sampai akhir bulan? Mungkin definisi “kaya” memang berbeda. Di atas sana, kaya berarti pertumbuhan ekonomi, indeks investasi, dan angka-angka yang dipresentasikan dengan grafik berwarna hijau. Di bawah sini, kaya berarti masih punya beras sampai akhir minggu.

Di negeri ini, bekerja sudah bukan lagi jalan menuju hidup layak. Bekerja hanyalah cara agar besok masih bisa bekerja lagi. Pagi menjadi kurir. Siang menjadi admin. Malam menjadi pengemudi. Akhir pekan jualan daring. Bukan karena ambisi. Melainkan karena hidup ternyata lebih mahal daripada yang dijanjikan.

Katanya generasi sekarang terlalu banyak mengeluh. Lucu. Orang yang tidur empat jam sehari karena harus mengambil pekerjaan tambahan masih dianggap kurang bekerja keras. Orang yang sudah bertahun-tahun hidup di bawah tekanan biaya hidup masih diminta belajar bersyukur. Seolah rasa syukur bisa dibayarkan kepada pemilik kontrakan. Seolah doa bisa menggantikan uang sekolah. Seolah optimisme diterima di kasir minimarket.

Photo by Jordan Opel on Unsplash

Photo by Jordan Opel on Unsplash

Lalu televisi menyala.

Berita berganti. Para pejabat tersenyum. Forum internasional. Kunjungan kenegaraan (katanya). Jamuan makanan mewah. Foto bersama, walau tidak dianggap yang penting nyempil saja dulu di fotonya. Pidato tentang masa depan.

Negara memang perlu hadir di dunia. Namun, terkadang muncul pertanyaan yang terlalu sederhana untuk dijawab: Apakah rakyat juga hadir di dalam setiap keputusan? Atau rakyat hanya hadir ketika pemilu tiba?

Kita sering diminta memahami bahwa mengurus negara itu rumit. Tentu. Tetapi hidup sebagai rakyat kecil juga rumit. Mencari pekerjaan yang layak rumit. Membayar biaya kesehatan rumit. Membeli rumah terasa seperti bercita-cita membeli pulau. Menyekolahkan anak menjadi investasi terbesar sekaligus kecemasan terbesar.

Ironisnya, mereka yang hidup paling nyaman sering kali paling lantang meminta rakyat hidup sederhana.

Nasihat memang murah. Yang mahal adalah kebutuhan pokok. Yang lebih mahal lagi adalah kehilangan harapan.

Setiap kali harga naik, selalu ada penjelasan. Setiap kali daya beli melemah, selalu ada analisis. Setiap kali rakyat mengeluh, selalu ada ajakan untuk optimis.

Entah mengapa, solusi di negeri ini sering kali berbentuk kalimat. Bukan kebijakan yang benar-benar terasa. Kita hidup di zaman ketika angka-angka terlihat membaik, tetapi isi keranjang belanja terasa semakin ringan. Ketika statistik berbicara tentang kemajuan, sementara obrolan di warung lebih banyak membahas cara bertahan. Ketika keberhasilan terdengar megah di atas panggung, tetapi sunyi di meja makan.

Rakyat negeri ini mungkin adalah manusia paling adaptif di dunia. Kami bisa menyesuaikan diri dengan harga yang terus berubah. Menyesuaikan diri dengan pekerjaan yang tidak pasti. Menyesuaikan diri dengan janji yang terus diperbarui. Menyesuaikan diri dengan kenyataan bahwa hidup “layak” perlahan berubah menjadi kemewahan.

Kami diajarkan untuk tidak berharap terlalu tinggi. Karena harapan sering kali lebih cepat naik daripada gaji. Dan mungkin itu sebabnya mi instan masih menjadi makanan paling demokratis di negeri ini. Ia tidak mengenal kelas sosial. Ia menemani mahasiswa. Ia menemani buruh. Ia menemani pengangguran. Ia menemani pekerja kantoran yang gajinya habis sebelum kalender berganti.

Mi instan tidak pernah berpidato. Tidak pernah berkampanye. Tidak pernah menjanjikan masa depan. Tetapi setidaknya, ia benar-benar datang ketika dibutuhkan. Barangkali, itu sebabnya rakyat lebih percaya air mendidih daripada janji yang terus dihangatkan. Karena air mendidih, setidaknya, selalu menghasilkan sesuatu. Sedangkan janji, Sering kali hanya menghasilkan tepuk tangan.


메타데이터
post_id
46b41f07cfe9
slug
indonesia-itu-negara-yang-kaya-kalimat-itu-sudah-kita-dengar-sejak-kecil-46b41f07cfe9
url
https://medium.com/@Nyawn/indonesia-itu-negara-yang-kaya-kalimat-itu-sudah-kita-dengar-sejak-kecil-46b41f07cfe9
canonical_url
https://medium.com/@Nyawn/indonesia-itu-negara-yang-kaya-kalimat-itu-sudah-kita-dengar-sejak-kecil-46b41f07cfe9
author_url
https://medium.com/@Nyawn
status
ok
fetched_at
2026-07-11 22:06:18