Kucing
Sudah sebulan kucingnya yang galak itu tak kunjung pulang. Anak satu-satunya yang ditinggalkan kucing galak itu masih kecil, hanya bisa…
Kucing
Photo by River Kao on Unsplash
Sudah sebulan kucingnya yang galak itu tak kunjung pulang. Anak satu-satunya yang ditinggalkan kucing galak itu masih kecil, hanya bisa cakar sana cakar sini. Kemana pula Tin harus mencari kucingnya itu. Waktunya seminggu bekerja sudah habis dan cukup membuatnya lelah dan terlelap semalaman.
Jika ada di rumah, dipegang saja sudah marah. Hendak mencakar atau menggigit Tin. Tak kurang-kurang luka ditangan Tin karena cakaran kucingnya itu.
Sempat aku bertanya “Kenapa pula masih dirawat kalau nakal?”
“Mau bagaimana lagi, kasian juga. Toh dia pintar menangkap tikus di rumah ini. Krupuk jualan nenekku aman tidak diinjak-injak tikus saat malam”
Pernah aku main ke rumah Tin, aku saat itu tidak tau kalau kucingnya yang ini galak. Saat aku mencoba mengelus badannya, tanganku langsung disamber. Tak lagi aku coba-coba menyentuh kucingnya itu. Kelabu warnanya. Dulu-dulu juga aku tidak begitu memperhatikan kalau ternyata dia suka mempelihara kucing. Padahal bisa diperkirakan, seminggu sekali aku selalu ke rumahnya, sekedar mengerjakan soal-soal matematika. Barulah setelah kejadian aku akan dicakar kucing kelabunya itu aku mulai memperhatikan kucing-kucing yang ada di rumahnya.
Tapi kali ini, Tin cerita. Kucingnya yang kelabu galak itu sudah pergi selama satu bulan. Katanya tak terlihat pulang, bahkan walau sekedar main di rumah tetangga. Anaknya yang masih kecil, hanya bisa cakar-cakar sofa depan.
Tapi Tin lanjut bercerita, tapi ada kucing liar baru di rumahku El, katanya. Matanya benjol. Kenapa pula bisa benjol, pikirku dalam hati. Dia lanjut bercerita. Tin pamit kepada neneknya, ingin membawa kucing liar itu ke dokter hewan. Neneknya bergumam
“Ngapain juga bawa kucing ke dokter hewan”
Tapi besoknya neneknya berubah pikiran, katanya Tin disuruh membawa kucing malang itu ke dokter hewan. Dibawalah kucing malang itu ke dokter hewan. Kata dokter hewan, benjolan itu karena ada serangan atau cakaran dari hewan lain. Pulang dari dokter hewan, Tin diberi salep dan obat untuk kucing liar itu, juga semacam kalung untuk menjaga supaya tidak mencakar dirinya sendiri (entahlah ini benar atau tidak, atau aku yang salah tangkap). Dengan nada datar dan ringan Tin ceritakan kucing itu.
Lantas aku tanya. “Berapa sekarang kucing di rumahmu?”
Dia jawab dengan santai sambil senderkan punggungnya ke kursi, “Ada dua, anak dari si kuicng galak, dia punya kebiasaan suka cakar-cakar. Sama satu lagi ya itu, kucing liar itu. Aku pikir, bisa saja matanya benjol karena terkena cakaran anak kucing ini”
Aku tanya dengan penasaran. Aku tidak pernah memelihara kucing, apalagi sampai punya inisiatif membawanya ke dokter hewan seperti itu. Aku baru tahu sisi lain ini dari temanku. Tin menambahkan ceritanya,
“Aku baru tahu, ternyata dokter hewan itu meracik obatnya sendiri untuk hewan yang dia periksa” “Oh ya?” Aku tanya juga dengan nada kaget. Temanku yang sedang kuliah profesi farmasi menambahkan, memang agak sulit membuat resep untuk hewan.
Aku bertanya kepada Tin, “Kenapa kamu bawa kucing liar itu ke dokter hewan?”
“Kasihan”.
메타데이터
- post_id
- 476b7ea0cb5d
- slug
- kucing-476b7ea0cb5d
- url
- https://medium.com/@itselmeybook/kucing-476b7ea0cb5d
- canonical_url
- https://medium.com/@itselmeybook/kucing-476b7ea0cb5d
- author_url
- https://medium.com/@itselmeybook
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 01:31:46