Praha yang Merengkuh Seseorang Bernama Puisi
Pagi di Praha tampak seperti puisi yang belum selesai ditulis. Kabut tipis turun perlahan di atas Charles Bridge, sementara langkah-langkah…

Praha yang Merengkuh Seseorang Bernama Puisi
[embed]
Pagi di Praha tampak seperti puisi yang belum selesai ditulis. Kabut tipis turun perlahan di atas Charles Bridge, sementara langkah-langkah manusia terdengar pelan, tenggelam bersama dingin yang menggantung di udara. Patung-patung tua di atas jembatan itu berdiri seperti penjaga kenangan, memandangi Vltava River yang mengalir tanpa tergesa. Lewat lampu-lampu kuning redup di gang kecil. Lewat suara Prague Tram yang melintas perlahan di sore hari. Lewat bangunan-bangunan tua yang tampak lelah, namun tetap berdiri dengan anggun seperti seseorang yang menyimpan terlalu banyak cerita.
Praha tidak pernah benar-benar memanggilku dengan suara. Ia hadir lewat rasa. Lewat bayangan tentang hujan tipis di jendela kafe tua, buku-buku usang, dan langit abu-abu yang menggantung rendah di atas Prague Castle. Old Town Square terasa seperti halaman terakhir dari sebuah novel tua yang belum rela ditutup.
Di jalan berbatu cobblestone yang telah dingin oleh waktu, di antara dinding-dinding pastel yang diam menyaksikan sejarah, tiba-tiba potretmu hadir—menggambarkan ratusan rasa yang elok.
Pertama kali saat menyaksikan Nerudova Street lewat hasil potret seseorang bernama Nicholas Saputra. Nerudova Street seharusnya bercerita tentang masa lalu. Tentang Jan Neruda yang menulis puisi-puisinya ratusan tahun lalu, tentang Archbishop’s Palace yang kokoh menatap langit Praha. Namun malam ini, jalan itu justru bersuara dengan isi perasaan hatiku. Sudut gang ini melengkung seperti daun-daun layu yang pernah mengusap wajahku ketika senja datang di tepi Danau Kenanga, Universitas Indonesia—tempat aku diam-diam belajar menyaksikan senyumku sendiri.
Di saat semua orang mendamba akan sesuatu yang lebih. Aku memberi ruang untuk diriku sendiri pada suatu tempat di dalam sunyi, menangkap diriku yang kerap bersemu merah, selalu bersama jingga di dalam sulit, membingkai Praha dalam suatu lorong panjang antara rasa cinta dan mimpi besar. tanpa harus bertanya pada elang tentang upayanya yang mampu mencapai ketinggian tanpa harus terlalu sering mengepakkan sayap. Karna aku percaya , bahwa kita semua adalah murid seumur hidup.
Sejak itu aku mulai percaya: mungkin ada tempat-tempat tertentu di dunia yang diciptakan untuk merengkuh jiwa tertentu pula. Dan mungkin, untukku, tempat itu bernama Praha.
메타데이터
- post_id
- 478e70a26a09
- slug
- praha-yang-merengkuh-seseorang-bernama-puisi-478e70a26a09
- url
- https://medium.com/@poespective/praha-yang-merengkuh-seseorang-bernama-puisi-478e70a26a09
- canonical_url
- https://medium.com/@poespective/praha-yang-merengkuh-seseorang-bernama-puisi-478e70a26a09
- author_url
- https://medium.com/@poespective
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-28 14:26:31