Jalan yang Memaksa Melambat
#1290: Kisah Aspal, Beton, Konblok, dan Andesit
Teknologi
Jalan yang Memaksa Melambat
#1290: Kisah Aspal, Beton, Konblok, dan Andesit

Taman Suropati menjadi titik awal pertanyaan tentang mengapa permukaan jalan tidak selalu dibuat sama. (Foto: Detik.com)
Belakangan saya sering melewati Taman Suropati di ujung Jl. Teuku Umar, Menteng, Jakarta. Kendaraan selalu melambat di salah satu segmen jalannya. Permukaannya berbeda dari aspal biasa, tersusun dari lempengan batu besar dengan sambungan (nat) tebal membentuk pola kotak. Semula saya mengira itu bata beton (paving block) atau konblok (concrete block), seperti di trotoar atau halaman rumah, bukan material jalan utama seperti aspal atau beton.
🔑 **Klik tautan ini untuk melanjutkan membaca. 🔑**
Dugaan itu keliru. Setelah saya periksa lebih teliti, material itu bukan konblok, melainkan andesit yang dipotong menjadi lempengan besar. Perbedaannya mendasar. Konblok adalah blok beton pracetak berukuran kecil yang saling mengunci, sedangkan andesit adalah batu alam yang dipotong dan dapat dipasang dengan nat yang lebih lebar. Keduanya sering disamakan orang awam, termasuk saya, karena sama-sama dianggap bukan aspal dan bukan beton.
Pilihan ini ternyata tidak sembarangan. Kawasan Menteng, termasuk Taman Suropati, ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya sejak 1975 setelah dirancang sebagai kota taman oleh arsitek Belanda pada awal abad ke-20. Andesit dipakai untuk trotoar di kawasan bersejarah karena kesan klasiknya, dengan permukaan yang dapat dibuat kasar antiselip melalui pembakaran. Pertimbangan ini berbeda dari aspek teknis semata seperti pada aspal atau beton.
Selama ini saya mengira jalan hanya terbagi tiga jenis: aspal, beton, dan konblok. Anggapan itu tidak salah, tetapi ternyata mencampur dua logika klasifikasi. Dalam teknik sipil, jalan dibedakan berdasarkan perilaku struktural: perkerasan lentur (aspal) yang menyerap deformasi tanah dan perkerasan kaku (beton) yang menyebarkan beban melalui pelat yang menyatu. Konblok dan andesit berada pada sumbu yang berbeda.
Konblok dan andesit tidak dibedakan dari perilakunya, melainkan dari pemasangannya. Keduanya tersusun dari unit-unit kecil yang berdampingan, bukan lapisan tunggal yang menyatu. Sifat modular ini memungkinkan bongkar pasang tanpa merusak seluruh permukaan sehingga cocok untuk area yang sering dibuka untuk utilitas bawah tanah. Karena itu, ia lebih tepat sebagai kategori tambahan di luar perkerasan lentur vs. kaku, bukan jenis ketiga yang sejajar.
Aspal modern lahir dari kebetulan. Pada 1901, Edgar Purnell Hooley mematenkan metode perkerasan jalan (road pavement) setelah melihat tumpahan tar menekan debu dan menghasilkan permukaan mulus. Sejak itu aspal menjadi pilihan utama jalan bervolume tinggi karena murah dan mudah ditambal meski kurang tahan beban berat dan mudah melunak pada suhu panas. Sifat lenturnya inilah yang membuatnya disebut perkerasan lentur.
Beton memiliki sejarah lebih tua di jalur berbeda. Jalan beton pertama di Amerika Serikat dibangun di Bellefontaine, Ohio, pada 1893, disusul jalur sepanjang satu mil di Detroit pada 1909. Sifatnya yang kaku membuatnya lebih tahan beban berat dan genangan air sehingga banyak dipakai di jalan tol untuk kendaraan bermuatan besar. Konsekuensinya, sambungan di antara pelat beton dapat menimbulkan bunyi dan getaran berulang yang terasa monoton.
Konblok modern justru lahir dari kelangkaan, bukan kemewahan. Blok beton pertama diproduksi di Belanda pada 1924, tetapi baru digunakan luas setelah Perang Dunia II ketika pasokan bata tanah liat menipis akibat kehancuran perang. Insinyur Belanda menciptakan blok beton presisi sebagai pengganti, lalu memasangnya di Rotterdam sebelum menyebar ke Jerman dan Eropa Barat. Jejak sejarah ini membuat Eropa identik dengan jalan berbata hingga sekarang.
Alasan Belanda memakai bata kemudian bergeser. Sejak program keselamatan lalu lintas nasional 1997, lebih dari 41.000 kilometer jalan kota diubah menjadi jalan lokal dengan batas 30 km/jam. Perkerasan bata dipasang kembali karena suara dan getarannya memperlambat pengendara. Di Indonesia, sifat ini sering dianggap sebagai kekurangan konblok dibanding aspal mulus. Padahal, ia justru dirancang sebagai bagian dari keselamatan.
Kembali ke Taman Suropati, perlambatan kendaraan di sana tampaknya bukan sekadar efek tekstur andesit, melainkan bagian dari upaya menjaga ritme kawasan cagar budaya. Pemilihan material jalan di Indonesia tidak sesederhana oposisi aspal untuk jalan biasa dan beton untuk tol, tetapi ditentukan oleh beban lalu lintas dan kondisi tanah. Belakangan, trennya mengarah ke beton berlapis aspal tipis.
Pemilihan permukaan jalan rupanya menyimpan pertimbangan yang lebih kompleks daripada yang tampak oleh mata dan terasa oleh ban.
Jurnal dan Kenangan
Senin kemarin, huru-hara awal pekan melanda. Penurunan jumlah staf dari 23 menjadi 17 pada awal Juli sangat terasa dampaknya. Saya perlu turun tangan mengerjakan beberapa tugas divisi Produk. Rasanya seperti kembali ke era awal pengembangan Narabahasa. Malamnya, setiba di rumah, saya bengong sebentar menghadapi puisi yang harus dikonversi menjadi cerpen. Alhamdulillah, tugas kelas penulisan cerpen itu bisa diselesaikan dalam waktu 30 menit.
[embed]Kaus Kaki Kecil Lelaki itu berdiri di pintu dapur.ivanlanin.substack.com
Tahun lalu, saya mengisi pelatihan daring penyusunan naskah dinas untuk 31 peserta dari berbagai unit kerja di OJK. Demi menjaga keterlibatan di ruang Zoom, saya memanggil peserta secara bergilir. Meskipun awalnya beberapa orang tidak merespons karena kesibukan, suasana berubah setelah jeda siang ketika diskusi dokumen menjadi lebih aktif. Fokus pembelajaran diarahkan pada kejelasan struktur kalimat dan efektivitas komunikasi dalam naskah.
[embed]Memanggil Bergilir #925: Strategi Menghidupkan Kelas Daringivanlanin.medium.com
Dua tahun lalu, saya meninjau laporan waktu layar dari fitur di ponsel Android dan membandingkannya dengan aplikasi Stayfree. Rata-rata penggunaan saya sekitar 4,5 jam per hari, dengan aplikasi dominan Kingdom Rush, Duolingo, dan WhatsApp. Data Indonesia menunjukkan durasi tertinggi secara global. Saya bertekad untuk menurunkan penggunaan gawai di bawah empat jam per hari meski gim tetap sulit ditinggalkan.
[embed]Waktu Layar #560: Indonesia juara!ivanlanin.medium.com
Ingin lebih terampil berbahasa? Kunjungi toko 🏪, ikuti kelas 👨🏫, atau hubungi 📞 Narabahasa.
메타데이터
- post_id
- 47a0813dcf50
- slug
- jalan-yang-memaksa-melambat-47a0813dcf50
- url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/jalan-yang-memaksa-melambat-47a0813dcf50
- canonical_url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/jalan-yang-memaksa-melambat-47a0813dcf50
- author_url
- https://medium.com/@ivanlanin
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-08 18:29:56