Downtown Vancouver.
Two cafe au laits. Three hours. Talking like there’s no ‘tomorrow’. Laugh, serious, deep conversation passes by. Eye to eye, heart to…

ps. listen to this song while u’re reading
Downtown Vancouver.
Two cafe au laits. Three hours. Talking like there’s no ‘tomorrow’. Laugh, serious, deep conversation passes by. Eye to eye, heart to heart. Topic changes hundred times. Updates, future, throwback. One is being an employee in Vancouver. One is just being a tourist here.
Satu pesan muncul dalam inbox email ku. Pengirimnya mengatakan bahwa ia sedang di Vancouver dan mengajakku bertemu. Bagiku ini tidak asing karena ini bukan pertama kali kami bertemu secara langsung. Namun, pertemuan setelah tujuh tahun… siapa yang akan merasa mudah? Walau begitu, biarlah. Karena 7 tahun itu sudah berlalu panjang. Mungkin pertemuan ini untuk saling memaafkan.
Five pm in Downtown Vancouver. Coffee shop langgananku, Artigiano Howe.
Ia bilang ia tidak tahu apa-apa saat tiba disini. “I feel so strange in this city, cause you know…. We used to dream of going to Vancouver together.”
Aku tidak mengelak dan tidak protes. Memang tidak ada yang aneh dari itu. Hanya kubalas alasannya tersebut dengan tawa kecil.
How do i start to introduce him, ya?
He’s Sam. I’ve known Sam since we were in high school. High school-mates kata orang-orang, but, actually we’re not.
Sam and I are exes. I was his boyfriend. Seven years ago.
Anggap saja berlalu tentang how we ended up in separate ways. Intinya, aku kabur ke Vancouver dan Sam pindah ke Singapore. Jakarta holds so much our memories and it hurts us. We admit it.
Berawal Sam tanya bagaimana kabarku. Kujawab dengan kata baik dan bertanya hal yang sama padanya (aku hanya tau itu basa basi). Ia menjawab baik juga.
Kemudian, aku tidak tahu bagaimana obrolan kami mengalir — ntah itu dibenahi rasa rindu atau rasa khawatir. We’re talking about our school, old friends, our career, spots in Singapore that he suggested to me. We never tried to bring up the topics that we used to talk about, termasuk Jakarta.
Sam yang ku tahu tipikal laki-laki hati-hati. Bicaranya tidak terburu-buru. Aku selalu tahu dia tidak punya eager untuk banyak hal. Namun, kali ini Sam seperti… tergesa-gesa? He asked me so many things. Aku paham ini karena 7 tahun lamanya kami tidak bertemu dan tidak pernah mengobrol sedikit pun di rentang waktu itu. Namun, aku merasa ia ingin tahu sesuatu dari diriku lebih dalam. Oh, Sam...
Sepertinya ia ingin tahu bagaimana perasaanku tentang kami berdua, pikirku.
“Sam, is it okay if I’m asking you about what you feel after we broke up?”
Ku lempar pertanyaan bodoh itu. Aku tahu dia tidak akan pernah bertanya sampai aku bertanya lebih dulu. Matanya langsung tertuju padaku dengan serius. Tidak kaget, tidak marah, tidak ada emosi yang tersampaikan lewat wajahnya. Ia seperti tidak tahu harus jawab apa. Namun, setelah menelisik raut muka nya, I know that…
I was wrong. Sam ternyata tidak ingin berbicara soal kami.
Lalu apa yang ingin ia tanya dan sampaikan di dalam obrolan ini? Tidakkah dia jauh-jauh kesini untuk mengobrol soal kami berdua? Tidakkah ia disini berusaha untuk meluruskan seluruh salah paham yang terjadi di antara kami?
Dalam jawabannya, Sam mengatakan ia sudah melupakan itu jauh sekali. Ia tidak lagi marah pada kejadian di mana aku dan dia bertengkar tujuh tahun lalu akibat keserakahan atas cinta yang kami berikan pada satu sama lain hingga melupakan diri kami. Ia tidak lagi terus mempertanyakan banyak hal atas perpisahan kami. Di situlah letak aku paham bahwa Sam sudah melepas jauh kami berdua. Syukurlah.
Kemudian Sam bertanya kembali. Bagaimana kalau aku.
Kujawab perpisahan kemarin masih terus membekas di diriku karena we were so deep in love back then dan banyak hal yang kami pelajari sebagai pasangan untuk pertama kalinya dalam hidup kami. Kukatakan juga pada Sam bahwa memang perpisahan kemarin bukanlah tabiat jahat takdir, tetapi justru kebaikannya untuk menyelamatkan kami berdua.
Sam was my first love. And i was his first love too. We’re just teenagers at that time. We used our pure hearts to love each other deeply tanpa kami tahu bahwa waktu mengubah keputusan manusia seiring menjalankan hidupnya. Cinta yang kugunakan untuk Sam saat itu masih tertinggal jauh di dalam diriku. Aku pun yakin semua orang tidak akan pernah melupakan cinta pertamanya sama seperti diriku.
Sam mengangguk paham. Ia mengerti perasaanku. Dalam obrolan yang sudah terlanjur ‘basah’ ini, sekalian saja aku ingin memberitahunya satu hal.
“But I think I’m okay now, so much better than 7 years ago. Living my best life with my love one.”
Sam mengangkat kepalanya setelah meneguk minumannya. Aku melihat banyak pergulatan rasa di dalam diri Sam yang aku tak pernah lihat sebelumnya. Kebanyakan ia terlihat…lega? Aku juga tidak tahu. Sam sekarang terasa lebih sulit untuk ditebak.
Detik itu aku menyadari bahwa aku tidak kenal Sam lagi.
Aku mendapati diriku semakin bingung memahami pertukaran emosi Sam. Terkadang aku melihat ia juga mengalihkan pandangannya dan sesekali memandang gedung The Historic Atrium Clock yang ada di seberang sana. Dia sudah terlalu jauh dari apa yang telah kubayangkan 7 tahun lalu. Now we’re 26. We’re adults. Banyak peristiwa dalam hidup yang bisa mengubah seseorang, termasuk aku dan Sam. Oh Sam… you’ve changed.
“So, he’s good kan ya?” katanya memastikan. Aku mengangguk, “ya, she’s so kind to me and also pretty. We started as a best friend and then become a couple ever since.”
Sam tersedak kecil — khawatir kalimat pertanyaannya menyakitiku (sifat ini tidak pernah berubah ternyata). Kusampaikan kalau nanti ada waktu akan kukenalkan pasanganku padanya.
Sam bilang, “What a good news, Ken.”
Lalu sunyi.
Aku berhenti berbicara, begitu juga dia. Sesekali kami bersitatap seperti canggung sudah merenggut obrolan kami. Tidak tahu apalagi yang ingin dibahas. Semua terasa hening dan tak bisa lagi terselamatkan. Aku mengerti. Sudah waktunya berakhir. Aku juga berniat untuk mengakhiri obrolan setelah kurang lebih 3 jam kami habiskan hanya untuk bertukar kabar.
Jauh di dalam hatiku, perpisahan ini sedih. We were having such a good time. Namun, di sisi lain, waktu sepertinya mengatakan padaku untuk tidak memaksakan diri. Aku berdiri untuk mengantarnya keluar dari area kafe dan sekaligus mengucapkan perpisahan untuk terakhir kali (mungkin).
Di saat kondisi duduknya, Sam bersuara,
“Kenan, i want to say something.”
Aku mengangguk. Kuberikan jeda waktu untuk ia memikirkan kata-katanya. Posisi ku kembali duduk di hadapan Sam.
Aku siap dengan segala apapun yang dikatakannya. Biarlah dalam penutup pertemuan ini ia memakiku untuk kejadian 7 tahun lalu. Karena memang aku yang salah. Egoku saat itu melesat hebat meraup segala cinta yang kami punya. Lalu dengan tidak tahu diri aku berlari kabur ke Vancouver untuk kepentingan hidupku.
Aku harus terima itu. Pasti ia juga sudah menahan amarah itu selama 7 tahun dan baru hari ini bisa tersampaikan. Aku akan mengerti apapun itu.
“I’m going to get married in 3 weeks.”
Oh God.
Runtuh semua pendirianku. Ini bukan kalimat dan berita yang ingin ku dengar. Aku tahu ia berhak, tapi bukan ini. Raut wajahku jelas sekali menggambarkan kebingungan atas apa yang ia sampaikan. Kata-katanya menghujam tajam dalam diriku, tapi halus sekali— itu lebih perih.
Aku menelan ludahku kasar, “Congratulations dong, Sam! oh… ternyata dari tadi mau ngomongin itu ya.”
I don’t even know why I’d answer like that.
“I’m glad that you’re so much better now with your new life. Berat hatiku di awal untuk bilang i’m gonna get married. Takut kalau ternyata masih banyak pergulatan rasa di belakang kita. But, I guess it’s not anymore ya. Jadi, akhirnya aku berani ngasih kabar ini. I hope you’ll come with your girlfriend, Ken. Tapi kalau nanti urusan di kantor ternyata lebih mendesak, aku gak masalah. Aku tahu kamu pasti mendoakan yang baik untukku dan calon suamiku.”
His soft and deep voice choked me badly. Seolah itu suatu hipnotis bagiku untuk akhirnya mengangguk, “…iya, aku pasti doakan. I’ll text you later kalau aku beneran bisa dateng atau engga. Kalau soal pacarku, aku gak bisa janji ya.”
Kemudian obrolan itu selesai. Saat mengantarnya ke luar kafe untuk kembali ke hotelnya, Sam bilang sebenarnya tujuan ia ke sini untuk fitting baju bersama calon suaminya — ia akan menikah di Vancouver**. **I ask him where he is, tapi katanya calon suaminya sedang hangout bersama sahabatnya yang tinggal di sini. Aku mengangguk paham. Kemudian ia pamit pulang dan menjauhiku yang masih berdiri di dekat pintu depan kafe. Siluet tubuhnya perlahan tidak terlihat dan bercampur pada keramain publik di Downtown Vancouver.
It’s always been Vancouver.
‘Okay, Kenan. It’s life and we have to accept it.’ Kataku pada diriku sendiri
Aku kembali masuk ke kafe untuk mengambil barangku yang tertinggal di table. Ku ambil tas dan mantelku yang masih tergantung di pundak kursi. Kemudian di meja terletak secarik kertas yang tertimbun di piring kecil kopi milik Sam. Kupikir itu receipt pembayaran kopi ini. Ternyata itu surat dari Sam untukku.
Kenan, terima kasih banyak sudah menemui aku setelah 7 tahun tidak ada kabar yang mengiringi kita. Aku tau kita masing-masing menyimpan banyak kekecewaan dan amarah. Walaupun begitu, kamu tetap menyetujui pertemuan ini and i know we had so many good things happened back then. We laughed, we cheered, we sad, we happy, and we loved each other together. Those were good memories for me. So, i hope we get another chances to have the same kind of happiness that we used to feel back then with our new life. It’s also hard for saying i’ve dealed about us. Tapi, Kenan, life must go on. I’m so grateful that we’ve already change ourself because i know life is not as easy as what we lived before. And now, I’m not the same Sam that you’ve known since high school anymore. And so do you. May God bring us to good things in the future ya Kenan. -Sam
I cried a lot. Bukan karena aku mengetahui bahwa aku tidak pernah rela melepas Sam. Bukan karena aku mengetahui bahwa aku masih mencintai Sam. Bukan juga karena Sam ternyata masih jauh menyimpan banyak hal di dalam diriku dan hidupku. Namun, aku tertampar oleh kehidupan nyata di antara kami berdua. Betapa kasihannya kami. Betapa sedihnya kami untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah berani kami ambil sebelumnya. Betapa saat itu dunia begitu berpihak pada kami, tapi memilih untuk berprasangka dunia tidak menginginkan kami. Betapa jauh nya kami telah melangkah bersama, tapi jejak kaki nya tidak tampak indah lagi di mata kami. Oh God…
3 weeks after —
Sam is already married to his husband in Vancouver. Aku jadi datang ke pernikahannya. Sendiri.
Aku menghampiri Sam dan mengucapkan selamat padanya. Dia mengucapkan terima kasih karena aku sudah menyempatkan waktuku untuk hadir ke pernikahannya.
“Kamu sendiri? Pacarmu berhalangan hadir, ya?” katanya.
“No, we got…
Actually, she couldn’t be here because of work. She has many things to do. Maaf ya.” Ahli tipu, kataku. Nyatanya, aku dan pacarku — lebih baik mengatakan mantanku — sudah berpisah. Nanti kuceritakan itu lebih lanjut soal itu. Rumit sekali semuanya.
Aku berkenalan sekaligus dikenalkan juga dengan suaminya Sam — Aston. He’s good person. Also, I’m sure that he will love Sam to the most. Perilakunya sangat baik sekali, jauh sangat baik. I’m happy for both of them.
I hope Sam and his husband got happily married!
-Kenan, 2026
메타데이터
- post_id
- 47e4dad01d15
- slug
- downtown-vancouver-47e4dad01d15
- url
- https://medium.com/@pormentfor/downtown-vancouver-47e4dad01d15
- canonical_url
- https://medium.com/@pormentfor/downtown-vancouver-47e4dad01d15
- author_url
- https://medium.com/@pormentfor
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-18 17:08:22