← Back to list

Selubung Rasa

Kata kunci: rumah masa kecil, recorder, cinta terpendam

An Odetou · 2026-04-09 12:30 · 16 claps · 10.7 min read
#lovely-runner #writing #im-sol #ryu-sunjae
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

Selubung Rasa

Kata kunci: rumah masa kecil, recorder, cinta terpendam

Rumah masa kecil — present time

Rumah itu tak berubah, namun ada sesuatu yang membuat Dinda merasa sesak. Entah karena wajah rumah itu tak terawat atau karena rindu yang sengaja ia tumpuk bertahun-tahun lamanya.

Hari itu Dinda pulang dengan raga yang utuh dan sehat, untuk mencoba mengisi sebagian dari dirinya yang entah mengapa justru terasa hilang. Saat melangkah ke dalam, yang ia dapati hanya kosong dan senyap. Perabotan yang tertata di sana tak berubah sejak ia meninggalkannya. Foto-foto masa kecilnya masih terpajang di dinding dan meja, pun potretnya bersama sang bunda yang tak pernah ia sangka akan mendahuluinya berpulang lima tahun silam.

Sejak saat itu, Dinda semakin tak menemukan alasan untuk pulang.

Sampai hari ini tiba.

Hari ketika ia tak dapat lagi menunda. Hari yang tak pernah berani ia harapkan tiba.

Hari di mana ia akhirnya pulang setelah dinyatakan sehat.

Dengan perasaan campur aduk tak karuan, Dinda berjalan menuju kamarnya. Ruangan itu berada di bagian depan, tepat di atas persewaan DVD yang dahulu dikelola keluarganya.

Barang-barangnya tak bertambah, pun berkurang. Bedanya, kini perabotan-perabotan yang ada di sana tertutup kain agar debu tak mengotori mereka. Dinda menarik ujung kain putih yang menutupi meja belajarnya — tempat di mana ia dahulu bisa berjam-jam duduk untuk menulis buku harian atau membaca komik favoritnya.

Entah mengapa perasaan Dinda menjadi tak karuan, lantas —

Kletak!

Tiba-tiba saja, suara benda jatuh dari meja belajar menarik seluruh atensi Dinda. Gadis itu kemudian mengarahkan pandangannya ke sumber suara. Di sana ia melihat sebuah mp3 player terjatuh ke lantai kamarnya.

Benda itu memancing senyuman Dinda yang sedari tadi ia tahan.

Benda itu membuatnya bernostalgia.

Dinda memungut benda kecil berwarna merah jambu itu lantas mencoba memasang headset yang sudah menempel pada mp3 player itu ke telinga kanannya.

Benturan benda itu dengan permukaan lantai ternyata tak membuat fungsinya hilang. Walau samar, ia masih dapat mendengar lagu lawas yang biasa ia dengar dahulu sekali setiap malam sebelum terlelap.

Ada sensasi teduh menjalari dadanya, ketika Dinda mencoba menikmati memori masa lalu yang ia lalui di rumah ini yang berkelebat di benaknya.

Gadis itu lantas memejamkan mata sejenak tepat sebelum suara merdu penyanyi dari pemutar musiknya perlahan-lahan pudar, lantas digantikan oleh suara lain yang benar-benar berbeda.

Dinda lupa, benda kecil itu juga dapat berfungsi sebagai perekam suara.

Klik!

“Hai…”

Asing.

Suara itu terdengar asing.

Selebar apapun Dinda mencoba membuka telinganya, suara itu tetap terdengar asing.

Seberapa keras pun Dinda mengais ingatan yang ia punya, ia tetap tak dapat menemukan histori suara itu di otaknya.

“Aku nggak tahu harus mulai dari mana… tapi entah kenapa lihat recorder imut ini aku jadi pengen ngomong aja…”

Gadis itu terduduk di ranjangnya yang masih tertutup kain putih. Tubuhnya bergerak seolah ia terbuai dengan suara yang terdengar begitu nyaman di telinganya.

“Aku nggak punya tempat cerita lagi sekarang, jadi anggep aja ini aku lagi cerita sama kamu…”

Mungkin rekaman ini sebenarnya tidak ditujukan kepadanya. Dinda masih merasa suara itu tak pernah ia dengar sebelumnya. Namun, ada sesuatu yang membuatnya bertahan mendengarkan.

“Dinda…” Oh, Dinda mungkin saja salah. Rekaman itu sungguh ditujukan kepadanya?

Kini jantungnya berdegub kian kencang.

“Aku nemu kunci yang gantungannya ada tulisan ‘Dinda’-nya, kuncinya ada di atas meja, tapi pas aku pake buat ngunci laci di meja belajar malah nggak bisa…”

Atau bukan?

“Nggak pa-pa… aku juga gitu kok! Kadang udah tahu ada barang rusak, nggak bisa dipake lagi tapi tetep aku simpen, nggak tahu kenapa. Mungkin… pas pertama kali mutusin buat simpen barangnya, terbesit pikiran… barangkali… barang-barang ini akan berguna nantinya. Ya nggak?”

Apa sih maksudnya?

Dinda mengernyitkan dahi, tak mengerti apa yang sedang dibicarakan si empunya suara asing yang tak berhenti bicara hal-hal acak yang tidak penting itu.

“Oh iya.. Aku sempet coba buka lacinya…. dan… wow — ”

Terdengar suara tawa yang renyah dari recorder itu. “Berantakan banget isinya!”

Cih!

Diam-diam Dinda merasa malu.

“Sorry, aku nggak beresin, takutnya nanti malah ada barang yang hilang. Siapa tahu… emang laci itu dibiarin berantakan… supaya gampang nyari apa yang sudah ada di sana…”

Refleks, setelah mendengar itu, arah pandang Dinda bergerak menuju laci yang dimaksud. Ada kunci dengan gantungan kunci bertuliskan namanya tergantung di sana.

Itu sudah tampak usang.

Dinda berjalan meraih laci itu. Ia ingin membuktikan apa yang dibicarakan oleh si pria recorder itu benar. Beberapa kali gadis itu mencoba memutar kuncinya, namun tidak bisa. Mungkin permukaannya sudah berkarat karena masa. Atau mungkin kunci itu memang bukan pasangan lacinya.

Kemudian, pelan-pelan Dinda menarik handle laci itu, dan lagi-lagi benar — isinya berantakan, persis seperti apa yang dikatakan oleh si pria.

Dinda bahkan lupa kapan terakhir kali ia merapikannya. Di bagian paling atas, Dinda melihat karet gelang yang sudah mengeras.

“…Barang-barang di dalam lacinya kayaknya nggak penting-penting amat, sih,” suara dari recorder itu kembali terdengar.

Dinda kemudian mengangkat karet gelang yang sudah menjadi kaku itu dan bertanya-tanya: mengapa ia menyimpan benda tidak penting itu di sana?

Mungkin ia cuma asal menaruhnya. Atau —

“…mungkin emang sengaja disimpen karena emang… penting sebenernya?”

Dinda kembali mengernyit, sembari menatap karet gelang yang kini ia angkat setinggi level netranya.

Apa, sih, maksudnya?

Rumah masa kecil — 2010, tahun saat rekaman dibuat

“…mungkin emang sengaja disimpen karena emang… penting sebenernya?”

Sambil mengatakannya, mata pria itu terpaku pada karet gelang di tangannya, sementara itu bibirnya tersenyum mengingat bagaimana karet gelang itu pernah membuatnya menjadi seorang pahlawan.

Tanpa karet gelang itu, mungkin sang gadis tak akan lolos dari hukuman di sekolah. Pria itu masih mengingat bagaimana ia berusaha mengikat rambut panjang sang puan, sementara gadis itu terburu-buru memasang sepatunya.

Benda sesepele itu mampu membangkitkan berjuta rasa — berjuta kenangan yang mungkin akan ia simpan dalam ingatan dalam waktu yang lama.

Rumah masa kecil — present time

Klik!

Recorder itu masih berputar. Ada jeda, namun entah mengapa Dinda bersedia menunggunya.

Dinda masih menatap karet gelang kaku itu ditangannya.

Aneh.

Ada perasaan aneh yang kemudian Dinda abaikan setelah ia kembali mendengar suara celotehan dari recorder kecilnya.

Pria itu membicarakan hal-hal acak lainnya.

Seperti soal membereskan kamar, tentang bagaimana memindahkan barang-barang di kamar bisa mempengaruhi kualitas tidurnya, hingga tentang perasaan nyaman tiap kali ia bebas mengurung diri di kamar seharian.

Dinda terus mendengarkan, hingga rasanya seperti orang itu kini ada di hadapannya.

Kemudian pada satu titik, setelah sebuah jeda, suara langkah kaki samar-samar terdengar menuruni anak tangga. Suara gesekan sol sepatu dengan tangga kayu yang begitu khas.

Dinda langsung tahu ke mana arah kaki itu melangkah.

“Aku turun ke rental DVD…”

Entah bagaimana, Dinda turut beranjak. Kakinya seolah digiring menuju tempat yang sama.

“DVD-nya udah nggak ada semua… tapi aku nemu satu di meja.”

Dinda membuka kain putih yang menutupi meja kasir di bagian paling depan ruangan. Ia pun menemukannya. Satu-satunya DVD yang tersisa di sana.

“Pas aku buka, kayaknya DVD ini sering ditonton ya. Lusuh banget soalnya, udah banyak goresan…”

Dinda ingat. Itu adalah DVD kesukaannya. Film yang sering ia putar berulang-ulang.

“Eh! Masih ada DVD player ternyata… coba aku puter ya…”

Jeda cukup lama. Dinda hanya menunggu kalimat selanjutnya sambil duduk di satu-satunya kursi yang tersisa di ruangan dan menatap DVD itu cukup lama.

Pasti ada alasan ia begitu menyukai film itu.

Tak lama, kembali terdengar suara si Pria asing. “Hmm… filmnya klasik sih…romance…”

Memang, batin Dinda.

“Tadi di DVD-nya ada tulisan menit ke 58.07, aku penasaran, jadi aku cepetin ke menit itu. Untung remotenya masih fungsi.”

“Orang yang suka nonton film ini pasti suka banget sama scene ini ya…”

Sok tahu banget.

Dinda mencoba megingat-ingat apakah dirinya adalah orang yang sempat menandai menit itu?

“Padahal scenenya cuma diem-dieman gitu…”

Ah, adegan itu! Saking seringnya menonton film itu berulang-ulang, Dinda tahu adegan apa yang dimaksud pria itu. Ia memang begitu menyukai adegan itu secara spesifik.

Namun Dinda sungguh tak ingat ia menandainya pada DVD, sebab ia dapat mengingatnya tanpa harus menandainya.

Siapa orang lain yang begitu menyukai adegan itu juga sepertinya?

Rumah masa kecil — 2010, tahun saat rekaman dibuat.

“Orang yang suka film ini pasti suka banget sama scene ini ya…”

Tanda itu adalah tulisan tangannya sendiri. Tanda yang pria itu buat saat diam-diam memperhatikan sang gadis mengulang adegan yang sama saat mereka menonton film itu berdua. Bukan satu dua kali, mungkin sudah puluhan bahkan ratusan kali.

Netra sang pria menatap nanar layar di hadapannya. Hanya ada sepasang manusia yang duduk sambil saling terdiam di depan hamparan lautan. Dulu ia tak paham, mengapa keheningan itu begitu menyenangkan diputar berulang-ulang bagi sang puan.

Namun kini ia memahaminya.

“Padahal scenenya cuma diem-dieman gitu…”

DVD itu terus berputar, begitupun wajah sang gadis yang terus menerus muncul seperti karakter utama sebuah film di kepalanya.

Rumah masa kecil — present time

Terjadi jeda yang cukup lama. Sang pria sepertinya tenggelam dalam kisah di dalam film yang ia saksikan sebab Dinda dapat mendengar suara-suara khas yang muncul dari adegan film itu samar-samar.

“Hmm… kalo ngelihat dengan cara yang beda, mungkin sedikit-sedikit aku paham kenapa orang bisa nonton ini berulang-ulang…”

Kenapa?

Jeda, hanya sesaat.

“Mungkin dia nggak lagi nonton filmnya… mungkin… dia lagi coba meyakinkan dirinya…”

Deg!

“…kalo diam adalah cara mencintai… yang paling aman…”

Klik!

Kali ini Dinda menekan tombol pause. Tangannya menggenggam recorder itu lebih erat dari sebelumnya. Maniknya menatap kosong ke depan tanpa alasan yang jelas.

Ia masih terpaku dengan kalimat terakhir yang didengarnya. Meski sejujurnya ia tak sepenuhnya mengerti apa yang sedang dibicarakan orang asing ini melalui recorder-nya, namun cara orang itu berbicara… terasa akrab.

Ada sesuatu yang membuat Dinda merasa seperti benar-benar ada yang memahaminya.

Klik.

Dinda membali memutar recorder itu. Diam-diam ia ingin tahu hal acak apa lagi yang akan dibicarakan sang pria asing kali ini.

Sekarang aku ada di teras samping.”

Rumah masa kecil Dinda punya halaman samping. Ada sebuah bangku di teras samping menghadap ke halaman.

Dinda menuju ke sana.

Suara yang kini terdengar semakin familiar itu sepertinya mampu menggiringnya ke mana saja.

Tiba-tiba pendengaran Dinda menangkap suara hujan dari headset-nya.

Wah, hujan…”

Jeda sejenak. Dinda terduduk di bangku teras, kemudian menatap langit yang juga mulai gelap.

Karena hujan, aku jadi nggak bisa pulang deh. Jadi yaa… nunggu reda aja…”

Dinda masih mendengar suara hujan dari sana.

Diam-diam ia menikmatinya.

Nungguin hal-hal yang nggak tahu kapan akan datang mungkin nggak buruk juga…”

Untuk beberapa saat, Dinda hanya dapat mendengar suara merdu hujan.

“Dikit lagi… juga reda… iya kan?”

Kali ini ada jeda yang cukup panjang. Dinda dapat mendengar suara hujan di seberang berangsur-angsur mereda, hingga akhirnya… tak terdengar.

Udah reda… tapi… masih basah semua, mungkin aku tunggu kering sebentar deh ya…”

Terserah.

Dinda heran, mengapa hal begitu saja harus disampaikan.

Orang ini, sebenarnya kenapa?

Kayaknya nunggu itu nggak buruk juga… mungkin nanti aku juga akan ngerasain… nikmatnya… menunggu sesuatu…

Dinda dapat mendengarkan helaan napas yang cukup berat.

Meskipun lama-lama… mungkin aja… aku bakal kehilangan keyakinan… tentang apa yang ditunggu…”

Suara pria itu kini terdengar sedikit bergetar.

Meskipun entah yang ditunggu bakal dateng atau enggak…”

Tetep aja… kalo ada sedikit aja harapan…”

Sedikit aja… sedikit lagi…”

Senyap, beberapa detik saja. Tak ada lagi suara hujan, hanya napas yang terdengar pelan.

Siapa tahu aja… iya kan?”

Dia ngomong apa, sih?

Dinda tak mengerti apa maksud dari semua perkataan pria recorder itu. Namun, kini suaranya terdengar lebih dekat, lebih familiar, mengingatkan Dinda pada satu orang yang sengaja ia kubur bersama seluruh kenangan masa remajanya.

Klik.

Tapi… ngomong-ngomong enak juga ya ngomong satu arah begini…”

Aku jadi bebas ungkapin semuanya… tanpa takut… diinterupsi…”

Deg!

Tiba-tiba saja kenangan yang sengaja Dinda kubur dalam-dalam bermunculan di benaknya bertubi-tubi hingga membuat dadanya begitu sesak.

Karena nggak ada yang interupsi… apa aku bilang aja ya sekarang?”

Ada jeda orang di seberang mengambil napas dalam-dalam.

Dinda merasakan gugupnya. Ia merasakan ada keragu-raguan di sana.

Apa yang mau dia sampaika —

Dinda…”

Dinda tercekat… mendengar namanya bergema di telinga.

Tadinya aku ragu, apa aku harus rekam ini atau enggak…”

Dinda bisa merasakan suara di seberang kini terkesan lebih santai dan tenang.

Tapi… mumpung nggak ada yang interupsi, nggak ada salahnya… dicoba… iya, kan?”

Napas pria itu sayup-sayup tertangkap pendengaran.

Degup jantungnya pun, entah bagaimana, dapat dirasakan.

Kalau kamu denger ini, artinya kamu udah sehat… dan artinya… kamu nggak berhenti dengerin rekaman ini di tengah-tengah…”

Hening sejenak.

Sedikit lagi, Dinda… tolong dengerin… sampe habis…”

Kini, suara itu terdengar bergitu familiar. Napasnya kembali sedikit tercekat, suaranya bergetar, namun keraguan yang sempat terdengar itu kini tak lagi ada.

Karena aku… nggak mau perasaan ini menguap gitu aja… tanpa diungkap…”

Lagi-lagi, hening.

Dinda hampir menekan tombol stop ketika —

Dinda, aku… suka kamu.”

Jeda.

Jeda yang cukup lama.

Udah lama… dari dulu. Kamu… pasti tahu…”

Dinda kembali menggenggam recorder itu lebih erat.

Aku nggak tahu rekaman ini akan kamu dengerin kapan… aku bahkan nggak tahu rekaman ini akan sampai ke telinga kamu atau enggak… tapi…”

Jeda, satu hela napas.

…siapa tahu aja, iya kan?”

Mungkin tahun depan… atau.. tahun depannya lagi… atau setelah aku keterima kerja…”

Kalimat itu, di satu sisi mengandung banyak ketidakpastian, tapi di sisi lain ada sebuah keyakinan dan harapan yang dapat Dinda rasakan hanya dengan mendengarnya.

Kayaknya aku bakal terus balik ke sini… karena…”

yah… siapa tahu aja… tiba-tiba kamu dateng…”

Dinda mencelos. Sungguh. Gadis itu tak dapat mengendalikan jantungnya yang berdegub kencang.

“Dama …”

Nama itu lolos dari mulutnya. Nama yang bahkan tak berani ia sebut dalam doa-doanya. Nama yang telah ia kubur dalam-dalam bersama harapannya untuk terus hidup yang pupus sejak vonis penyakit mematikan itu dijatuhkan kepadanya.

“Dinda?”

Suara itu.

Suara itu kini terdengar jelas. Terdengar nyata. Suara itu, bukan suara dari recordernya.

Dengan perasaan berkecamuk, Dinda menoleh ke sumber suara.

Dama.

Pria itu telah berdiri di sana, seolah baru saja keluar dari recorder yang kini Dinda genggam erat-erat tanpa sadar.

Kemudian, gerimis turun perlahan.

Pria itu… melangkah semakin dekat.

“Hari ini… aku berniat nyerah,” ucap Dama. Kali ini dengan suara aslinya, bukan suara yang sengaja ia samarkan hanya agar Dinda tak berhenti mendengarkan rekamannya.

Gadis di hadapannya hanya terdiam. Agaknya ia masih terkejut dengan kemunculannya yang tiba-tiba.

Dama pun tak menyangka… hari ini akan datang.

Tahun lalu adalah tahun keempat belas pria itu selalu datang ke tempat yang sama. Tahun ini ia berniat menyerah, namun —

“… berhubung ini tahun kelima belas, jadi… aku pikir… genapin aja.”

Dinda melirik recorder yang ia genggam. Sepertinya gadis itu sadar cara Dama berbicara sama persis dengan yang ia dengar lewat headset-nya.

Well… siapa tau aja… iya kan?”

Dama terus bicara, meski Dinda masih terlihat mencerna segalanya.

“Tahun depan aku nggak berniat dateng lagi… ternyata bener emang nggak perlu… karena kamu udah dateng… tepat di tahun kelima belas, hari ini.”

Dinda masih diam.

“Untung aja… aku nggak jadi nyerah… hari ini.”

Dinda menunduk sebentar, kemudian perlahan-lahan menatap Dama, menyamakan titik tatapannya pada manik sang pria. Dama tahu, dan ia mengerti, begitu sulit bagi Dinda kembali menghadapinya.

“Kenapa…” suara Dinda bergetar. “Kenapa kamu terus ke sini selama lima belas tahun?”

Dama tersenyum, masih pada jarak mereka semula. Tak menjauh, pun mendekat. Keduanya ada di jarak nyaman. Pada jarak di mana mereka bisa saling menatap kerinduan masing-masing yang mungkin telah terpendam begitu lama… begitu dalam.

“Karena aku tahu… kamu punya perasaan yang sama.”

“Kamu salah.”

“Nggak, Dinda. Aku nggak salah… aku… selalu tahu.”

Dinda kembali terdiam, sementara Dama menatapnya lekat. Ia selalu tahu perasaan mereka setara. Ia selalu tahu, dari bagaimana Dinda menatap. Ia selalu tahu, dari bagaimana gadis itu selalu memotong setiap kali pernyataan-pernyataan cinta yang telah disiapkan sudah berada di ujung lidah.

Dama selalu tahu… dari bagaimana Dinda memaknai cinta dari adegan film yang selalu diputarnya berulang-ulang.

Dama selalu tahu… sampai pada titik tertentu, ia berusaha memahaminya.

“Gimana kalo… aku nggak pernah datang?”

Dama tersenyum. Tentu saja, ia sudah memikirkannya. Ia pernah memikirkan hal terburuknya. Pernah terbesit di benaknya, Dinda benar-benar menghilang dari dunia.

“Udah aku bilang kan… di rekaman… siapa tahu aja…” ucap Dama, mengulang kata-kata yang selalu ia ucapkan di rekaman. “Kalo enggak… ya nggak pa-pa… bagi aku, nggak ada ruginya.”

Dinda kembali tertunduk. Ia seperti hendak mengatakan sesuatu, namun diurungkan. Gadis itu hanya menggenggam erat recorder kecilnya dengan dua tangannya.

Mereka tetap berdiri berhadapan di pijak yang sama — di tempat mereka. Hari ini semuanya terasa begitu terlambat, namun entah mengapa ini juga menjadi waktu yang tepat. Tidak ada yang mereka mulai sekarang juga.

Belum — mungkin.

Namun, setidaknya keduanya tidak lagi menepis fakta bahwa ada sesuatu di antara mereka berdua.

Kalau belum sekarang, sebagaimana kata Dama seperti yang sudah-sudah —

Siapa tahu saja… iya, kan?


메타데이터
post_id
47e576fa2efd
slug
selubung-rasa-47e576fa2efd
url
https://medium.com/@an_odetou/selubung-rasa-47e576fa2efd
canonical_url
https://medium.com/@an_odetou/selubung-rasa-47e576fa2efd
author_url
https://medium.com/@an_odetou
status
ok
fetched_at
2026-07-18 08:50:28