Diajarkan Baca Tulis, tapi Minat Baca Tulis Masih Rendah
Sejak pendidikan usia dini, kita telah diajarkan cara untuk membaca dan menulis. Mulai dari membaca dan menulis huruf alfabet hingga…
Diajarkan Baca Tulis, tapi Minat Baca Tulis Masih Rendah
Photo by Sincerely Media on Unsplash
Sejak pendidikan usia dini, kita telah diajarkan cara untuk membaca dan menulis. Mulai dari membaca dan menulis huruf alfabet hingga membaca dan menulis artikel atau karya ilmiah. Tapi mengapa minat itu tidak tumbuh seiring bertambahnya usia?
Bukan Member Medium? Baca di sini.
Pada tahun 2016 Central Connecticut State Univesity mengeluarkan sebuah riset yang berjudul World’s Most Literate Nations Ranked (Peringkat Negara Paling Melek Huruf di Dunia). Dalam riset tersebut, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara yang diteliti dalam hal minat baca. UNESCO bahkan menyebutkan hanya ada 1 dari 1.000 orang Indonesia yang gemar membaca.
Meski riset tersebut sudah hampir berusia 10 tahun, tapi setidaknya kita dapat melihat gambaran bagaimana minat baca yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia pada waktu itu (semoga sudah ada peningkatan dari tahun 2016).
Sebenarnya agak ironi bila minat dan baca masyarakat Indonesia masih terbilang rendah, padahal sejak pendidikan usia dini atau taman kanak-kanak, hingga duduk di bangku SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi, kita selalu diajarkan dan dituntut untuk membaca dan menulis. Tapi mengapa minat itu tidak muncul, meski sekian tahun telah dipupuk?
Jika boleh menjawab secara dugaan (karena untuk jawaban pasti perlu riset yang panjang) selama di sekolah kita hanya fokus untuk mengejar nilai. Membaca untuk ujian bagus. Menulis hanya untuk tugas. Kita tidak diajarkan untuk mencintai ilmu pengetahuan secara tulus.
Selama sekolah kita dituntut untuk baca ini, baca itu, tulis ini, tulis itu. Tetapi setelah tuntutan tersebut hilang, tidak tertanam kesadaran secara mandiri untuk melanjutkan tugas membaca dan menulis itu.
Sepertinya tumbuh anggapan bahwa membaca dan menulis itu hanya untuk tugas, hanya untuk ujian. Bukan semata-mata ingin memuaskan rasa haus ilmu, rasa penasaran yang tumbuh dalam benak.
Hari pendidikan nasional yang jatuh pada 2 Mei kemarin, mengingatkan pada kita bahwa belajar bukan hanya di ruang kelas. Bukan hanya di sekolah-sekolah formal, tetapi selama kita hidup itulah proses pembelajaran.
Kita perlu membedakan antara sekolah dan belajar. Bila sekolah ada ruangnya, ada waktunya, tetapi belajar tidak mengenal ruang dan waktu. Belajar dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan tingkat minat dan baca masyarakat Indonesia, kita butuh perubahan. Perubahan kebiasaan yang dilakukan dalam keseharian kita.
Kalian dapat melakukan mulai dari langkah kecil, seperti:
- Membaca tulisan apapun selama 10 menit sehari
- Menulis diary, jurnal pribadi, dan
- Berbagi ilmu kepada orang terdekat
Mari biasakan membaca karena kalian sayang terhadap diri kalian sendiri, peduli terhadap pengetahuan. Bukan membaca hanya karena disuruh guru atau orang tua. Biasakan juga menulis untuk berbagi, untuk menyuarakan kegelisahan dan mengemukakan pendapat.
Semoga kedepannya, masyarakat Indonesia memiliki daya minat baca dan tulis yang lebih baik lagi.
메타데이터
- post_id
- 47e706d64c4b
- slug
- diajarkan-baca-tulis-tapi-minat-baca-tulis-masih-rendah-47e706d64c4b
- url
- https://medium.com/@dandymuazar/diajarkan-baca-tulis-tapi-minat-baca-tulis-masih-rendah-47e706d64c4b
- canonical_url
- https://medium.com/@dandymuazar/diajarkan-baca-tulis-tapi-minat-baca-tulis-masih-rendah-47e706d64c4b
- author_url
- https://medium.com/@dandymuazar
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 00:23:16