← Back to list

Reflection of 2025

Tahun 2025 mengajarkan aku untuk lebih banyak meneriman takdir-Nya tanpa banyak bertanya “kenapa” adalah suatu pencapaian yang akan selalu…

Soulful Stories · 2026-02-03 09:21 · 0 claps · 3.0 min read paywalled
#kehilangan #reflections #penerimaan #medium #medium-indonesia
Open on Medium ↗

Reflection of 2025

Tahun 2025 mengajarkan aku untuk lebih banyak meneriman takdir-Nya tanpa banyak bertanya “kenapa” adalah suatu pencapaian yang akan selalu aku syukuri.

Photo from Pinterest

Photo from Pinterest

Tahun 2025 telah berakhir, dan tahun 2026 pun sudah berjalan setidaknya hingga tulisan ini diunggah — kita telah melewati satu bulan pertama di tahun 2026. Entah sudah berapa lama saya tidak menulis dan mengunggah tulisan di Medium; mungkin hampir lima atau enam bulan saya berhenti menulis. Tulisan ini menjadi tulisan pertama saya kembali di awal tahun 2026.

Kali ini saya tidak ingin menulis resolusi untuk tahun 2026, karena sejujurnya tahun ini tidak banyak wish list yang saya tuliskan. Hanya beberapa, tetapi cukup besar maknanya untuk saya.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak pembaca — atau teman-teman Medium — melihat sedikit cuplikan akhir tahun saya di 2025.

Akhir tahun 2025 terasa berjalan begitu lambat, namun sekaligus terlalu cepat untuk dilewati. Tepatnya pada bulan September 2025, Allah menitipkan satu hal paling berharga dalam hidup saya melalui sebuah ikatan pernikahan. Saya hamil — sebuah rencana yang telah kami siapkan setelah satu tahun menikah. Kami merasa sudah siap menambah anggota keluarga, dan tentu kabar ini menjadi kebahagiaan besar, tidak hanya bagi kami, tetapi juga keluarga besar.

Setelah sekian banyak pertanyaan yang sering kami dengar — “kapan punya anak?” “kok belum isi?” “ayo jangan menunda-nunda rezeki” “semoga cepat dikasih keturunan, ya…”

dan masih banyak lagi pertanyaan serupa yang kerap dilontarkan kepada kami, terutama kepada saya.

Saat mengetahui kabar bahagia itu, dengan bangga saya sempat berpikir: “aku akan menjawab mereka yang setahun lalu selalu bertanya,” “akan aku jelaskan bahwa kami memang memilih menunggu satu tahun untuk mempersiapkan diri sebelum akhirnya siap menambah anggota keluarga,” “karena bagi kami, memiliki anak adalah sebuah tanggung jawab besar.”

Sayangnya, belum genap empat bulan — tepatnya pada minggu ke-11 kehamilan — saya harus menjalani pengeluaran janin karena terindikasi hamil mola.

Mungkin bagi sebagian orang, “dia hanyalah janin” yang belum bernyawa. Namun bagi saya, yang membersamainya selama sebelas minggu — mengajaknya berbicara, makan bersama, salat bersama, dan menjalani banyak momen kecil bersamanya — kehilangan ini sangat berarti.

Hari itu, dunia kami runtuh.

Banyak pertanyaan terus menghantui pikiran saya, mencoba mencari kesalahan atas ujian yang kami alami. “Apakah kami salah karena memilih menunda satu tahun demi persiapan?” “Apakah salah jika kami memilih menabung, menyiapkan mental, dan menghabiskan waktu berdua terlebih dahulu?” “Apakah benar kata orang, jika kita mengatakan menunda, maka Allah akan menunda?”

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala saya. Setelah menjalani kuretase, saya memilih menjauh dari media sosial dan nyaris tidak memiliki semangat untuk menjalani hari. Setidaknya dua bulan pascakuretase, barulah saya mulai kembali menjalani hari-hari dengan lebih tenang — tanpa banyak pertanyaan, tanpa menyalahkan apa pun, dan dengan perlahan menerima segala bentuk takdir yang telah Allah tetapkan.

Saya belajar meyakinkan diri bahwa sebagai manusia, kami memiliki keterbatasan. Banyak hal yang tidak bisa kami atur, bahkan ketika kami mencoba merencanakannya sebaik mungkin. Saya belajar bahwa sebaik-baiknya takdir adalah takdir-Nya.

Kami memilih untuk menerima semuanya. Kami yakin bahwa tidak akan hilang apa pun yang memang ditakdirkan menjadi milik kami, dan kami percaya bahwa ia akan kembali dalam keadaan yang jauh lebih baik.

Peristiwa ini mengajarkan kami untuk menjadi pribadi yang lebih legowo dan percaya bahwa kami boleh memiliki rencana, tetapi Allah pun memiliki rencana yang jauh lebih sempurna. Kami menyusun rencana sebagai bentuk ikhtiar agar hidup lebih terarah, namun seperti apa hasil akhirnya, sepenuhnya bukan kuasa kami sebagai manusia.

Kini peristiwa itu telah berlalu. Kami bahkan telah memulai tahun 2026 dan melewati satu bulan pertamanya. Di awal tahun ini, saya mendapatkan tawaran untuk bekerja paruh waktu sebagai Teacher Montessori di salah satu preschool di Bali — sebuah doa yang pernah saya panjatkan pada tahun 2024. Saya ingin memiliki pengalaman sebagai Teacher Montessori sebelum nantinya mengambil Diploma Montessori.

Bukan hanya itu, salah satu tulisan buku anak saya berhasil lolos kurasi. Meski masih dipublikasikan dalam bentuk web, hal ini tetap menjadi sesuatu yang sangat saya syukuri. Ini pun merupakan salah satu doa saya sejak tahun 2024: saya ingin berkarier di bidang anak-anak.

Saya percaya bahwa semua ini terjadi atas takdir terbaik-Nya. Allah mengabulkan doa-doa saya dengan cara-Nya — cara yang menurut-Nya jauh lebih baik.

Saya percaya bahwa setiap doa selalu dikabulkan pada waktu yang tepat. Saya percaya bahwa apa yang Allah rencanakan jauh lebih baik daripada apa yang saya dan suami rencanakan. Sekali lagi, karena kami hanyalah manusia yang terbatas, kami memilih untuk terus belajar menerima setiap takdir-Nya, karena pada akhirnya, semuanya akan selalu berujung pada kebaikan.


메타데이터
post_id
47f040f0c679
slug
reflection-of-2025-47f040f0c679
url
https://medium.com/@sitirahmah.mawarni98/reflection-of-2025-47f040f0c679
canonical_url
https://medium.com/@sitirahmah.mawarni98/reflection-of-2025-47f040f0c679
author_url
https://medium.com/@sitirahmah.mawarni98
status
ok
fetched_at
2026-08-07 23:02:39