← Back to list

Perbedaan Kualitas Klinik Pratama

Belakangan ini saya beberapa kali mengunjungi klinik pratama. Entah karena memang saya yang sakit dan juga mengantarkan ART yang sakit…

Edwin Hardi in Komunitas Blogger M · 2024-12-25 02:17 · 103 claps · 3.9 min read paywalled
#kesehatan #komunitas-blogger-medium #bahasa-indonesia #klinik #jaminan-kesehatan
Open on Medium ↗

Perbedaan Kualitas Klinik Pratama

Belakangan ini saya beberapa kali mengunjungi klinik pratama. Entah karena memang saya yang sakit dan juga mengantarkan ART yang sakit. Kebetulan saya pun berkunjung pada beberapa klinik pratama berbeda sehingga dapat membandingkan satu sama lain.

Awalnya saya pikir semua klinik pratama memiliki kualitas yang sama saja. Baik dari segi fasilitas, pelayanan, dan juga sistem operasional. Logis saja kan karena klinik yang melayani peserta program BPJS tentu telah melewati standarisasi dan sertifikasi.

Namun setelah diperhatikan, terdapat sejumlah kualitas antar klinik pratama.

*Belum menjadi anggota Medium? Klik di sini untuk akses gratis artikel ini.*

Photo by Mufid Majnun on Unsplash

Photo by Mufid Majnun on Unsplash

Pengalaman berkunjung ke fasilitas kesehatan tentu bukan hanya saat berinteraksi dengan dokter saja. Namun dimulai sejak kita memarkirkan kendaraan, menjejakan kaki di pintu masuk, berinteraksi dengan petugas keamanan (bila ada), proses pendaftaran, proses menunggu giliran, pemeriksaan, penebusan obat, sampai meninggalkan lokasi.

Oh iyah, belum lagi kalau kita menggunakan fasilitas seperti toilet, tempat menyusui, dan lainnya.

Serangkaian aktivitas kita dalam berobat ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tentu ada banyak faktor yang memengaruhi tingkat kepuasan kita dalam kunjungan ini. Namun setidaknya terdapat tiga faktor yang berpengaruh besar, yaitu fasilitas, pelayanan, dan tenaga medis.

Kualitas Fasilitas

Untuk dapat beroperasi sebagai klinik pratama tentu harus memenuhi persyaratan yang harus dipenuhi. Seperti ketersediaan perlengkapan, ukuran ruangan, jumlah ruangan, dan lainnya. Terdapat persyaratan dasar dan ada juga ruang untuk pengembangan lebih lanjut.

Dari beberapa klinik yang dikunjungi, saya menemukan perbedaan kualitas fasilitas yang dapat sangat memengaruhi pengalaman berkunjung. Meskipun telah memenuhi syarat, perbaikan fasilitas tetap dapat dilakukan dan memberikan kesan yang lebih positif. Terlebih lagi biaya perbaikannya relatif tidak besar.

Contohnya seperti pencahayaan ruangan. Di beberapa klinik terkesan lebih kumuh karena pencahayaan yang lebih redup meskipun di pagi atau siang hari. Di sisi lain, klinik terakhir yang saya kunjungi memiliki tata ruang baik yang memungkinkan cahaya matahari masuk.

Kebersihan ruangan pun sangat memengaruhi kesan dari klinik. Meskipun semua klinik memiliki kesan bersih. Namun banyak detail yang biasanya dilewatkan saat pembersihan dan perawatan ruangan sehari-hari. Misalnya debu yang menempel di tempat duduk ruang tunggu atau tembok yang sudah kusam.

Meskipun klinik yang satu memiliki fasilitas penunjang yang lebih lengkap seperti contohnya penyediaan televisi dan monitor petunjuk di ruang tunggu. Namun karena kebersihan dan kerapihan kurang diperhatikan ditambah lagi dengan ruangan reman-remang, kesan yang ditimbulkan relatif lebih buruk dibandingkan dengan klinik yang bersih dan rapih meskipun dengan fasilitas yang lebih terbatas.

Kualitas Pelayanan

Kualitas pelayanan pun sangat terasa di beberapa klinik yang saya kunjungi. Dimana pada klinik yang satu memiliki staf penjualan dengan pelayanan seadanya , sementara klinik lainnya berlaku lebih profesional. Meskipun sama-sama berstatus sebagai klinik pratama terasa sekali kualitas pelayanan.

Mulai dari cara berinteraksi saja sudah mulai terlihat. Kita dapat rasakan apakah staf tersebut berinteraksi dengan kita karena keterpaksaan atau betul-betul bersikap profesional. Tentu tidak ada pasien yang mau dilayani dengan sikap ketus apalagi tidak dianggap. Apalagi dalam kondisi sakit yang tentu memengaruhi mood saat berkunjung.

Begitu pula dengan standar operasional yang dijalankan. Tentu staf pelayanan klinik sudah dilatih untuk menjalankan SOP yang benar. Namun di luar itu tentu setiap stafnya juga diminta untuk betul-betul memberikan empatinya kepada pasien.

Coba perhatikan saja bahasa Inggris dari tenaga pelayanan kesehatan. Mereka menyebutnya ‘Health Care Workers’ bukan Health Service Workers atau kata lainnya. Perhatikan penggunaan kata ‘Care’ dalam istilah tersebut. Karena memang setiap tenaga pelayanan kesehatan diharapkan berempati dan betul-betul memperhatikan kondisi pasien yang ditangani, bukan sekedar menjalankan fungsi dan peran.

Kualitas Dokter dan atau Tenaga Medis

Sejak dulu sampai bulan lalu, saya selalu mengunjungi satu saja klinik pratama. Saya sangka standar pemeriksaan dokter dan tenaga medis pendukungnya di tingkat ini memang seperti yang saya alami.

Dimulai dari pemeriksaan suhu tubuh, berat badan, tekanan darah, dan pertanyaan singkat mengenai keluhan oleh suster. Dilanjutkan menunggu sampai akhirnya mendapat giliran konsultasi dengan dokter.

Setiap kali berkunjung ke klinik ini, pemeriksaan oleh dokter muda yang hanya sebatas tanya jawab keluhan yang dialami dan pemeriksaan melalui stetoskop di punggung. Oh iyah kebetulan beberapa kali keluhan saya kurang lebih sama yaitu batuk, pilek, dan radang tenggorokan.

Saya kira karena ini klinik pratama, standar pemeriksaannya memang ala kadarnya seperti ini. Pemeriksaan yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan dokter umum di fasilitas kesehatan lainnya. Namun ternyata saya salah.

Namun minggu lalu saya iseng berkunjung ke klinik pratama lainnya. Dengan keluhan yang sama yaitu pilek dan sedikit batuk, namun ternyata pemeriksaan yang dilakukan jauh lebih teliti. Ia pun melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan suster, termasuk pemeriksaan tekanan darah, suhu tubuh, dan lainnya. Dokter di klinik ini berusia sepuh namun masih cekatan.

Dokter di klinik ini meminta saya untuk berbaring, kemudian ia memeriksa dengan stetoskop, memeriksa tekanan darah, memijat-mijat perut untuk mengetahui indikasi kembung, meminta saya membuka mulut untuk dilihat kondisi tenggorokan. Di sini barulah saya sadar kalau pemeriksanaan dokter umum klinik pratama memang seharusnya sama dengan dokter umum di fasilitas kesehatan lainnya.

Ironisnya, dokter muda di klinik pertama ini datang dengan mobil listrik keluaran terbaru. Sementara di klinik kedua, dokter telah berusia sepuh dan datang dengan mobil keluaran lama. Namun sangat jelas perbedaan kualitas pemeriksaan antara keduanya. Dokter yang pertama sangat seadanya sementara dokter kedua memeriksa dengan teliti pada kasus penyakit yang sama.

Tapi tentu dokter muda ini masih lebih baik dari dokter kecantikan yang kerap kali dibicarakan orang akhir-akhir ini. Dokter yang terang-terangan ingin menjadi dokter terkaya di Indonesia, lengkap dengan sikap suka pamer kekayaan, sikap kontroversial, dan malah membuat hoax.

Penutup

Bisa jadi kawan-kawan pembaca telah mengetahui kualitas pelayanan yang berbeda antar klinik pratama. Tapi saya baru sadar akhir-akhir ini. Tentu ke depannya saya mempertimbangkan untuk mengganti pilihan klinik pratama pada program BPJS ke klinik yang dapat memberikan pelayanan yang lebih baik.

Dengan jumlah iuran dengan nilai sama yang telah dibayarkan, tentu kita memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal. Terlebih lagi karena ini berkaitan dengan kesehatan kita.

Penulis terus berupaya menyempurnakan diri melalui media tulisan. Tepuk tangan dan komentar teman-teman sangat berharga bagi penulis untuk meneruskan karyanya.


메타데이터
post_id
480990bca14b
slug
perbedaan-kualitas-klinik-pratama-480990bca14b
url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/perbedaan-kualitas-klinik-pratama-480990bca14b
canonical_url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/perbedaan-kualitas-klinik-pratama-480990bca14b
author_url
https://medium.com/@valentino.edwin
status
ok
fetched_at
2026-07-18 21:18:07