Melelahkan Sekali Profesionalitas yang Berdiri Sendiri
Dari Ibu Dewi, aku merefleksikan diri bahwa menciptakan ruang nyaman di pekerjaan tidak ada salahnya juga untuk dilakukan
Melelahkan Sekali Profesionalitas yang Berdiri Sendiri
Dari Ibu Dewi, aku merefleksikan diri bahwa menciptakan ruang nyaman di pekerjaan tidak ada salahnya juga untuk dilakukan
Baca gratis di sini.
Hari ini aku bertemu dengan Ibu Perawat di kereta perjalanan Cirebon-Tangerang. Beliau sering melongok ke papan pemberhentian yang ada di depan, terlihat bingung —sehingga aku bertanya tujuan akhirnya. Dan tujuan akhir beliau di Bekasi. Masih dua jam dari itu.
Photo by Leandro Maldini on Unsplash
Aku kemudian melanjutkan tidur. Lalu tiba-tiba ada pegawai KAI menyodorkan cokelat panas. Ternyata itu pesanan ibu tersebut. Yang ternyata juga, itu adalah minuman untuknya berbuka. Dzulhijjah memang bulan orang muslim sering berpuasa, jadi ingat ibuku — beliau pun suka melakukan itu.
Namanya Ibu Dewi. Waktu perjalanan ke Bekasi satu jam lagi, beliau memberikanku air minum —yang jujur saja, aku memang tidak membawa air minum. Aku merasakan kasih Tuhan tiada habisnya ketika momen itu, karena meskipun aku tak minta, Tuhan tahu aku memang membutuhkannya.
Ibu Dewi banyak berbincang denganku setelah itu. Dan kau tahu? Dia bekerja di Yogyakarta. Kadang di Semarang, kadang di Jakarta. Sebagai perawat lepas untuk para lansia. Jadi sistem kerjanya memang di rumah para lansia itu. Kadang dua bulan, kadang beberapa bulan. Masa kerjanya tak tentu.
Perbincangannya lumayan lama. Agak ngalor-ngidul, tetapi tetap satu laju. Mungkin, karena kita berdua sama-sama memiliki latar belakang dunia kesehatan, sehingga rasanya setiap pertanyaan begitu mengalir untuk keluar dari mulut kami masing-masing.
Semua obrolan kemudian terhenti fokusnya pada satu kalimat yang membuatku berpikir sepanjang sisa hari itu. Katanya, yang mempermudah pekerjaan adalah rasa nyaman. Kita sebisa mungkin —usahakan untuk membuat orang-orang atau rekan kerja nyaman. Ketika mereka nyaman, apa pun yang kita lakukan akan lebih mudah berjalan.
Dalam hal ini, mari ambil contoh dari Ibu Dewi. Beliau bekerja sebagai perawat lansia, di rumah lansia tertentu. Ibu Dewi selalu berusaha membuat lansia merasa nyaman dengannya. Memberikan ketulusan sepanjang dan sedalam mungkin ketika melayani. Dengan begitu, ketika ada situasi tertentu yang ingin dilakukan seperti izin pulang kampung, atau izin keluar rumah karena ingin membeli makanan untuk berbuka puasa —dapat dengan mudah izinnya diterima. Pun, ketika melakukan kesalahan, para lansia dapat dengan mudah mengasihi atau berempati dengan Ibu Dewi.
Setelah berlama-lama aku memikirkan itu. Aku kemudian menuliskan ini. Sembari merefleksikan diri, bahwa sepertinya aku pun harus menerapkan itu. Rasanya terlalu melelahkan jika bekerja hanya bermodalkan profesionalitas tanpa keluar dari jerat itu. Memberikan rasa nyaman, atau tulus yang sesekali dilakukan —sepertinya tidak ada salahnya. Kalau itu memberikan dampak, artinya bagus. Kalau pun tidak, tidak rugi juga.
Jadi, bagaimana denganmu? Apakah kamu pun menerapkan itu? Jika iya, adakah dampaknya untuk keseharianmu?
— Storytelling — Akhyatun Nisa
메타데이터
- post_id
- 4892ea4dd8ac
- slug
- melelahkan-sekali-profesionalitas-yang-berdiri-sendiri-4892ea4dd8ac
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/melelahkan-sekali-profesionalitas-yang-berdiri-sendiri-4892ea4dd8ac
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/melelahkan-sekali-profesionalitas-yang-berdiri-sendiri-4892ea4dd8ac
- author_url
- https://medium.com/@akhyatunnisa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 18:57:25