Mengenal Skeptisisme Neo-Pyrrhonisme
Aenesidemus berpendapat bahwa segala sesuatu tidak dapat dipahami dan tidak dapat diketahui pada dirinya sendiri.
Mengenal Skeptisisme Neo-Pyrrhonisme
Aenesidemus berpendapat bahwa segala sesuatu tidak dapat dipahami dan tidak dapat diketahui pada dirinya sendiri.

Source: ICS
Seperti yang telah saya bahas dalam tulisan sebelumnya, bahwa bangkitnya Skeptisisme Akademi menandakan akhir Pyrrhonisme. Sebab setelah Timon, Pyrrhonisme tidak mengalami regenerasi (termasuk fakta bahwa Pyrrho tidak menuliskan apa pun tentang pemikirannya). Lebih dari itu, pengaruh aliran-aliran filsafat lain juga sangat memengaruhi jatuhnya Pyrrhonisme ini seperti Epikureanisme, Stoikisme, dan bahkan Akademi Plato.
Namun, meskipun pengaruh Akademi yang dianggap mewarisi semangat Pyrrho—terutama ketika Skeptisisme Arcesilaus mengambil alih wacana pemikiran di Akademi—sangat besar dan tersohor, bukan berarti sekolah ini sekuat dan semasyhur namanya. Sebab seperti aliran-aliran yang pernah ada sebelumnya, pada akhirnya sekolah ini jatuh juga karena gagal menjawab tantangan zaman.
Belum berlangganan? Baca gratis di sini!
Setelah meninggalnya Arcesilaus, Skeptisisme Akademi lalu diteruskan oleh Carneades. Meskipun Arcesilaus memiliki tiga murid lain seperti Lacydes, Evandrus, dan Hegesinus, namun tidak ada yang lebih baik selain Carneades. Bahkan menurut beberapa penulis sejarah filsafat, Carneades telah melampaui Arcesilaus.
Sayangnya, ini tidak berlangsung lama. Sebab hanya dalam beberapa dekade saja kredibilitas Skeptisisme Akademi menurun, alih-alih meningkat. Beberapa alasannya adalah: Pertama, karena perdebatan antara Skeptisisme Akademi dan Stoikisme, terutama antara Chrysippus dan Carneades; Kedua, karena konflik internal antara Carneades dan Arcesilaus; Ketiga, karena perbedaan pandangan antara Carneades dan murid-muridnya seperti Clitomachus dan Philo of Larissa; dan terkahir karena pengaruh gereja dan Neo-Platonisme di era Cicero.
Tetapi ini bukan tanda berakhirnya Skeptisisme Yunani. Sebaliknya, ini menjadi fajar baru bagi aliran yang dipelopori oleh Pyrrho ini. Bahkan, jika saya boleh mengatakan: Pasca-Akademi, Skeptisisme justru kembali “disucikan” dari dogma-dogma Platonisme dan Stoikisme. Figur yang menjadi tokoh kunci dalam gerakan purifikasi Skeptisisme ini adalah Aenesidemus.
Sayangnya, “masa hidup Aenesidemus kurang pasti,” mengingat informasi yang kita miliki tentang dia sangat terbatas, bahkan nyaris tidak ada bukti pasti tentang kehidupan Aenesidemus. Sedikit yang kita ketahui berasal dari Pyrrhonian Discourses’ di Myriobiblion of Photius dari abad ke-9, serta beberapa penyebutan namanya dalam karya-karya Sextus Empiricus, Diogenes Laertius, Aristocles of Messene, dan Tertullian.

Aenesidemus
Namun begitu, sebelum saya menjelaskan siapa sosok Aenesidemus ini—dan seperti apa gagasan-gagasan yang dia tawarkan—saya kira penting untuk melacak hubungan atau sanad keilmuan Aenesidemus dengan Pyrrho, mengingat dia lah yang nanti membangkitkan kembali tradisi Pyrrho itu sendiri.
Menurut Diogenes Laertius (Buku ke-9, ayat 115–116), ada dua pandangan yang berbeda tentang Timon, murid Pyrrho, berkenaan dengan penerusnya: Pandangan pertama adalah dari Menodotus, bahwa Timon tidak memiliki murid atau penerus sama sekali sehingga menyebabkan Pyrrhonisme mengalami kemunduran yang signifikan. Tetapi ada pendapat kedua dari Hippobotus dan Sotio, yang mengatakan bahwa Timon memiliki beberapa murid, yaitu Dioscurides of Cyprus, Nicolochus of Rhodes, Euphranor of Seleucia, dan Praylus of the Troad.
Euphranor, salah satu murid Timon, memiliki seorang murid yang bernama Eubulus yang mana nanti menjadi tokoh kunci kebangkitan Pyrrhonisme pasca-Timon. Eubulus memiliki seorang murid bernama Ptolemy. Lalu Ptolemy memiliki dua orang murid, Sarpedon dan Heraclides.
Dari Heraclides inilah Aenesidemus mempelajari Pyrrhonisme. Tetapi sebelum itu, Aenesidemus pernah belajar di Akademi di bawah bimbingan Philo of Larissa, murid Arcesilaus dan Carneades. Namun begitu periode ini tidak berlangsung lama, sebab Aenesidemus sering berselisih paham dengan teman-temannya di Akademi termasuk gurunya.
Menurut Aenesidemus, Skeptisisme Akademi mempraktikkan Skeptisisme secara tidak profesional dan “setengah-setengah”. Dan, tidak berbeda dengan apa yang telah saya jelaskan di tulisan sebelumnya, Aenesidemus juga menganggap bahwa Skeptisisme yang didirikan oleh Arcesilaus tersebut sangat dogmatis. Karena itulah Aenesidemus kehilangan ketertarikannya terhadap Skeptisisme Akademi, bahkan dia sampai menganggap bahwa sejak awal Skeptisisme Akademi sama sekali tidak memahami apa yang dimaksud dengan “Skeptisisme” itu sendiri.
Iklim pendidikan Akademi yang dianggapnya tidak lagi konsisten pada filosofi mereka sendiri tersebut membuat Aenesidemus merasa terasing dari civitas academica di sekitarnya. Bahkan sekalipun Akademi sering berdebat dengan para filsuf Stoa, di mata Aenesidemus itu bukan perdebatan antara Skeptisisme dan Stoikisme, tetapi perdebatan antara Stoik dan Stoik (Stoics fighting against Stoics). Sebab menurutnya Akademi dan Stoikisme sama saja: Dogmatis.
Adagium ‘Stoics fighting against Stoics’ di atas bermula dari perdebatan antara Akademi dan Stoikisme mengenai kesan “kataleptik”. Filsuf Akademi setuju dengan Stoikisme bahwa akal dapat membantu kita mencapai kebenaran.
Apa yang tidak disetujui oleh Akademi adalah tentang kepastian pengetahuan yang dipercayai oleh orang-orang Stoa. Bagi Akademi, kita tidak dapat mengetahui segala sesuatu dengan pasti. Sayangnya, tidak semua filsuf Akademi yang setuju dengan pendapat tersebut, salah satunya Antiokhus. Alih-alih membela sekolahnya sendiri, dia justru berpihak pada Stoikisme dan bahkan menentang pemikiran Philo of Larissa yang saat itu menjabat sebagai ketua Akademi.
Menurut Aenesidemus, itulah yang akan terjadi jika Skeptisisme keluar dari prinsip apochē-nya: Konflik internal. Baginya, Skeptisisme murni mustinya mengikuti Socrates dan Pyrrho, bukan Plato dan Arcesilaus. Apa yang membedakan keempat figur tersebut menurut Aenesidemus adalah jalan skeptis yang mereka tempuh. Socrates dan Pyrrho tidak mengklaim atau membenarkan sesuatu, bahkan pada metode mereka sendiri. Itulah mengapa Socrates terus-menerus melemparkan pertanyaan, alih-alih mengeluarkan pernyataan.
Di sisi lain, Plato dan Arcesilaus sendiri, meskipun keduanya mengagumi Socrates dan Pyrrho, justru melakukan kebalikannya. Mereka membuat klaim dogmatis, bukan hanya pada argumentasi mereka yang “skeptis”, tetapi juga pada “jalan skeptis” itu sendiri.
Akademi bagi Aenesidemus telah meninggalkan ajaran Skeptisisme awal yang ketat mempraktikkan apochē. Mereka terkesan seperti “Stoikisme versi lite”. Karena Skeptisisme yang dikenalnya tidak lagi memuaskan, Aenesidemus pun memutuskan hubungannya dengan Skeptisisme Akademi dengan mensintesis ajaran Heraclitos dan Timon di bawah bimbingan Heraclides. Dengan demikian dia lalu mendirikan sekolahnya sendiri yang nanti dikenal sebagai Neo-Pyrrhonism.
Aenesidemus memulai pemikirannya dengan membedakan antara Skeptisisme Akademi dan Pyrrhonisme. Menurutnya Skeptisisme Akademi jelas melakukan dogmatisasi dengan, tanpa ragu-ragu, membuat klaim positif atau pembenaran terhadap sesuatu sembari terang-terangan menyalahkan lainnya. Sedangkan Pyrrhonisme tetap konsisten pada pendiriannya dengan melakukan “suspend of judgement” atau penundaan penilaian terhadap apapun.
Objek dan Propertinya
Seperti Pyrrho, Aenesidemus berpendapat bahwa segala sesuatu tidak dapat dipahami dan tidak dapat diketahui pada dirinya sendiri. Gagasan ini mengingatkan kita pada pemikiran Kant tentang “fenomena” (sesuatu yang tampak padaku) dan “noumena” (sesuatu itu sendiri—das ding an sich). Tetapi Aenesidemus melangkah lebih jauh dari Kant.
Dia berpendapat bahwa semua hal berada di luar jaring-jaring pengetahuan kita, sehingga tidak ada yang dapat diketahui secara pasti termasuk hakikat kebenaran, kausalitas, gerak, dan lain-lain.
Hal ini meniscayakan relativitas, bukan hanya indera tetapi juga pikiran itu sendiri. Olehnya, Aenesidemus menolak proposisi-proposisi linear seperti A = B atau A hakikatnya B (atau sebaliknya). Alih-alih, Aenesidemus berkata bahwa “Semuanya tidak lebih daripada penampakan ini daripada itu, atau bahwa kadang-kadang hal itu sesuai dengan ini dan kadang-kadang itu, atau sekali lagi setiap orang memiliki kesan dan deskripsi yang berbeda tentang sesuatu, terkadang ini atau itu, dan bahkan bagi sebagian lainnya menyatakan bukan keduanya sama sekali…” Sederhananya, setiap hal memiliki beberapa sifat dan penampakan yang bergantung pada pengamat dan kondisi-kondisi yang menyelubunginya.
Agar mudah dipahami saya berikan penggambaran sederhana. Mengingat Aenesidemus percaya bahwa kita tidak dapat mengetahui hakikat atau kebenaran sesuatu kecuali sifat atau penampakannya yang hadir di pikiran kita dari dunia luar sebagai pengamat, maka pengetahuan kita hanya terbatas pada kesan-kesan kita terhadap suatu objek, misalnya madu.
Kita mengenal madu memiliki properti atau sifat “manis”. Indera dan pikiran kita hanya dapat memahami sifat yang dimiliki madu, tetapi bukan madu itu sendiri. Sebab sifat madu bukanlah madu itu sendiri. Singkatnya rasa manis bukanlah madu, dan madu tidak sama dengan manis; manis tidak harus madu dan tidak semua madu itu manis (ini relatif pada subjeknya).
Di sisi lain, manis-tidaknya madu bergantung pada subjeknya dan juga kondisi yang melatarbelakanginya entah pada madu itu sendiri, lingkungannya, maupun kondisi subjek itu sendiri (misalnya, apakah subjeknya sehat atau sakit akan memengaruhi sifat madu). Inilah yang menyebabkan sifat madu menjadi relatif. Jadi, menurut Aenesidemus menahan penilaian tentang hakikat sesuatu sama dengan menahan penilaian terhadap proposisi apa pun.
Apakah Skeptisisme Pasif?
Ada kesalahpahaman umum yang menganggap bahwa dengan menjadi skeptis akan membuat kita menjadi pasif karena kita tidak dapat memutuskan sesuatu. Ini hal yang wajar, karena dengan melakukan apochē atau penundaan penilaian, artinya kita tidak dapat memutuskan apa pun.
Konsekuensinya, karena kita tidak dapat memutuskan apa pun, maka kita tidak dapat melakukan sesuatu. Sebab semua yang kita lakukan berasal dari penilaian dan keputusan kita. Bukankah kita mengambil keputusan terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan? Konsepsi umum tentang Skeptisisme semacam ini telah diluruskan oleh Aenesidemus seperti yang diabadikan oleh Diogenes Laertius:
“Bahwa Pyrrhonisme tidak mendefinisikan apa pun secara dogmatis dalam konteks kesetujuan atau ketidaksetujuan dan bahwa ia hanya mengikuti apa yang tampak saja (appearance).” (Diogenes Laertius, Buku ke-9, ayat 106).
Appearance inilah yang oleh Skeptisisme, baik Akademi maupun Pyrrhonisme, sebut dengan ‘criterion’. Di sinilah kata kunci yang membedakan Pyrrhonisme dan Akademi sehubungan dengan cara mereka mengambil tindakan dan keputusan dalam kondisi apochē atau suspend of judgement. Kedua aliran Skeptisisme ini sama-sama menganggap bahwa untuk menjalani hidup dan beraktivitas, kita membutuhkan sebuah penilaian terhadap sesuatu. Namun sebelum melakukannya, kita memerlukan kesan-kesan inderawi dan penilaian akal budi untuk menentukan apa yang harus dilakukan. Misalnya, keputusan saya untuk menjauhi api.

Sextus Empiricus, salah satu filsuf Neo-Pyrrhonisme
Saya menjauhi api karena kesan inderawiku berkata bahwa api tersebut berbahaya. Tapi proposisi bahwa “api itu berbahaya” (A = B) yang didasarkan pada criterion atau penampakannya akan ditanggapi secara berbeda oleh Akademi dan Pyrrhonisme. Bagi Akademi, proposisi tersebut—bahwa apa itu berbahaya—“tampak” benar dan olehnya keputusan saya untuk menjauhi api adalah keputusan yang benar.
Di sisi lain, bagi Pyrrhonisme proposisi tersebut “tampak” benar, namun “kami menangguhkan penilaian apakah berbahaya adalah sifat alami api.” Pyrrhonisme, lebih jauh, tidak dapat mengatakan bahwa tindakan saya yang menjauhi api sebagai tindakan yang benar (atau salah). Mereka percaya bahwa kita tidak pernah tahu apa yang benar dan yang salah.
Aenesidemus dan Heraclitos
Hal yang khas dari Aenesidemus adalah bagaimana dia mengawinkan Pyrrhonisme dan ajaran Heraclitos. Dia bahkan berkata bahwa “Pyrrhonisme adalah jalan menuju Heraclitos”, meskipun pengikutnya seperti Sextus Empiricus tidak setuju dengan pernyataan ini.
Aenesidemus mengembangkan tafsirannya sendiri tentang gagasan Heraclitos, terutama pemikirannya tentang kebenaran dan kesatuan antara dua hal yang berlawanan. Heraclitos menganggap bahwa hal-hal yang kontradiksi hakikatnya adalah sama dan satu. Gagasan ini lalu diteruskan oleh Aenesidemus bahwa hal-hal yang berbeda dan saling bertolak belakang pada dasarnya sama, yaitu sama-sama penampakan atau kesan.
Jadi, jika kita memiliki pemahaman berbeda tentang sesuatu, misalnya madu, itu bukan berarti kita memahami sesuatu yang berbeda melainkan kita memiliki kesan yang berbeda tentang sesuatu yang sama. Sebab pada akhirnya, manis-tidaknya madu, keduanya sama-sama hanyalah kesan yang sifatnya relatif. Keduanya tidak menjelaskan hakikat madu itu sendiri.
Daftar Pustaka
Bertrand Russell. ‘A History of Western Philosophy’. A Touchstone Book: New York, 1972.
Diogenes Laertius. ‘Lives of The Eminent Philosophers’. Terj. James Miller. Oxford University Press: New York, 2018.
Harald Thorsrud. ‘Ancient Scepticism’. Cet-2. Routledge: New York, 2014.
Peter Adamson. ‘Philosophy in The Hellenistic and Roman Worlds’. Oxford University Press: New York, 2015.
Roberto Polito. ‘Aenesidemus of Cnossus Testimonia’. Cambridge University Press, 2014.
‘The Cambridge Companion to Ancient Scepticism’. Ed. Richard Bett. Cambridge University Press, 2010.
메타데이터
- post_id
- 48df164997fe
- slug
- mengenal-skeptisisme-neo-pyrrhonisme-48df164997fe
- url
- https://medium.com/channel-filsafat/mengenal-skeptisisme-neo-pyrrhonisme-48df164997fe
- canonical_url
- https://medium.com/channel-filsafat/mengenal-skeptisisme-neo-pyrrhonisme-48df164997fe
- author_url
- https://medium.com/@fadlann
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-18 19:47:45