← Back to list

19 tahun hidup dalam kepalsuan.

Apa gunanya mempunyai umur panjang, jika kebahagian selalu kau baluti dengan luka dan kebebasanmu selalu kau pagari sendiri. Kesempatan…

Renjana Arunika · 2020-06-30 16:30 · 1 claps · 2.6 min read
#elegi #umur #dan #ajal
Open on Medium ↗

19 tahun hidup dalam kepalsuan.

Apa gunanya mempunyai umur panjang, jika kebahagian selalu kau baluti dengan luka dan kebebasanmu selalu kau pagari sendiri. Kesempatan untuk hidup telah diberi, lantas mengapa kau masih terkurung dalam penjaramu sendiri?

Apa gunanya mempunyai umur panjang, jika kau masih malu menampakkan dirimu sendiri sampai-sampai membuatmu layu dan tak kembali bersinar. Apakah kau membiarkan hidupmu selalu di penuhi dengan temaram? Ayolah, buang segala perspektif yang bisa saja menghunusmu seketika.

Benar kata mendiang ibuku, semakin kita berusia, semakin kita melihat arti kehidupan yang sebenarnya.**

Kita merindukan masa kecil yang tak membawa sedikit pun beban kehidupan. Merindukan masa yang dimana hanya mengetahui main dan makan saja. Untung saja mendiang ibuku telah menyelipkan motivasi dalam setiap lembaran buku-bukunya; mungkin ia sudah mengetahui, jika kehidupan anaknya tanpa kehadirannya akan begini.

Orang-orang yang mengenalku mengirimkan doa dan mengamini sendiri ucapan yang akan bermuara pada gawaiku. Sebenarnya, apakah doa itu benar-benar untuk saya? ataukah hanya eksistensi pertemanan saja? Tentunya saya senang dengan perayaan-perayaan kecil melalui virtual itu, walaupun sebenarnya dalam rumah sendiri acuh terhadap itu.

Dunia semakin lucu jika di lihat-lihat. Otakku pun begitu. Jika berkilas balik, saya masih mengingat betul percakapan dengan mendiang ibuku. Saya ingin merayakan ulangtahun yang ke-7 tahun di tempat makan yang mewah, di penuhi balon, juga lagu-lagu anak-anak, badut dan juga mengundang sanak keluarga maupun teman-teman. Mendiang ibuku mengiyakan dan berjanji.

Tapi takdir Tuhan memang tak disangka-sangka. Di saat usia saya sudah 5 tahun 7 bulan, Tuhan telah mengambil ibuku. Apakah ini perayaan ulangtahun untukku? ataukah sebuah kado dari Tuhan untukku?malam itu bagaikan malapetaka buatku, saya hancur, sedih, marah, dan hampir membunuh sanak keluarga saya. Lalu untuk apa hari lahirku kembali bertemu? toh, ia hanya memberiku potongan-potongan kejadian yang menyakitkan. Sangat menyakitkan.

mulai hari itu, anak pertama yang berumur 5 tahun mulai mati rasa dengan kebahagiaan. ia tak lagi menyukai warna pink, tak juga menyukai balon, tak juga menyukai mainan. Ia lebih banyak berdiam diri dan mengkhayal. Mana mungkin bisa anak sekecil itu sudah bisa berdamai dengan mereka sedang ia adalah saksi dari kemarahan-kemarahan ayah dan ibunya. Ia melupakan janji ibunya, perayaan wajib setiap tahunnya dan mulai hidup sebagaimana mestinya.

Syukurlah ia masih bisa tersenyum jika bertemu dengan orang-orang. Ia juga sangat hiperaktif dan mudah bersosialisasi dengan siapapun. benar-benar sangat jago dalam menyembunyikan kepalsuannya; bahwa ia hanyalah perempuan rapuh, menyedihkan, dan penuh luka yang membaluti tubuhnya.

itu tak penting untuk di ceritakan. kesannya terlalu meminta perhatian publik untuk mengasihani kehidupannya. Untungnya ia sangat tangguh dan kuat. jadi saya rasa ia tak membutuhkan itu.

Tak ada istimewah hari ini.

hari ini sama dengan hari biasanya.

tak ada doa yang istimewah hari ini.

doa ku sudah menggunung di langit sana.

Tak ada yang perlu di amini hari ini.

Toh, kehidupan memang sudah begini.

Beri saja sedikit motivasi

mungkin itu sedikit lebih baik.

Tapi saya turut senang, teman-teman sudah meluangkan waktu untuk mendoakan saya di hari yang seharusnya tak ada. Terima kasih untuk itu, semoga hidupmu selalu menyenangkan dan sehat selalu.

dan untuk Tuhan.

Terima kasih telah memberi saya umur sejauh ini. tapi tolong bantu saya menghapus dan mengubur hitam dalam hati saya. sejujurnya saya sudah lelah dengan keadaan ini. Tolong, buat saya hidup tanpa ada rasa amarah, trauma, dan luka. Saya sudah ikhlas dengan kepergian ibuku dan masalah perayaan ulangtahunku yang ke-7 tahun waktu itu. Tolong… bawa saya keluar dari bilik ini. hanya itu harapan dan doaku di umur yang tak lagi kecil. Semoga semesta mendengar dan mengamini.

Aku tumbuh dengan mewarisi keasingan diri. Kekecewaan menyentuh moralitas ketika ingatanku membela setiap kesalahan.

Aku tak menyerupai diriku lagi.

-Ibe S. palogai

-bilik gelap, linangan air mata, lagu Amin paling serius, dan juga doa, harapan yang sedang menghiasi langit malamku. melaporkan ditempat kejadian.

“Selamat berulang tahun, Renjana-

1 juli 2001/1 juli 2020

Renjana


메타데이터
post_id
4908e58fb3e2
slug
19-tahun-hidup-dalam-kepalsuan-4908e58fb3e2
url
https://medium.com/@renjanaarunikadwiaksa/19-tahun-hidup-dalam-kepalsuan-4908e58fb3e2
canonical_url
https://medium.com/@renjanaarunikadwiaksa/19-tahun-hidup-dalam-kepalsuan-4908e58fb3e2
author_url
https://medium.com/@renjanaarunikadwiaksa
status
ok
fetched_at
2026-07-29 00:11:46