← Back to list

Pengalaman 6 Bulan Menjadi Pustakawan Kampus

Artikel ini dipicu oleh tulisan Dwi C Prasetyo, — seorang Pustakawan yang bertugas di Universitas Muhammadiyah Pontianak-, Jangan Biarkan…

Ahmad Khoiron · 2026-07-09 14:11 · 59 claps · 2.7 min read
#perpustakaan #pustakawan #buku
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🛠️ · Crafts & DIY 🥊 · Combat Sports

Pengalaman 6 Bulan Menjadi Pustakawan Kampus

Artikel ini dipicu oleh tulisan Dwi C Prasetyo, — seorang Pustakawan yang bertugas di Universitas Muhammadiyah Pontianak-, *Jangan Biarkan Pustakawan Berjalan Sendirian *di publikasi Cerita Pustakawan.

Betapa senangnya mendapati publikasi tersebut. Kita(saya) sebagai pembaca buku yang sering mengeluhkan pelayanan dan fasilitas perpustakaan suatu instansi, bisa mendapatkan sudut pandang langsung dari seorang (semoga setelah ini menjadi “para”, karena banyak Pustakawan yang menulis di sana) Pustakawan. A1. Valid. Bukan sudut pandang dari ….ah sudahlah.

Begitu beratnya gempuran tantangan yang dihadapi Pustakawan: nasib bergantung pada instansi yang menaungi, banyak kerja administratif di luar kepustakawanan, ruang gerak dan berkembang yang terbatas. Kondisi yang juga dirasakan beberapa profesi krusial di bidang literasi: guru (guru madrasah apalagi), wartawan, penulis, penerbit+percetakan+penjual buku.

Kalau bukan karena api yang terus menyala di hati mereka, entah gimana jadinya.

Membaca artikel tersebut, mengingatkan saya pada pengalaman kerja paruh waktu sebagai Pustakawan kampus selama 6 bulan di masa kuliah dulu. (Dulu???)

Wajah website perpustakaan Universitas Widya Kartika. (Sumber: website kampus.)

Wajah website perpustakaan Universitas Widya Kartika. (Sumber: website kampus.)

Waktu itu saya yang berada pada posisi, “beli buku atau beli makan”. Kalaupun memutuskan untuk buku, perlu waktu mengumpulkan sampai nominalnya cukup untuk harga sebuah buku.

Mungkin hukum LAW sedang bekerja, saya mendengar kampus membuka kesempatan bagi para mahasiswa yang ingin kerja paruh waktu yang akan ditugaskan membantu kerja administrasi di beberapa prodi, BAK(Biro administrasi Kemahasiswaan) dan perpustakaan.

Perpustakaan menjadi incaran utama. Dapat. Meskipun selanjutnya dipindah ke prodi, tetap senang. Karena pindah ke prodi bahasa Mandarin. Prodi yang menaungi saya belajar.

Tentu senang sekali mendapatkan kesempatan tersebut. Saya bisa baca buku sepuasnya tanpa harus beli. Jatah buku, bisa buat makan. Biar daya konsentrasi lebih stabil.

Waktu itu ada 4 Pustakawan yang bertugas ditambah saya. Dibagi menjadi dua area kerja. Pertama di front office. Bertugas melayani peminjaman buku, sambil merawat koleksi buku, benerin sampul, mendata buku baru, merapikan buku, meletakkan kembali buku di rak.

Dua orang di belakang untuk pelayanan peminjaman skripsi. Pelayanan di sini yang paling stabil pengunjungnya. (Tapi membosankan.)

Saya bisa berada dimana saja. Tergantung area mana yang membutuhkan bantuan. Paling suka kerjaan mengembalikan buku ke tempat semula. Berlama-lama mengeja berbagai macam judul buku.

Berada di antara jajaran rak buku itulah, saya mengetahui karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Lengkap. Buku-buku entrepreneur, leadership, dan pengembangan diri. Dari situ pula saya mengenal nama-nama besar seperti Hermawan Kertajaya, Rhenald Kasali, Anthony Robin, Brian Tracy dll. Pertama kalinya saya membaca karya Dewi Lestari; Filosofi Kopi dari kumpulan cerpen Rectoverso.

Walau di perpustakaan sebagai Pustakawan, saya lebih sering berperan sebagai pemustaka. Lebih banyak membaca daripada memberikan pelayanan. Karena di jam operasional pagi: 08.00–16.00, hanya ramai pengunjung sebelum dan setelah makan siang. Antara pukul 11.00–13.30. Pukul 14.00 sudah sepi, tinggal 3–4 orang. Sedangkan jam malam; 18.00–20.30, yang disediakan untuk mahasiswa kelas malam, minim pengunjung. Kalaupun ada, hanya 4–5 orang, dan tidak lama.

Selain buku, saya juga jadi rutin membaca koran. Utamanya tulisan Dahlan Iskan dan kolom-kolom opini dari banyak penulis. Tulisan AS Laksana selalu ditunggu-tunggu. Juga berita olahraga tentunya.

Oh iya, di perpustakaan ada sekelompok buku tertentu yang hanya bisa dipinjam di tempat. Seperti kamus, buku-buku sejarah lama(misalnya Di Bawah Bendera Revolusi, karya Soekarno), dan beberapa buku yang dianggap babon. Nah saya dengan mudah mengaksesnya. Bisa bawa pulang juga wkwkw

Mungkin karena fokus utama saya saat itu kerja paruh waktu, sepinya pengunjung tidak berdampak apa-apa pada saya. Menyayangkan sih iya. Tapi tidak sampai mengganggu.

Saya tidak pula belajar bagaimana mendata buku baru, menyortir buku-buku yang mesti diganti, dan banyak ilmu kepustakawanan lainnya.

Kepala Pustakawan merancang berbagai kegiatan/apresiasi agar mahasiswa gemar mengunjungi perpustakaan. Tiap bulan ada apresiasi bagi mahasiswa yang paling berkunjung. Sesekali ada lomba menulis resensi, opini dengan tema tertentu.

Sayangnya, saya tidak terlalu memperhatikan, apakah upaya-upaya itu membuahkan hasil. Dan banyak hal lain yang kini saya sayangkan.

Yang saya ingat, senyum sumringah kepala Pustakawan tiap sore, saat mendapati rekap absensi yang penuh. Atau senyum kecutnya, saat jumlah pengunjung tidak melebihi jumlah jari dari kedua tangan. .

Terakhir, yuk ramaikan publikasi Cerita Pustakawan, dan yang terpenting: Jangan biarkan Pustakawan berjalan sendirian.

Sidoarjo, 09 Juli 2026.


메타데이터
post_id
49b6e137a548
slug
pengalaman-6-bulan-menjadi-pustakawan-kampus-49b6e137a548
url
https://medium.com/@ahmadkhoiron/pengalaman-6-bulan-menjadi-pustakawan-kampus-49b6e137a548
canonical_url
https://medium.com/@ahmadkhoiron/pengalaman-6-bulan-menjadi-pustakawan-kampus-49b6e137a548
author_url
https://medium.com/@ahmadkhoiron
status
ok
fetched_at
2026-08-31 15:16:03