in silence, my love can be heard.
Yushi duduk dipinggir kasur sambil membaca hasil evaluasi triwulan yang diterima malam ini. Ada coretan pena dari para eksekutif agensi…
in silence, my love can be heard.

please refrain taking it out from this story.
Yushi duduk dipinggir kasur sambil membaca hasil evaluasi triwulan yang diterima malam ini. Ada coretan pena dari para eksekutif agensi pada selembar kertas yang ia genggam isinya penilaian terhadap kinerja Yushi sebagai anggota dari group binaan mereka.
“Mohon partisipasi aktif dalam percakapan dan perbaiki responmu pada saat interview” “Saudara Tokuno terlalu pasif saat menghadiri interview dan acara ragam” “Saudara Tokuno memiliki fanbase yang kuat dan sangat disayangkan jika tidak bisa diperlihara melalui kegiatan interaktif, kami butuh saudara untuk lebih ekspresif ketika berinteraksi.”
Ekpresif, interaksi, aktif, partisipasi. Yushi rasanya mau menangis melihat empat kata itu selalu ada dalam penilaian kinerjanya. Selalu menjadi catatan dalam tiap evaluasi, disaat dia sudah berusaha setengah mati untuk melakukan semua yang diminta agensi. Semangatnya runtuh dan ingin rasanya ia berterus terang menjelaskan alasann atas sikapnya namun sesuatu dalam dirinya menahan.
“Hyung, apakah aku boleh masuk?” Suara Jaehee terdengar dari balik pintu yang tergeser memunculkan bayangan diri yang tercetak dilantai kamar karena pantulan cahaya dari ruang tengah.
Yushi tidak mendengar, ia masih terduduk dengan suratnya dan bertarung dengan isi kepalanya. Jaehee tahu kakak kecilnya sedang sedih sebab pundak lebarnya tidak lagi terangkat seperti biasanya dan dia sudah memperhatikan sejak tadi sore sepulang mereka dari kantor pusat.
Jaehee menutup pintu kamar yang ia bagi bersama Yushi, meletakkan ponselnya dimeja sebelum mengambil tempat dihadapan Yushi, perlahan ia mendudukan tubuh besarnya dilantai sehingga kini wajahnya sejajar dengan kertas evaluasi yang dipegang Yushi. Yang duduk dihadapannya tidak memberi respon, maka diambilnya kertas itu — berharap Yushi akan melihatnya karna perasaan kosong yang timbul.
“Hyung” panggil Jaehee pelan.
Yushi mendongak, menatap Jaehee yang memberinya tatap mata khawatir. “Jaehee..”
“Aku tahu” ujar Jaehee menenangkan. Tangannya meraih milik Yushi, menautkan jari demi jari mereka secara perlahan sambil berharap kalau itu cukup memberi sinyal kalau dia bisa runtuh dihadapannya.
“I did my best” pengakuan itu lolos dari bibir manis Yushi — membuat Jaehee ikut merasa sedih. “Im trying..”
“Aku tahu, Hyung” lagi ia remat jemari pria dihadapannya. “Kamu pasti sedih”
Satu pengakuan dari Jaehee cukup memberi perubahan emosi yang signifikan sebab kini mata Yushi mulai basah, dan sesak didadanya berkecamuk minta diluapkan. Tubuh Yushi menegang atas sensasi hangat yang ia terima dari Jaehee, mengirim sinyal pada otaknya untuk melepas emosi yang tertahan. Lantas ia mulai terisak dengan kepala tertunduk.
Jaehee tidak mengucap sepatah kata, ia hanya diam ditempatnya dan menatap Yushi. Tidak ada kalimat penghiburan, ataupun permintaan untuk Yushi hentikan tangis — hanya ada usapan kasih sayang yang menangkan dari Jaehee.
Ini bukan kali pertama Yushi menangis akibat evaluasi kerja, dan bukan kali pertama ia hancur dihadapan Jaehee. Yang muda memahami semuanya, bagaimana Yushi kesulitan mengungkapkan perasaannya — yang selalu menjadi masalah dan sumber evaluasi atas kinerjanya dan yakinlah dalam diam dia berusaha memimpin kakaknya untuk lebih aktif dalam setiap kesempatan.
“Aku peluk ya, mau?” Jaehee beranjak untuk meraih Yushi dalam dekapnya, yang disambut oleh Yushi dengan menyembunyikan wajahnya dalam ceruk leher sigemini.
“Kalau udah tenang, nanti kita turun yuk temenin aku beli eskrim”
Yushi mengangguk ditengah isakannya yang justru semakin kencang. Yakinlah dia bersyukur Jaehee debut bersamanya dalam acara pencarian bakat itu, sebab siapa yang bisa tahan menghadapi dirinya selama dua tahun terakhir dengan jadwal padat dan moodnya yang acap kali berubah tanpa diminta ?
Yushi pikir semua teman-temannya akan punya batas waktu dalam menghadapi sikapnya yang susah ditebak, maka Yushi tidak pernah membiarkan dirinya bergantung secara emosional pada apapun sejak ia bergabung dengan agensinya saat ini. Ia melihat terlalu banyak asa yang putus, melalui banyak pertemuan dan perpisahan singkat, dan dia melihat banyak luka yang lahir dalam proses meraih mimpi. Salah satu alasan kenapa dia akhirnya mengalami penundaan emosi dan meragukan banyak hal.
Tapi Jaehee adalah sosok yang ia temui dan mengejutkannya sebab dia layaknya anak anjing kecil yang polos dan mengikutinya seperti majikan. Jaehee tidak pernah protes — justru berusaha memahami dirinya dan membagi cinta yang dia peroleh dari keluarganya untuk dirinya. Dia bagaimana payung yang melindungi Yushi dari rintik hujan dimalam hari.
“Hyung, kita coba lagi ya?” ucapn jaehee sembari mengusap belakang kepala Yushi. “ada aku, kita coba sama-sama lagi”
kita coba sama-sama lagi. Bertahun-tahun menjadi trainee membuat Yushi paham arti kata ‘coba lagi’ dan dia selalu siap dengan itu, kegagalan adalah teman baiknya sebelum kelima temannya yang saat ini ia ajak hidup bersama.
Sosok Jaehee membuat kalimat itu terdengar lebih bermakna dan inda, juga hangat. Fakta bahwa dia tidak harus mencoba semuanya kembali seorang diri namun kini anak pria itu disisinya cukup membuat Yushi memulihkan keyakinan dirinya yang terkoyak.
“Mau” ujar Yushi. “Mau coba lagi asal sama Jaehee”
Jaehee tersenyum mendengar kalimat itu. “Iya sama aku, selalu sama aku”
Yushi kini sudah lebih tenang meski masih tersisa isakan yang menyesakkan dada, namun kini dia bisa mengatur nafas sambil beristirahat pada pundak Jaehee yang lebar.
“Kamu nggak pegal?” tanya Yushi ketika menyadari posisi Jaehee yang menumpu tubuhnya dengan kedua lutut selama ia menangis.
“Nggak”
“Bohong”
“Hehe” Jaehee terkekeh. “Dikit sih, soalnya karpet kamar kita tipis”
“Dasar” Yushi menepuk punggung Jaehee sebelum menarik diri, namun lebih dulu ditahan oleh Jaehee.
“Ck, katanya mau beli eskrim. Lepas dulu”
Yushi bisa merasakan Jaehee menggelengkan kepalanya sebab surai pria itu menggelitik sisi wajahnya.
“Mau gini dulu lebih lama” pintanya. “Kangen”
Betul, jadwal konser padat, jumpa penggemar dan promosi album yang mereka lakukan tiga bulan terakhir sangatlah gila. Semua terjadi sangat cepat dan membingungkan, ada hari mereka berenam tidak ingat jadwal atau sekedar melewatkan waktu makan untuk digunakan tidur singkat. Jangakan bercengkrama bak kekasih, bisa makan tanpa terburu-buru saja rasanya susah. Malam ini Yushi turuti perintah Jaehee yang ingin memeluknya lebih lama — karena dia juga butuh itu.
Yushi maupun Jaehee tidak lagi bertukar kata, mereka saling mencari kenyaman dalam ceruk leher satu sama lain.
Yushi tidak pernah melihat sosok pekerja keras selain dirinya dan Sion, namun saat melihat Jaehee dia kagum bukan main sebab disela-sela jadwal mematikan yang mereka miliki, pria kelahiran 21 Juni itu masih sudi untuk menginap diruang latihan agensi dan mengulang semua gerakan yang mereka pelajari sampai subuh, atau sekedar memohon pada choreographer untuk latihan tambahan agar sudut gerakannya seragam dengan sudut milik Sion atau Sakuya.
“Kamu latihan tadi?”
“Iya, root-nim mau kasih aku latihan 1:1”
“Ini udah jam berapa, kamu nekad banget sih? Kita harus kebandara kurang dari lima jam lagi”
“Gapapa supaya bagus gerakannya pas konser encore nanti.”
“Ck” Yushi mendecak kesal — lebih ke khawatir melihat Jaehee yang semakin kurus dan kantung matanya mulai muncul. “Yaudah ayo turun, beli eskrim sama kimbap, kamu laper,kan?”
Yushi akhirnya melepas pelukan Jaehee dan membantu pria itu berdiri karena kakinya kaku dan lututnya sakit. Ia meraih ponsel dan dompetnya dinakas lalu keluar kamar lebih dulu untuk mengabari Sion — yang kebetulan lagi main PS5 bersama Sakuya, lantas ia memberitahu tentang acaranya bersama Jaehee.
“Titip papico”
“Yaa”
“Hyung, cake ya?” kalau ini dari Sakuya.
“Alah banyak amat titipannya” Yushi melayangkan protes akibat titipan sang leader dan si bungsu yang asik main switch. Tapi jelas ia ingat dikepala titipan dua orang itu.
Keduanya lantas turun menuju lantai dasar, membeli beberapa makanan yang mereka lihat enak, keduanya menyempatkan diri mengambil foto selca dicermin cembung yang ada disudut lorong sepi minimarket — atas ide Yushi. Setelahnya mengambil titipan Sion dan Sakuya lalu membayar dikasir.
Jaehee dan Yushi berjalan berdampingan, menyusuri taman yang ada dibalkon lantai 20 — keduanya sepakat untuk mampir mencari udara segar sambil menghabiskan cup ramyeon yang dibeli tadi secara impulsif, kata Yushi dia lapar habis nangis jadi Jaehee membelikannya.
Ada alasan lain kenapa cup ramyeon itu harus habis ditaman karena Manager mereka akan ngomel kalau tahu keduanya makan ramyeon keempat dalam minggu ini maka lebih baik menghabiskannya diluar.
“Hyung” ucap Jaehee yang kini sudah menikmati es krismnya.
“Apa?”
“Kadang cinta itu nggak harus selalu berisik, bentuk cinta juga bisa hadir dalam bentuk panjatan doa, ucapan hati-hati dijalan, atau cuma pelukan hangat. Kadang bentuk cinta paling sunyi justru punya arti hadir paling besar, sepertimu”
Yushi menoleh menatap Jaehee disampingnya yang kini mendongak menatap langit malam. Dalam hati ia bersyukur pria disampingya saat ini adalah miliknya.
“Tapi cinta yang berisik, selalu lebih disukai banyak orang, kan?”
“Nggak juga,”
“Bohong. Siapa yang gamau dicintai dengan berisik?”
“Aku.” Ujar Jaehee. “I choose you and your sacred love that is not shown for everyone. Kamu spesial, and you make sure i feel it too”
Yushi tersenyum, rasanya ia ingin menyetujui semua penilain Sion tentang laki-laki disampingnya ini tentang bagaimana Jaehee selalu punya kata-kata baik yang menenangkan.
Jaehee kini menatap Yushi yang kehabisan kata untuk merespon jawabannya.
“Cinta, kasih sayang dan perhatian hadir dalam banyak rupa dan sejujurnya tidak bisa dibuktikan hanya dari visualisasi saja, karna cinta itu dirasakan bukan sekedar diucap apalagi dibuktikan dengan mahalnya hadiah atau ucapan penuh kiasan. Jadi jangan takut, kami semua bisa merasakan itu semua darimu dan aku yakin penggemar kita juga.”
“Jaehee..”
“hmm….” Senyum manis itu dilempar, dan tatap mata perhatian Jaehee berikan pada lawan bicaranya. “Ya hyung?”
“I love you”
Jaehee tersenyum, “I love you even more”
Yushi tersenyum, tangan kirinya yang sejak tadi sembunyi dalam saku hoodie yang ia kenakan perlahan meremas kertas yang tersimpan didalamnya. Baginya, malam ini cukup untuknya bertahan.
메타데이터
- post_id
- 4a3085fb74ef
- slug
- in-silence-my-love-can-be-heard-4a3085fb74ef
- url
- https://medium.com/@wordsismydesire/in-silence-my-love-can-be-heard-4a3085fb74ef
- canonical_url
- https://medium.com/@wordsismydesire/in-silence-my-love-can-be-heard-4a3085fb74ef
- author_url
- https://medium.com/@wordsismydesire
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 23:32:07