← Back to list

Mandi Keringat dan Sandal Karet: Nostalgia Permainan Masa Kecil

Disuatu sore yang mendung, di lapangan basket kompleks perumahan, sekelompok anak-anak yang berjumlah 8 orang sedang bermain dengan…

She's anA · 2024-12-28 07:42 · 0 claps · 3.0 min read
#permainan #childhood-memories #slippers #role-playing-games #nostalgia
Open on Medium ↗

Mandi Keringat dan Sandal Karet: Nostalgia Permainan Masa Kecil

Disuatu sore yang mendung, di lapangan basket kompleks perumahan, sekelompok anak-anak yang berjumlah 8 orang sedang bermain dengan membentuk kelompok.

Diiringi tawa dan teriakan, penuh keringat, serta pakaian berwarna terang yang jadi lusuh, menghiasi sore anak-anak kompleks BBPVP Makassar menjelang kumandang adzan maghrib. Umpatan salah seorang anak yang gemas dengan respon anak yang lain, menjadi pelengkap suasana permainan ala bocah tanggung.

Seorang anak melemparkan serangan, lalu meleset.

“Songkolo’! Tolo na ini. Jangko tinggal diam! (Kurang ajar! Tololnya kamu. Kamu jangan tinggal diam!).” Umpat seorang anak berbadan gempal. Badan anak itu yang paling besar, dugaan saya dia adalah ketua gengnya. Haha.

Sontak saya tertegun mendengar ucapannya barusan. Namun bila saya ingat dulu, tidak jarang saya dengarkan umpatan makian keluar dari mulut anak-anak sewaktu saya kecil.

Tak lupa penyusup cengeng berbaju jingga, yang ukurannya lebih pendek, memasuki arena di tengah-tengah permainan. Terlihat ia sedang memukul anak yang lebih besar sambil memegang mobil mainannya.

Anak yang lebih besar : Ehhhh, kenapa ini adekmuu weee! (Sambil melanjutkan permainan, berlari menyerang lawan)

Penyusup berbaju jingga : iiiiihhhh! Iiiiihh! Iiii! (merengek, memukul-mukul sambil mengikuti si anak yang lebih besar)

Begitu seterusnya sampai si penyusup lelah sendiri. Entah apa yang terjadi, masalah klasik dan tingkah absurd. biarlah mereka yang selesaikan sendiri, hihi. Meski penuh umpat dan tangis, semua selesai dengan sendirinya. Itulah masa kanak-kanak. Konflik cepat reda karena imajinasi mereka lebih kuat daripada marahnya.

Apakah kalian melihat penyusup? Katakan penyusup jangan masuk arena (3x)

Apakah kalian melihat penyusup? Katakan penyusup jangan masuk arena (3x)

Dulu, terkadang si “penyusup cengeng” kami masukkan ke dalam tim permainan dan menjadikannya anak bawang. Tapi jika sudah rewel, apalagi sambil mengejar dan memukul anak lain yang lebih tua, keberadaannya seringkali tidak dianggap. Dan permainan tetap berlanjut diramaikan oleh suara tangisannya. Haha.

Permainan mereka mengingatkan saya akan permainan masa kecil saya. “Ayo main BOM!” Begitulah kami menyebutnya kala bosan dengan permainan lain. Kami menyusun batu yang ukurannya pipih secara bertumpuk. Lalu kami membentuk 2 kelompok yang berlawanan. Satu kelompok menyerang dengan bola, dan kelompok lainnya yang menghindar.

Aturan mainnya antara lain:

  1. Kelompok yang menghindar ini sebelumnya pada jarak sekian, berkesempatan melemparkan bola sebanyak 1 kali tiap orang.

  2. Jika lemparan bola tidak menjatuhkan tumpukan batu, mereka berganti melemparkan bola.

  3. Jika tidak ada yang berhasil menjatuhkan tumpukan batu dengan bola, 2 kelompok ini bertukar peran.

  4. Jika berhasil, maka kelompok yang menjatuhkan tumpukan batu berpencar, berusaha menghindari lemparan bola sambil menyusun kembali tumpukan batu yang dijatuhkan..

  5. Sementara, kelompok penyerang mengambil bola yang terlempar. Lalu melempar pada kelompok lawan

  6. Jika berhasil menghindari lemparan bola dan batu berhasil tersusun, maka kelompok yang menghindar menang dan mengulang permainan. Jika terkena lemparan bola dan batu belum tersusun lengkap, maka berganti peran dengan kelompok penyerang.

Anak-anak sedang bermain di kompleks perumahan BBPVP Makasar

Anak-anak sedang bermain di kompleks perumahan BBPVP Makasar

Permainan anak-anak di sini unik juga. Jika kami dulu selalu menggunakan bola kasti sebagai alat perang utama, pakai sandal teman seru juga. Seingat saya, kami jarang bermain menggunakan sandal (Mungkin karena tanpa menggunakannya, dipakaipun sudah sering putus, hehe).

Alih-alih menyusun batu, mereka menggunakan 3 buah sandal yang disusun seperti kayu api unggun, lalu mengarahkan sebuah sandal karet lain (yang jadi korban) untuk dilemparkan pada susunan 3 buah sandal itu.

Sandal karet lebih ringan dan stabil, jadi anak yang terkena lemparan tidak akan merasa kesakitan. Bedanya, permainan ini mirip permainan kasti. Yang berhasil mengenai sandal yang disusun, berlari mengelilingi lapangan, dan berhenti pada titik tertentu agar aman dari lemparan bola hingga sampai pada titik akhir.

Pun layaknya kami di masa kecil itu, mereka begitu menikmati permainan. Betapa nostalgianya.

Pun layaknya kami di masa kecil itu, mereka begitu menikmati permainan. Betapa nostalgianya.

Permainan sepeti ini begitu unik. Dulu tanpa media sosial, tinggal di tempat yang berjauhan, bahkan berbeda pulau, kita bisa menikmati permainan yang sama. Ada yang namanya berbeda. Ada yang aturan mainnya berbeda. Dan ada pula yang alat bermainnya berbeda. Berbeda-beda tapi tetap satu. Uhuy!

Saya harap anak-anak zaman sekarang tetap menikmati waktu bermain di luar rumah, dibandingkan menghabiskan waktu bermain dengan gawai. Karena waktu seperti ini, seperti pelangi di sore mendung. Cepat berlalu tapi begitu indah.


메타데이터
post_id
4a3e624867c8
slug
mandi-keringat-dan-sandal-karet-nostalgia-permainan-masa-kecil-4a3e624867c8
url
https://medium.com/@nurh9255/mandi-keringat-dan-sandal-karet-nostalgia-permainan-masa-kecil-4a3e624867c8
canonical_url
https://medium.com/@nurh9255/mandi-keringat-dan-sandal-karet-nostalgia-permainan-masa-kecil-4a3e624867c8
author_url
https://medium.com/@nurh9255
status
ok
fetched_at
2026-07-21 12:47:27