Menghargai Proses sebagai Solusi Pola Pikir Instant Gratification di Kalangan Pelajar
Pernah mendengar pepatah yang berbunyi: “Padi yang dipanen hari ini, tidak ditanam kemarin sore”? Apa sebetulnya yang ingin diajarkan…
Menghargai Proses sebagai Solusi Pola Pikir Instant Gratification di Kalangan Pelajar

Pernah mendengar pepatah yang berbunyi: “Padi yang dipanen hari ini, tidak ditanam kemarin sore”? Apa sebetulnya yang ingin diajarkan leluhur kita melalui pepatah ini? Ingat bahwa guru jaman dahulu — sayangnya guru jaman sekarang sudah berkurang — yang tekun mengajarkan pepatah dan peribahasa kepada kita? Karena setiap pepatah dan peribahasa memiliki pesan yang ingin disampaikan. Dari orang terdahulu, untuk kita yang hidup di masa sekarang. Dari yang sudah mengalami, untuk kita yang belum tahu apa-apa.
Buat saya, pepatah tadi punya pelajaran untuk kita, bahwa apa pun yang dibutuhkan dalam hidup kita, perlu melalui yang namanya proses. Selayaknya padi, butuh waktu yang tidak sebentar sejak padi ditanam hingga sampai di lidah masyarakat kita yang menjadikan nasi sebagai makanan utamanya ini. Kebiasaan kita untuk mengonsumsi nasi, setidaknya sedikit banyak menggambarkan masyarakat kita yang mau menghargai proses. Jaman dahulu, ketika profesi tani punya gengsi tersendiri dan dihormati negara dan seisinya, kita pun secara tidak langsung punya respek yang tinggi terhadap loka dan proses penanaman padi sampai tiba di piring kita, yang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, atau tidak instan.
Hingga tibalah kita pada jaman yang terbiasa dan terbuai pada keadaan yang serba cepat dan instan. Saya pernah sekilas mendengar bahasan dalam sebuah konten di salah satu sosial media tentang bagaimana pengaruh kurang baik layar gawai pintar pada balita atau bahkan bayi. Otak anak balita yang belum sepenuhnya berkembang sebetulnya belum punya kapabilitas untuk memproses informasi yang secara instan memantik dopamin di otaknya (dopamin adalah hormon yang berfungsi meningkatkan suasana hati di otak). Warnanya yang menarik, bergerak dalam gerakan yang tidak realistis, dan perpindahan adegan yang terjadi dalam waktu sepersekian detik. Tapi karena kepuasan dan rasa senang itu terbiasa tersuguhkan dalam waktu yang sangat cepat, maka balita itu pun terbiasa termanjakan dengan sesuatu yang amat begitu cepat. Konten media sosial ini akhirnya mengimbau para orang tua untuk mengurangi atau bahkan tidak sama sekali menyuguhkan hiburan melalui layar gawai pintar kepada anak-anak.
Hanlie Muliani (2023), seorang psikolog klinis, menuliskan bahwa adanya kepuasan instan atau gratifikasi instan yang didapatkan anak dari penggunaan gadget, menyebabkan anak mengalami kecanduan gadget. Hal itu disebabkan karena anak bisa mendapat akses informasi, game, konten hiburan, dan apapun yang diinginkan dalam satu ketukan layar atau satu ketukan swipe. Artinya, didapatkan dalam waktu yang sangat cepat.
Di luar buana teknologi tadi, masih ada lagi kepuasan-kepuasan yang sudah sangat lumrah kita peroleh dengan sangat cepat. Salah satu contohnya adalah makanan cepat saji. Menawarkan konsumennya perasaan puas yang menghasilkan perasaan kenyang beserta lidah yang mengecap rasa yang sudah pasti enak tanpa kekurangan — meski kepuasannya hanya bersifat sesaat, dan di sisi lain tidak memiliki manfaat jangka panjang yang baik. Proses pembuatannya cepat, didapatkan dengan mudah tanpa perlu menunggu lama, sudah tentu memanjakan lidah, dan efeknya hanya sesaat — hanya di lidah saja.
Seorang profesor dari Stanford University, Walter Mischel, mengadakan sebuah eksperimen terhadap beberapa anak pada rata-rata usia empat sampai enam tahun. Satu persatu secara bergantian, anak-anak tersebut diberi sebuah marshmellow di atas meja, dan diberi dua pilihan: untuk memakannya langsung atau menunggu selama 15 menit untuk mendapatkan tambahan satu marshmellow lain. Satu dekade kemudian, Mischel mengadakan penelitian lanjutan terhadap anak-anak tersebut dan ia mendapat kesimpulan bahwa anak-anak yang memilih pilihan kedua cenderung memiliki skor SAT (tes penerimaan kuliah di Amerika yang berlaku secara umum) yang lebih tinggi, tingkat obesitas yang lebih rendah, keterampilan sosial yang lebih baik, dan keterampilan mengatasi emosi yang lebih baik (Shoda, 1990).
Eksperimen yang dikenal sebagai Eksperimen Marshmellow itu menjadi awal mula sebuah teori tentang delayed gratification — bagaimana hal tersebut ternyata mempengaruhi pola pikir manusia, terutama anak dan remaja di kehidupan mereka.
Teori itu kemudian berkembang, terutama di dunia psikologi. Hingga pembahasan-pembahasan tentang bagaimana sebaiknya kita mengurangi kebiasaan untuk mendapatkan instant gratification dan membiasakan diri untuk menerapkan delayed gratification.
Bagi saya, salah satu cara yang bisa diterapkan untuk mengelola pola pikir instant gratification adalah membiasakan dan mewajarkan diri dengan kegiatan yang membutuhkan proses berjangka panjang untuk sampai pada suatu hasil yang dituju. Proses yang dibalut dalam berbagai macam jenis kegiatan bisa secara tidak langsung memberikan pemahaman kepada pelajar kita bahwa keberhasilan perlu diraih dengan waktu yang tidak sebentar. Semakin banyak waktu dan tenaga yang dituangkan, maka sangat besar peluang untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.
Kegiatan seperti apa yang bisa mengajarkan pelajar kita untuk terbiasa menerapkan delayed gratification? Sebagai seorang guru bahasa yang pernah beberapa kali membimbing siswa melakukan sebuah proyek teater-drama, saya rasa ini bisa menjadi salah satu contoh cara — mungkin jadi yang paling menyenangkan — untuk mengajak anak murid kita terbiasa dengan pola pikir yang bukan bersifat instant gratification, tetapi sebaliknya, delayed gratification.

Untuk menampilkan sebuah perhelatan teater yang sempurna dengan musik pengiring, tata panggung, kostum, dan tata rias, perlu waktu yang tidak sebentar untuk melakukan berbagai macam persiapan dan latihan. Saya sendiri sering mengajak siswa saya — biasanya para aktor — untuk bersabar dalam proses latihan. Bahwa pengulangan adegan dan dialog yang dilakukan berkali-kali, berbulan-bulan, sangat diperlukan untuk mencapai hasil yang memuaskan. Saya mengajak anak-anak aktor untuk merelakan “kepuasan” mereka untuk bermain, untuk pulang ke rumah lebih cepat, untuk memainkan gawai, demi melakukan rangkaian latihan akting. Saya rasa, pemahaman itu juga perlu secara verbal disuarakan ke anak-anak dengan berulang kali, supaya mereka paham arti menunda kepuasaan, untuk berkorban mendapatkan hasil yang lebih baik meski perlu bersabar dengan waktu yang lebih panjang.
Tidak cukup sampai di satu kegiatan itu, akan sangat lebih ideal jika kita, sebagai guru, mau mengajak anak untuk melakukan berbagai macam ragam kegiatan yang dibalut proses jangka panjang. Proyek teater hanya menjadi salah satu alternatif yang cukup menyenangkan bagi anak-anak yang senang tampil dan menenggelamkan diri dalam dunia kreativitas. Beberapa program lain yang diterapkan di tempat saya mengajar, salah satunya adalah kegiatan ekspedisi alam.
Pada awal semester, kami mengemukakan target kepada pelajar kami. Destinasi apa yang akan kita tuju nanti, pada tanggal tertentu, dengan tema tertentu, untuk melakukan rutinitas ekspedisi alam yang dilakukan tiap satu semester. Tidak jarang destinasi ekspedisi alam dilakukan di tempat yang jauh dan penuh rintangan. Maka kami ajarkan pada siswa kami, untuk melakukan persiapan diri.

Persiapan diri ini meliputi persiapan fisik, logistik, dan pengetahuan. Kami ajak anak-anak untuk mendorong diri mereka melampaui kemampuan batas fisik mereka, untuk mengukur kemampuan mereka sendiri. Kemudian kami bimbing dengan latihan yang repetitif dan bertahap. Tidak sedikit yang mengeluh kesakitan atau kelelahan. Akan tetapi, kami bunyikan kepada mereka, bahwa bersusah payah sekarang akan jauh lebih baik dibanding harus menghadapi bahaya yang tidak terduga — cedera dan sebagainya — saat melakukan perjalanan di alam terbuka. Kami bekali juga mereka pengetahuan tentang berkegiatan di alam. Bagaimana cara memasak di alam terbuka, membuat tempat perlindungan untuk istirahat, cara membawa barang yang banyak namun efektif, dan masih banyak lagi. Semua itu dilakukan secara bertahap, berkali-kali, selama berbulan-bulan.
Ekspedisi alam selalu kami lakukan dengan pergerakan kelompok. Suatu ketika, dalam satu kelompok ekspedisi alam terdapat seorang anggota yang beban bawaannya lebih berat dibanding anggota yang lain. Bisa jadi disebabkan bobot bebannya yang berlebih atau kemampuan fisiknya yang tidak seperti anggota lain. Kemudian hal itu berdampak pada kecepatan kelompok menuju destinasi yang dituju dengan batasan waktu tertentu — seperti sebelum matahari tenggelam, karena perjalanan di malam hari terlalu berbahaya. Ketika ada anggota yang terlalu kewalahan karena beban yang dibawa, sudah sangat pasti akan memperlambat laju perjalanan kelompok. Dinamika ini selalu terjadi pada setiap perjalanan alam yang kami lakukan. Maka, seringkali kami dorong siswa untuk mau berkorban demi teman kelompoknya.
Pada tahap pertama, biasanya dinamika itu kami biarkan — untuk mencari tahu sejauh mana kemampuan problem-solving dan komunikasi di dalam kelompok. Lalu ketika dua hal tersebut tidak muncul dengan sendirinya, maka kami memantik anak-anak untuk berpikir. Apa yang membuat kita bergerak terlalu lambat? Bagaimana cara kita semua bisa tiba di destinasi dengan tepat waktu? Ketika pertanyaan memantik tersebut masih belum memunculkan solusi, maka dengan gamblang kami tawarkan anak-anak untuk melakukan “sharing beban”. Istilah yang sering kami pakai ketika berada dalam perjalanan alam. Kami mendorong mereka untuk mau mengambil beban anggota kelompoknya yang kewalahan, yang artinya mengorbankan diri sendiri untuk mau lebih lelah dengan bertambah beban di punggung. Dengan itu mereka juga paham, bahwa “Mengesampingkan kenyamanan beban yang saya miliki sekarang, dengan membantu membawa beban teman saya, akan berdampak pada kecepatan pergerakan menuju target di depan.”
Ketika perjalanan alam ini berlangsung-pun, akan lebih baik jika kita mengajarkan dan melatih mereka untuk menerapkan self-control. Kasus yang paling sering terjadi adalah efek mengeluh pada ketahanan kerja sama dan kekompakkan kelompok. Mereka mengalami sendiri secara langsung, efek dan akibat dari anggota yang tidak memiliki self-control yang baik dan malah terlena dengan keluh-mengeluh demi diperhatikan dan dikasihani. Tidak jarang ketika ada anggota yang mengeluh, suasana kelompok akan berubah ke arah yang tidak menyenangkan. Lama-kelamaan bisa menggerus motivasi untuk bergerak dan berjuang. Kami berusaha ajarkan mereka: “Ternyata mengeluh hanya memuaskan diri sendiri saja, dan tidak berdampak baik untuk siapa-siapa.” Meski perlu digarisbawahi tentang kondisi medis yang memang perlu dilaporkan dan ditangani. Kami selalu mengiringi pesan ini agar anak juga tetap mau sadar kondisi diri ketika butuh bantuan, dan berani berbicara. Karena ketika pencegahan medis tidak dilakukan di awal, efeknya bisa malah merugikan kelompok. Melatih self-control adalah upaya anak tangga pertama dalam melatih pengelolaan instant gratification ini.
Dengan begitu, siswa akan terbiasa untuk mengesampingkan kepuasan-kepuasan dan kesenangan-kesenangan yang bersifat semu dan sementara, demi tujuan yang lebih besar di kemudian hari. Berlatih akting lebih banyak berarti mengorbankan waktu bermain game di gawai. Berlatih fisik lebih intens berarti melawan dorongan untuk rebahan dan berleha-leha. Menambah beban dari teman kelompok berarti mengesampingkan kenyamanan diri sendiri. Menahan diri untuk tidak mengeluh berati melatih self-control diri sendiri.
Hasilnya? Memang belum bisa dipastikan 100% anak mempelajari makna sebuah proses dari kegiatan-kegiatan tersebut. Tapi tak sedikit cerita yang saya dapatkan dari sesama rekan guru, maupun dari siswa sendiri, bahwa mereka mengalami sebuah kepuasan yang sangat berkesan bagi mereka ketika selesai menampilkan sebuah perhelatan teater. Seorang siswa kelas tujuh bahkan berkata pada saya bahwa dia belajar, proses memang tidak akan mengkhianati hasil. Siswa ini bukanlah aktor utama dalam perhelatan tersebut. Tapi dia bisa melihat bagaimana teman-teman aktornya, terutama para pemeran utama, menunjukkan hasil yang tidak disangka-sangka oleh dirinya sendiri. Dia sama-sama mengalami proses menuju hasil kepuasan yang ia saksikan dan rasakan sendiri. Apa yang ia lihat dari teman-temannya ternyata memunculkan perasaan puas yang tak disangka-sangka sebelumnya — juga perasaan bangga melihat teman sendiri, katanya.
Hal itu juga seringkali saya dengar dari pengalaman berekspedisi di alam terbuka. Sesederhana kepuasan yang anak-anak rasakan ketika mampu memasak makanan sendiri di tengah gunung dengan bahan dan alat yang terbatas. Kepuasan tentang keberhasilan mereka mampu mencapai puncak bersama kawan-kawan seangkatannya. Dan masih banyak kepuasan-kepuasan lain yang selalu menjadi bahan bincang para guru setelah melakukan perjalanan alam bersama anak-anak.
Meski belum pernah menemukan penelitian yang membuktikan ragam kegiatan atau proyek berjangka panjang mampu melatih pengelolaan pola pikir instant gratification, saya rasa tidak ada salahnya untuk dicoba. Karena instant gratification adalah musuh dari sebuah proses, maka yang perlu kita lakukan adalah mengajarkan siswa kita untuk trust the process. Dalam hal apapun itu. Dengan cara melibatkan anak siswa kita dalam kegiatan yang bervariatif dan menyenangkan. Syaratnya, anak perlu tahu targetnya, jangka waktunya, dan konsekuensi-konsekuensinya. Tentu dengan selalu dibimbing dan ditemani oleh guru sebagai fasilitatornya.
Seperti yang dikatakan oleh seorang mantan presiden India yang juga seorang ilmuwan terkemuka, A.P.J. Abdul Kalam, “Excellence is a continuous process and not an accident.” Mutu yang baik adalah hasil dari proses yang berkelanjutan, bukan sebuah kebetulan. Ajarkan anak siswa kita tentang proses, maka mereka akan mampu menjauhi pola pikir yang sering mereka, para Gen Z dan Gen Alpha katakan, toxic!
Referensi:
Muliani, H. (24 Februari 2023). Penyebab dan Cara Mengatasi Kecanduan Gadget pada Anak. Diakses 5 Oktober 2024, dari https://soa-edu.com/penyebab-dan-cara-mengatasi-kecanduan-gadget-pada-anak
Shoda, Yuichi; Mischel, Walter; Peake, Philip K. (1990). “Predicting adolescent cognitive and self-regulatory competencies from preschool delay of gratification: Identifying diagnostic conditions”. Developmental Psychology. 26 (6): 978–986. doi:10.1037/0012–1649.26.6.978.
메타데이터
- post_id
- 4a5cc5df423a
- slug
- menghargai-proses-sebagai-solusi-pola-pikir-instant-gratification-di-kalangan-pelajar-4a5cc5df423a
- url
- https://medium.com/@shadysilverlining/menghargai-proses-sebagai-solusi-pola-pikir-instant-gratification-di-kalangan-pelajar-4a5cc5df423a
- canonical_url
- https://medium.com/@shadysilverlining/menghargai-proses-sebagai-solusi-pola-pikir-instant-gratification-di-kalangan-pelajar-4a5cc5df423a
- author_url
- https://medium.com/@shadysilverlining
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-10 00:15:23