← Back to list

kalau aku jadi tembok kamarmu, apa aku bisa melihatmu menangis?

bukan yang tiba-tiba meledak, lalu menghilang begitu saja.

Cantika Hana · 2026-07-16 10:35 · 0 claps · 1.2 min read
#bahasa-indonesia #short-story #poetry #depression #grief
Open on Medium ↗
Wiki topics: PSY · Mental Health & Psychiatry LIT · Literature & Writing 🧠 · Mental Wellness ✍️ · Writing & Creative 📰 · Journalism & News

kalau aku jadi tembok kamarmu, apa aku bisa melihatmu menangis?

bukan yang tiba-tiba meledak, lalu menghilang begitu saja.

Photo by Joe Woods on Unsplash

Photo by Joe Woods on Unsplash

apa aku bisa tau susah payahnya kamu untuk bertahan di setiap hari? betapa kamu berharap menghilang dari tidurmu tadi malam, betapa berat membuka dan menyapa matahari lagi. atau, sekadar beranjak mandi meski tak terasa tiba-tiba sudah tengah hari. energimu terlalu habis untuk beranjak satu senti, terhisap oleh kedukaan dan kesia-siaan yang berulang. bentuk protes, kecewa, dan pembangkangan atas kenyataan yang tidak berjalan mulus seperti alur jalan di kepalamu.

sore harinya, apa yang kamu lakukan? apakah sudah makan? atau, mengais sisa-sisa harapan? tiba-tiba malam datang lagi, bahkan bayanganmu menyatu dengan kegelapan. aku merindukan siluet bayanganmu diterpa cahaya. sekadar pertanda kamu ada. sementara kamu berharap terhisap bumi atau tersedot ke lorong dimensi lain, meninggalkan semuanya, melepaskan semuanya dengan “baik-baik saja”. padahal, tidak ada yang baik-baik saja setelah kamu memutuskan untuk membohongi diri sendiri.

apa aku bisa tau tanda-tanda bahaya sebelum peristiwa itu datang? titik momen ketika hari selanjutnya tidak akan pernah sama lagi. hari-hari baru yang berulang, tapi tak pernah kutemukan lagi jiwamu yang itu.

untuk apa?

aku juga tidak tau. mungkin sekadar mendamba kesadaran satu sama lain untuk ada.

maaf, sebagaimana halnya benda mati, aku hanya manusia kaku yang tidak bergerak satu inci pun. aku tidak bisa mendobrak sisi terdalam yang kamu kunci rapat. aku terlalu kebingungan untuk mengerti isi kepalamu–yang hanya kamu dan Penciptamu yang tau. meski mungkin menurutmu aku tidak cukup, aku tetap di sini, menemanimu, dingin, tanpa kamu bisa mengerti juga bentuk peduliku–yang mungkin bahkan tidak kamu butuhkan. tapi ketahuilah, Tuhan, aku mendoakannya. apa itu cukup?


메타데이터
post_id
4a709d4ea55c
slug
kalau-aku-jadi-tembok-kamarmu-apa-aku-bisa-melihatmu-menangis-4a709d4ea55c
url
https://medium.com/@cantikahanah/kalau-aku-jadi-tembok-kamarmu-apa-aku-bisa-melihatmu-menangis-4a709d4ea55c
canonical_url
https://medium.com/@cantikahanah/kalau-aku-jadi-tembok-kamarmu-apa-aku-bisa-melihatmu-menangis-4a709d4ea55c
author_url
https://medium.com/@cantikahanah
status
ok
fetched_at
2026-07-16 20:14:14