← Back to list

The Wounded-Healer

Kegiatan memilih selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus menegangkan. Bagaimana biasanya kamu memilih?

Jadi Orang Kudus · 2021-06-28 15:14 · 1 claps · 4.0 min read
#petru #paulus #katolik #orang-muda-katolik #gereja
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment

The Wounded-Healer

Kegiatan memilih selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus menegangkan. Apalagi, jika tiap-tiap pilihan itu punya kelebihan dan kekurangan yang hanya beda tipis. Sudah tentu kita akan jadi semakin galau untuk memilih satu di antaranya.

Ilustrasi kegiatan memilih (Unsplash.com)

Ilustrasi kegiatan memilih (Unsplash.com)

Di sisi lain, kalau di antara dua pilihan itu — yang satu terlihat lebih unggul dan yang lainnya terlihat lebih kurang, tentu kita tanpa pikir panjang akan memilih yang lebih unggul.

Agaknya, logika ini tidak sama dengan apa yang Tuhan Yesus pikirkan ketika memilih Santo Petrus dan Santo Paulus. Yesus — yang sungguh Allah dan sungguh manusia — tentu punya privellege untuk memilih orang yang jauh lebih unggul, baik secara akademik, latar belakang, keturunan, sikap, hingga kebesaran iman, dibandingkan kedua rasul ini.

Santo Petrus hanyalah seorang nelayan dari Galilea. Ia tidak punya latar belakang pendidikan, yang dalam kacamata kita agaknya sulit untuk bisa dikategorikan mumpuni untuk menjadi pemimpin.

Dalam Injil pun kita bisa melihat beberapa kali bagaimana Yesus “memarahi” Santo Petrus karena sikapnya yang terkesan lugu dan ceplas-ceplos.

Tentu para rasul yang lain mungkin juga tidak mengerti seluruh perkataan dan perbuatan Yesus, tetapi paling tidak mereka tahu bagaimana untuk diam — berbeda dengan Santo Petrus.

Bahkan, itu langsung terjadi setelah kisah yang kita dengarkan dalam Injil hari ini.

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

(Mat 16:13-19)

Kita melihat bagaimana Santo Petrus mengakui Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah yang Hidup. Yesus memujinya, dan setelah itu mendirikan Gereja-Nya di atas Santo Petrus — sang Batu Karang — dan memberikannya kunci kerajaan Surga.

Setelah itu, Yesus menyatakan bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem, menanggung banyak penderitaan, hingga dibunuh dan dibangkitkan pada hari yang ketiga. Santo Petrus — yang tentu saja kaget, karena baru saja ia diberikan kunci kerajaan Surga — sontak mengatakan: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.”

Yesus langsung menghardiknya dan mengatakan: “Enyahlah iblis!”

Bukan hanya itu. Saat malam perjamuan terakhir, ketika Yesus ingin membasuh kaki murid-murid-Nya, Santo Petrus pun menolak. Namun, setelah Yesus mengatakan kalau “yang tidak dibasuh tidak akan bisa mengambil bagian di dalam Aku,” Santo Petrus malah berkata: “kalau begitu jangan hanya kakiku, tapi juga kepala dan tanganku.”

Dan yang paling populer, dan dicatat dalam semua Injil, yaitu ketika Santo Petrus menyangkal Yesus sampai 3 kali sebelum ayam berkokok.

Setelah semuanya itu, setelah Yesus bangkit mengalahkan kematian, mungkin jika kita ada dalam situasi itu, kita akan berspekulasi kalau Santo Petrus akan digantikan, Yesus mungkin akan memilih rasul lain untuk menjadi pemimpin Gereja yang Ia dirikan.

Namun… memang rancangan kita bukanlah rancangan Tuhan.

Yesus justru bertanya “Apakah engkau mengasihiku lebih daripada mereka ini?” dan sekali lagi, meminta Santo Petrus untuk menggembalakan kita, domba-domba-Nya.

Well, mungkin, Santo Petrus bukan leader-material yang kita idam-idamkan. Namun, fakta bahwa Allah sendiri yang memilihnya untuk menjadi pemimpin Gereja dan takhtanya diteruskan hingga sekarang, pasti punya pesan untuk kita.

Nelayan itu telah diubah-Nya menjadi pemukat manusia.

Rekannya, soulmatenya, yang kita rayakan bersama hari ini — Santo Paulus, — pun tidak lebih baik. Secara akademik, memang ia bisa dibilang lebih unggul karena ia adalah murid yang dididik dengan teliti oleh Gamaliel, seorang rabi Yahudi yang sangat disegani waktu itu.

Tabiatnya sebelum dipertobatkan Allah, amat sangat beringas. Pedangnya telah membunuh begitu banyak pengikut Yesus.

“… Saulus berusaha membinasakan jemaat itu (orang yang percaya pada Kristus) dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara. … Berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan.”

(Kis. 8:3, 9:4)

Namun, lagi-lagi, Tuhan memilih orang yang tidak pernah kita pikirkan. Alih-alih memilih orang sudah lama mengikuti-Nya, Ia justru memilih Saulus — nama Santo Paulus sebelum bertobat — yang telah membunuh banyak dari pengikut-Nya itu.

Yesus malahan menyebut Santo Paulus sebagai alat pilihan-Nya untuk memberitakan nama-Nya kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel.

Mungkin, Santo Paulus juga bukan sosok orang yang akan kita jadikan murid, kita jadikan teman. Namun, fakta bahwa Allah telah memilihnya dan karena pewartaan-Nya ajaran Kristus tersebar ke seluruh bumi, pasti punya pesan untuk kita.

Pedang pembunuh itu telah diubah-Nya menjadi pedang yang memperjuangkan nama-Nya kepada segala bangsa.

We Have Our Own Battle

Dalam mengikuti Yesus, setiap kita punya pergumulannya masing-masing. Santo Petrus bergumul dengan kelalaian dan kurang pengetahuannya.

Sebaliknya, Santo Paulus bergumul dengan latar belakangnya yang kelihatannya lebih hebat. Ia menyebutnya sebagai “duri yang diberikan di dalam dagingnya,” yaitu supaya ia tidak menjadi tinggi hati.

Tetapi justru dalam kekurangan kedua rasul-Nya ini, Allah telah membangun Gereja-Nya dan menyebarkan kabar sukacita-Nya sampai ke ujung bumi. Darah suci mereka yang tertumpah sebagai martir di Roma, telah menyuburkan pertumbuhan iman kepada Kristus.

Dua kisah dari dua rasul hebat yang menjadi pilar Gereja perdana ini, agaknya menjadi penghiburan bagi kita. Sama seperti mereka, tiap-tiap kita juga punya pergumulan dalam mengikuti Yesus.

Allah tidak menuntut kita untuk sempurna dulu baru dapat mengikuti-Nya. Sebaliknya, Ia justru mencari kita yang banyak kurangnya ini, untuk disempurnakan-Nya. Lewat kekurangan kita, kemuliaan-Nya semakin nyata dan dinyatakan kepada banyak orang .

Karena luka-luka-Nya kita diberi hidup dan lewat luka-luka kita, Ia mengubah kita menjadi sumber hidup bagi sesama.

Berbahagialah, karena Allah kita itu The Wounded-Healer.


메타데이터
post_id
4b043b0d70a
slug
the-wounded-healer-4b043b0d70a
url
https://medium.com/@jadiorangkudus/the-wounded-healer-4b043b0d70a
canonical_url
https://medium.com/@jadiorangkudus/the-wounded-healer-4b043b0d70a
author_url
https://medium.com/@jadiorangkudus
status
ok
fetched_at
2026-07-28 04:57:20