← Back to list

JUKYU — Hunter; Joel

Daniela, perempuan berusia 20 tahun itu sudah siap dilantik sebagai pewaris tahta kepemimpinan kaum vampir. Meski seorang perempuan…

cen · 2026-06-01 13:49 · 0 claps · 14.1 min read
#jukyu #the-boyz #fiksi #vampires
Open on Medium ↗

JUKYU — Hunter; Joel

Daniela, perempuan berusia 20 tahun itu sudah siap dilantik sebagai pewaris tahta kepemimpinan kaum vampir. Meski seorang perempuan, kecerdasan dan ketangkasannya tidak perlu diragukan karena mengalir darah murni pemimpin vampir yang masih bertahta sampai sekarang, ayahnya.

Melalui pendidikan dan pelatihan sejak kecil, Daniela mampu membangkitkan kekuatan tingkat lanjut setelah menguasai manipulasi darah menjadi senjata. Rekor baru di dalam garis keturunan karena setidaknya harus melewati umur ke 50 untuk menambahkan latihan lanjutan.

Melihat masa depan merupakan kekuatan yang sedang dipelajarinya sekarang. Sebuah proses yang teramat sulit, karena meleburkan jiwa dengan aliran jalan yang mengantarkan ke masa depan. Berbeda dengan melihat masa lalu, masih ada hal yang bisa dijadikan sebagai titik fokus dan memasuki alam bawah sadar memutar waktu ke belakang.

Namun, masa depan adalah labirin tanpa batas. Ia tidak bisa melangkah sembarangan, sebab salah memilih jalur atau terlalu memaksakan diri bisa berakibat fatal — menghancurkan jaringan saraf dan kewarasannya sendiri.

Daniela bukanlah seorang penyihir yang akan menerima potongan masa depan sebagai bentuk ramalan. Dia belajar memfokuskan pada peluang pergerakan masa depan. Dalam masa fokusnya, banyak peluang gerakan yang muncul, dan semuanya bisa saja terjadi di masa depan. Dia belajar untuk memfokuskan kesadarannya pada kalkulasi peluang dan probabilitas dari setiap pergerakan waktu.

Saat berada dalam kondisi fokus penuh, benaknya akan dibanjiri oleh jutaan cabang kemungkinan yang muncul secara bersamaan — di mana setiap cabang memiliki potensi yang sama besar untuk benar-benar terjadi. Menyaring kabut probabilitas inilah yang menjadi puncak kesulitan tertinggi dalam menguasai kemampuan ini. Daniela tidak hanya dituntut untuk melihat, tetapi juga harus memprediksi alur mana yang paling masuk akal tanpa tersesat di dalamnya. Hal inilah yang menjadi tingkat kesulitan menguasi kekuatan melihat masa depan.

Membaca masa depan sedekat dua detik sebelum terjadi adalah tentang akurasi mutlak tanpa celah. Target dari latihan ekstrem ini adalah melatih fokus Daniela agar mampu mengunci satu peluang mutlak yang benar-benar akan mewujud, meski penglihatan itu baru bisa ia pertahankan selama dua detik saja. Di dalam ruang kepalanya, sepuluh probabilitas akan meledak secara bersamaan, dan ia hanya punya waktu sepersekian detik untuk memilih satu peluang yang valid.

Karena tingkat kesulitan inilah vampir muda ditakutkan mengalami cedera saraf dan malah tidak bisa mengeluarkan potensinya secara penuh. Salah perhitungan sedikit saja dalam hitungan detik tersebut bisa memicu kerusakan saraf permanen, sebuah tragedi yang justru akan mengubur seluruh potensi emas mereka untuk selamanya.

Daniela memaksakan hal tersebut dengan banyak menebak tanpa menggunakan kekuatan. Dia mulai berlatih dengan mengandalkan intuisi mentah — menebak berbagai probabilitas yang akan terjadi secara manual. Semakin dia terbiasa menebak maka dapat mempermudah latihannya, semakin mudah pula sarafnya beradaptasi saat kekuatan manipulasi waktunya benar-benar dilepaskan.

Di sisi lain, Daniela tidak berjuang sendirian. Jacob, sahabat seusianya yang juga tengah menempuh pendidikan yang sama, menghadapi kesulitannya sendiri. Alih-alih menatap hari esok, Jacob memilih untuk menguasai kemampuan melihat masa lalu. Jacob tahu betul bahwa untuk membantu Daniela memimpin kaum vampir dengan bijaksana nanti, seseorang harus mampu menguak rahasia, dosa, dan kebenaran yang sengaja dikubur oleh sejarah.

Hingga satu ramalan muncul di mimpi seluruh kaum vampir secara bersamaan membuat geger hari itu juga. Seakan ikut merasakan euforia dan haru, Daniela meneteskan air mata tanpa sadar. Ada rasa lega juga bahagia dalam hatinya ketika mengingat mimpi yang baru saja dia alami.

“Mendung minggir memberikan jalan bagi sang mentari menyinari satu tempat. Matahari terbit dengan cerah, pancaran sinarnya terasa hangat dan nyaman. Angin bertiup ringan, sejuk dan segar. Walaupun di dalam mimpi, rasanya begitu nyata dan nyaman secara bersamaan. Daripada berkumpul menunggu, lebih baik berkumpul menyambut dengan suka cita. Riuh ramai suara-suara yang tidak bisa didengar dan hanya bisa dipahami, pesta besar dari hewan suci sebagai berkah. Bayi kecil dengan pipi gembil berada di tengah pesta, bersinar terang layaknya anak sang matahari, menyapa dunia dengan anggun dan kepatuhan dari penikmat pesta.”

Namun, detik setelahnya Daniela merasa hancur.

Rasa penasaran yang membakar membuat Daniela mengabaikan peringatan tentang kerusakan saraf. Daniela mencoba menggunakan kekuatannya untuk melihat masa depan dari mimpi yang muncul. Dia memejamkan mata, mematuk fokusnya, dan memaksa kekuatannya aktif untuk mengintip apa yang sebenarnya tersembunyi di balik ramalan tersebut.

Detik pertama. Ruang kesadarannya seketika dihantam oleh kilatan cahaya yang teramat menyilaukan, namun anehnya terasa begitu hangat. Cahaya itu bergulung-gulung, menutup rapat esensi utama masa depan seperti sebuah perisai pelindung yang menolak diusik oleh mata kasat mata seperti dirinya.

Detik kedua. Tirai cahaya itu sedikit menyibak, memperlihatkan pemandangan yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. Ribuan makhluk immortal berkumpul, berbaris rapat membentuk barikade kokoh di sekelilingnya. Namun yang membuat napas Daniela tercekat bukan hanya lautan kaum immortal itu, melainkan kehadiran para hewan suci dan roh hewan suci. Di hadapan keagungan dua detik yang sangat berharga itu, Daniela merasa tubuhnya mengecil, lumpuh, dan benar-benar tidak berdaya.

Seakan ingin menghapus apa yang baru saja dilihatnya, Daniela menumpahkan lewat tangis yang lebih kencang. Karena sepertinya dia tahu dari potongan tersebut … bahwa dia bukanlah tandingannya.

Ramalan yang tidak biasa seperti itu bukanlah kejadian biasa yang bisa muncul setiap tahun., selama hidup 20 tahun, itu adalah pertama kalinya. Pagi harinya, spekulasi dan gosip langsung merebak di setiap sudut kastel, ada yang menyambut suka ria, tidak ada yang muram seperti yang Daniela lakukan. Menutupi luapan emosi dengan kabar gembira dari sang ibunda.

Daniela terpaksa mengubur rapat-rapat kekhawatirannya pagi itu. Ia berusaha menutupi luapan emosi negatif di kepalanya, terbantu oleh sebuah kabar gembira yang mendadak disampaikan oleh sang ibu di meja makan.

“Ibu hamil anak kedua.”

Senyum bahagia tercetak jelas sekali ketika menyantap makanan pagi, ada segelas darah dan semangkuk sup domba hangat. Walaupun vampir, mereka kadang suka menyantap makanan manusia seperti ini. Karena rasanya bisa berbeda dengan darah, banyak sekali rasa yang bisa dikecap lidah vampir.

“Ditambah ramalan semalam … sepertinya anak ini akan membawa berkah yang luar biasa bagi kaum kita.”

Ayahnya, sang pemimpin tertinggi yang biasanya selalu terlihat kaku dan tegas, kali ini tidak mampu menyembunyikan binar kebahagiaan di wajahnya. Melihat ekspresi itu, Daniela teringat momen beberapa waktu lalu saat sang ayah dengan penuh kebanggaan mengumumkan rencana pelantikannya sebagai penerus.

Sambil menatap wajah bahagia sang ayah, Daniela justru dirundung kecemasan. Kini, dia merasa rencana ayahnya akan sia-sia jika mengingat mimpi semalam.

Merasa kesal dan jengah berada di istana terus menerus mendengar cerita mimpi semalam, Daniela putuskan untuk keluar mencari udara segar. Tentu saja, ia tidak pergi sendiri. Jacob setuju untuk menemaninya. Sebagai anak dari menteri yang menjadi tangan kanan ayahnya, pemuda itu bukan sekadar pengawal, melainkan satu-satunya teman tepercaya yang Daniela miliki di lingkungan istana.

“Dani,” panggil Jacob dengan berjalan mengekor di belakang Daniela. Walau sudah keluar dari wilayah vampir dan mulai menapaki hutan, langkahnya masih belum berhenti. Hutan yang semula sangat rindang dan banyak cahaya yang masuk perlahan berubah menjadi dingin. Kabut tipis tiba-tiba menyelimuti jalan di depan mereka. Jacob yang lebih dulu sadar kalau hutan yang mereka lewati sudah berbeda pun segera menahan pergelangan tangan Daniela agar berhenti. “Dani, kita bukan lagi di wilayah vampir!”

Daniela tersentak ketika tidak lagi mampu berjalan, berkat penahanan yang dilakukan Jacob. Cengkeraman tangan Jacob dan peringatan yang diucapkan pemuda itu sekali lagi akhirnya berhasil menarik kesadarannya kembali.

Matanya memendar ke seluruh sudut yang bisa dia lihat dengan mata telanjang. Pepohonan yang tumbuh jauh lebih besar dan memancarkan aura dingin yang asing. Di atas permukaan tanah, hamparan rumput liar yang mereka pijak dipenuhi oleh tumbuhan beracun yang mematikan. Kabut tipis yang membatasi jarak pandang mereka mempertegas satu kenyataan yang selama ini hanya ada di dalam literatur istana, wilayah hewan suci.

Sang pemimpin memang menyerukan bahwa tanah ini masih termasuk wilayah vampir dengan tidak ada yang boleh mengusik kehidupan hewan suci. Berbeda dengan roh hewan suci yang kebanyakan tidak peduli dan terkesan cuek, hewan suci memiliki wujud seperti hewan biasa namun dengan berkah yang berbeda. Mereka tidak akan segan memicu perang atau mencincangnya jika ada yang berani mengusik. Karena tidak ada yang akan menang melawan sekalipun itu hanyalah hewan suci berwujud kelinci, mereka bisa merubah besar kecil badannya sesuka hati dan bisa melenyapkan hanya dengan satu tinju atau injakan. Daripada melawan, pemimpin vampir ingin hidup berdampingan dengan tidak saling mengganggu.

Sadar akan tindakannya yang bisa mengusik pun membuat Daniela hanya diam di tempat dan tidak bisa bergerak, seperti seluruh badannya membeku. Pun sama dengan Jacob yang tangannya mulai gemetar.

“Kita hanya berjalan masuk … apa hal seperti ini sudah bisa dianggap mengusik?”

Suara Jacob bergema langsung di dalam kepala Daniela, mengirimkan pesan lewat jalur telepati dengan nada yang dipenuhi keraguan.

“Apa aku akan mati?” tanya Daniela dengan suara gemetar. Usahanya belajar selama ini akan menjadi sia-sia jika dia mati di sini. Di hadapan ancaman tak terlihat dari wilayah hewan suci, yang tersisa di antara mereka berdua hanyalah rasa penyesalan yang mendalam atas keputusan impulsif mereka pagi ini.

“Dani, kamu nggak akan mati.” Jacob mencoba menenangkan dan menyadarkan Daniela jika hari ini bukanlah akhir dari mereka berdua.

Daniela mendidihkan darah di seluruh aliran dalam tubuhnya, menghangatkan tubuhnya dari dingin yang membuat beku. Setelah beberapa saat, dia dapat menggerakkan jemarinya, perlahan dia menundukkan kepala ke bawah menatap rumput liar di bawahnya. Dalam kondisi tertekan seperti ini, akal sehatnya mulai memikirkan skenario terburuk. Beberapa rumput dan jamur beracun terlihat, berpikir kalau mungkin dia akan disuruh menelan tanaman beracun tersebut sebagai hukuman.

Jacob segera mengikuti metode Daniela dengan mendidihkan aliran darahnya sendiri. Berkat fokusnya yang tinggi, proses itu berjalan lebih cepat dan menghasilkan suhu yang lebih panas, hingga ia mampu merebut kembali kendali penuh atas kedua kakinya dalam sekejap. Dia membawa badan Daniela yang masih berdiri menunduk dan membungkukkan badan serendah mungkin, setelah itu dia melakukan hal yang sama.

“Saya meminta maaf kepada seluruh penghuni di wilayah hutan, baik makhluk biasa, hewan suci, dan roh hewan suci karena masuk ke wilayah tanpa ijin. Saya Jacob, dan teman saya Daniela dengan tulus menundukkan raga memohon ampunan.”

Entah permohonan maaf yang dilemparkannya tadi sudah benar atau belum, dia tidak berniat menyangkal fakta bahwa mereka telah melanggar batas tanpa izin, hanya berharap diberi maaf dan dibiarkan keluar. Sungguh, dia masih sayang nyawa. Dia ingin melihat bagaimana Daniela memimpin wilayah vampir ini nantinya, dia ingin mendampingi Daniela.

shooss …

Angin kencang bertiup dari arah depan menubruk badan keduanya tubuh keduanya dengan rasa dingin yang serupa. Setelah itu, perlahan kabut tipis itu menghilang dan pohon-pohon yang berwarna gelap itu perlahan mulai terlihat warnanya, coklat gelap sebagai dasar dan hijau gelap karena berlapis lumut dan tumbuhan lain.

Tidak lama setelah itu muncul sesosok bayangan tembus pandang, tingginya seperti mereka, dan bentuknya menyerupai singa.

“Apa dia sudah muncul?” tanyanya melaui telepati.

Jacob dan Daniela bingung dengan ‘dia’ yang dimaksud, karena tidak berani mengangkat wajah, Jacob mencoba melemparkan tanya.

“Dia … siapa, wahai roh agung?”

“Dia yang diramalkan.”

Otak keduanya dipaksa mengingat kembali detail mimpi semalam yang muncul pada seluruh kaum vampir, yang merupakan sebuah ramalan mistis yang hanya bisa dilakukan oleh alam semesta. Bukan kehendak penyihir untuk membuat mimpi palsu seperti itu, walau harus mengorbankan jantung penyihir pun belum tentu mereka bisa menghasilkan mimpi sekuat itu. Bukan pula kehendak hewan suci dan roh hewan suci karena mereka memang tidak dibekali kemampuan untuk mengintervensi mimpi makhluk lain.

Sebuah ramalan dari alam semesta itu adalah penanda agar mereka menyambut ‘dia’ yang akan hadir di dunia. Dengan kata lain, janin yang berada dalam perut ibu Daniela, adiknya.

“Belum. ‘Dia’ masih berupa janin.” Jacob yang menjawab karena sepertinya Daniela telah tenggelam dalam pikirannya. Sepertinya Jacob tahu apa yang sedang dipikirkan temannya itu, adiknya yang masih di dalam perut itu bisa saja menjadi pemimpin selanjutnya, calon pemegang tahta.

Dengan kedua mata Jacob bisa melihat beberapa hewan suci yang berukuran kecil membawakan sebuah gelas bening yang tebal dengan isi penuh warna merah. Dari baunya dia mencium bau darah, sedikit amis, harumnya manis, dan terlihat sangat segar. Sepasang mata Jacob seperti terhipnotis dan berputar mengikuti kilauan di dalam gelas, seolah-olah cairan merah itu sedang memanggilnya untuk segera dihabiskan.

Dipicu oleh ketidaksadaran yang berbahaya, baik Jacob dan Daniela menjulurkan tangan mencoba meraih gelas tersebut. Jaraknya tinggal sedikit sampai tangan kedua vampir itu menyentuhnya, sang roh singa mengaum kecil sampai bisa menyadarkan keduanya. Begitu kesadarannya kembali, Jacob segera menarik dan membawa kepala Daniela ke bawah agar menyentuh tanah, tidak berani lagi menatap apa yang ada di depan mereka.

“Maafkan kami, wahai roh agung.” Terlena dan terhipnotis, itu adalah kesalahan yang sudah mereka perbuat. Jacob yang pertama meminta maaf kemudian disusul Daniela.

“Darah unicorn memang membuat gila,” katanya. Dan dua vampir itu sadar sekali kalau meminum darah hewan suci adalah hal tabu, karena sama saja melanggar janji untuk hidup dalam urusan masing-masing. “Berikan pada perantaranya.”

Jacob tahu mereka tidak berada dalam posisi untuk menolak pemberian tersebut. Namun, keraguan besar mendadak menyergap benaknya. Jika cairan di dalam gelas itu memiliki efek hipnotis sekuat ini, bagaimana jika mereka diserang oleh makhluk lain. Siapa pun yang melintas dan mencium aroma darah murni itu pasti akan langsung kehilangan akal sehat — sama seperti dirinya dan Daniela beberapa detik yang lalu — lalu berbalik menyerang mereka demi berebut darah tersebut.

“Mohon maaf, wahai roh agung. Saya rasa tidak aman jika hanya kami yang membawanya. Akan ada banyak yang seperti saya dan teman saya dalam perjalanan yang tergoda dengan harumnya.”

Roh singa menggeram nada tidak suka dibantah, namun juga merasa tidak bisa mempercayakannya tugas seperti itu pada dua vampir muda ini. Hingga akhirnya keputusan dibuat, dia sendiri yang akan mengawal sementara vampir di depannya ini akan membawa gelasnya.

Perjalanan menuju luar hutan suci terasa sangat ringan dengan mendapat dampingan roh hewan suci, bahkan tidak hanya itu, beberapa hewan kecil ikut berbaris di belakang. Mereka kini terlihat seperti sebuah karavan.

Kehadiran roh singa agung yang berjalan anggun di sisi mereka bagaikan perisai tak kasat mata; hawa dingin yang sempat mengancam nyawa kini berubah menjadi kehangatan protektif yang menenangkan darah murni mereka.

Di tangan Jacob, gelas bening berisi darah unicorn itu memancarkan kilau merah yang memikat, namun entah bagaimana, aura dari sang roh singa menekan aroma magis tersebut agar tidak memicu kegilaan makhluk lain di sepanjang jalan.

Begitu sampai di jalanan utama yang membatasi wilayah luar hutan dengan kawasan pemukiman kaum vampir, situasi langsung berubah drastis. Keheningan hutan digantikan oleh kasak-kusuk yang mendadak senyap saat rombongan mereka melintas. Banyak sekali pasang mata menatap rombongan mereka. Jujur saja Jacob tidak nyaman ditatap seperti itu, ada rasa iri juga kemarahan dari tatapan yang dia terima. Para vampir kelas pekerja dan bangsawan rendah yang sedang berlalu-lalang menghentikan aktivitas mereka, terpaku menatap pemandangan mustahil di hadapan mereka: dua vampir muda dikawal oleh entitas suci yang selama berabad-abad memilih mengisolasi diri.

Berbeda dengan Daniela yang sudah seperti makanan sehari-harinya, pergerakannya akan mendapat perhatian karena merupakan calon penerus tahta. Namun kali ini, sorot mata yang tertuju pada Daniela tidak lagi sama. Tidak ada lagi binar kepatuhan mutlak atau rasa segan kepada sang calon ratu. Pandangan para kaumnya kini dipenuhi oleh tanda tanya besar, spekulasi, dan riak-riak pergeseran kesetiaan yang mulai tumbuh. Namun, pandangan tersebut sepertinya harus direlakan mengingat mimpi semalam yang seperti dibenarkan oleh roh hewan suci.

Rombongan mistis ini adalah bukti nyata bahwa ramalan alam semesta bukanlah omong kosong. Lahirnya sang Anak yang diramalkan’ bukan lagi sekadar mitos subuh tadi, melainkan kepastian yang sedang berjalan menuju istana.

Tidak tahu siapa pemimpin roh hewan suci, tapi Jacob yakin mereka memiliki eksistensi yang sama-sama penting. Langkah kaki mereka akhirnya membawa rombongan itu sampai ke gerbang megah istana. Penjaga gerbang bahkan tidak berani menghunuskan senjata; mereka langsung berlutut rendah, memberikan penghormatan yang ditujukan bukan kepada Daniela atau Jacob, melainkan kepada roh singa agung dan berkah yang mereka bawa.

“Aku lihat mereka berkumpul, tapi bukan seperti ini,” lirih suara Daniela menembus pendengaran Jacob dan sang roh singa. Langkah kakinya yang semula mekanis mendadak goyah, seolah beban dari jutaan kemungkinan masa depan baru saja dijatuhkan tepat di atas pundaknya. “Mereka akan berkumpul saat dia lahir ke dunia, bukan?”

Entah pertanyaan ini ditujukan pada siapa. Jacob tidak bisa memahaminya, namun sepertinya Daniela menggunakan kekuatannya untuk melihat masa depan. Potongan kecil itu yang menjadikan temannya ini merasa sesak berada di istana. Dia merasakan adanya tensi di sekitar Daniela, di mana semua orang tengah sibuk membicarakan isi mimpi yang sama. Sebagai vampir yang mendalami garis waktu masa lalu, Jacob bisa merasakan distorsi energi di sekitar Daniela — sebuah riak temporal yang hanya tercipta saat seseorang memaksakan kesadarannya menembus tabir hari esok. Jacob tahu, keputusasaanlah yang mendorong Daniela kembali mengaktifkan kemampuannya.

Bagi roh singa, kekuatan yang dimiliki vampir muda bernama Daniela akan sangat berguna untuk masa depan nantinya. Mata emas sang entitas suci itu berkilat mistis, membaca gejolak batin dan berkah manipulasi waktu yang mengalir di dalam darah murni Daniela. Sang roh agung tahu, penglihatan dua detik yang didapatkan Daniela bukanlah sebuah harga mati. Masa depan bukanlah garis lurus yang dipahat di atas batu, melainkan anyaman benang probabilitas yang masih bisa diurai.

Kekuatan Daniela adalah kunci. Untuk menghindari pertumpahan darah, untuk menghindari nyawa ‘dia’ menghilang dari alam semesta. Karena masa depan bisa saja berubah jika usaha dan perjuangannya sepadan dan seharga takdir. Kelahiran sang Anak yang diramalkan akan memicu badai konspirasi yang besar, dan sang roh menyadari bahwa takdir bayi itu mungkin akan sepenuhnya bergantung pada keputusan-keputusan yang diambil di masa depan.

“Mereka akan menyambutnya,” suara roh singa bergema, tenang namun bergetar hebat di dalam kesadaran Daniela.

Kalimat roh singa tersebut membenarkan masa depan yang dilihat Daniela; kejadian tersebut akan terjadi, dan hanya menunggu waktu. Hatinya berat untuk menunggu. Keirian. Sebuah perasaan manusiawi yang ironisnya meracuni batin seorang calon ratu vampir.

Kelahirannya dulu memang disambut kaum vampir dengan suka cita sebagai garis murni yang langka, namun adiknya nanti akan ikut dirayakan banyak makhluk immortal, melintasi batas ras dan tradisi yang selama ini kaku. Dia kira dirinya sangat spesial karena menjadi pemimpin wanita pertama nantinya, nyatanya masih ada yang lebih spesial darinya: ‘dia’, sang adik yang keberadaannya saja sudah mampu menggerakkan semesta untuk bersujud.

Tidak terasa perjalanan mereka menuju istana sudah sampai, ayah dan ibu Daniela berdiri di balik gerbang menyambut kedatangan mereka. Pasti pengirim pesan atau penjaga perbatasan sudah menyampaikan hal luar biasa ini pada sang pemimpin melalui jalur telepati tercepat.

Wajah terkejut pun tercetak jelas dari kedua orang tuanya beserta ajudan penting, termasuk ayah Jacob yang berdiri dengan posisi siaga namun penuh rasa hormat. Tidak hanya itu, beberapa warga yang penasaran ikut mengekor di belakang rombongan, membentuk barisan panjang yang memenuhi pelataran istana. Suasana mendadak hening mencekam. Daripada berbisik membicarakan bagaimana kedatangan roh hewan suci ke tanah wilayah vampir, mereka lebih penasaran pada satu hal: apa yang akan dilakukan roh singa pada pemimpin vampir itu? Apakah ini sebuah ancaman, atau sebuah pengukuhan yang tak terbantahkan?

Sampai di depan pemimpin vampir, Jacob dengan cekatan membuka jalan dan membiarkan sang pemimpin menyambut roh hewan suci tersebut secara langsung. Ayah Daniela, sang raja yang biasanya memancarkan otoritas mutlak, kini tampak lebih kecil di hadapan aura purba sang roh singa. Tanpa perlu dikomando, sang raja membungkuk rendah — sebuah gestur yang segera diikuti oleh seluruh pasang mata di sana, termasuk para pengawal dan rakyat jelata.

Di tengah suasana yang penuh khidmat itu, Daniela tetap berdiri dengan punggung tegak di samping Jacob, meski kepalanya sedikit menunduk. Matanya yang tajam sempat melirik ke arah ibunda yang sedang mengelus perutnya dengan lembut. Ada sebuah kontras yang menyakitkan; di satu sisi ada kehangatan dari sebuah keluarga yang menanti anggota baru, namun di sisi lain ada dinginnya persaingan takdir yang mulai membekukan hati Daniela.

Sang roh singa menghentikan langkahnya tepat satu meter di depan sang pemimpin. Ia tidak membungkuk, tidak pula menunjukkan agresi. Ia hanya berdiri di sana, memancarkan wibawa yang membuat udara di sekitar pelataran istana terasa lebih padat dan bermartabat.

“Darah unicorn akan menjaganya.”

Kalimat itu meluncur dari sang roh agung, memicu riak keterkejutan yang tertahan di antara para tetua dan menteri yang hadir. Semua orang di pelataran itu tahu betapa sakralnya cairan yang berada di tangan Jacob saat ini.

Darah unicorn bisa membuat tubuh abadi dengan regenerasi secepat kilat, selain itu bisa menyembuhkan dari kutukan sekalipun. Itu adalah pengetahuan dasar mengenai khasiat darah unicorn yang tercatat dalam kitab-kitab kuno istana. Karena keberadaannya yang sangat nyaris nihil ditemukan, mereka dianggap hanya legenda. Walau bisa menemukannya juga tidak bisa menangkapnya, sampai meminum darahnya hanyalah mimpi belaka. Unicorn jika memang ada pasti akan dilindungi oleh hewan suci dan roh hewan suci, karena termasuk bagian hewan suci.

Kini, legenda itu berwujud nyata di depan mata mereka, diberikan secara sukarela hanya untuk perlindungan satu janin.

“Darah unicorn akan membuatnya tenang di dalam sana.”

Mata emas sang roh singa bergulir sejenak, menatap lurus ke arah perut ibu Daniela. Yang dimaksud roh singa itu adalah perut ibu Daniela, di mana sang calon bayi dalam proses pembentukan.

Sudah menjadi rahasia umum di kalangan mereka bahwa vampir yang mengalami kehamilan akan membutuhkan perawatan yang lebih, bahkan sering kali menguras energi si ibu secara ekstrem karena janin immortal cenderung sangat agresif menyerap nutrisi sejak dalam kandungan. Menuntaskan permintaan atau mengidamnya sang ibu juga akan sangat sulit jika janin tersebut menginginkan sesuatu yang mistis. Dengan membuatnya tenang menggunakan darah suci ini, sepertinya tidak akan ada hal rumit ke depannya. Kandungan itu akan menjadi rahim yang paling aman dan damai di seluruh jagat raya.

Daniela mengepalkan tangannya di balik jubah. Saat ibunya dulu mengandung dirinya, tidak ada keistimewaan seperti ini. Ibunya harus menderita berbulan-bulan, menahan gejolak energi darah murni Daniela yang berontak sebelum lahir. Namun untuk adiknya, alam bahkan menyediakan penawar terbaik sebelum sang bayi sempat meminta.

Sang roh singa perlahan mendongakkan kepalanya, menatap langit di atas istana vampir yang biasanya tertutup awan mendung tebal. Aura tembus pandangnya mendadak berpendar lebih terang, memancarkan gelombang magis yang membuat semua yang hadir menahan napas.

“Satu tahun dari sekarang dia akan lahir … Joel.”

Nama itu diucapkan bukan sebagai saran, melainkan sebagai dekret gaib yang langsung terukir di dalam takdir. Joel. Nama yang berarti cahaya atau pembawa berkat matahari.

Mendengar nama itu disebut oleh sang roh agung, ayah Daniela langsung membungkuk lebih dalam, menerima takdir tersebut dengan kepatuhan penuh. Sementara itu, Jacob melirik ke arah Daniela. Saraf-saraf di pelipis gadis itu tampak menegang. Daniela tidak hanya mendengar nama itu; dalam dua detik fokus instingnya yang terpaksa aktif karena syok, dia melihat bayangan samar seorang anak laki-laki dengan mata secerah fajar, berdiri di tempat ayahnya berdiri sekarang, sementara seluruh kaum vampir berlutut di bawah kakinya.

15/11/2022 Revisi 01/06/2026


메타데이터
post_id
4b1cda15e434
slug
jukyu-hunter-joel-4b1cda15e434
url
https://medium.com/@cnd.cenud/jukyu-hunter-joel-4b1cda15e434
canonical_url
https://medium.com/@cnd.cenud/jukyu-hunter-joel-4b1cda15e434
author_url
https://medium.com/@cnd.cenud
status
ok
fetched_at
2026-07-10 16:32:07