Mengapa ada Kelurahan LPDP ITB?
Seri 0014. Pernahkah kita setidaknya sesekali bertanya: “Kenapa ada kelurahan LPDP ITB?”
Mengapa ada Kelurahan LPDP ITB?
Seri 0014. Pernahkah kita setidaknya sesekali bertanya: “Kenapa ada kelurahan LPDP ITB?”

Gathering Awardee 2019 Genap by Kelurahan LPDP ITB
Kata ‘Kelurahan’ jamak sekali dijumpai saat kita ingin mengurus administrasi kependudukan. Institusi pemerintahan di bawah kecamatan ini, biasanya menaungi beberapa puluh RW (Rukun Warga) dan beberapa ratus RT (Rukun Tetangga). Kepalanya dikenal sebagai ‘Lurah’ sesuai dengan nama institusinya. Tugasnya beragam; yang paling pokok adalah melakukan sosialisasi terkait program-program pemerintah, melakukan sebagian kecil administrasi kependudukan, dan lain sebagainya. Dulu, sebelum eKTP kepengurusannya bisa langsung ke Disdukcapil (setidaknya di Surabaya), kita harus ke kelurahan dulu, setelah dari RT/RW, sebelum ke kecamatan. Sekarang, perannya jauh berkurang dengan alasan meringkas birokrasi.
Sama halnya dengan ‘Kelurahan’ yang ada di masyarakat, komunitas penerima beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) Kementerian Keuangan pun memiliki ‘Kelurahan’. Kepalanya juga disebut ‘Lurah’. Program-program kerjanya agak mirip dengan apa yang ‘Kelurahan’ pada umumnya lakukan; administrasi kependudukan (mendata setiap awardee), sosialisasi program (dalam hal ini LPDP), dan lain sebagainya. Tapi ada program-program dan peran yang mungkin tidak dilakukan oleh ‘Kelurahan’ pada umumnya dan hanya khusus ditemui di ‘Kelurahan’ jenis ini.
As one umbrella. Sebagai komunitas penerima beasiswa LPDP di salah satu kampus terbaik, kita seringkali disibukkan dengan prioritas-prioritas sekolah magister dan doktoral yang sangat menggunung. Belum bicara mengenai laporan-laporan perkembangan riset yang harus disetorkan sesuai lini masa yang disepakati dengan supervisor. Belum lagi menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus yang seutuhnya baru (bagi yang bukan berasal dari ITB dan Bandung). Selain itu, kontribusi terhadap masyarakat luas harus terus menerus diadakan dan tidak boleh berhenti barang sebentar. Semua kompleksitas ini melekat erat pada peran kita sebagai penerima beasiswa LPDP. Oleh karenanya, eksistensi ‘Kelurahan’ LPDP ITB sebagai salah satu komunitas digadang-gadang sebagai salah satu upaya kolektif untuk terus bergerak dalam “Satu Payung” bersama. Kebermanfaatan aksi yang kita upayakan akan lebih besar jika kita bisa menemukan pasang “Pasak-Pasak” aksi dari sesama penerima beasiswa.
As one reminder bell. Kita semua sering lupa. Bahkan saya pribadi sering sekali lupa kegiatan seharian saya kemarin. Berkaitan dengan LPDP, dengan sebegitu banyak hal yang harus dilakukan berkaitan dengan administrasi di LPDP sebelum, selama, dan bahkan sesudah lulus sebagai LPDP Awardee, saya sering sekali bingung (karena saking banyaknya) harus mengurus apa saja, kapan saja tenggat waktunya, apa saja persyaratannya, dan segala hal yang berkaitan dengan administrasi. Untuk urusan ini, serahkan pada Kelurahan. Mereka benar-benar sangat menjadi teman yang siap membantu kapan pun berkaitan dengan administrasi yang seringkali, kita sebagai manusia yang memorinya sering lost, terjadi. Berapa banyak diantara kita yang sudah terbantu secara baik oleh keberadaan layanan oleh Kelurahan(?).
As one place to collaborate. Penerima beasiswa LPDP di ITB berasal dari beragam jurusan. Dari Jurusan yang berkaitan dengan Panas Bumi, hingga Jurusan yang mengurusi pertunjukan seni. Semuanya hampir ada. Keberagaman ini, membuat pengelolaan awardee di ITB menjadi sangat menantang dan unik, berbeda dengan ‘kelurahan’ lainnya. Tingginya tingkat perbedaan ini, membuat berbagai macam kans dan opsi kolaborasi terjadi disana-sini. Kalau memang semua berjalan secara baik dan natural, bukan tidak mungkin, lulusan LPDP ITB bahkan bisa membuat satu korporasi penuh selepas lulus. Dan lagi-lagi, ini sangat mungkin dalam wadah ‘kelurahan’.
Inti dari tulisan ini adalah rasa apresiasi saya berikan kepada seluruh penggagas konsep kelurahan, pengurus kelurahan pertama kali hingga pengurus kelurahan saat ini. Saya meyakini bahwa tantangan masing-masing kelurahan berbeda di jamannya, dan kali ini, kelurahan mendapatkan suatu tantangan untuk membuktikan bahwa ‘Payungnya’ memiliki ‘diameter’ yang cukup bagi seluruh awardee baik yang existing maupun baru, di tengah-tengah situasi LFH (Learn from Home) kali ini. Bukan hanya itu, saya juga menyadari, berbagai program kerja yang telah disusun di awal tahun harus serta merta berubah. Tidak ada satupun yang bisa menjangka, kapan pastinya ‘hujan’ ini akan berhenti. Sekonyong-konyong menunggu berhenti, bagaimana kalau kita belajar memahami hujan dan saling merangkul di saat yang bersamaan.
Hal yang mungkin kita bisa lakukan sebagai Awardee di luar kepengurusan kelurahan antara lain:
- Keep Appreciating all Kelurahan’s Attempt. Keep saying “Terima kasih”. Tidak mudah bagi mereka untuk terus keep eye on all awardees during all situations, so if we do not have to give physically, try giving the best “Terima kasih” from yours. Seberapa banyak kata “Terima kasih” yang sudah kita utarakan seutuhnya tulus dan benar adanya(?)
- Keep Participating all Kelurahan’s Attempt. Jika kita tidak bisa bergabung dengan acara-acara yang diadakan oleh kelurahan, cobalah untuk mendukungnya dengan menyebarkan informasi melalui jejaring sosial kita. Kita tidak pernah tahu bagian dari apa-apa yang kita lakukan bisa berdampak pada orang lain bukan(?). Kelurahan memang bukan turunan langit yang pasti akan sempurna seluruh programnya, tapi setidaknya mereka dan kita tahu mana yang harus diperbaiki dan ditingkatkan bersama, maka berkontribusilah.
Last night, I was on the phone with my partner-in-crime in Social Entrepreneurship, discussing about our role model in ‘how to being content people’. Shortly, My friend told me a short interesting quotes she found on Twitter recently:
“If you were born as a gold, whenever you are, wherever you are, you are still a gold. Yet, the bell wouldn’t ringing, if you still put it carelessly and not hanging it in higher place and let the wind collaborated.”
Thus, with this writings I want to be the wind for the bell. For those of you who joined the Kelurahan as organizer, please be strong and remember Dory, keep swimming!
From one of your biggest supporter — BPN.
메타데이터
- post_id
- 4b632a5d6d4e
- slug
- mengapa-ada-kelurahan-lpdp-itb-4b632a5d6d4e
- url
- https://medium.com/@bpurwocaroko/mengapa-ada-kelurahan-lpdp-itb-4b632a5d6d4e
- canonical_url
- https://medium.com/@bpurwocaroko/mengapa-ada-kelurahan-lpdp-itb-4b632a5d6d4e
- author_url
- https://medium.com/@bpurwocaroko
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-15 05:59:03