Tangisanmu Dini Hari, Khotijah
Dini hari itu, suaramu pecah di antara jeda-jeda yang panjang.
Tangisanmu Dini Hari, Khotijah
Dini hari itu, suaramu pecah di antara jeda-jeda yang panjang.
Bukan tentang kita.
Bukan tentang cinta.
Bukan tentang masa depan yang pernah diam-diam kubayangkan.
Melainkan tentang hidup yang terkadang begitu kejam kepada orang yang berusaha jujur.
Aku hanya diam mendengarkan.
Sesekali memberi pertimbangan, sesekali membiarkan tangisanmu berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Jakarta memang aneh.
Pagi bisa begitu cerah.
Sore tiba-tiba menghadirkan badai.
Dan malam ini, badai itu sedang singgah di hatimu, Khotijah.
Aku tidak tahu harus menjadi apa di hidupmu.
Bukan penyelamat.
Bukan pula tokoh utama yang datang mengubah segalanya.
Aku hanya seseorang yang kebetulan hadir ketika air matamu memilih untuk jatuh.
Tangisanmu dini hari membuatku sadar, bahkan orang yang tampak teguh sekalipun punya waktu untuk runtuh.
Dan mungkin, tidak semua yang runtuh harus segera dibangun kembali.
Ada kalanya seseorang hanya ingin didengarkan.
Tanpa dihakimi.
Tanpa dipaksa kuat.
Tanpa dipaksa segera bangkit.
Malam ini, aku hanya ingin menitipkan satu doa.
Semoga yang difitnah diberi keadilan.
Semoga yang terluka diberi ketenangan.
Semoga yang lelah diberi kekuatan.
Dan semoga tangisanmu dini hari ini, suatu hari nanti, hanya menjadi sebuah cerita yang pernah berhasil kamu lalui.
Khotijah, tidak apa-apa bila malam ini kamu menangis.
Karena bahkan langit Jakarta pun tidak selalu mampu menahan hujannya.
메타데이터
- post_id
- 4b637ea4dc5f
- slug
- tangisanmu-dini-hari-khotijah-4b637ea4dc5f
- url
- https://medium.com/@kerinduanpadakhotijah/tangisanmu-dini-hari-khotijah-4b637ea4dc5f
- canonical_url
- https://medium.com/@kerinduanpadakhotijah/tangisanmu-dini-hari-khotijah-4b637ea4dc5f
- author_url
- https://medium.com/@kerinduanpadakhotijah
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01