← Back to list

Di Tengah Kota yang Semakin Modern, Masih Adakah Ruang bagi Seni Tradisi?

Lambang Kukuh Restu Pambudi · 2026-05-30 06:49 · 0 claps · 3.0 min read
#street-art #street #cities #performing-arts #life
Open on Medium ↗

Di Tengah Kota yang Semakin Modern, Masih Adakah Ruang bagi Seni Tradisi?

Esai urban-kultural reflektif berdasarkan pembacaan terhadap relasi antara seni tradisi, ruang publik, dan transformasi budaya urban di Kota Surakarta.

Image: pinterest

Semakin modern sebuah kota bergerak, semakin jarang pula masyarakat memiliki kesempatan untuk menonton kesenian secara langsung di ruang publik. Jalanan kota pada hari ini perlahan berubah menjadi ruang yang sibuk oleh mobilitas, konsumsi, hingga eksistensi berbagai bentuk hiburan urban yang terus bertumbuh, seolah kota hanya memberi tempat bagi sesuatu yang ramai, cepat, dan menguntungkan.

Barangkali, kegelisahan semacam ini juga mulai dapat dibaca di Surakarta. Sebagai kota yang selama ini dilekatkan dengan identitas kota budaya, Solo perlahan turut bergerak dalam arus modernisasi ruang urban. Kemunculan berbagai ruang hiburan baru di kawasan jalanan di Gatot Subroto (Gatsu) Singosaren dan Ngarsopuro melalui branding Solo is Solo menunjukkan adanya upaya pemerintah kota untuk tetap menjaga denyut ruang publik agar terus hidup dan relevan bagi masyarakat hari ini. Namun, di saat yang bersamaan, tetap muncul pertanyaan yang cukup mengganggu: apakah seni tradisi masih memiliki ruang yang cukup kuat untuk bertahan di tengah dominasi bentuk-bentuk hiburan modern yang kini semakin akrab dengan masyarakat kota, mulai dari kultur coffee shop hingga pertunjukan musik populer yang lebih mudah menarik perhatian publik?

Pertanyaan itulah yang terasa cukup relevan ketika TrotoArt Gema Nuswa hadir di ruang jalanan kota. Sebagai bagian dari aktivasi Program Mahasiswa Berdampak (PMB) ISI Surakarta, acara ini diinisiasi oleh kelompok Rona StreetLabs dan diselenggarakan bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surakarta melalui Solo is Solo. Dalam semalam, ruang yang biasanya dipenuhi lalu-lalang kendaraan, keramaian tongkrongan, & aktivitas masyarakat urban berubah menjadi ruang pertemuan antara seni tradisi dan publik.

Menariknya, kesenian tradisi yang dihadirkan justru berasal dari lanskap budaya Jawa Timuran melalui penampilan Cak Adi Tak Tong, Komunitas Arjasura, Laskar Blambangan, dan Bala Kuda. Berbagai sajian seperti Remo Bolet, Jaran Goyang, Beskalan Putri, Jejer Gandrung Gurit Mangir, Remo Arjasura, hingga Jaranan Sentherewe hadir di tengah riuh kawasan kota yang belakangan semakin identik dengan kultur hiburan modern. Di titik inilah, kesenian tradisi kembali mencoba hadir bukan sekadar soal nostalgia masa lalu, melainkan sebagai pengalaman budaya yang benar-benar dialami secara langsung oleh masyarakat hari ini.

Hal yang menarik, pertunjukan diselenggarakan tepat di depan KFC Ngarsopuran. Sebuah ruang yang selama ini lebih identik dengan kultur konsumsi urban kota Solo, tempat orang datang untuk makan, nongkrong, atau sekadar menghabiskan malam di tengah keramaian kota. Namun untuk semalam, ruang dengan citra modern semacam itu justru berdampingan secara langsung dengan bunyi gamelan, gerak tubuh penari tradisi, dan berbagai bentuk kesenian yang selama ini kerap diasosiasikan sebagai sesuatu yang “tradisional” dan jauh dari kehidupan urban hari ini.

Di titik inilah TrotoArt Gema Nuswa menjadi sangat menarik untuk dibaca bukan hanya sebagai sebuah pertunjukan seni, melainkan sebagai peristiwa sosial dan kultural. Sebab yang sedang terjadi bukan hanya sekadar pagelaran kesenian di ruang publik, tetapi juga pertemuan antara dua lanskap budaya yang selama ini sering diposisikan saling berjauhan: budaya urban modern dengan kesenian tradisi. Barangkali, pertemuan semacam ini menjadi penting justru karena ia memperlihatkan bahwa seni tradisi hari ini sebenarnya belum sepenuhnya kehilangan relevansinya di tengah masyarakat urban. Yang perlahan menghilang bukan semata keseniannya, melainkan ruang perjumpaannya. Ketika kesenian tradisi terlalu sering ditempatkan hanya di gedung pertunjukan, agenda seremonial, atau ruang-ruang yang terbatas, masyarakat pun secara perlahan dapat kehilangan kesempatan untuk mengalami peristiwa kebudayaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka sendiri.

TrotoArt Gema Nuswa hadir untuk memperlihatkan kemungkinan yang berbeda. Bahwa seni tradisi masih mampu hidup ketika dipertemukan kembali dengan ruang tempat masyarakat benar-benar berada. Orang-orang yang awalnya datang untuk makan, nongkrong, atau sekadar berjalan melewati kawasan tersebut perlahan membentuk kerumunan, berhenti sejenak, lalu menyaksikan seni pertunjukan yang mungkin sebelumnya terasa begitu jauh dari keseharian mereka. Di momen semacam itu, jalanan tidak lagi hanya berfungsi sebagai ruang mobilitas, melainkan berubah menjadi ruang sosial tempat budaya kembali mengalami kehidupan.

Mungkin, di titik inilah ruang publik di kota perlu kembali dipikirkan bukan hanya sebagai ruang yang bermanfaat untuk ekonomi dan hiburan, tetapi juga sebagai ruang untuk kebudayaan. Sebab, sebuah kota yang terus bergerak maju menuju modernitas tetap membutuhkan ruang bagi masyarakatnya untuk bisa menjaga hubungan dengan ingatan, identitas, dan pengalaman kolektifnya sendiri. Dan terkadang, hubungan semacam itu dapat lahir dari sesuatu yang tampak begitu sederhana: orang-orang yang berhenti sejenak di depan KFC untuk menyaksikan gamelan dan tari tradisi hidup kembali di tengah jalanan kota.

~ Surakarta, 24 Mei 2026


메타데이터
post_id
4b95024a3498
slug
di-tengah-kota-yang-semakin-modern-masih-adakah-ruang-bagi-seni-tradisi-4b95024a3498
url
https://medium.com/@satriogagah70/di-tengah-kota-yang-semakin-modern-masih-adakah-ruang-bagi-seni-tradisi-4b95024a3498
canonical_url
https://medium.com/@satriogagah70/di-tengah-kota-yang-semakin-modern-masih-adakah-ruang-bagi-seni-tradisi-4b95024a3498
author_url
https://medium.com/@satriogagah70
status
ok
fetched_at
2026-07-14 12:12:17