Musim-musim & Kenangan Manusia
Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan sederhana. Pernahkah kalian mandi hujan? Pernahkah kalian melihat daun-daun…
Musim-musim & Kenangan Manusia

Photo by Yu Kato on Unsplash
Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan sederhana. Pernahkah kalian mandi hujan? Pernahkah kalian melihat daun-daun berguguran dari tangkainya, kalau di Eropa atau di negara-negara yang memiliki lebih dari dua musim, pernahkah kalian melihat salju pertama turun untuk pertama kali? Pernahkah kalian melihat aurora, atau apakah kalian pernah merasakan angin malam yang berembus dingin di musim kemarau dari atas kapal feri yang sedang melaju di atas laut, ataukah keesokan harinya kalian akan melihat pagi yang dingin dengan udara yang berkabut?
Lalu setelah melihat fenomena alam yang sebenarnya biasa saja itu, apakah kalian merasakan semacam keindahan yang dalam? Keindahan yang hanya bisa dicerna dan dirasakan oleh batinmu sendiri. Bagaimana perasaanmu saat mendengar suara hujan, bagaimana melihat daun-daun berguguran, bagaimana melihat kabut menebal, bagaimana melihat salju pertama turun. Itu tidak bisa terlepas dari momen, itu tidak bisa terlepas dari kenangan yang melatarbelakangi segala keindahan di belakangnya.
Tiap momen itu dilihat dengan cara yang berbeda oleh setiap orang, karena setiap orang memiliki latar belakang, pengetahuan, dan ceritanya sendiri-sendiri dengan musim-musim yang berganti itu. Setiap orang juga memiliki ingatan dan kenangan yang berbeda terhadap tiap kejadian fenomena alam itu, dan ini tidak bisa dipersamakan antara satu dengan yang lain. Yang bisa saya samakan adalah bagaimana cara mereka mengenang ketika hujan datang, atau ketika melihat salju pertama turun, atau saat melihat guguran daun-daun akasia yang luruh dari tangkainya satu persatu.
Setiap orang sebenarnya memiliki pengetahuan itu, kenangan itu. Mereka memiliki kemampuan kenangan itu, dan tiap orang pun memiliki ceritanya sendiri-sendiri dengan fenomena musim-musim itu. Tapi itu semua tentu saja tidak bisa dipisahkan dari kegiatan mengenang yang dilakukan oleh manusia. Dalam sebuah penelitian setidaknya manusia itu dalam seminggu ia bisa 3–4 kali bernostalgia. Dan perlu dipahami bahwa nostalgia ini terkait erat dengan masa lalu dan kenangan.
Ada yang mengenang dengan cara-cara yang gembira dan indah, karena ia memiliki ingatan tentang masa lalu dan kenangan masa kecil yang indah pula saat ia mengingat turunnya hujan, saat suara hujan menyentuh genting atau seng rumahnya, maka kesan dan ingatan dan kenangan itu tidak akan pernah hilang dalam benaknya, karena ia terlalu indah untuk dilupakan. Nuansa, aroma, kenangan, dan ingatan yang mungkin samar itu akan terus terbawa hingga si anak kelak beranjak dewasa, dan itu juga sedikit banyak akan mempengaruhi pedalaman batinnya. Bahkan kehidupannya.
Begitu juga ketika melihat musim bunga di jalan-jalan kota misalnya, ketika bunga-bunga tabebuya bermekaran di pinggir jalan dan kemudian bunga-bunga berwarna kuning itu berguguran, kita akan melihat keindahannya sendiri dalam proses yang begitu alami itu. Namun setiap orang akan berbeda dalam melihatnya, dan kepekaan akan rasa indah itu juga berbeda-beda dari satu orang dengan orang yang lain.
Musim-musim, pergantiannya, dan keindahan alam yang berlangsung secara alami itu tidak bisa dipisahkan dari kepekaan dan sensibilitas batin yang dimiliki oleh manusia, yang merasa, memiliki pengetahuan estetika di dalam kepalanya maupun di dalam hatinya. Setiap manusia memiliki sensibilitas keindahan itu di dalam batinnya, hanya saja berbeda level perasaannya, level kepekaannya, dan ini sebenarnya bisa dilatih dan dipelajari terus menerus. Pergantian musim-musim yang alami itu juga tidak bisa terpisahkan dari kenangan yang dimiliki oleh manusia, karena terkadang kenangan itu juga datang dengan pergantian musim yang dilalui oleh pohon-pohon, oleh hujan, oleh angin yang berkesiur pelan. Dan di titik ini kita akan mengajukan satu variabel penting tentang momentum. Karena semua itu kemudian akan sangat berkait erat dengan sensibilitas keindahan pertama yang dimiliki oleh tiap manusia, sebagai suatu bentuk aliran estetika naturalisme, seni keindahan tentang alam semesta.
Padahal manusia sendiri juga memiliki keterkaitan antara kenangan yang dimiliki dengan musim-musim yang berganti, dan itu berpola, seperti sebuah bawaan batin itu sendiri, bahwa musim-musim yang berganti, keindahan alam yang membentang itu ada kaitannya dengan kenangan manusia, dan bagaimana manusia mempelajari keindahan memalui indranya, maupun melalui perasaan batinnya.
Sehingga saya bisa menyimpulkan bahwa pengetahuan dan gambaran tentang keindahan musim-musim yang berganti di dunia ini, itu tidak bisa lepas dari pengalaman dan kenangan manusia itu sendiri. Bahwa manusia pula yang meromantisasi dan memaknai kejadian alam yang sebenarnya adalah kejadian sehari-hari saja, adalah kejadian yang sebenarnya alamiah semata, dan itu sudah berjalan semenjak ratusan, ribuan, bahkan jutaan tahun yang lalu. Namun ia akan terlihat begitu indah tergantung siapa yang melihatnya dan bagaimana mereka melihatnya. Dan ini tentu sangat bisa disamakan dengan proses membaca dan pembacaan. Dan di sinilah nanti budaya dan nilai-nilai dibentuk.
Manusia zaman purba yang berburu mungkin sibuk dengan buruannya, dan tidak sempat melihat keindahan alam yang silih berganti di sekitarnya, ia mungkin saja tidak peduli dengan senja yang turun, ombak yang bergulung, angin yang berkesiur, bulan yang begitu terang sempurna, malam yang sunyi, dan keindahan-keindahan yang bisa dirasakan dengan indra manusia itu sendiri. Namun bukan berarti mereka benar-benar tidak peka dan tidak peduli. Hanya saja bagi mereka itu adalah hal yang alamiah semata, dan itu bagi mereka tidak penting-penting amat. Karena bagi manusia berburu yang terpenting adalah berburu dan mengisi perutnya untuk bertahan hidup, dan mereka tidak sempat meromantisasi keindahan-keindahan alam yang sebenarnya terjadi silih berganti di sekitar mereka. Dan keindahan ini kemudian dapat diromantisir dan perlahan diperhatikan dan diseriusi ketika kebutuhan pokok manusia sudah terpenuhi terlebih dahulu. Barulah mereka dapat mengasah sensibilitas dan kepekaan tentang nilai-nilai estetika di dalam jiwa mereka sendiri.
Pertanyaan lucu dan satire juga bisa diajukan di sini. Bagaimana mungkin seseorang dapat mengenang dengan tenang, benar, dan penuh kegembiraan nostalgik, jika perutnya saja kelaparan. Ya saya bisa menjawab dengan santai pula, “Nah itu dia, kita bisa membuat kenangan dan nostalgia kehidupan kita ketika kita merasakan kelaparan itu. Karena tidak semua orang bisa meromantisasi dan mengglorifikasi rasa lapar, kecuali pengarang dan penyair”
메타데이터
- post_id
- 4bbb36bf45f4
- slug
- musim-musim-kenangan-manusia-4bbb36bf45f4
- url
- https://medium.com/@juliprasetya/musim-musim-kenangan-manusia-4bbb36bf45f4
- canonical_url
- https://medium.com/@juliprasetya/musim-musim-kenangan-manusia-4bbb36bf45f4
- author_url
- https://medium.com/@juliprasetya
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-27 10:07:59