Sepuluh Puisi Bulan April Untuk Perempuan Sepuluh Mei
Tulisan berisi prolog panjang, sepuluh puisi, dan epilog singkat
Sepuluh Puisi Bulan April Untuk Perempuan Sepuluh Mei
Tulisan berisi prolog panjang, sepuluh puisi, dan epilog singkat
Prolog
Jika sebuah pengakuan tidak bisa kita dapati dari orang lain, maka sebetulnya kita adalah orang yang paling bertanggung jawab mengakui hal-hal yang terjadi pada diri sendiri. Mengakui perasaan-perasaan yang kerap kita sembunyikan dari orang lain. Mengakui kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat. Mengakui bahwa sebetulnya kita membutuhkan orang lain dalam perjalanan singkat di alam yang kita huni saat ini.
Saya akui,
April lalu saya merasa hampa, sepi, kosong, gelisah, berdebar, dan hangat. Tapi, saya tak pandai mencari waktu untuk menceritakannya pada manusia. Lebih tepatnya saya bingung kapan waktu yang tepat untuk menemui orang lain, lalu memintanya mendengarkan saya. Memikirkan kemungkinan bahwa saya harus menunggu, lalu mungkin … akan berpeluang merasakan kecewa lagi.
Aduh …
Saya terlalu takut mengganggu waktu orang lain. Perasaan seperti ini kerap membuat salah paham muncul antara saya dengan orang-orang terdekat.
‘Aku kayak ngerasa gak pernah bantuin kamu.’
‘Aku terus yang minta bantuan kamu.’
Itu adalah curhatan beberapa teman, umm … atau mungkin, keluhan ya? Entah apa definisi kalimat tanya itu, tapi setiap mendapati pertanyaan itu, saya sendiri pun bingung.
‘Mengapa sulit sekali menyadari situasi di mana saya membutuhkan pertolongan orang lain?’
Setinggi itu kah ego saya?
Pertayaan orang lain bukannya mendapat jawaban, malah berbalas pertayaan kembali. Maka, di tengah prolog ini saya mencoba mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Saya memejamkan mata, kemudian mengajukan pertanyaan itu pada diri saya. Jika diilustrasikan, ada sesosok jiwa menyerupai saya keluar dari raganya. Sang sosok memegang tangan raga yang terpejam seolah ingin membujuknya agar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tertulis di atas (tulisan yang berukuran lebih besar dari tulisan lainnya).
Raga yang terpejam itu ingin meneriakkan dengan lantang bahwa ia sangat membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Sayang, jiwa yang melekat pada raga itu seringkali merasa kecewa karena kebutuhan-kebutuhannya tak bisa ia dapatkan dari orang — yang ia pikir bisa membantu. Akhirnya, lagi-lagi raga itu harus berjuang sendiri memenuhi kebutuhannya.
Raga itu berterus terang bahwa kulitnya kerap meresapi air mata kecewa dan air itu tidak hanya merembes sampai di kulit. Jiwa yang melekat pada raga itu ikut merasa basah oleh genangan perasaan pahit dan asam dari air mata kecewa itu. Tapi, kecewa yang membanjiri jiwa dan raga itu berubah menjadi kehangatan yang mengalir dipipi. Mungkin hangat itu berasal dari kasih sayang Tuhan yang hendak menghapus air mata hamba-Nya yang bersedih.
Raga itu menuliskan kehangatan yang ia rasakan menjadi kumpulan bait yang menjelma menjadi puisi-puisi. Puisinya mungkin tak sehangat air mata yang menjejaki wajah, sajaknya bisa jadi dianggap terlalu meromantisasi kekosongan dan ketidakberdayaan. Tapi, puisi itu adalah bentuk pengakuan akan perasaan yang menerpanya di bulan April lalu.
Puisi di bulan April adalah bagian dari saksi bahwa bulan itu saya sangat membutuhkan pelukan. Dingin sekali hari-hari di purnama ke empat tahun 2025.
Raga yang terpejam itu kembali membuka mata. Menyadari bahwa April yang menggigilkan jiwanya telah berlalu. Purnama kelima di 2025, yakni bulan Mei sudah menyapanya bahkan lebih dari sepekan. Itu artinya sebentar lagi akan ada tanggal penting yang akan menghampirinnya.
Hari kesepuluh di bulan Mei adalah hari sahabat saya hadir di dunia, dua puluh tiga tahun silam menurut kalender masehi.
Sahabat saya itu adalah orang yang mengirimi saya pesan, bukan hanya melalui balasan cerita di sosial media. Di tengah menghilangnya saya dari dunia per-media-an, ia adalah sosok yang mencari saya dan menanyakan kabar.

Pesan singkat yang hangat
Pesan itu saya baca setelah terbangun dari lelap yang tak sengaja saya tunaikan, selepas beraktivitas seharian di luar. Saya terbangun sekitar pukul sebelas malam. Dua pesan singkat itu bagai terapi yang membuat otot-otot kaku saya kembali dialiri darah — hangat dan relax.
Saya tersadar bahwa April yang dingin sudah benar-benar berlalu. Sekarang saya harus melalui apa pun yang akan menghampiri saya di bulan Mei. Kalau saja bulan adalah musim, mungkin bulan Mei adalah musim semi yang datang setelah musim dingin yang menyelimuti bulan April.
Pesan dari sahabat saya itu membuat permulaan Mei saya mekar oleh senyuman haru, lantas saya mendekap ponsel yang menampilkan pesan tersebut. Tak peduli maksud tujuan ia mengerimi pesan itu, tapi saya memilih untuk percaya bahwa sahabat saya itu masih mengingat keberadaan saya di dunia ini.
Saya membalas pesan singkat nan hangat itu dengan kalimat-kalimat yang membentuk paragraf panjang. Berterus terang dengan kabar saya di bulan lalu, bulan April yang jenuh dan dingin. Dari pesan itu saya menyadari, ternyata salah satu kelemahan diri saya ialah: Tidak tahu kapan harus meminta bantuan?
Dari pesan itu akhirnya kami kembali sering bertukar pesan, hingga ada situasi yang membuat saya membongkar sesuatu yang saya simpan selama ini. Saya memberinya akses untuk melihat secuil isi folder di laptop saya dan berjudul “Tulisan yang belum pernah dipublikasikan”.
Kemudian di dalam folder itu ada folder lagi yang saya beri judul “Puisi”. Folder itu adalah saksi jejak saya di bulan April yang menjelma menjadi sajak. Puisi yang rencananya akan saya publikasikan ketika sudah banyak. Tapi, lucunya saya tak pernah membuat tolak ukur ‘banyak’ itu seberapa.
Akhirnya, saya teringat kalau fokus hidup saya saat ini hanya skripsi, skripsi, dan skripsi. Alhasil belum membuatkan hadiah untuk ulang tahun sahabat saya tadi. Ia lahir pada tanggal sepuluh bulan lima. Entah ini ide cemerlang atau ide yang buruk, saya putuskan sepuluh judul puisi-puisi yang saya tulis di bulan April lalu, akan saya persembahkan untuk sahabat saya. Sekalian melunasi janji beberapa hari sebelum saya membuat tulisan ini.

Janji penulis pada sahabatnya
Lekat di ingatan saya bahwa dia sangat suka “Gebrakan Baru” di hari ulang tahunnya. Maka, saya ingin menghadiahinya sebuah gebrakan baru, yaitu membuat tulisan panjang di platform medium berisi puisi-puisi yang saya janjikan ‘ada waktunya puisi itu bakal dibaca kamu teh.’
Kalau menunggu jadi sebuah buku, saya rasa tak akan selesai pada 10 Mei. Mungkin juga puisi itu akan mengamini judul folder utamanya, yakni menjadi tulisan yang belum pernah dipublikasikan— atau ia tidak akan pernah dipublikasikan. Maka, setelah ini akan saya persembahkan Sepuluh Puisi Bulan April Untuk Perempuan Sepuluh Mei.
Dalam benak saya jika puisi itu terbit menjadi sebuah buku cetak, sampulnya akan berwarna lilac dengan efek aqua yang magis ditambah ukiran keemasan bertema musim semi. Sampulnya bertekstur layaknya kanvas dengan judul yang menggunakan jenis tulisan vintage. Kurang lebihnya begini …

Khayalan penulis tentang desain buku berisi puisi untuk sahabatnya
Saya merencanakan sampulnya demikian karena sahabat saya memiliki warna favorit ungu dan setelah saya amati ungu yang ia suka itu lebih ke lilac (semoga saja ini benar). Warna aqua yang memudar bak asap yang hampir hilang namun tetap ada itu ibarat puisi bulan April yang ingin saya persembahkan untuk sahabat saya. Ukiran keemasan itu sebetulnya memuat elemen-elemen tumbuhan yang bermekaran dengan tema dunia peri. Membayangkan musim semi, elemen-elemen itu yang terpriming di benak saya.
Masih ingat kan kalian kalau saya menganalogikan permulaan Mei ini dengan musim semi?
Sebetulnya, ingin sekali saya mendesain bagaimana lembaran berikutnya, lembar persembahan, kata pengantar, kemudian daftar isi, barulah puisi-puisinya. Tapi, saya percaya sahabat saya tidak akan marah atau kecewa walaupun saya hanya berhasil mendesain sebatas sampul tadi saja. Dia adalah satu dari sedikit orang yang tau apa yang sedang saya hadapi saat ini. Semoga saja hadiah sederhana ini cukup untuk mengisi ruang-ruang di hatinya.
Here we go ..!
Merayakan Sepuluh Mei dengan Sepuluh Puisi dari Bulan April

Puisi Pertama
#1- Merayu Tuhan Untuk Berbaik Hati
Merayu tuhan untuk berbaik hati? Saya pikir tuhan selalu baik Lantas mengapa harus ada rayu antara saya dan Tuhan? Ternyata rayuan itu untuk menjaga api harapan saya Bahwa saat semua tak percaya dengan mimpi yang saya genggam Tuhan ingin saya membuka genggaman itu Kemudian menengadah dan bercerita
“Tuhan saya sudah berusaha, maka jadikanlah!”
Catatan penulis untuk puisi #1: Saya mungkin tidak bisa menceritakan secara eksplisit dalam tulisan ini, apa yang membuat saya menuliskan puisi ini. Tapi, saya harap puisi ini bisa menemani perjalanan spiritual dan perjuangan pembacanya — terutama sahabat saya dalam mempertahankan harapannya di tengah ketidakpastian. Berdoalah!
“Doa itu ibarat bahan bakar yang membuat manusia terus berjalan, meskipun jalan itu tidak selalu mudah.”

Puisi Kedua
#2- Pelik Hari Ini
Yaa Allah, aku sedang Engkau jaga dari apa? Kenapa jalan ini terlihat banyak sekali cobaannya? Anehnya, aku tetap bertahan Entah doa siapa yang melesat kencang ke langit Mungkin satu sebutan namaku pada doa yang meminta penjagaanmu Membuat aku dengan langgeng meniti jalan ini
Musibah apa yang Engkau hindarkan dariku?
Tanyaku tak akan selesai, Tapi aku yakin jawaban-Mu akan ku pahami Ketika sudah waktunya aku memahaminya Yang ku tau dari dulu aku banyak mau Perih dan peliknya hari ini, barangkali adalah hujan yang akan menumbuhkan bunga yang pernah ku pinta.
Catatan penulis untuk puisi #2: Jika suatu saat kepala sahabat saya penuh tanya di tengah menjalani hidup yang penuh cobaan. Saya harap puisi ini bisa menemaninya bertahan di tengah beratnya melangkah meniti jalan kebenaran, karena ada doa yang ikut menjaganya. Doa ibu, keluarga, teman-teman, dan doa dari saya.
“Terkadang kita tidak tahu Tuhan sedang melindungi kita dari apa. Mungkin dari sesuatu yang lebih buruk yang mungkin tidak kita sadari.”

Puisi Ketiga
#3- Hidup Rasa Mati
“Apa sih mau mu?” Tanyaku pada sosok di cermin Agaknya tulang punggung si penatap tak kuat duduk lama Jemarinya sangat cepat menyerah susun potongan isi kepala Lebih pilih menggulirkan layar yang membusukkan muara pikir
Makan asal masuk Minum asal ingat Hidup asal-asalan, serampangan! Untung mandi dikerjakan seorang diri Kalau manusia lain yang kerjakan, tamat riwayat! Mati.
Hidup seperti tak bernyawa ini, sama halnya mati? atau ingin libur menjadi manusia yang diberi kehidupan? Nantilah istirahat, masih di dunia. Kelak di kubur kau mungkin akan lebih lama berbaring. Entah baringan abadi itu akan datang esok, atau bahkan beberapa menit kemudian. Maka kembalikan nyawa kehidupanmu detik ini juga!
Catatan penulis untuk puisi #3: Nanti kalau ada fase hidup yang membuat sahabat saya merasa down, saya harap puisi ini dapat mengingatkannya bahwa hidup terlalu berharga untuk dijalani dengan asal-asalan. Saya adalah orang yang sangat percaya dengan potensi besar dalam dirinya. Mungkin ini pesan juga untuk saya selain untuk sahabat saya.
“Bangkitlah, genggam kembali kendali atas hari-harimu, sebelum waktu mengambilnya darimu. Kamu tidak sendiri, hidupkan kembali nyawa kehidupan itu!”

Puisi Keempat
#4- Menemui Kehidupan
Hidup harus ditemukan selalu Bisa jadi ia ada di secangkir teh pagi hari Jika tak ada teh di dapur, beranjak! Mungkin ia ada di hehijauan yang tersinari mentari Oh, hangatnya lebih nyata menembus tulang.
Keluarlah, sampah semalam perlu dibuang. Pungut kotoran yang mencemari matamu Lap sembab, buang ingus, bersihkan!
Bagaimana dengan pantulan cermin? Di sana kau lihat senyum atau lesu? Hanya perlu menaikkan sepeser otot pipi, kau akan lihat keajaiban dunia. Tak percaya? Coba saja!
Aduhai manisnya ciptaan Tuhan yang sedang mengulum senyum ini.
Catatan penulis untuk puisi #4: Kadang, ketenangan hidup itu bersembunyi di tempat-tempat sederhana. Kalau-kalau sahabat saya mulai tidak bersemangat menjalani hidup, saya harap puisi ini bisa menuntunnya menatap pantulan dirinya yang tersenyum manis.
“Karena senyumannya itu adalah terapi yang bisa menumbuhkan benih semangat pada kejenuhan hidup.”

Puisi Kelima
#5- Gerutu Saat Jatuh Hati
Sialan! Tak ada efek jera dengan perasaan berbunga ini Sudah paham bunga ini racun Tetap saya kagum dengan warna-warninya Saya dibuatnya menunggu angin berhembus Meniup mahkota bunga agar menghadap saya
Sialan! Saya lagi-lagi dibuat pasif, takut kehilangan Hingga haus perhatian Seakan dehidrasi dan mau saja meminum racun Asal tenggorokan kembali dialiri cairan
Mampus! Kalau begini apa jawabku bila Tuhan bertanya, “Untuk apa kau habiskan masa mudamu?”
Catatan penulis untuk puisi #5: Di masa yang masih sendiri ini, saya dan sahabat saya sering berbagi cerita. Pernah ada masanya saya dan sahabat saya mengalami butterfly era. Tapi, melalui puisi ini saya harap kami berdua dan semua orang yang menemukan puisi ini ingat, meskipun jatuh hati mungkin pernah membuat kita lupa logika, terperangkap dalam harapan dan menanti perhatian. Tapi ingatlah, perasaan yang menggantung dan bergantung bisa jadi racun jika tak diarahkan dengan bijak.
“Jadilah tuan atas hatimu, bukan budak dari perasaan yang tak jelas tujuannya. Cintai dengan bijak, berharap dengan sadar, dan pastikan hatimu tetap utuh.”

Puisi Keenam
#6- Tangki Kosong Yang Sombong
Mengkerut puncak kepala saya Mencoba ingat, “Apa yang menjadi lemah diri?” Saya bisa mencari pundi-pundi rupiah Bersolek pun bukan masalah Keras pada diri, artinya pekerja keras bukan? Walah-walah! Saya rasa bangun pagi juga tak berat dilaksanakan Bertutur lembut, berlaku sopan Aduhai sempurna.
Sombong! Kau begitu sombong mengakui diri tak ada lemah Bukankah hatimu kerap kali kau jatuhkan Pada sembarang nama yang belum kau kenal Hanya karena baik budi di awal Kau kira akan selalu baik hingga akhir?
Sadarlah bahwa kau punya hati yang teramat lemah Ego tinggimu yang tak teriak tatkala jatuh hati Sedikit banyak menyelamatkanmu dari bencana Kau sombong bisa berujar, “SEMPURNA” Yang ada hanyalah tangki kosong yang nyaring memanggil …
… jiwa penuh rasa penasaran.
Catatan penulis untuk puisi #6: Saya sangat berharap sombong ataupun angkuh tidak terselip dalam hati saya, sahabat yang saya sayangi itu, pun semua pembaca tulisan ini. Tapi, kadang tak dipungkiri kesombongan bisa datang dalam bentuk yang tidak kita sadari.
“Mari izinkan hati kita belajar untuk merendahkan hati dalam balutan doa-doa di setiap sujud. Lalu, menitipkan hati di tempat yang sangat tinggi, yakni genggamannya Allah. Agar yang berhasil menyentuh hati itu hanya hamba yang terpilih oleh-Nya.”

Puisi Ketujuh
#7- Jiwa Sepi Yang Ingin di Peluk
Pagi itu saya butuh sekali dipeluk Dingin, hampa, rapuh … Sempat terpajang beberapa lukis wajah di museum kepala Ada rupa ibu yang begitu saya rindu Pasti tubuh hangatnya bisa menenangkan badai di hati ini Saya ingin kembali berboncengan motor dengan ayah Memeluknya diam-diam dari belakang Merasakan tulang punggung yang dulunya begitu kokoh Kalau saja ini di rumah, saya bisa minta adik-adik mungil itu peluk saya Ogah-ogahan tak apa, jika pun menolak kami akan saling tawa
Saya rasa semakin berjalan untuk mimpi dan ambisi Sepi ini nyata sekali Sepi yang banyak menenangkan sebetulnya Sayangnya tak lepas dari kehampaan yang mengundang rapuh
Peluk … Tuhan peluklah manusia yang kesepian ini Dekap erat kehampaan jiwanya atau kirimkanlah makhluk bumi yang sudi Menghantarkan ketulusan hatinya untuk jiwa yang sepi.
Catatan penulis untuk puisi #7: Puisi ini adalah ungkapan kerinduan akan kehangatan untuk meredakan badai di dalam hati. Saya sangat sadar ada harga yang harus dibayar dalam proses mengejar mimpi dan ambisi, yakni rasa sepi. Mana lagi prinsip hidup sahabat saya juga sama halnya dengan saya, percaya bahwa kami harus menjadi manusia yang berdaya. Maka, saya ingin puisi ini menjadi sebuah validasi pada perasaan sepi yang menerpa pejuang mimpi. Sepi itu nyata, meski kadang terasa menenangkan, tetap menyisakan kehampaan yang mengundang rapuh.
“Maka ucapkanlah terima kasih kepada orang-orang yang masih memberi kepeduliannya padamu, sebab itu adalah salah satu peluk untuk pelik yang mencekik.”

Puisi Kedelapan
#8- Ruang Kosong
Saya mengintip ke bilik yang dulunya berisi Riuh akan validasi Perlahan saya saksikan bahwa bilik telah kosong Hening … Hanya deru napas yang menyentuh gendang telinga Saya betul-betul sendiri sekarang?
“Betul ..!” Suara terdengar dari logika dan perasaan yang berpapasan Tak apa, kosongmu ini adalah pintu menuju pemulihan Sadari apa yang benar-benar kau butuhkan
Ruang ini hening, bersih distraksi Supaya rintihan terdengar jelas oleh dirimu sendiri Sudikah kau duduk bersama sepi? Barangkali akan kau temukan bahwa tanpa semua yang pernah kau pegang Kau tetap berharga Dirimu tetap hidup
Catatan penulis untuk puisi #8: Terkadang, saya takut pada kekosongan — saat semua yang dulu mengisi hari-hari tiba-tiba lenyap, dan saya dihadapkan pada hening yang asing. Tapi sadarkah? Kekosongan itu bisa jadi adalah bentuk sayang-Nya yang sedang membersihkan ruang-ruang hati dari hal-hal yang semu, agar saya bisa mendengar dengan lebih jernih apa yang benar-benar saya butuhkan. Apabila sahabat saya dihadapkan pada perasaan kosong, saya harap ia ingat puisi ini.
“Kekosongan bukan akhir dari segalanya; ia adalah ruang pemulihan dan tempat untuk menyadari betapa bernilainya diri ini.”

Puisi Kesembilan
#9- Nyala dalam Redup
Saya adalah nyala dalam redup Kecil, gemetar, tapi belum mati. Dalam gelap yang paling pekat Saya menolak padam Tak perlu terang yang membakar Cukup redup yang setia menjaga Di antara hening dan rapuh Sebuah nyala mungil belum sudi menyerah pada gelap Tak acuh apakah ada yang benar-benar melihat cahaya saya Atau hanya dianggap asap yang perlahan hilang,
Saya hidup, saya ada, saya masih bertahan
Catatan penulis untuk puisi #9: Ketika nanti perjuangan saya tak diperhatikan, pun perasan ini dialami oleh sahabat saya. Penuh harap agar kami berdua ingat bahwa tidak perlu menjadi terang yang menyilaukan; cukup jadi nyala kecil yang setia menjaga. Karena bertahan dalam redup itu adalah bentuk keberanian.
“Jangan remehkan kekuatan diri. Kadang, cahaya kecil itu cukup untuk menerangi jalan kita menuju hal-hal besar yang sedang menanti di depan.”

Puisi Kesepuluh
#10- Tuhan Tak Pernah Salah Hari
Tuhan menjawab doa saya dalam hitungan hari Kabulkan harapan yang saya tuntut lewat tengadahan jemari Tuntutan diberi pelukan Tuntutan ditunjukkan kebenaran Tuntutan dilindungi dari keburukan Tuntutan dikaruniai kebahagiaan Diborong semua pengabulan tuntutan dalam sehari Inikah balasan yang adil untuk saya yang kerap lalai menghambakan diri?
Saya tak mau berprasangka ini ujian Maha Adil, itu kepercayaan saya pada Tuhan Ego diri percaya bahwa sabar membuat saya dibersamai Tuhan Dia beraksi layak hakim yang mengabulkan seluruh tuntutan Semakin membuat penggugat ini mempercayai keyakinan Yakin bahwa tak ada doa yang tak dikabulkan Jika belum hari ini Mungkin esok hari
Tuhan tak pernah salah hari
Catatan penulis untuk puisi #10: Akan ada hari di mana saya ingat semua doa yang sudah saya langitkan dan itu dikabulkan. Walaupun saya dibuat berdebar oleh keraguan kapan doa itu akan terwujud, tapi saya yakin doa itu tidak meluap sia-sia.
“Tuhan sudah menentukan tanggal yang tepat untuk pengabulan doa kita selama ini, maka bersabar adalah keterampilan yang harus dikuasai oleh para pendoa.”
Epilog
Tulisan ini terasa lebih panjang dari dugaan saya. Membacanya pun saya yakin tidak akan sebentar. Mungkin butuh belasan atau puluhan menit. Maka, tulisan ini tidak perlu terburu diselesaikan ketika dibaca. Tapi, tulisan ini bisa menjadi opsi untuk menenangkan badai, menemani perjalanan, memeluk sepi, atau hanya untuk mengisi kekosongan. Paling tidak saya berharap tulisan ini bisa menghangatkan hati sahabat saya di hari ulang tahunnya nanti. Dan kapanpun ia butuh membaca tulisan yang membuat dirinya merasa tidak sendiri berjuang di dunia ini, tulisan ini adalah salah satu teman berjuangnya.
Teruntuk Afifah Salsabila,
Selamat kamu telah menemui angka baru di perjalanan hidup ini. Banyak maaf atas hal-hal dariku yang selama ini kurang berkenan di hatimu. Terima kasih telah bertahan berteman dengan manusia rumit sepertiku. Tulisan ini adalah akumulasi life update bulan April yang sangat ingin aku ceritakan padamu. Tolong tetap hidup dengan baik ya my beloved lavender …
Sampai jumpa di pertemuan yang Allah rencanakan untuk kita di masa mendatang.
메타데이터
- post_id
- 4bc0ac895ddf
- slug
- sepuluh-puisi-bulan-april-untuk-perempuan-sepuluh-mei-4bc0ac895ddf
- url
- https://medium.com/@firliart/sepuluh-puisi-bulan-april-untuk-perempuan-sepuluh-mei-4bc0ac895ddf
- canonical_url
- https://medium.com/@firliart/sepuluh-puisi-bulan-april-untuk-perempuan-sepuluh-mei-4bc0ac895ddf
- author_url
- https://medium.com/@firliart
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 23:43:22