Sosio Politik Masyarakat Dakwah
A. Sosiologi dan Dakwah
Sosio Politik Masyarakat Dakwah
A. Sosiologi dan Dakwah
Sosiologi dakwah adalah ilmu yang mengkaji tentang upaya pemecahan masalah-masalah dakwah dengan pendekatan sosiologi, aspek dari sosiologi dakwah adalah masyarakat karena dalam aktivitas dakwah terdapat hubungan dan pergaulan sosial yakni antara da’i dengan mad’unya. Dalam hubungan ini perlu dikemukakan bahwa dalam lembaga-lembaga, kelompok sosial dan proses sosial terdapat hubungan-hubungan sosial atau interaksi sosial, melalui ini maka masyarakat harus mampu mengembangkan dan membentuk tingkah laku yang selanjutnya akan menumbuhkan dan mengembangkan sistem dakwah.
Teorisasi sosiologis mengenai karakteristik agama serta kedudukan dan signifikasinya dalam dunia sosial, kemudian mendorong ditetapkannya serangkaian sosiologis, meliputi; Startifikasi sosial, seperti kelas dan etnisitas, kemudan Kategori bioososial, seperti seks, gender, perkawinan, keluarha, masa kanak-kanak dan usia, kemudian Pola organisasi sosial meliputi politik, produksi, ekonomis, sistem pertukaran dan birokrasi, selanjytnya Proses sosial, seperti formasi batas, relasi intergroup, interaksi personal , penyimpangan dan globalisasi. Peran kategori dalam sosiologi terhadap agama ditentukan oleh pengaruh paradigma utama tradisi sosiologi dan oleh refleksi empiris dan organisasi dan perilkau keagamaan.
Objek sosiologi dakwah sama seperti objek sosiologi, yakni masyarakat atau dalam hal ini adalah mad’u yang dilihat dari sudut pandang hubungan antar manusia, proses yang timbul, dan dampak dari hubungan itu.Objek materi sosiologi, George dan Simmel memandang dari sudut individu-kesatuan kelompok berasal dari kesatuan manusia-manusia perseorangan. Kesimpulan objek dari sosiologi dakwah adalah da’i dan Mad’u beserta perilakunya, Kehidupan Keberagaman, Gejala serta proses hubungan antara da’i dan mad’u dalam perkembangan mencapai tujuannya.
Dalam prespektif sosiologi dakwah, internalisasi Islam yang kemudian mewujudkan dalam sikap, ucap, dan perilaku baik individu maupun masyarakat dipandang sebagai perilaku sosial. Perilaku sosial ini tentunya memiliki keterkaitan sengan pengalaman baik individu maupun masyarakat yang memiliki hubungan erat dengan sistem keyakinan dari ajaran Islam yang dianutnya. Perilaku individu dan sosial dakwah inilah yang kemudian ditelaah secara mendalam dalam prespektif sosiologi dakwah.
Secara garis besar, sosiologi dakwah melakukan kajian-kajian sebagai berikut:
-
Mengkaji eksistensi dan esensi masyarakat secara komperhensif dalam prespektif dakwah.
-
Melakukan pendalaman pemahaman mengenai masyarakat.
-
Mengkaji ragam persoalan yang terjadi dalam kehidupan manusia dalam masyarakat.
-
Mengkaji proses perubahan sosial di masyarakat dakwah dan dapat dijadikan acuan perencanaan perubahan sosial dalam kerangka dakwah.
-
Mengupas persoalan manusia dalam hubungannya satu sama lain dalam kesatuan sosial.
Sosiologi dakwah akan bisa dipahami dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari serta dimanfaatkan dalam bidang dakwah, untuk memecahkan masalah-masalah mendasar. Sosiologi keagamaan merupakan proses membimbing individu ke dalam dunia keagamaan dan budaya keberagaman juga sebagai pembentuk agar menjadi jati diri yang baik di masyarakat.
B. Sosiologi Politik
Fokus sosiologi politik menurut sosiologi terbagi menjadi dua pandangan, sosiologi politik merupakan cabang sosiologi yang membahas masalah kekuasaan yang berkaitan dengan negara. Sosiologi politik memfokuskan kajian pada perilaku sosial yang berkembang pada saat masyarakat memberi respon terhadap sistem birokrasi. Masyarakat sebagai pemberi respon birokrasi inilah yang menjadi bagian dari kajian sosiologi politik.
Sosiologi politik menurut Prof. Dr. Damsar adalah ilmu yang mempelajari masyarakat, di mana di dalamnya terdapat proses dan pola interaksi sosial, dalam hubungannya dengan politlk. Masyarakat menuntun individu untuk melakukan kegiatan politik, berdasarkan norma, etika adat dan hukum yang berkembang dalam masyarakat. Para politikus berlnteraksi untuk mengambil kebijakan, melaksanakan kewenangan dan kekuasaan, serta melakukan pembagian dan alokasi sumber daya.
Menurut pengertian yang lebih modern, sosiorogi politik adalah ilmu tentang kekuasaan, pemerintah, otoritas, komando, di daram semua masyarakat manusia, tidak hanya di dalam masyarakat nasional. Leon Daguit, seorang ahli hukum, berkebangsaan perancis menyatakan terdapat perbedaan antara pemerintah dan yang diperintah. Katanya, dalam setiap kelompok manusia, mulai dari yang terkecir hingga yang terbesar, mulai dari yang rapuh hingga yang paring stabil terdapat orang yang memerintah dan mereka yang mematuhinya. Terdapat mereka yang membuat keputusan dan orang-orang yang menaati keputusan yang bersangkutan. perbedaan tersebut merupakan fenomena politik yang fundamental yang dijelaskan melalui studi perbandingan pada setiap masyarakat dan pada setiap tingkatan sosial.
Pendekatan atau metode yang dipakai oleh sosiolog politik untuk mempelajari masalah-masalah, permasalahan yang diangkat diantaranya adalah;
-
Kondisi-kondisi apakah menimbulkan tertib politik atau kekacauan politik dalam masyarakat.
-
Mengapa sistem-sistem politik tertentu dianggap sah atau tidak sah oleh warga negara.
-
Mengapa sistem-sistem politik tertentu stabil, sedangkan yang lainnya tidak.
-
Mengapa ada pemerintahan yang demkratis dan mengapa ada yang totaliter, mengapa ada pula pemerintahan yang mengkombinasikan keduanya.
-
Faktor-faktor apa yang menyebabkan variasi pada sistem kepartaian, taraf partisipasi politik, dan angka rata-rata, pemilihan suara?
Menurut Wasburn terdapat tiga manfaat sosiologi politik, yakni manfaat analitis, manfaat praktis dan manfaat moral. Manfaar analitis karena di dalamnya menawarkan berbagai macam teori dan metodelogi yang dapat dipergunakan untuk membaca fenomena politik yang real berkembang dalam masyarakat.
Sosiologi politik memiliki manfaat praktis karena di dalamnya juga dibahas berbagai macam strategi untuk mencapai tujuan politik. Diantara strategi tertentu tergolong efektif dan efisien untuk menjawab kepentingan politik tertentu, namun terdapat pula diantaranya justru potensial menghadirkan konflik berkepanjangan.
Manfaat moral maksudnya adalah dengan memahami teori dan metodelogi yang berkembang dalam sosiologi politik serta strategi yang tergolong efektif dan efisien dalam usaha memenuhi kepentingan politik atau mencapai tujuan politik dapat meningkatkan kerakyatan manusia. Komitmen berkaitan dengan keberpihakan yang ditempatkan sebagai tawaran bukan doktrin yang wajib untuk diikuti.
C. Masyarakat Dakwah
Masyarakat dakwah merupakan konsep yang mengandung makna luas dan kompleks, terdiri dari beragam unsur dengan karateristik sendiri-sendiri. Karakteristik masyarakat dakwah meliputi ras, suku, bangsa, letak geografis, latar sosial-budaya, ekonomi, pendidikan, profesi, dan jenis kelamin. Termasuk di dalamnya ciri-ciri khas yang terkait dengan sikap, keyakinan, dan cara masyarakat menganut agama Islam.
Aktivitas dakwah di masyarakat saat ini semakin marak dengan munculnya acara atau kegiatan keislaman di berbagai wilayah, ini merupakan salah satu indikator bahwasannya masyarakat sadar akan pentingnya dakwah untuk membangun karakter masyarakat yang Islami. Masyarakat dibangun kesadarannya bahwa sesungguhnya semua anggota masyarakat adalah da’i bagi dirinya sendiri.
Saat ini dakwah belum berpijak pada pemahaman kondisi sosial yang memadai diantaranya seperti tema-tema dakwah yang disajikan banyak yang kehilangan relevansi dengan isu-isu, masalah-masalah dan kebutuhan yang berkembang di masyarakat. Tema-tema dakwah yang berkembang cenderung berorientasi pada persoalan keakhiratan.
Karakteristik masyarakat dakwah dikelompokkan kepada dua kategori: Pertama , menurut prespektif teologis dan kedua menurut perspektif sosiologis-antropologis. Prespektif teologis merupakan karakteristik masyarakat dakwah dikelompokkan kepada mukmin (dhalimun linafsih, muqtashid, sabiqun bi al-khairat),kafir, (inkar, juhud, ‘inad, nifak), fasik, munafik, ahlu al-kitab, musyrik, ateis, dan murtad.
Karakteristik masyarakat dakwah dapat dikelompokkan kepada beberapa kategori: (1) profesi; (2) status sosial; (3) usia; (4) jenis kelamian; (5) letak geografis; (6) warna kulit, dan; (7) ras, suku, bangsa, dan benua.
-
Profesi: petani, pedagang, buruh, karyawan, seniman, dan lain-lain.
-
Status sosial: awam, terpelajar, kaya, miskin, ningrat, pejabat, dan lain-lain.
-
Usia: balita, anak-anak, remaja, dewasa, dan usia lanjut (manula).
-
Jenis kelamin: laki-laki, perempuan, dan kelamin ganda.
-
Letak geografis: pedalaman, desa, kota, transisi.
-
Warna Kulit: putih, hitam, kuning, sawo matang.
-
Ras, suku, bangsa, dan benua: asia, afrika, eropa, amerika, dan australia.
Selain dari ciri-ciri di atas, karakteristik masyarakat dakwah juga dapat dikelompokkan berdasar kepada:
-
Hubungan nasab antara pelaku dakwah dengan masyarakat dakwah.
-
Sikap masyarakat dakwah terhadap agama Islam.
-
Cara masyarakat dakwah menganut agama Islam.
D. Islam dan Politik Postmodern
Postmodernisme merupakan upaya protes atas kegagalan proyek modernitas barat, tingkat perkembangan sosial, kultural, dan politik di Barat banyak bertanggung jawab atas kemunculan konsep pandangan, dan perilaku posmodernisme. Gejala postmodernisme dalam masyarakat muslim sifatnya a-historis dan a-sosiologis.
Modernisme dalam masyarakat muslim bersumber dari Eropa (Barat pada umumnya), bermula ketika barat melakukan penetrasi militer, kultural, dan intelektual ke berbagai kawasan muslim. Pola dasar modernisme sumbernya berasal dari pengalaman Barat, bukan doktrin Islam atau pengalaman historis masyarakat Islam di masa lampau. Proyek modernisme pada masyarakat muslim umumnya tidak dapat mencapai tahap seperti Barat dalam proses modernismenya.
Proyek modernisme didukumung dan dilancarkan tak jarang secara represif, terutama oleh segelintir elite birokrat dan intelektual yang karena gagasan dan proyek modernisme yang diperjuangkan menjadi teraliensi dari mayoritas masyarakat Muslim. Sikap modernizing dan westernizing yang sering tanpa kompromi membuat mereka sering mengecam kalangan masyarakat yang mereka anggap masih bergelut dalam tradisionalisme Islam. Sikap ini memperkuat perlawanan baik secara terbuka maupun diam-diam terhadap proyek modernisme.
Kerangka postmodernisme gagal atau tidak sepenuhnya bisa diterapkan untuk menjelaskan fenomena keagamaan Islam, baik di masa lampau maupun masa kontemporer. Ini merupakan kelemahan pokok konsep postmodernisme yang dipahami sebagai epistemologi, gejala semacam fundamentalis Wahabiyah dan sah saja dipandang sebagai gerakan post modernisme. Namun, ini akan berkontradiksi dengan konsep postmodernisme sebagai periodisasi perkembangan peradaban.
Dalam masa lebih kontemporer setidaknya terdapat beberapa faktor dalam masyarakat Islam yang merupakan kondisi postmodernitas, yakni perubahan sosio-budaya yang berlangsung cepat dan berdampak luas, dan urbanisasi dan politisasi, revolusi dalam tekhnologi komunikasi dan informasi.
Adanya dekontruksi tatanan politik kolonialisme Barat, masyarakat Islam mengalami perubahan sosial budaya sangat cepat. Berbagai perubahan itu, dalam beberapa dasawarsa terakhir banyak bersumber dari pembangunan ekonomi, selain memajukan ekonomi juga menimbulkan berbagai perkembangan baru yang tidak mempunyai presedennya di masa silam.
Nilai tradisional Islam selama ini relatif mapan kini terancam dengan berhadapan dengan nilai baru yang muncul sebagai dampak modernisme dan modernisasi. Kondisi postmodernisme ini menyediakan lahan subur bagi gejala keagamaan postmodernisme, termasuk fundamentalisme Islam dan kontemporer.
Urbanisasi dan politisasi adalah kondisi yang kondusif bagi kemunculan postmodernisme.Urbaniasi adalah fenomena yang terjadi dan dialami hampir seluruh umat Islam, disparitas pembangunan antara kota dengan desa, relatif tersedianya fasilitas untuk melakukan mobilitas sosial ke atas di wilayah urban dan kebebasan berekspresi di perkotaan merupakan beberapa faktor utama yang mendorong terjadinya urbanisasi besar-besaran.
Politisasi dan birokratis, tak terelakan melekat ketat dengan proyek modernisme, seperti menjadi aksioma di banyak negara Muslim, modernisme menimbulkan rezim modrenizing represif dan totaliter yang tak jarang memanipulasi sistem representasi untuk kepentingan politik mereka sendiri. Atas nama demokrasi masa diseret ke dalam proses dan jaringan politisasi dan birokrasi, tak jarang semua ini dilakukan dengan mengorbankan demokrasi dan sistem represntasi itu sendiri. Argumentasi kalangan modernis menemukan relevansi kuat dengan perkembangan politik kontemporer masyarakat muslim.
Proses dan oposisi terhadap proyek postmodernisme di kalangan Muslim jika dilihat dari kacamata postmodern sebagai periodisasi, baru berada pada tahap paling awal. Kesadaran idelogis postmodernnisme untuk menolak modernisme dianut hanya dianut sebagian kalangan Muslim.
DAFTAR PUSTAKA
Azra, A. (2016). Transformasi Politik Islam, Radikalisme, Khilafatisme, dan Demokrasi. Jakarta: Prenadamedia Group.
Sarbini, A. (2020). Sosiologi Dakwah. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
AB, S. (2013). Sosiologi Dakwah. Makasar: Alauddin University Press.
Hartanto, D. (2021). Sosiologi Politik, Dari Introduksi Teoritis ke Praksis Normatif. Pandora.
Dewi, S. F. (2017). Sosiologi Politik. Yogyakarta:Gres Publising.
메타데이터
- post_id
- 4bcdf5f4a4f
- slug
- sosio-politik-masyarakat-dakwah-4bcdf5f4a4f
- url
- https://medium.com/@yoskiadiba/sosio-politik-masyarakat-dakwah-4bcdf5f4a4f
- canonical_url
- https://medium.com/@yoskiadiba/sosio-politik-masyarakat-dakwah-4bcdf5f4a4f
- author_url
- https://medium.com/@yoskiadiba
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-26 10:31:45