Ruang untuk Kita, Sang Pendosa.
Mahatama Satya, dan Sewarna Jingga.
Ruang untuk Kita, Sang Pendosa.

Mahatama Satya, dan Sewarna Jingga.
“Sampai kapan kita harus saling menggenggam di kegelapan malam seperti ini, Sewarna?.” Netranya melirik pada sang pujaan hati, tangan mereka bertaut di bawah langit malam gelap yang menyembunyikan mereka dari khalayak ramai.
“Sampai nanti, jika sudah ada ruang bagi kita,” ucap Sewarna menjawab. Hanya langit malam dengan rembulan bercahaya semu yang mengijinkan mereka tuk berbagi kasih, sekedar menggenggam tangan satu sama lain, maupun saling merengkuh di dalam dekapan dingin.
Mereka yang dianggap pendosa, dipandang sebelah mata, hanya karena cinta yang datang tanpa diminta. Dunia terkadang tak berpihak pada mereka, membiarkan mereka terus bersembunyi darinya.
Bergandengan menyusuri riuhnya kota di bawah terik sinar sang surya adalah hal yang mustahil baginya. Lirikan tak suka dan cemooh yang keluar dari bibir manusia lain membuat mereka merasa kecil di tengah hiruk-pikuk dunia.
Lagi, dan lagi. Hanya langit gelap bertabur bintang yang menemani mereka, menyaksikan bagaimana mereka tertawa pelan setelah hari yang melelahkan, berbagi cerita selayaknya sepasang insan yang tengah diliputi asmara, bukan sekedar rekan di balik layar kaca.
Sewarna menghabisakan harinya dengan mengambil banyak potret sang kekasih yang tengah berpose di depan lensa kameranya, mengagumi tiap garis dari paras agung yang dipahat sempurna bak mahakarya di hadapannya. Sementara Mahatama terkadang mencuri pandang pada sang juru kamera, sedikit mengalihkan netranya dari lensa menuju manik indah di balik kameranya.
Banyak hal berat yang mereka lalui bersama, bagai kapal yang diterjang ombak lautan luas yang tak ada ujungnya. Berkali-kali goyah, namun tetap bertahan di tengah ganasnya samudera. Perselisihan bagai badai kecil yang kerap kali menerpa, membawa mereka pada suasana hati yang penuh gundah.
Pergolakan antara cinta dan norma terkadang mengusik ketentraman jiwa, ketakutan akan pandangan khalayak ramai pada mereka membuat cemas melanda.
“Terkadang, aku merasa dunia tak adil pada orang seperti kita. Bukankah kita semua tak luput dari dosa? Namun, mengapa hanya kita tak dipandang tak pantas demikian?.” Pertanyaan yang terus berputar di kepala Mahatama terkadang mengusik pikirannya.
Sewarna menghela nafas pelan, sambil menatap langit malam ia berucap, “mungkin karena kita berbeda. Bukan hitam, maupun putih, namun penuh akan warna, itulah mengapa mereka menatap kita berbeda.”
“Kalau begitu, selagi warna ini masih ada, biarkan aku terus di sini. Bila aku memang pendosa, maka biarkan aku menikmati dosa paling indah ini. Biarkan aku menggenggam tanganmu, biarkan aku merengkuh tubuhmu, biarkan aku mengecup keningmu, walau harus di tengah gelapnya malam tempat kita bersembunyi.”
Tangan mereka saling menggenggam dengan erat, membiarkan malam menjadi ruang aman bagi mereka, ruang di mana mereka di terima, ruang tempat mereka tak di lihat, ruang di mana mereka bisa menghabiskan masa yang mungkin akan berakhir di atas garis takdir di kemudian hari.
Bila mereka memang pendosa, maka biarkanlah mereka menikmati dosa yang mereka pilih, biarkan mereka menghabiskan waktu di malam yang sunyi, dan biarkan mereka menanggung perpisahan paling keji.
메타데이터
- post_id
- 4bd1ebd1cdac
- slug
- ruang-untuk-kita-sang-pendosa-4bd1ebd1cdac
- url
- https://medium.com/@GemintangRayu/ruang-untuk-kita-sang-pendosa-4bd1ebd1cdac
- canonical_url
- https://medium.com/@GemintangRayu/ruang-untuk-kita-sang-pendosa-4bd1ebd1cdac
- author_url
- https://medium.com/@GemintangRayu
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 21:25:18