Epilog — Aku Ingin Tetap Hidup
Pov Geovan
Epilog — Aku Ingin Tetap Hidup
Pov Geovan
Waktu berlalu begitu cepat. Sudah beberapa bulan aku rutin menjalani pengobatan dan terapi. Tentunya, sahabatku masih terus menemaniku hingga detik ini.
Kini, aku kembali ke apartemenku setelah berbulan-bulan tak dihuni. Aku menaruh banyak catatan pada board yang kupasang disana. Terdapat catatan jadwal terapi yg aku buat, catatan jam minum obat, dan beberapa sticky notes kecil dari sahabatku sebagai penyemangat — sungguh, rasanya aku sangat bersyukur masih diberi kehidupan hingga saat ini.
Aku masih menari. Tapi bukan lagi untuk melarikan diri, tapi untuk mengingat bahwa masih ada kegiatan di dunia ini yang aku sukai. Kali ini, aku menari ditemani oleh ketiga sahabatku.
Sekarang, aku menari untuk mengingat bahwa tubuhku masih bisa bergerak, masih punya ritme, masih bisa merasakan dunia meski kadang samar.
Beberapa malam, suara nya masih bisa kudengar, seperti ada seseorang yg sedang melakukan humming secara pelan, seperti dulu.
Tapi, aku sudah belajar untuk membedakannya. Kini, aku duduk bersama rasa rindu tanpa tenggelam ke dalam dunianya. Aku tahu bahwa duniaku dan dunianya sekarang sudah berbeda. Hanya satu hal yang bisa aku lakukan untuknya, yaitu berdoa agar ia tenang disana dan bisa menjagaku di atas langit yg indah.
Kadang aku berhenti di tengah gerakan tarianku. Aku menatap sudut ruangan yang dulu sering dijadikan tempat untuk bercengkrama dengannya. Rasanya tak sesulit dulu untuk mengenangnya.
Suatu sore, sepulang dari sesi terapi, aku membuka pintu studio dan melihat matahari sore menyorot lantai seperti lukisan.
Udara saat itu terasa hangat. Rasanya tenang–seperti dipeluk olehnya.
Aku duduk di sofa kosong itu — sofa yang dulu menjadi pusat halusinasiku untuk membayangkan bahwa dia masih bersama denganku. Tanganku menyentuh permukaan kain sofa seperti menyapa memori lama. Tentu saja aku masih mengingatnya dengan jelas.
“Terima kasih ya Cher, kamu sudah datang waktu itu,” gumamku pelan.
“Tapi, sekarang… aku ingin melanjutkan hidupku, aku ingin benar-benar pulih babe, bantu aku ya, bantu aku untuk bisa mengenangmu walaupun aku tau lambat laun aku akan lupa dengan suara dan rupamu.”
Ucapan itu bukanlah ucapan selamat tinggal, namun ucapan untukku sendiri agar bisa membuka lembaran baru dalam hidupku.
Lebih seperti melepaskan napas, membiarkan luka itu berdetak tanpa menguasai hidup.
Aku tidak menangis– karena sekarang aku belajar ikhlas untuk merelakannya pergi.
Pada akhirnya, aku memahami sesuatu yang psikiaterku selalu bilang secara berulang bahwa “kehilangan tidak pernah hilang. Yang berubah adalah cara kita hidup berdampingan dengannya.”
Aku berdiri lalu menyalakan speaker dan memutar lagu yang dulu terlalu sakit untuk ku dengarkan, lagu yg berjudul Perfect by Ed Sheeran. Kini, aku bisa memutar lagunya tanpa harus menangisi kepergiannya yang telah lama usai.
“I found a love for me…”
“Oh, darling, just dive right in and follow my lead…”
“Well, I found a girl, beautiful and sweet…”
“Oh, I never knew you were the someone waitin’ for me…”
Begitu lagunya diputar, tubuhku mulai menari — gerakan pertamaku terlihat pelan dalam pantulan cermin, sepertinya aku ragu, tapi tetap aku lakukan. Langkah demi langkah, gerakan demi gerakan, aku mengingat semuanya. Memang tidak sempurna, tapi gerakan ini adalah pertanda bahwa aku tetap ingin melakukan hal yang aku suka, meskipun tidak ada lagi dia dalam hidupku.
Setelah sekian lama, aku merasakan sesuatu yang sederhana namun penting, hati dan pikiranku sepakat bahwa aku ingin tetap hidup. Aku ingin melanjutkan hidupku, sesuai dengan pesan terakhirnya yang menyuruhku untuk tetap hidup walau dalam keadaan yang sulit. Aku ingin hidup, untuk diriku sendiri, sekaligus sebagai ungkapan terima kasih kepada sahabatku yang rela meluangkan waktu dan tenaganya untuk merawatku hingga perlahan aku bisa bangkit dari keterpurukanku.
Dan aku rasa itu cukup untukku.
Cukup untuk hari ini.
Cukup untuk hari esok.
Cukup untuk semua hari yang masih menunggu.
Dan cukup untuk hari-hari selanjutnya.
“Izinkan aku untuk melanjutkan hidupku ya, Cherry. In another life, mungkin kita akan dipertemukan kembali. Tunggu aku disana ya. Goodbye, my love. See you, babe, I love you.”
Dari aku, Geovan, yang ingin terus hidup–layaknya orang di luar sana.
메타데이터
- post_id
- 4c038dc93f4b
- slug
- epilog-aku-ingin-tetap-hidup-4c038dc93f4b
- url
- https://medium.com/@azalevia/epilog-aku-ingin-tetap-hidup-4c038dc93f4b
- canonical_url
- https://medium.com/@azalevia/epilog-aku-ingin-tetap-hidup-4c038dc93f4b
- author_url
- https://medium.com/@azalevia
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-17 10:21:25