← Back to list

Legalisasi Patriarki di Sekolah Saya

Awalnya saya merasa kesal karena guru saya bicara seperti ini, “itu yang cabang bla bla bla (laki-laki) sudah semua yang menyelesaikan…

Kiya · 2026-05-22 13:41 · 201 claps · 3.4 min read
#patriarchy #gender-bias #feminisme #feminism #misogyny
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment SOC · Sociology & Politics ⚖️ · Law & Justice ✊ · Equality & Identity

Legalisasi Patriarki di Sekolah Saya

Awalnya saya merasa kesal karena guru saya bicara seperti ini, “itu yang cabang bla bla bla (laki-laki) sudah semua yang menyelesaikan proyek portofolio.” Sebenarnya saya ingin sekali mengklarifikasi bahwa di sekolah ini laki-laki mendapatkan lebih banyak kebebasan dibanding perempuan.

Saya tidak mengerti dengan jawaban mereka yang bilang bahwa laki-laki harus lebih bebas karena pemberontakan mereka meresahkan. Lantas apa hubungannya dengan kemudahan mengakses gawai? Sudah kami maklumi soal mereka yang boleh keluar dari lingkungan asrama sesuka hati, bahkan menggunakan kendaraan. Seharusnya penggunaan laptop tidak perlu dibedakan.

Mereka bisa mengambil kelas tambahan tanpa izin, tidak seperti kami yang harus riweuh meminta tanda tangan di atas surat izin penggunaan laptop di luar jam sekolah.

Pertanyaannya, mengapa?

Apakah karena konstruksi maskulinitas yang membuat nilai bahwa laki-laki adalah pemberontak sejati? Sangat tegas dan “keras”? Apakah perempuan dideteksi lebih lembut dan rendah hati sehingga lebih mudah diatur?

Dari situ saya mulai menyadari bahwa yang saya kritik sebelumnya tentang “keras” dan “lembut” ternyata tidak berhenti di level bahasa. Ia turun menjadi kebijakan, menjadi aturan, menjadi cara lingkungan memperlakukan tubuh yang berbeda.

Sangat sulit mengemukakan hal-hal yang saya percaya. Lingkungan ini melegalkan gaya hidup di bawah naungan patriarki, bahkan seperti yang saya pernah singgung sebelumnya, yaitu misogini terinternalisasi, sesuatu yang sangat mudah ditemui, baik pada guru-guru, pendamping asrama, maupun teman-teman saya sendiri.

Contoh nyatanya adalah ketika pendamping asrama mengambil buku saya atas dalih penyitaan. Tentu membingungkan, karena tidak ada peraturan bahwa kami tidak bisa membawa buku bacaan kecuali novel. Memang buku itu sebagian besar membahas tentang relasi asmara dalam pandangan feminisme, dan mengandung banyak sekali kata kunci seperti seks, penis, vagina, dan sebagainya.

Saya tersinggung karena ketertarikan saya dianggap negatif hanya karena patokan-patokan kata itu. Saya berpikir, apakah guru saya tidak pernah belajar edukasi seks? Apakah kata-kata ini terlalu negatif? Mau sampai kapan kita melabelkan nama resmi dari bagian biologi dengan pandangan negatif? Sudah seharusnya ini berhenti.

Jujur saja, hidup di lingkungan yang sangat dekat dengan agama, dengan orang-orang yang spektrumnya mulai dari yang membangkang sampai yang sangat “mabuk agama”, membuat kata-kata seperti itu mungkin terasa jorok atau tidak pantas bagi sebagian orang. Namun justru di situlah intinya, lingkungan sekolah saya benar-benar tidak memahami hal sesederhana ini.

Tapi ya sudahlah, kalau bukan dari pengalaman ini, saya tidak akan berhati-hati dalam berasumsi.

Namun pengalaman di lingkungan sekolah saya membuat pertanyaan itu jadi lebih konkret, bukan lagi sekadar konsep di kepala. Di satu sisi, ada pembicaraan tentang perbedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan, mulai dari kebebasan bergerak, akses terhadap fasilitas seperti gawai, sampai cara aturan ditegakkan. Di sisi lain, ada pola yang terasa konsisten, yakni laki-laki lebih sering diasosiasikan dengan kebebasan dan “ketegasan”, sementara perempuan lebih mudah ditempatkan dalam posisi yang harus diatur, dibatasi, atau dijaga.

Lama-kelamaan saya mulai menyadari bahwa ini bukan hanya soal kebijakan yang terpisah-pisah, tetapi ada pola pikir yang lebih dalam yang membentuknya.

Dari situ, saya juga menghubungkan pengalaman itu dengan gagasan yang lebih besar tentang bagaimana “kuat” sering kali dimaknai. Karena pada akhirnya, bahkan cara kita menilai siapa yang dianggap lebih “pemberontak”, siapa yang dianggap lebih “patuh”, sampai siapa yang dianggap perlu lebih diawasi, semuanya tidak lepas dari konstruksi nilai yang sudah terbentuk sebelumnya.

Di titik itu, saya kembali pada satu kalimat yang sering terdengar seperti nasihat “Kadang untuk bisa bertahan di dunia yang keras, perempuan merasa harus jadi lebih keras juga.” Saya tidak sepakat dengan pernyataan ini. Toh, dalam kacamata patriarki, kata “keras” dan “lembut” sudah tidak lagi netral, ia telah diberi muatan gender, di mana “keras” diasosiasikan dengan maskulin dan “lembut” dengan feminin.

Masalahnya bukan pada sifat keras itu sendiri, tetapi pada cara sistem sosial mengangkat satu sisi sebagai standar kekuatan dan merendahkan sisi lainnya. Ketika perempuan didorong untuk “menjadi lebih keras” agar bisa bertahan, yang terjadi bukan sekadar proses penguatan diri, melainkan penyesuaian terhadap standar yang sejak awal sudah dibentuk oleh struktur yang bias.

Aduh, saya jadi melihat ada risiko, bahwa kita tanpa sadar menghapus atau mengecilkan nilai feminin yang sebenarnya juga memiliki bentuk kekuatan tersendiri, hanya karena tidak sesuai dengan definisi dominan tentang “kuat”.

Saya juga memandang bahwa tuntutan untuk mengadopsi nilai yang secara sosial dilekatkan pada maskulinitas demi mencapai kesetaraan justru berpotensi melanggengkan cara kerja patriarki itu sendiri.

Alih-alih membongkar sistemnya, kita malah ikut bermain di dalam aturan yang sudah ditetapkan, seolah-olah satu-satunya jalan untuk diakui setara adalah dengan menjadi mirip dengan standar yang dominan. Padahal patriarki bukan sistem yang statis, lho, ingat itu baik-baik. Ia adalah konstruksi sosial yang terus bergerak dan menemukan cara baru untuk mempertahankan hierarki. Ada saja idenya, tidak habis-habis.

Karena itu, menurut saya, pertanyaannya bukan apakah perempuan perlu menjadi lebih keras, tetapi mengapa “keras” dijadikan satu-satunya ukuran kekuatan, dan mengapa nilai yang diasosiasikan dengan feminin tidak diberi ruang yang setara untuk diakui sebagai bentuk kekuatan itu sendiri.

Ah, IDN sebenarnya punya murid perempuan yang cukup kritis, setidaknya kalau mau didengar. Tapi ya, kocaknya ruang untuk itu sepertinya lebih sempit daripada izin pemakaian laptop di luar jam pelajaran.

Sekolah ini memang jago sekali soal prestasi, nasional sampai internasional, tinggal pilih mau pamer yang mana. Keren sekali, serius. Tapi mungkin di sela-sela itu ada hal kecil yang terlewat, yaitu manusia di dalamnya juga punya psikologi, tidak hanya ketangguhan dalam pembuatan renponsive website atau design system yang kompleks.

Tapi ya sudah, mungkin benar. Selama citra masih bagus, siapa peduli kalau ada cara berpikir yang pelan-pelan dibentuk tanpa sadar.

Terima kasih.


메타데이터
post_id
4c1201fcf4b0
slug
legalisasi-patriarki-di-sekolah-saya-4c1201fcf4b0
url
https://medium.com/@adzkiyajs/legalisasi-patriarki-di-sekolah-saya-4c1201fcf4b0
canonical_url
https://medium.com/@adzkiyajs/legalisasi-patriarki-di-sekolah-saya-4c1201fcf4b0
author_url
https://medium.com/@adzkiyajs
status
ok
fetched_at
2026-07-14 14:14:34