← Back to list

Potret Keindahan dalam Perlawanan: Estetika dalam Tari Lenggang Bekasi

Dalam sejarah sastra, jarang sekali seorang perempuan diceritakan mencipta sesuatu. Perempuan lebih sering dipandang sebagai objek yang…

Potkahh · 2025-06-16 21:02 · 0 claps · 2.4 min read
#women #tarian #bekasi #estetika
Open on Medium ↗
Wiki topics: ⚖️ · Law & Justice

Potret Keindahan dalam Perlawanan: Estetika dalam Tari Lenggang Bekasi

Dalam sejarah sastra, jarang sekali seorang perempuan diceritakan mencipta sesuatu. Perempuan lebih sering dipandang sebagai objek yang diceritakan dengan citra yang indah dan lembut. Eksistensi perempuan kerap dilekatkan dengan diksi “lemah lembut”, “indah”, “cantik”, dan sebagainya yang kemudian dilabeli dengan kata “feminin”.

Dilansir dari Pojok Seni, Helene Cixous berpendapat bahwa perempuan lebih sering dijadikan objek pembicaraan alih-alih menjadi pembicara. Hal ini lah yang mengantarkan Cixous untuk bersuara. Ada tiga hal yang dikritisi oleh Helene; tulisan sastrawi sangat feminin, tulisan sastrawi hanyalah “masturbasi” maskulin, dan usulan bahwa tulisan sastrawi seharusnya netral; tidak bergender atau mengandung dua gender sekaligus. Cixous berpendapat bahwa ‘sastra harus mengandung dua gender’ merupakan hasil dari pemikiran patriarkis yang mengarah pada gagasan bahwa sosok yang utuh (total being) hanyalah laki-laki. Menurut Cixous, sastra yang ditulis oleh perempuan akan selalu khas dan intim. Sastra yang ditulis oleh perempuan biasanya membicarakan pengalaman yang berbeda satu sama lain. Hal ini lah yang membuat sastra yang ditulis oleh perempuan terasa otentik dan khas.

Estetika feminis tidak selalu terbatas pada sastra tulisan. Keindahan dalam perjuangan perempuan juga dapat dibingkai dalam berbagai bentuk seni, salah satunya adalah tarian. Sebuah tarian dapat mengandung berbagai makna di dalamnya. Dengan rangkaian gerakan yang padu, tarian dapat menampilkan keindahan sekaligus menyampaikan pesan seperti perjuangan hidup perempuan. Salah satu tarian Indonesia yang mengusung cerita bertema perempuan adalah tari Lenggang Bekasi.

Tari Lenggang Bekasi merupakan salah satu tarian daerah yang berasal dari Kota Bekasi. Tarian ini pertama kali ditampilkan dalam Festival Seni Unggulan BARKOWIL II Provinsi Jawa Barat. Awalnya, tarian ini diciptakan sebagai tari kreasi yang menggabungkan unsur tradisional dan modern. Bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bekasi, Sanggar Sinar Seli Asih menciptakan tari kreasi yang menyatukan budaya Sunda dan Betawi. Karena tarian ini mengandung nilai budaya yang kuat dan sesuai dengan profil remaja Bekasi, tarian ini pun diterima sebagai tarian daerah yang mewakili Kota Bekasi.

Tarian ini diiringi oleh gambang kromong. Musik latar dengan tempo cepat bernuansa Sunda-Betawi membuat tarian ini terkesan kuat dan energik. Pakaian para penari yang berwarna mencolok merupakan ciri khas suku Betawi. Tarian ini merupakan salah satu tarian yang menggunakan celana yang dilapisi kain hampir melingkari seluruh pinggang sebagai bawahannya.

Sejalan dengan pernyataan estetika feminis menurut Helena Cixous, tari Lenggang Bekasi berusaha memotret perempuan dalam perjalanannya menemukan jati diri. Gerakan yang lincah, lompatan-lompatan kecil, dan gerakan mengibas menggambarkan kelincahan, kegembiraan, serta ketangkasan perempuan khususnya remaja di Bekasi. Dalam tarian ini, perempuan digambarkan sebagai sosok yang kuat dan ceria. Perjalanan kehidupan dari awal menginjakkan masa remaja hingga keterpurukan seseorang digambarkan dalam tarian ini.

Secara keseluruhan, tarian ini memiliki gerakan yang kuat dan bersemangat tapi juga lembut di beberapa bagian. Gerakan ini mewakili semangat membara dari seorang remaja yang baru saja mengenal dunia. Gerakan silat di tengah tarian menggambarkan ketangkasan dan kekuatan. Diiringi musik bertempo cepat, gerakan tarian ini menjadi lebih kuat dan indah. Gerakan ini berusaha menangkap keberanian seorang remaja dalam menghadapi tantangan dan hambatan yang ada di hadapannya. Selayaknya kehidupan, ada juga saat-saat di mana seseorang merasa jatuh dan terpuruk. Keadaan tersebut digambarkan dengan gerakan terduduk. Meskipun terduduk, para penari tersebut tetap melakukan gerakan silat seperti menonjok dan sebagainya. Gerakan ini melambangkan perlawanan dan usaha untuk bangkit dari keterpurukan. Di samping itu, gerakan yang centil seperti menggoyangkan pinggul dapat dipandang seperti dua sisi mata koin; sebagai rayuan visual atau kebebasan dalam mengekspresikan diri. Gerakan tersebut juga dapat menunjukkan kebebasan perempuan dalam menari untuk kesenangan pribadi dan bukan untuk dilihat orang lain.

Tarian Lenggang Bekasi merupakan salah satu budaya yang tidak hanya memotret perempuan sebagai objek keindahan untuk dinikmati, tetapi juga memiliki nilai keintiman yang khas dalam memotret perjalanan hidup seorang remaja perempuan. Tarian ini memotret bagaimana seorang remaja perempuan yang ceria dan berani dalam menghadapi tantangan dalam hidupnya.


메타데이터
post_id
4c2a46e2d997
slug
potret-keindahan-dalam-perlawanan-estetika-dalam-tari-lenggang-bekasi-4c2a46e2d997
url
https://medium.com/@fatikasuciati/potret-keindahan-dalam-perlawanan-estetika-dalam-tari-lenggang-bekasi-4c2a46e2d997
canonical_url
https://medium.com/@fatikasuciati/potret-keindahan-dalam-perlawanan-estetika-dalam-tari-lenggang-bekasi-4c2a46e2d997
author_url
https://medium.com/@fatikasuciati
status
ok
fetched_at
2026-07-19 10:20:16