you weren’t mine to lose
Musim panas tahun 2022 ketika semuanya dimulai. Masa pengenalan lingkungan sekolah sudah usai. Kini, para siswa dan siswi–termasuk…
you weren’t mine to lose

Musim panas tahun 2022 ketika semuanya dimulai. Masa pengenalan lingkungan sekolah sudah usai. Kini, para siswa dan siswi–termasuk aku–harus bisa beradaptasi dengan lingkungan dan kebiasaan baru. Rasanya pesimis sekali ketika aku melangkah ke dalam sebuah kelas yang 80% orang di dalamnya aku kenal. Ya, sempat satu SMP dan dipertemukan kembali di bangku SMA.
Entah seberapa singkat waktu yang kami butuhkan untuk akhirnya mengenal satu sama lain. Manusia-manusia dengan perbedaan keunikkan itu pada akhirnya menggenggam dan beriringan layaknya saudara tak sedarah. Di sini lah aku menemukan rumah. Rasanya nyaman, walau tak selalu tenang. Tentram, walau cemas kadang datang. Namun bersama mereka, kurasa aku mampu menghadapi dunia.
Di ruang kelas ini pula rasaku bersemi pada salah satu adam yang kupanggil teman. Entah sejak kapan hati berbunga ketika kita bertukar cakap dan pipi bersemu hanya karena bertemu tatap. Benih rasa dalam dada tak pernah kurawat atau kusuapi ilusi dengan berandai: andai dia melihatku lebih lama, andai dia sama sukanya. Aku tak pernah berani melakukan itu. Ku abaikan benih itu supaya mati begitu saja.
Sayangnya, ia tertanam begitu kuat entah direlung hati sebelah mana. Akarnya kokoh mencengkram dada dan bertumbuh layaknya bunga. Bagaimana ini, Tuan? Memang salahku sepenuhnya karena tak mampu menghentikan laju pertembuhan rasa yang bahkan objeknya tak pernah tahu eksistensinya. Mungkin karena hal sederhana seperti melihat wajahmu hampir setiap hari selama tiga tahun terakhir? Bisa jadi, ya. Dulu aku berharap, kita akan terus berada di ruang yang sama selama menempuh SMA, ternyata Tuhan kabulkan juga. Nyatanya, doaku layaknya menyiksa diri. Aku berbaring dipapan penuh duri yang menyiksaku hingga kini. Tuan, mungkin kisahku tak ditulis untuk beriringan bersamamu sejak awal. Oleh karena itu, akan kutulis kisah di mana ada kesempatan untukku menggenggam tanganmu, meski hanya fiktif belaka. Atau tulisan ini pun merupakan rampungan doa untuk setidaknya kali ini saja, aku dan kamu bisa menjadi satu suku kata; kita.
Tiga tahun SMA, selama itu pula hatiku mendengungkan namanya. Upacara kelulusan tinggal hitungan hari. Upacara perpisahan ku dengannya tinggal menunggu matahari terbit lagi dan lagi. Bisa saja esok, lusa, satu minggu lagi, atau bahkan tak terhitung jari. Semoga. Semoga aku tak perlu menghitung berapa kali matahari terbenam ketika aku bersamamu karena kutahu kamu tak akan pernah angkat kaki.
— — —
“Satu.. dua.. say cheese!”
Ckrek!
“Wey ternyata kelas kita ada couple-nya toh? COTY COTY GES, MINGGIR!” Tuan, aku izin bersembunyi dibelakangmu ya.
“demi apa? Lu tega? Lu khianatin gua???? CINTA GUA LU AMBIL? TEGAAA…. SUNGGUH TEGAAA…..” Tuan… lihat sahabatmu yang tengil itu…
“ANJAY COUPLE KITA SEMUAAA! BERLAYAR BOSKUUU!” Hahaha, lucu sekali ya? Ternyata responnya kebanyakan positif.
Kamu juga hanya senyum-senyum salting, pipimu merah merona. Aku pun merasakan aliran darah dipipiku, entah seberapa merah wajahku sekarang. Nengok sedikit, ada teman kita yang lain yang ikut menyoraki. Wah, lucu ya rasanya.
Tanganku masih menggandeng lenganmu. Kamu tak keberatan dan terus berdiri disampingku. Kala aku mengamati wajahmu dari dekat, kamu malah ikut-ikut menatapku. Ah, cemen. Baru sepuluh detik langsung memalingkan muka.
Tanganku menelusuri milikmu hingga berakhir tepat pada pusat telapaknya. Jari-jari kita bertaut lalu kita sembunyikan dibelakang badan. Begini ya rasanya, tangan yang ku kagumi selama tiga tahun?
“Malu,” bisikku.
“Kenapa? Kan pakai baju,” jawabnya.
“Malu, jadi perhatian orang. Tapi seneng,” kataku lagi. Kali ini sambil menatap matanya.
“Karena sama aku?” aku mengangguk. Dia malah terkekeh kecil, “Lucunya….”
Tuan, satu hari, dua hari, satu tahun, dua tahun, atau bahkan sampai habis usia, kuharap aku punya kesempatan untuk bisa bersamamu dikehidupan kali ini. Kuharap Tuhan memberi kita waktu yang sepadan dengan lamanya ku menunggu.
Hope your new city holds you like i (wish) i do.
Hahah, tidak terdengar cantik tapi doaku mengudara untukmu.
Namun Tuan, nyatanya sulit sekali aku menuliskan runtutan adegan bersamamu yang kuciptakan dalam kepala. Menyedihkan, aku hanya bisa membayangkan. Ragamu ada, Tuhan kita sama, takdirlah yang tak menyatukan kita. Mungkin ia kini tengah menertawakanku dengan syahdu. Seribu hari lebih telah terlewati, namun aku masih tak bisa membuatmu jatuh hati. Seribu hari bersamamu, aku berpuas diri hanya menatapmu dari jauh. Nyaliku terlalu kecil untuk mencoba berjuang memenangkan hatimu, untuk bisa berdiri di sampingmu.
Sebetulnya, aku tak paham apa yang bisa membuatku jatuh padamu dengan begitu mudahnya. Mungkinkah karena fisikmu? Tidak, aku suka lelaki yang menjulang tinggi. Mungkin karena wajahmu? Well, bisa jadi. Atau karena otak cemerlangmu? Kemungkinan 90% ya. Atau mungkin, karena itu kamu, Tuan?
Kamu dengan kepercayaan diri setinggi langit, yang pernah mengomentari postingan whatsappku, “Dari dulu aku yang paling ganteng,” checked.
Kamu dengan wawasan luas, tak pernah kehabisan jawaban ketika ditanya sesuatu atau bahkan menanyakan sesuatu, checked.
Kamu yang dengan sabar mengajariku ketika kelas tambahan belajar UTBK, checked.
Kamu yang menatapku dengan fokus ketika aku presentasi bahasa inggris, checked.
Kamu yang hanya… menjadi dirimu sendiri, checked.
Kamu itu bicaranya cepat, layaknya seorang rapper. Tingginya tak jauh berbeda denganku, mungkin sekitar 160 cm. Kurus, tak terlalu berisi. Aku bertaruh kamu bahkan tak punya otot perut. Wajahnya bersih, kulit kuning langsatnya sehat. Bulu matanya lentik, yang membuatku iri, cantik. kamu suka bermain futsal, kejar-kejaran berebut bola dan berusaha mencetak gol. Jago logika dan bahasa inggris. Jangan salah, walaupun aku berada diperingkat teratas, kadang aku merasa bodoh kalau menghadapinya.
Tuan, biar saja waktu yang membuat perasaanku padamu layu hingga mati tak tersisa. Entah berapa lama, namun aku tahu akan surut juga. Aku berdoa semoga bahagia selalu memihakmu, rezeki selalu menyambutmu, dan orang-orang baik selalu berada disekitarmu.
Love letter ini tak akan sampai ke tanganmu. Nyaliku terlalu kecil untuk menyerahkannya. Teruslah berjalan dengan semoga yang telah banyak dikumandangkan untukmu. Dengan adanya tulisan ini, aku sudah memilih untuk berhenti menyukaimu. Aku mengerti, tak semua cerita berakhir dengan bahagia atau bersama-sama. Semoga suatu hari nanti kita bertemu setelah mencapai apa yang selalu kita langitkan.
Tetaplah jadi temanku.
메타데이터
- post_id
- 4c7c7619a2fd
- slug
- you-werent-mine-to-lose-4c7c7619a2fd
- url
- https://medium.com/@serayu/you-werent-mine-to-lose-4c7c7619a2fd
- canonical_url
- https://medium.com/@serayu/you-werent-mine-to-lose-4c7c7619a2fd
- author_url
- https://medium.com/@serayu
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 16:53:31